
"Kenapa, lu gitu, sih? Nggak mau mengabulkan permintaan gua padahal, lu tahu sendiri, kan, gua itu lagi hamil, bagaimana nanti kalau anak gue ngeces, mau lu punya ponakan yang seperti itu?" Ucap Mira dengan wajah sendunya.
"Eh, tunggu... kenapa lu jadi ngancem gua begitu, Mir?" Ucap Anita sambil menatap lekat wajah sahabatnya.
"Bukan ancaman itu, hanya peringatan, tahu?" Jelas Mira.
"Lu, kan hamil bukan karena gua... tapi kenapa ngidamnya gua ke bawa-bawa juga, aneh!" Kata Anita kesal, karena dia tidak mau pergi meninggalkan pekerjaannya, tapi, mau bagaimana lagi setelah istri bosnya meminta untuk di temani maka, dirinya harus menurutinya juga.
"Astaga, Nit! Kan, kamu itu sahabat gua, wajarlah jika anak gua mau jajan ditemani sama lu, tantenya!" Ucap Mira dengan wajah sendunya.
"Iya, iya oke. Ayo! Berangkat," Jawab Anita sambil meletakkan berkas yang sedang di pegangnya lalu bangkit dari duduknya, terus berjalan perlahan ke arah sofa lalu duduk di sana, di samping Mira.
"Katanya iya... kenapa duduk lagi di situ?” Protes Mira.
"Sebentar, kaki gua kram ini, selonjoran dulu, ya!" Jelas Anita, sambil memijat berisnya.
Setelah beberapa saat merelaksasi kalinya yang terasa kram, Anita pun mengambil kunci mobil dan tasnya, lalu mengajak Mira untuk segera pergi ke tempat yang dia inginkan.
“Ayo ...." Ajak Anita sambil melangkahkan kakinya menuju pintu ke luar.
"Iya, ayo!” Jawab Mira, sambil beranjak bangun dan berjalan perlahan mengikuti Anita dari belakang.
"Kenapa sih... Harus ke tempat Haji Kodir, itu? Di sini juga banyak yang jualan tidak mesti repot-repot jauh ke tempat itu, kan?" Oceh Anita sambil berjalan, Sungguh dirinya malas untuk keluar di saat kerjaan kantor masih numpuk. Meskipun sekarang masih jam istirahat, tetapi, tetap butuh waktu lama atau sekitar satu jam untuk pergi ke tempat itu sehingga kemungkinan, saat kembali ke kantor pun, waktu yang tersisa tinggal sedikit.
"Di sini mana ada, durian seperti yang di jual di sana mungkin rasanya juga beda,” Jawab Mira, dia merasa tidak akan ada durian yang rasanya seperti di tempat Haji Kodir.
"Halah itu hanya perasaan lu, aja" Kesal Anita.
"Lu, ya Nit, kayak nggak iklhas banget antar gua, udah lama juga kita nggak keluar bareng, anggap saja kita mau liburan," Kata Mira tanpa merasa berdosa.
__ADS_1
Setelah cukup lama mereka berjalan melewati lorong-lorong perkantoran, akhirnya sampai juga mereka di parkirkan di mana Anita menyimpan kendaraan roda empatnya.
"Silakan masuk Nyonya Jack?" Anita mempersilahkan Mira untuk masuk ke mobil.
"Dih, kenapa begitu ngomongnya, sih. Biasa aja!" Ucap Mira sambil mengerucut kan bibirnya.
Setelah keduanya berada di mobil, Anita pun menyalahkan mesin lalu perlahan menginjak gas.
Kendaraan yang mereka tumpangi pun dengan perlahan keluar dari area perkantoran.
Anita mengendarai dengan perlahan, Secara ini waktu makan siang biasanya jalan juga sudah ramai di penuhi semua jenis kendaraan, sehingga mengakibatkan jalan menjadi sangat indah untuk di pandang. Namun, tidak untuk di lalui.
Di sepanjang perjalanan Mira terus bercerita banyak hal terhadap Sahabatnya itu, Anita sahabat yang baik bagi Mira, mereka selalu bersama saat suka maupun duka.
Sesekali Mira tertawa kecil saat menceritakan sesuatu hal. Awalnya Anita cuma menjawab dengan deheman tetapi lama kelamaan mendengarkan cerita sahabatnya itu akhirnya ikut terbawa suasana juga.
