Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 64


__ADS_3

"Tunggu, sebentar saya telepon dulu apakah sudah pulang atau belum, soalnya dia praktiknya sudah selesai tadi, jam delapan, sekarang sudah jam sembilan." Dokter Farhan memberi penjelasan pada Jack.


"Baiklah, kalau sudah pulang, suruh dia balik lagi! Jika tidak! Akan aku tutup Rumah sakit ini!" Ancam Jack terhadap dokter Farhan.


"Elah, biasanya ngancem!” Ucap dokter Farhan sambil mengambil gagang telepon. Lalu, dia menghubungi salah satu rekan kerjanya itu. Tidak butuh waktu lama telepon pun tersambung, kemudian Farhan tampak berbincang-bincang membicarakan sebuah kesepakatan setelah berbasa-basi sejenak dan, panggilan telepon pun berakhir begitu mereka Ryan menyanggupi untuk menagani Mira.


"Baiklah, Dokter Ryan bilang di tunggu sekarang, karena sebentar lagi dia akan pulang," Ujar dokter Farhan.


"Di mana ruangannya?” Tanya Jack.


“Sebentar ... Nanti aku yang antar kalian ke sana!” sahut dokter Farhan, sambil berdiri dan memerintahkan suster yang ada, untuk membawa Mira dengan kursi roda, dokter itu cukup khawatir bila wanita itu kelelahan.


"Ok," Jawab Jack singkat.


Rombongan kecil itu pergi menuju ruangan dokter Ryan. Setelah sampai di sana mereka pun di sambut  ramah oleh sang pemilik ruangan. Dia, ternyata seorang dokter muda yang sangat tampan. Siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona dengan ketampanannya.


"Silakan duduk," sapa Dokter Riyan dengan ramah, dan mempersilahkan Jack dan dokter Farhan untuk duduk. Dia membimbing Mira langsung menuju ranjang pasien di mana dokter itu akan melakukan pemeriksaan.


"Ada yang bisa saya bantu? Apa keluhannya?” Tanya Dokter Ryan.


"Istri saya sedang hamil, ingin di periksa lebih lanjut," Ucap Jack.


Dokter Ryan pun, mengangguk sambil tersenyum. Namun, Di dalam hatinya merasakan sebuah perusahaan yang tidak bisa di artikan. Dia menatap Mira dengan saksama.


Dokter Ryan pun mendekat ke arah Mira lalu, akan memeriksakannya. Namun, Jack tetap tidak terima jika istrinya akan di sentuh pria lain. Dia menatap dokter Riyan yang menangani Mira dengan banyak emosi yang terkumpul dimatanya.


Oleh karena itu, pemeriksaan pun berlangsung dengan di lakukan oleh seorang bidan tetapi, tetap di bawah pengawasan Dokter Ryan.


"Liat di monitor Pak! Ini janinnya tumbuh sehat. Perkiraan kandungan sudah mulai memasuki minggu kesepuluh.” Dokter Ryan memberi penjelasan terhadap Jack dan Mira melalui kursor yang ada di layar monitor.


"Apa ... Sepuluh minggu?” mata Mira membulat dengan sempurna karena sangat kaget dengan ucapan dokter itu, bagaimana bisa dia hamil dan usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke sepuluh? Sedangkan menikah saja belum genap satu bulan? Seketika tubuh Mira membeku. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya. Pasti setelah ini dirinya jadi bahan gunjingan semua orang.

__ADS_1


Keadaan Mira berbanding terbalik dengan Jack, justru pria itu terlihat sangat santai dan penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak, dia akan memiliki keturunan yang selama ini sangat didambakan. Jack juga belum paham tentang usia kandungan yang sudah sepuluh Minggu, yang dia cerna hanya kehamilan dan bayinya tumbuh sehat. Itu saja.


Dokter Ryan pun melihat ada yang aneh di rahim Mira, seperti ada benjolan yang tidak biasa. Karena kecurigaannya, Dia pun memerintahkan bidan untuk menzoom di area itu agar terlihat lebih jelas. Setelah di lakukan beberapa kali pembesaran gambar, memang ada benjolan di leher rahim wanita itu.


Dengan serius dokter muda itu memastikannya berulang kali, dengan pemeriksaan yang lebih teliti. Setelah beberapa saat kemudian, pemeriksaan pun sudah selesai di lakukan.


Mira masih duduk di atas ranjang pasien, dengan segala pikiran yang seolah-olah berputar-putar di kepala. Dia memikirkan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya.


"Bisa kita bicara sebentar, tapi, tidak di sini?" Dokter Ryan pun mengajak Jack dan dokter Farhan untuk berbicara secara terpisah, hingga menjauh dari Mira Agar pembicaraan mereka tidak terdengar olehnya.


