
"Dari mana? Jam segini baru pulang?” Tanya Mira dengan raut wajah yang kesal dan tatapannya yang sulit diartikan. Dengan rentetan pertanyaan itu membuat Jack diam seketika.
"Klinik, bersalin." Jawab Jack singkat.
"Habis ngapain di sana?" Tanya Mira lagi penuh curiga sebab pergi ke tempat yang tidak biasa.
"Istri Ferdy melahirkan, dia kebingungan tadi malam makanya nyuruh aku ke sana," Ucap Jack.
Dengan ucapan yang terlontar dari mulut sang suami, sungguh membuat Mira semakin bingung. sejak kapan Ferdy punya istri? Tanyanya dalam hati.
Jack melirik ke arah Mira yang tampak masih bingung sekilas, lalu, dengan langkah cepat doa segera masuk ke kamarnya sendiri untuk segera melakukan kebiasaannya di pagi hari. Mengingat waktu juga sudah semakin siang. Dia harus pergi ke kantor dan mengantar Zay ke sekolah juga.
Setelah sampai di kamar, Jack langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cukup lama dia berada di sana hingga akhirnya keluar juga dan sang istri masih setia menunggu suaminya keluar.
Jack mengambil pakaian ganti berupa setelan kemeja dan jas yang sudah di siapkan kan sang istri, untuk pergi ke kantor.
Mira ingin bertanya lebih jauh tentang Ferdy, pada suaminya itu yang tidak memberi kepuasan dengan semua jawabannya.
Dia diam sejenak Mira lalu, menghela nafas panjang dan kembali memulai percakapan.
"Mas... Dari mana semalam? " Tanya Mira pada sang suami sambil menatap wajahnya.
"Dari klinik bersalin," Jawab Jack tenang, Sambil sibuk mengancingkan kemeja yang dikenakannya.
"Iya, buat apa di sanah?" Mira masih penasaran.
"Ferdy kecelakaan," Jawab Jack.
"Yang benar, Mas... terus sekarang keadaannya bagaimana?” Tanya Mira dengan penuh rasa khawatir, pada sahabat suaminya itu. Walau bagaimana pun juga, mereka sudah seperti keluarga.
"Dia baik-baik saja,” Kata Jack.
__ADS_1
"Sukur lah...." Ucap Mira lega, Setelah mendengar ferdy baik-baik saja.
"Ko belum ganti baju?Memangnya kamu nggak mau ke kantor?" tanya sang suami terhadap istrinya. Dia heran sebab biasanya Mira selalu sudah siap berangkat ke kantor pada jam seperti ini. Akan tetapi sekarang, wanita itu justru belum bersiap.
"Boleh ya, Ijin tidak masuk kantor hari ini?” Mira minta Ijin pada suaminya dengan tatapan penuh permohonan.
"Hmm ... Bahkan aku mau, Kamu itu tidak usah masuk kantor lagi, Sayang,” Jawab sang suami dengan wajah datarnya, Dia sebetulnya tidak suka Mira masih bekerja di saat sedang hamil. Apalagi mengingat kondisi sang istri saat ini.
"Untuk itu, aku belum bisa... " Jawab Mira sambil menunduk, dia tidak mau melihat mata suaminya yang dia pikir pasti akan penuh dengan kekecewaan. Sementara dia sendiri menutupi sesuatu yang tidak ingin suaminya itu tahu. Belum waktunya untuk mengungkapkan apa yang tengah dia sembunyikan.
Jack tidak menanggapi lebih jauh, hingga dia pun sudah rapi dengan pakaian yang di pilih istrinya.
"Sarapan dulu, ya?” Ajak Mira terhadap sang suami.
"Iya, ayo!” Jawab sang suami singkat.
Mereka berdua pun keluar kamar, menuju ruang makan di mana sudah ada anggota keluarga yang lain menunggu, pagi ini anggota keluarga lengkap seperti beberapa hari terakhir, saat anggota keluarga bertambah dengan kedatangan Bu Dellia.