Setelah berlama-lama mereka berada di jalan, akhirnya sampai juga di tempat tujuan.
Kendaraan yang mereka tumpangi pun perlahan masuk ke area warung Haji Kodir yang di maksud. Anita mencari posisi parkir yang pas, dan setelah mobil terparkir dengan baik, mereka berdua pun turun. Mira berjalan terlebih dahulu di ikuti oleh Anita.
Setelah sampai di dalam tempat tersebut Mira pun memilih-milih buah durian yang akan di belinya.
Anita pun hanya melihat apa yang di lakukan sahabatnya itu, hingga dia teringat katanya ibu hamil itu tidak boleh makan durian.
"Mir, lu... kan, lagi hamil, kenapa makan durian bukannya tidak boleh ya? Setau gue, kan, begitu?" Tanya Anita terhadap sahabatnya itu.
"Kata siapa lu?” Mira balik bertanya.
"Kebanyakan orang bilang seperti itu lo," Jawab Anita.
__ADS_1
"Gini loh... gua pernah baca di salah satu artikel ya... Durian itu bermanfaat bagi wanita hamil, karena kandungan nutrisinya, asam folat dalam durian berfungsi mencegah cacat lahir pada calon bayi.
Akan tetapi ada beberapa ibu hamil yang tidak di anjurkan untuk makan durian, dengan kondisi ibu hamil yang mempunyai riwayat Diabetes ini harus menghindarinya, karena kandungan gulanya yang tinggi. Terus pada trimester ke tiga, sebaiknya kita hindari konsumsi durian yang berlebihan agar tidak terjadi obesitas pada janin, kandungan asam folat yang ada di dalamnya bermanfaat untuk perkembangan janin, melindungi otak dan tulang belakang, jadi jangan melihat dari sisi negatifnya saja kita juga harus melihat dari sisi lainnya" Jelas Mira pada sahabatnya itu.
"Ohhh seperti itu ya, jadi boleh dong, ya, makan durian asal dengan porsi yang wajar," Kata Anita sambil mantap wajah ibu hamil yang sedang menikmati durian di sebelahnya.
"Boleh dong," Jawab Mira sambil menyuapkan durian itu ke mulutnya dengan lahap.
Mereka meneruskan percakapan panjang lebar di antara kedua sahabat, Sambil menikmati durian di tempat pak Haji Kodir yang menurut Mira ini tempat paling bagus atau buah yang di jualnya pun sangat berkualitas.
Meskipun jauh Mira tetap maunya ke tempat ini.
Setelah puas, wanita hamil itu menikmati durian dan membeli beberapa biji untuk di bawa pulang. Semua pesanannya telah di siapkan oleh para pelayan di sana, Mira dan Anita masih menunggu pesanan yang akan di bawa pulang.
Setelah semuanya selesai kedua wanita itu keluar dari tempat tersebut menuju ke parkiran, di mana Anita memarkirkan kendaraan pribadinya.
Mereka masuk ke dalam mobil untuk segera pulang, pasti orang kantor mencari keberadaan keduanya. Secara mereka pergi tidak ada yang tahu, Mira juga pamit pada suaminya hanya keluar sebentar, nyata sudah berjam-jam belum kembali juga.
Anita melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, mungkin jika jalan tidak terlalu macet itu bisa di tempuh dengan waktu dekat. Namun, nyatanya tidak bisa di tempuh dengan cepat. Jalan sekarang tidak bisa di andalkan.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai juga dan kembali di kantor, Mira dan Anita pun bergegas turun dari mobil lalu segera menuju ke ruangannya.
Mereka berjalan beriringan untuk menuju ruangan mereka masing-masing, sesekali mereka berbincang selama di perjalanan menuju lantai atas di mana ruang mereka berada.
Anita dan Mira pun sudah berada di lantai yang mereka tuju, Anita segera masuk ke ruangannya begitu pun dengan Mira.
Mira memutar gagang pintu lalu membukanya, Tiba-tiba ada suara dari dalam ruangan yang mengagetkan dirinya.
"Dari mana? Kenapa baru kembali ke kantor jam segini?" Tanya orang tersebut dengan tatapan yang tajam, seperti menghunjam tepat di ulu hati.
__ADS_1