
Mira sudah melaksanakan pemeriksaan, dia pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti, meski banyak kekhawatiran menyelimuti benaknya, dia tetap berserah diri.
Sepasang suami istri itu pun berpamitan karena mereka akan segera pulang ke rumah.
"Terima kasih, Dok!" Jack mengucapkan kata itu terhadap kedua dokter muda yang ada di hadapannya, yang sudah memeriksa keadaan istrinya.
"Sama-sama,” jawab
kedua dokter itu secara bersamaan. “Hati-hati di jalan,” ucap mereka, secara bersamaan lagi.
"Oh, Ya, Dok! Pemeriksaan selanjutnya kapan?” Tanya Jack terhadap kedua dokter itu.
"Nanti, saya konsultasikan dulu dengan dokter ahlinya. Semoga besok sudah bisa melakukan pemeriksaan ulang," Ucap dokter Ryan.
Dia tampak sangat khawatir dengan keadaan Mira saat ini, walaupun temannya itu sudah menjadi istri pria lain, dia tetap menginginkan yang terbaik untuknya.
"Baiklah, saya tunggu, kabar selanjutnya," Ujar Jack.
"Ok, akan saya kabari secepatnya!" Ucap dokter Ryan sambil menatap nanar wajah Mira.
Ini adalah sebuah pertemuan yang tidak direncanakan. Dokter Ryan adalah seseorang yang pernah ada di masa lalu Mira. Mereka sempat menjalin hubungan sebagai kekasih. Namun, hubungan asmara mereka itu harus kandas di tengah jalan. Bukan karena terjadi masalah, tapi, karena dokter Ryan pada saat itu harus melanjutkan pendidikannya.
Siapa yang menduga bila mereka harus bertemu kembali, di saat Mira sudah menikah dan sedang mengandung.
Selama ini dokter Ryan selalu mencari keberadaan Mira, tetapi, tidak pernah mendapatkan hasil. Mereka dulu pernah tinggal di kota yang sama.
Akan tetapi, waktu itu ayah Mira harus pindah ke luar kota karena sebuah pekerjaan, maka dari itulah akhirnya mereka berpisah.
Mereka pun tidak pernah bertemu lagi.
Sekarang mereka bisa bertemu tetapi, keadaannya sudah berubah. Mira sudah mempunyai kehidupan baru, bersama seorang suami yang sangat menyayanginya.
Selama ini dokter Ryan tidak pernah membuka hatinya untuk wanita lain. Dia selalu berharap bahwa jodohnya adalah Mira. Kedua orang tuanya pun terus meminta agar dirinya segera menikah tetapi, jawabannya hanya satu yaitu, “belum ada yang pas.”
"Ok, Saya permisi!” Ucap Jack sambil membawa istrinya untuk keluar dari ruang pemeriksaan.
__ADS_1
Selama menempuh perjalanan melewati lorong-lorong Rumah sakit, tidak ada yang bicara sepatah kata pun di antara mereka jingga pada akhirnya mereka sudah berada di area parkir. Rico sudah menunggu di dekat kendaraan, layaknya seorang asisten yang setia.
Saat pintu mobil terbuka. Jack menggendong Mira dari kursi roda menuju tempat duduk bagian penumpang belakang. Pria itu tidak membiarkan Mira untuk berjalan.
Setelah semua duduk dengan nyaman dalam kendaraan mewah itu, Rico pun melajukan mobil Mercedes Benz E class yang mereka tumpangi secara perlahan, pergi meninggalkan area Rumah sakit. Suasana perjalanan sangat padat, membuat laju mobil menjadi lambat untuk tiba di rumah.
Pemandangan kota yang sangat gemerlap di malam hari, kelap kelip lampu taman, menjadikan suasana malam sangat indah. Namun, keindahan itu tidak mampu membuat hati Mira merasa senang.
Selama perjalanan pun tidak ada yang bicara sepatah kata pun, Jack sibuk dengan pikirannya tentang kesehatan sang istri. Sementara Mira sibuk memikirkan apa yang akan terjadi esok hari, jika semua orang tahu usia kehamilannya. Bisa saja Jack sebagai suaminya, meragukan janin yang ada di kandungannya. Sebuah dilema bagi dirinya. Wanita itu terus berpikir apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Setelah cukup lama mereka berada di jalanan yang sangat padat, akhirnya sampai di rumah sederhana milik Mira.
Perempuan itu turun terlebih dahulu tanpa memedulikan Jack, suaminya. Pria itu menyusul istrinya masuk ke rumah sederhananya. Rumah itu memang tidak mewah, tapi, masih terlihat sangat bagus, serta layak untuk di tempati.