Bu Merlin dan Bu Dellia pun tersenyum penuh kebahagiaan menyaksikan semua itu. Seperti inilah suasana yang selalu di rindukan dua wanita paruh baya itu, berkumpul bersama orang-orang yang di cintai dalam satu meja, menikmati makanan dan menghabiskan waktu bersama.
"Selamat pagi, Ma!" Sapa Jack terhadap kedua wanita paruh baya yang ada di hadapannya, Sambil menatap mereka secara bergantian.
"Pagi juga," Kedua wanita yang duduk berdampingan di meja makan itu menimpali secara bersamaan.
"Eh, Jagoan Papa... bagai mana tidurnya malam ini, pasti tidur nyenyak, kan?" Tanya Jack terhadap sang anak.
"Nyenyak Pah... tapi, nenek tidurnya ngorok, Jadi berisik!" Ucap Zay sambil melihat ke arah Bu Dellia.
Jack pun duduk di kursi berdampingan dengan Mira yang dengan telaten mengisi piring suaminya dengan menu sarapan pagi ini.
Suasana makan yang hening saat itu pun kembali tercipta, Hanya alat makan saja yang bersuara di sana.
Setelah cukup lama akhirnya selesai sudah semuanya.
__ADS_1
"Mama mau bicara sama kalian berdua" Ucap Bu Merlin tiba-tiba sambil mengelap tangannya dengan tisu.
"Iya, Ma..! " Sahut Jack dan Mira bersamaan.
"Kalian lihat Mama sekarang, kan? Mama sudah tidak apa-apa, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Makanya, Mama mau pulang sekarang, boleh, ya? Mama sebenarnya sangat berharap kalian berdua ikut, Itu rumah kalian juga," Ucap Bu Merlin sambil menatap wajah sang menantu dan anak perempuannya secara bergantian, dengan tatapan penuh permohonan.
"Tapi, Ma...!" Ucapan Mira terputus karena Bu Dellia ikut bicara.
"Kalian boleh pindah ke rumah Mama juga, kapan pun kalian suka, jika kalian berkenan, Di sana juga banyak kamar kosong, sekali lagi Mama bilang, itu rumah kalian juga!" Kata Bu Dellia.
Sungguh pilihan yang sangat sulit, bagi Jack dan Mira.
"Mama sih terserah, Keputusan ada di tangan kalian, tapi sekali lagi Mama sangat berharap sekali bisa tinggal sama Mama ... Mama nggak bisa terus menerus tinggal di sini padahal kalian bisa tinggal di sana," ucap Bu Merlin sambil menatap sang menantu, dirinya sangat berharap Mira akan mengabulkan permintaannya.
Harapan seorang ibu yang tidak muluk, tapi terkadang sulit di wujudkan anak-anaknya karena mereka sudah memiliki kesibukan, dan pertimbangan masing-masing.
Mungkin akan berbeda jika sebelumnya mereka tidak pernah memiliki masalah. Akan tetapi mengingat masa lalu keduanya, membuat jalinan kasih antara ibu dan anak itu seolah memiliki penghalang yang tak kasat mata.
Baik Bu Dellia atau pun Bu Merlin, sama-sama tidak memiliki kedekatan dengan anak mereka disebabkan oleh masa lalu, membuat kedua wanita itu menjadi maklum dan menyerahkan keputusan tentang masalah tempat tinggal itu pada Jack dan Mira.
"Nanti di pikir-pikir dulu ya, Ma...." Jawab Mira.
"Ya, Sudah," Jawab Bu Merlin dengan raut wajah yang menunjukkan sedikit kecewa.
"Nanti sore Mama pulang! Tapi sebelum itu Mama mau ke makam kirana dulu, apa kalian mau ikut?" Kata Bu Dellia mengajak Mira untuk berkunjung ke makam adiknya.
"Iya, gimana nanti aja, Ma," jawab Mira.
Percakapan di antara mereka sudah cukup lama hingga akhirnya selesai. Jack dan Zay pun berpamitan kepada tiga perempuan yang ada di hadapannya.
Mira mengantar suami dan anaknya sampai ke teras depan rumahnya, jingga kedua pangeran di hati itu masuk ke mobil mereka, dia terus melambaikan tangan sampai kendaraan itu tidak terlihat lagi.
Bersambung
__ADS_1