Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 81


__ADS_3

Di kediaman ferdy.


Seperti biasanya Bu Ani selalu sibuk di pagi hari, meskipun banyak asisten yang menyiapkan semuanya. Tetap saja harus ikut campur soal urusan dapur dan rumah, hari ini Selvi pertama kali masuk ke kampus. Dia sudah memantapkan diri untuk melanjutkan pendidikan nya, setelah mendapatkan ceramah tiga puluh juz dari Bu Ani dan sang kakak.


Awal nya Selvi enggan untuk melanjutkan, mengingat dirinya di sini bukan lah anak kandung dari Bu Ani, tetapi setelah di beri pengertian oleh sang kakak akhirnya dia paham. Ternyata keluarga barunya sangat sayang terhadap dirinya, Bu Ani tidak membedakan antara dirinya dan Ferdy. Bagi Bu Ani baik Selvi atau pun Ferdy itu mereka kakak adik satu ayah, Jika soal kejadian di masa, lalu Bu Ani sudah mengikhlaskan nya. Tidak perlu lagi ada dendam atau terpecah belah antara keluarga satu dengan yang lainnya.


"Selvi.... sarapan dulu? " panggil Bu Ani terhadap Selvi, yang dari tadi belum juga keluar dari kamar.


"Apa sih, Ma... teriak-teriak mulu masih pagi juga" Kata Ferdy sambil mendekat ke arah sang Mama.


Setelah beberapa saat akhirnya Selvi pun keluar sambil menggendong Devano.


"Kamu lama amat memang nya ngerjain apaan? kan banyak asisten juga kenapa harus ngerjain sendiri! " kata Bu Ani.

__ADS_1


"Ini Ma... pompa Asi dulu, takut nya pulang sore terus stock habis nanti Devano nangis,Mama juga yang repot nanti" Jawab Selvi terhadap Bu Ani, dia pun langsung mengambil alih Devano dari tangan Selvi. Bu Ani terlihat dengan jelas bahwa dia sangat menyayangi Selvi dan Devano.


"Ya sudah, sarapan dulu sanah! " perintah Bu Ani terhadap Selvi.


Suasana sarapan ala keluarga Ferdy pun sudah selesai,mereka sudah siap untuk memulai aktivitas di luar rumah.


Ini hari pertama Selvi masuk kampus, mungkin tidak akan mudah bagi Selvi untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Apalagi nanti jika orang-orang tahu bahwa dia sudah memiliki anak tanpa menikah, sudah pasti mereka akan mencemooh nya. Tetapi untuk itu Selvi sudah mempersiapkan mentalnya, dan sudah siap di hujat atau pun di asing kan atas apa yang terjadi di masa lalunya.


"Nggak usah Bang... nanti saja kalau aku sudah bisa beli mobil sendiri" Jawab Selvi santai.


"Kamu itu ngomong apa sih... abang sanggup belikan kamu mobil sepuluh juga, kenapa harus nunggu bisa beli sendiri" Kata Ferdy sedikit kesal terhadap adik nya itu.


"Ya, nggak begitu juga kali bang... lebih enak naik angkutan umum! " Selvi berkata sambil tersenyum ke arah sang kakak.

__ADS_1


"Angkutan umum itu banyak resiko nya, nanti kalau telat datang ke kampus! terus sekarang itu rawan kejahatan yang terjadi di dalam angkutan umum! " Kata Ferdy, dia berusaha memperingatkan sang adik, bahwa banyak kejahatan yang sering terjadi di jalan.


"Kamu juga mesti belajar dari masalalumu, jika saja malam itu kamu nggak bertemu dengan berandal itu pasti kamu tidak akan menanggung semua ini sendiri" ucap Bu Ani, rada sedikit kesal terhadap orang yang sudah membuat Selvi menjadi seperti ini. Untung saja Ferdy menemukan nya di waktu yang tepat.


"Sudah lah Ma.. jangan bahas itu lah! " kata Ferdy menjeda omongan sang Mama, dia sudah bisa melihat raut wajah sang adik yang mulai berubah.


"Pokoknya,Nama tidak setuju jika Selvi pergi ke manapun naik angkutan umum, harus di antar sopir atau kamu! " kata Bu Ani dengan nada bicara penuh penekanan.


"Iya, Ma.. udah ku siapin semuanya, makanya suruh ikut kursus mengemudi biar dia bebas mau ke manapun" jawab Ferdy.


Selvi yang mendengar perdebatan, tidak bisa berkata apapun hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.


Perdebatan di pagi hari pun sudah selesai, akhirnya Selvi pergi ke kampus di antara Ferdy. Devano tetap di rumah bersama sang Nenek.

__ADS_1


__ADS_2