Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 171


__ADS_3

"Jadi ini alasannya kamu tidak bisa di hubungi" ucap Mira dengan tatapan tajam terhadap suaminya.


Jack yang melihat istrinya datang dengan tiba-tiba hanya bengong.


"Eh sayang ko datang nggak ngasih kabar dulu" kata Jack sambil menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal.


"Kalau kamu bisa di hubungi nggak mungkin juga datang ke mari" ucap Mira dengan nada bicara yang tinggi, dia sudah di kuasai emosi entah ini faktor ibu hamil atau memang sifat asli nya seperti ini. Sebelum nya Mira tidak pernah berbicara dengan nada tinggi seperti ini.


"Tenang dulu sayang.... coba atur nafas dulu baru kamu marah-marah " ucap Jack sambil tersenyum ke arah istrinya, bagi yang melihat interaksi suami istri itu hanya diam dan tidak berani berkomentar apapun.


"Duduk dulu lah! " perintah Ferdy terhadap Mira.


"Iya juga terus minum dulu" Rico juga ikut menimpali.


"Nggak perlu! " jawab Mira dengan nada judes nya.


"Ya sudah sini dulu" ucap Jack sambil merangkul bahu istrinya, dia berusaha untuk menenangkan sang istri. Tetapi Mira malah menyingkirkan tangan suaminya, sungguh dia sangat kecewa terhadap Jack.


Jack jika sudah bersama Rico dan juga Ferdy terkadang sampai melupakan semuanya, ini sebabnya Mira sangat marah sekali bahkan Jack juga bisa mengabaikan panggilan dari sang istri.


"Nggak mau! " ucap Mira sambil menyingkirkan tangan suaminya.


"Kita keluar dulu lah nanti kita sambung lagi, sudah nggak beres ini nggak bisa di lanjutkan " ucap Ferdy sambil pergi melangkah untuk keluar dari ruangan.


"Silakan lanjutkan " kata Rico sambil melambaikan tangan, lalu melangkah kan kaki perlahan untuk keluar dari ruangan Jack.

__ADS_1


Setelah Rico dan Ferdy keluar akhirnya Jack pun melingkar kan tangan nya di pinggang sang istri, lalu menaruh dagunya di pundak sang istri sambil berkata "Maaf kan aku ya.... tadi lupa isi daya ponsel sumpah tidak ada maksud lain, mereka ada di sini pun karena ada pekerjaan yang sangat penting dan harus segera di selesaikan" ucap Jack dengan nada pelan, tetapi penjelasan Jack belum sepenuhnya di terima oleh Mira, sungguh dia merasa kesal sekali terhadap suaminya sampai dia harus datang ke kantor, sebab tidak bisa di hubungi.


"Jangan menjadi kebiasaan ponsel itu habis daya,jangan pernah menganggap sepele soal arti sebuah kabar! " ucap Mira dengan tegas.


"Iya, aku janji nggak di ulangi lagi! " kata Jack sambil memegang kedua telinga nya.


"Masa isi daya ponsel saja harus aku terus! " ucap Mira sambil merajuk, sungguh suaminya itu sangat luar biasa bahkan hanya untuk mengisi daya ponsel pun nggak, jika tidak di perhatikan sang istri. Dia tidak pernah mikir penting nya ponsel, Jack selalu berfikir jika soal perusahaan pasti menghubungi nya ke Rico atau Ferdy jadi bagi dia tak ada ponsel pun tak masalah.


"Ya sudah aku pulang lagi! " ucap Mira sambil membalikkan badan nya untuk segera pergi dari ruangan suaminya.


"Nanti saja pulang nya bareng aku! " kata sang suami dengan nada lembutnya.


"Nggak mau! "


"Jangan marah-marah terus nanti cepat tua loh" ucap Jack terhadap istrinya, yang seperti nya masih ngambek.


Jack memesan makanan kesukaan istrinya, setelah beberapa saat pesan pun datang.


Sepasang suami istri pun yang tadi sempat bersitegang dan hampir perang Dunia ke tujuh, dan berakhir dengan damai dan makan siang bersama.


Berbanding terbalik dengan keadaan Sania.


*


*

__ADS_1


*


Di tempat lain


"Sudah berapa bulan aku bersembunyi terus, mana janji kamu yang selalu di ucapan yang akan membebaskan dari jeratan hukum! " ucap Sania dengan nada yang penuh amarah.


"Ya sabar lah, ini juga lagi usaha toh lawan kita itu bukan orang sembarangan" jawab Juna dengan santai, dia sudah kebal mendengar makian dari Sania. Kalau saja bukan karena cinta sudah pasti Juna telah membuang Sania ke dasar laut. Semua rela Juna lakukan untuk menuruti semua keinginan Sania, Meskipun itu untuk menghianati Bu Dellia sekalipun rela Juna lakukan asal membuat Sania bahagia.


"Harus sampai kapan! bahkan sekarang pencarian di setiap surat kabar elektronik mau cetak, semuanya memuat berita tentang gua!bagaimana bisa sabar, enak sekali kamu bilang sabar! " kata Sania sambil melempar botol minuman yang sudah habis isinya dia teguk.


"Sampai waktunya tiba, lu jangan kebanyakan minum lah nggak baik juga buat kesehatan" kata Juna dia berusaha untuk menenangkan Sania yang sudah tidak bisa di kendalikan lagi amarah nya.


"Sampai gua membusuk di penjara! itu kan yang kamu mau" kata Sania sambil menunjuk dengan jari telunjuk ke arah wajah juna, yang terlihat begitu santainya beda lagi dengan Sania yang di penuhi dendam dan amarah.


"Nggak usah marah-marah terus lah, tak ada gunanya juga dan nggak akan menyelesaikan masalah juga" kata Juna.


"Lu enak bisa ngomong seperti itu, sebab lu nggak ada di posisi gua"


"Sudah lah gua pergi... pusing juga denger lu marah-marah terus" ucap Juna sambil bangkit dari duduknya, lalu melangkah perlahan keluar dari ruangan tersebut.


Setelah kepergian Juna, Sania pun melemparkan semua benda yang ada di ruangan itu sambil berteriak dan sumpah serapah di tunjukkan terhadap Mira dan juga Ferdy, entah kenapa Sania begitu membenci Ferdy padahal yang banyak bekerja untuk Jack yaitu Rico kenapa yang jadi sasaran selalu Ferdy.


Setelah cukup lama Sania mengamuk akhirnya tenang dengan sendirinya, setelah semua benda hancur lebur dan menjadi korban kemarahan Sania.


Sania pun sudah tergeletak di lantai entah itu tidur atau efek dari minuman keras yang di konsumsi nya, secara dia sudah menghabiskan beberapa botol.

__ADS_1


Juna pun merasa sangat sulit untuk membuat Sania paham bahwa tidak semua yang kita inginkan akan menjadi hak milik kita.


__ADS_2