Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 184


__ADS_3

Setelah Zay dan Bu Farida pergi untuk bermain, Mira pun dengan santainya duduk di sofa dan menikmati cemilan yang ada sambil nonton acara televisi kesukaan nya.


Zay dan Bu Farida pun asik bermain bersama di dalam kamarnya, sehingga Mira merasakan jenuh duduk sendiri sambil nonton televisi.


Mira bangkit dari duduknya lalu, berjalan perlahan menuju terasa. Di mana dia bisa menikmati pemandangan taman yang berada di belakang rumah, di sanah banyak sekali jenis bunga, sebab ibu mertuanya sangat menyukai bunga. Mira juga suka bunga tetapi bunga yang paling di sukai nya yaitu bunga sedap malam.


Entah kenapa dia ketika melihat bunga sedap malam rasanya menyejukkan.


Mira pun bangkit dari duduk nya, dia berjalan perlahan untuk berkeliling di area taman yang ada di belakang.


Belakangan ini Mira merasa sangat jenuh berada di dalam rumah dan tidak ada kegiatan lain, selain nonton televisi makan tidur dan lain sebagainya. Itu sangat membosankan sekali, ini saat nya bagi Mira keliling taman sambil melihat-lihat tanaman.


*****

__ADS_1


Di tempat lain


Di gedung perkantoran, Jack dan staf yang lain nya sedang berada di ruang meeting. Hari ini mereka akan membahas project yang sempat terunda gara-gara kecelakaan waktu itu.


Jack mempercayakan semua itu terhadap Ferdy dan juga siti, setelah mempertimbangkan segala sesuatu dan di lihat dari sudut pandang yang berbeda dan kemampuan dan keuletan dalam bekerja. Akhirnya Jack menerima rekomendasi Mira, untuk mengangkat siti sebagai pengganti Mira.


Sekarang Siti bukan lagi office girls lagi, dan sekarang dia punya tanggung Jawab besar yaitu sebuah proyek yang berada di luar daerah.


Tadinya proyek ini di pegang Rico, di karena Rico sedang tidak fokus ke dalam pekerjaan akhirnya di alihkan kepada Ferdy. Lagi pula di pegang Ferdy atau pun Rico itu sama saja, awal nya Rico berjanji akan membereskan ini semua bersama Anita setelah menikah. Tetapi ini semua tidak terjadi sebab Anita langsung mengandung, jadilah proyek tersebut terbengkalai dan Rico lebih fokus terhadap istrinya.


Semuanya sudah keluar dari ruangan, tinggallah Ferdy dan Jack yang masih berada di dalam ruangan.


"Kenapa sih... lu nggak mau satu team sama Siti? " tanya Jack terhadap sahabat nya itu.

__ADS_1


"Gua nggak mau kerja satu team sama perempuan, apalagi harus ke luar kota bikin repot saja" jawab Ferdy dengan raut wajah yang malas.


"Ya kan Siti itu arsitek nya, jadi dia harus melihat posisi lahan yang ada di sanah. Takut jatuh cinta lu! " Ledek Jack terhadap sahabatnya itu.


"Ngomong apa sih lu! " jawab Ferdy dengan wajah datar nya.


"Ya kali aja Siti itu jodoh lu, eh jangan ding susah nanti nyari penggantinya.. sudah cukup Mira sama Anita saja yang keluar dari perusahaan ini dan jangan sampai Siti juga keluar karena hamil anak lu" Ucap Jack sambil tertawa kecil.


"Astaga lu itu ya ngomong nya ngelantur, ini masih siang jadi nggak usah mimpi deh! " kata Ferdy sambil bangkit dari duduk nya, dia berjalan perlahan untuk menuju pintu keluar. Meninggalkan Jack yang tertawa lepas, dia sangat bahagia saat membuat Ferdy kesal.


Ferdy pun membuka pintu lalu keluar, entah ini kebetulan atau memang takdir dia menabrak seseorang di luar sanah.


"Astaga... Pak! kalau jalan itu hati-hati! " ucap wanita itu, dengan nada bicara yang sedikit kesal sebab kertas yang di pegang nya berhamburan akibat di tabrak Ferdy.

__ADS_1


"Kenapa kamu nyalahin saya! bukan nya kamu yang ceroboh" jawab Ferdy dengan nada bicara datar, setelah berbicara seperti itu Ferdy pergi berlalu meninggalkan wanita itu. Tanpa minta maaf atau membantu mengambil kertas yang berserakan.


"Dasar sombong... " umpat wanita itu dalam hati, entah kenapa setiap kali mereka bertemu nggak pernah akur, selalu saja berantem.


__ADS_2