Di dalam rumah itu, sudah ada Anita dan Ferdy yang menunggu kedatangan mereka karena tadi, Jack memerintahkan mereka untuk mengantar Zay pulang terlebih dahulu. Pria itu tidak mau Zay mengikuti ibunya ke Rumah sakit. Lagi pula, tidak baik anak kecil ikut Ke tempat itu.
"Mir, bagaimana keadaanmu?” Tanya Anita sambil berdiri dan mendekati Mira lalu, membawanya duduk di sofa.
"Baik, aku tidak apa-apa hanya butuh istirahat saja," jawab Mira dengan wajah murung.
"Alhamdulilah ... tapi, jika baik kenapa wajahmu seperti itu?” Tanya Anita.
"Gua ke kamar dulu ya, mau istirahat dulu! Oh ya, lu mau nginep di sini atau pulang?” Tanya Mira terhadap Anita.
"Pulang saja ..." Jawab Anita singkat.
"Ya sudah, kalau mau pulang jangan terlalu larut malam. Hati-hati juga di jalan!" Mira berpesan terhadap Anita. Lalu, pergi berlalu meninggalkan Anita dan semua yang ada di sana.
Anita melempar tatapan kepada semua orang penuh tanda tanya tapi, semuanya hanya menggerakkan bahunya, pertanda mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Mira.
Jack dan Rico pun sudah bergabung bersama mereka di ruang tamu.
"Mira kenapa?” Tanya Anita terhadap Jack.
"Dia hamil," jawab Jack singkat.
"Hamil...?” Anita pun kaget dengan jawaban Jack dan pria itu mengangguk.
"Tokcer juga, ya, lu!" Ucap Ferdy dan Rico sambil tertawa lepas. “Ternyata bibit unggul juga lu, yah, cepat banget membuat dia hamil!”
"Jangan ngeledek gua terus! Udah untung gua dah bisa buat Mira hamil. Itu tandanya gua sukses dong! Nah kalian masih aja Jomblo." Jack membalas mereka sambil tertawa ketika melihat wajah ketiga sahabatnya berubah murung.
"Gua, bukan Jomblo tapi, belum nemu yang pas!" Ujar Ferdy sambil mengambil cangkir kopi lalu meminumnya.
__ADS_1
"Apa bedanya! Toh itu sama saja tidak ada pasangan!" Ucap Jack sambil tertawa lagi.
"Iya deh, kita ngaku kalah!” Jawab Rico pasrah. Mau ngeles seperti apa pun ya, tetap saja mereka itu Jomblo, atau tidak ada pasangan.
"Sudah sana, kalian pulang!" Jack menyuruh teman-temannya untuk pulang.
"Lu, Ngusir Gua?" Ucap Anita.
"Iya, lagian di sini tidak ada tempat untuk menampung para Jomblo seperti kalian!”
“Ya sudah kita pulang,” Ajak Ferdy kepada Rico dan Anita.
“Iya deh, kita pulang,” jawab keduanya.
"Eh, Tunggu! Gua pulang sama siapa?” Anita bingung dia baru ingat bila dia tidak membawa mobilnya.
Rico dan Ferdy pun saling melempar tatapan lalu Rico berkata.
"Ya sudah, lu pulang gua yang nganter. Ayo!” Ajak Rico pada Anita.
"Ya sudah, Gua pulang dulu!" Kata Ferdy, sambil berlalu, dia pun pulang terlebih dahulu.
Anita dan Rico pun Menyusul, untuk pulang.
"Gua pamit pulang dulu ya? Kalau ada sesuatu jangan lupa kabari gua!" Ucap Rico.
"Terima kasih, Nit! Atas semua waktunya" Ucap Jack.
"Sama-sama, Gua malah seneng bisa bantu lu. Eh bilang salam aja buat Mira ya!" Ucap Anita sambil pergi berlalu keluar rumah untuk menuju mobil milik Rico yang sudah bersedia mengantar sampai ke rumah.
Setelah semuanya pergi Jack pun pergi meninggalkan ruang tengah lalu menuju kamarnya. Begitu berada di dalam kamar, Jack melihat Mira sedang duduk di tepi ranjang sambil memeluk lututnya. Pria itu perlahan mendekat ke arah istrinya lalu, meraih tangannya lembut.
"Kamu kenapa, Sayang! Apa kamu tidak senang dengan kehadiran anak kita?” Tanya Jack sambil menatap lekat wajah sang istri.
Mira mendongak, menatap suaminya lekat, "Mas, apa kamu akan mengakui anak yang aku kandung saat ini?” Mira pun balik bertanya.
"Apa alasanku menolak anak itu?” Jack heran dengan pertanyaan yang di lontarkan Mira. Bagi Jack pertanyaan Mira sangat tidak masuk akal.
Bersambung
__ADS_1