"Baiklah," Jack dan dokter Farhan pun mengikuti langkah dokter Ryan yaitu menuju ruang pribadinya.


Begitu tiba di ruangannya Dokter Ryan pun mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa yang ada di sana.


"Silakan duduk," kata Dokter Ryan,  mempersilahkan


Jack dan teman seprofesinya untuk duduk. Mereka kini sudah saling berhadapan, terlihat dokter Riyan berulang kali menarik napas panjang.


"Apa ada masalah dengan kehamilan istri saya?" Tanya Jack terhadap  kedua dokter yang ada di hadapannya.


"Memangnya kenapa, Dok?” Jack sangat penasaran, tentang apa yang terjadi dengan istrinya sebab, tadi saat di ruang pemeriksaan, dokter itu mengatakan bahwa Mira baik-baik saja. Timbul banyak pertanyaan di benak Jack sebab dia melihat muka kedua dokter ganteng yang ada di hadapannya menjadi kusut seketika, membuat hatinya tidak tenang.


Dokter Farhan dan dokter Ryan pun saling melempar tatapan, sangat berat untuk mengucapkan hal ini. Karena mereka tahu bahwa, hal ini akan menghancurkan harapan Jack.


Dengan berat hati akhirnya Dokter Ryan pun memberi tahu Jack akan satu kebenaran yang terjadi dengan Mira.


"Jadi gini, Pak. Di leher rahim Mira ada benjolan kecil, entah itu jenis apa kita juga belum bisa memastikannya. Biar lebih jelas harus dilakukan kembali pemeriksaannya oleh dokter spesialis lainnya.” Dokter Ryan pun menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan Mira.


"Apakah itu sangat berbahaya?” Tanya Jack.


"Tergantung jenisnya, ada yang ganas dan ada juga yang tidak," Jawab dokter muda itu.

__ADS_1


"Jika yang ganas, apakah akan membahayakan untuk janinnya?" Jack terus bertanya tentang apa yang terjadi dengan istrinya.


"Jika jenisnya ganas, maka, ada dua pilihan Ibu atau anaknya, yang bisa diselamatkan.” Pekik dokter Ryan, “tetapi, jangan terlalu khawatir ... kita belum memeriksakan lebih lanjut. Jadi, kemungkinan itu sangat tipis. Berdoa saja semoga ini semua salah.”


Tubuh Jack seketika membeku kala mendengar penjelasan tentang apa yang ada di rahim sang istri. Baru saja dirinya merasa bahagia, dan dia tidak ingin jika kebahagiaan itu harus lenyap seketika.


"Untuk jadwal pemeriksaan lebih lanjut, nanti saya yang atur, dan untuk pemantauan kehamilannya tetap di bawah pengawasan saya," Ucap dokter Ryan.


"Baiklah, saya serahkan kepada kalian berdua, lakukan pengobatan yang terbaik untuk istri saya.” Jack berbicara dengan nada yang mulai bergetar. Tidak bisa di bayangkan jika sesuatu hal terjadi kepada istrinya.


"Kami akan berusaha semampu kami," Ucap kedua dokter yang ada di hadapan Jack secara bersamaan.


Pembicaraan di antara ketiganya pun sudah selesai di lakukan.


Mereka kemudian kembali ke ruangan di mana Mira menunggu, Jack mendekat ke arah Mira lalu, memeluknya, sambil berkata, "Kamu akan baik-baik saja dan janin yang ada di kandunganmu akan tumbuh sehat." Jack berkata sambil mengelus perut sang istri yang masih rata.


"Sudah selesai kan?" Tanya mira terhadap kedua dokter tersebut.


"Sudah ... dan ini vitamin silakan tebus di apotik." Dokter Ryan pun memberikan selembar kertas resep terhadap Jack.


"Semoga cepet sehat ya, Mir! Tidak menyangka kita bertemu di sini," Ucap Dokter Ryan sambil menatap wajah Mira dengan penuh kehangatan. Namun, Mira hanya menjawab dengan senyuman. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya satu, yaitu bagai mana dia menjawab pertanyaan semua orang tentang usia kehamilannya. Jika Anita tahu pun pasti rentetan pertanyaan pun pasti akan muncul. Belum lagi gunjingan dari orang-orang yang ada di sekitarnya.


Sungguh berat ujian hidup Mira, jika ingin menyalahkan siapa yang harus di salahkan?


Sebuah kesalahan yang disengaja, karena dia hanya ingin menyelamatkan anaknya, ya, hanya demi uang satu milyar. Dia tidak menduga harus berakhir seperti ini.


 


Kira-kira, apa yang akan terjadi selanjutnya, apa yang akan dilakukan Jack sebagai bentuk pembelaannya pada istrinya tercinta?


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2