
Keesokan harinya, saat dia berada di ruang tengah, dia sadar jika sudah lewat dari kebiasaan Zay sekolah, tapi anak itu masih belum muncul juga.
"Ayo zay ... buru, udah siang ini nanti telat loh" Panggil Mira terhadap anaknya, yang masih berada di dalam kamar, tidak biasanya dia bertingkah seperti itu karena setiap selesai sarapan, Zay langsung mengambil tas sekolah, lalu menunggu ayah sambungnya di ruang tengah. Namunz hari ini, entah kenapa dia terlihat sangat murung.
"Kenapa dengan Zay?” Tanya Jack terhadap istrinya.
"Nggak tahu, Mas .... dari tadi dia itu seperti tidak semangat untuk berangkat sekolah," Omel Mira.
"Tunggu di sini, biar aku yang liat dia ke kamar!" Kata Jack sambil pergi berlalu meninggal kan Mira yang masih berdiri di ruang tengah.
Jack sudah berada di depan pintu kamar Zay, dia perlahan memutar gagang pintu, dan saat terbuka, terlihat Zay sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang di tekuk, membuat Jack sedikit heran.
Pria itu perlahan melangkah mendekati anak kecil itu, setelah sampai di dekatnya. Jack berjongkok di hadapan Zay dan bertanya, "Jagoan papa kenapa? Ko di tekuk seperti ini sih wajahnya, entar hilang loh, kegantengannya!" Tanya Jack sambil mengelus rambut sang anak.
"Zay nggak mau sekolah!" Ucap Zay dengan nada terbata-bata.
"Alasannya, zay nggak mau sekolah itu apa?" Tanya Jack.
"Kemarin itu mereka semua ngatain Zay, katanya nggak punya Papa dan yang suka antar ke sekolah tiap hari itu papa tiri,” Jawab zay sambil berurai air mata.
Sontak Jack pun langsung memeluk anak itu sambil berkata, "Kata siapa Zay tidak punya Papa, mereka itu hanya sirik, mungkin mereka tidak pernah di antar ke sekolah sana Papanya, makanya mereka bilang seperti itu, karena liat kamu tiap hari di antar sama Papa, iya, kan?" Ucap Jack berusaha untuk menenangkan putranya.
"Pa, Zay boleh tanya nggak?" Ucap Zay dengan nada bicara yang lembut namun masih bisa di dengar jelas oleh Jack.
"Iya, Nanya apa?" Jawab Jack sambil tersenyum menatap wajah polos sang anak.
"Papa tiri itu apa?” Tanya Zay.
Pertanyaan Zay sungguh membuat Jack bingung harus menjawab apa, dia terus memutar otak bagai mana cara memberi jawaban yang terbaik tetapi, bisa di mengerti oleh anak seusia Zay.
Jack pun diam sejenak.
Setelah beberapa saat barulah dia memberi jawaban.
"Jadi papa tiri itu, sama saja dengan Papa Zay. Tidak ada bedanya" Ucap Jack, sebetulnya dia juga bingung harus menjawab apa.
"Tapi, Pa ... kata mereka Papa tiri itu jahat!" Zay bicara sambil mendongakkan wajahnya agar dia menatap wajah sang Papa.
"Itu tidak betul Sayang, tidak ada seorang Papa yang tidak menyayangi anaknya, jadi Zay nggak usah dengarkan apa kata mereka, ya?" Ucap Jack sambil mengelus pipi sang anak.
"Berati mereka bohong ya Pa? " Ucap Zay lagi.
__ADS_1
"Iya, nggak usah dengerin apa kata mereka lagi, oke, jagoan!" Kata Jack.
"Baiklah!" Jawab Zay singkat, dengan raut wajah mulai ceria tidak seperti tadi.
"Ayok kita berangkat sekolah, Nanti kesiangan loh, kita terlambat deh!" Ajak Jack terhadap sang anak.
Zay pun mengambil tas sekolahnya, yang tadi malam setelah belajar sudah di siapkan semuanya oleh Mira.
"Ok, Papa!" Zay pun mengikuti langkah papanya keluar dari kamarnya untuk segera berangkat ke sekolah.
Di ruang tengah Mira masih setia menunggu kedatangan kedua pangerannya itu.
Setelah berada di ruang tengah, Jack dan Zay pun segera berpamitan terhadap Mira.
Mereka berdua akan segera berangkat, lalu Mira pun mengantarkan keduanya ke teras.
Setelah berpamitan yang kedua kalinya Zay dan Jack pun segerakan menuju kendaraan yang akan mereka tumpangi.
Mobil pun perlahan pergi meninggalkan area pekarangan rumah.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh Kendaraan yang mereka tumpangi pun sudah memasuki area sekolah.
Jack turun dari mobil lalu, mengajak zay untuk segera turun, setelah itu mereka berdua pun langsung menuju ke ruang kelas.
Setelah anak itu masuk ke dalam kelas, Jack pun segera ke tempat parkir di mana dia memarkirkan kendaraannya.
Jack segera masuk ke dalam kendaraannya, dia segera pergi meninggalkan area sekolah.
Tujuan utamanya yaitu kantor.
Perjalanan yang di tempuh dari sekolah Zay menuju kantor lumayan jauh.
Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya Jack pun sudah sampai di area gedung perkantoran. Dia segera memasuki area gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.
Jack keluar dari mobil, lalu berhenti sejenak sambil menatap ke atas gedung yang tinggi itu.
Dia melanjutkan langkahnya untuk segera masuk ke dalam gedung itu.
Suasana kantor seperti biasa sudah di penuhi para karyawan yang berdatangan, Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Entah itu kebetulan atau memang di sengaja, pas di depan lift Jack bertemu dengan Lidiya. Di mana lift tersebut di khusus kan untuk para petinggi perusahaan, Lidiya juga termasuk orang yang mempunyai jabatan tinggi di perusahaan ini.
__ADS_1
"Selamat pagi Pak?" Sapa perempuan itu, sambil membungkukkan badannya pertanda memberi hormat.
"Pagi juga!" Jawab Jack sambil membuang pandangannya ke arah lain, sebab dia sangat risih sekali melihat penampilan Lidiya yang memperlihatkan belahan bukit kembarnya.
Jack masuk ke dalam lift setelah terbuka, di susul oleh Lidiya. Memang tujuan mereka bukan di lantai yang sama, setelah berada di dalam, Jack merasa tidak nyaman dia berusaha menghindari saling bersitatap atau terjadi kontak fisik dengannya..
Setelah beberapa detik akhirnya Lidiya pun sampai di Lantai yang di tuju, walaupun, dia sebetulnya tidak mau keluar secepat ini dari dalam lift. Dia masih ingin berdekatan dengan Jack, meskipun pria itu tidak melirik nya sama sekali.
Lidiya berpamitan terhadap Jack dengan berat hati, tapi, kepergian wanita itu membuat Jack pun bernafas dengan lega.
Selang beberapa detik kemudian, Jack pun sudah sampai di lantai tujuannya pula. Dia segera bergegas pergi keluar dari lift dan berjalan perlahan untuk segera menuju ruangannya, setelah beberapa saat Jack pun sudah berada di depan pintu ruangannya.
Dia segera membuka pintu itu lalu masuk keruangannya, setelah berada di dalam Jack langsung menuju kursi kebesarannya.
Setelah beberapa saat dia duduk dengan santai dan belum ada yang di kerjakan.
Tiba-tiba pintu ruangan pun di ketuk, Jack mempersilakan orang itu untuk masuk.
Setelah mendapatkan ijin dari sang pemilik ruangan, orang tersebut langsung masuk.
Jack pun mempersilahkannya untuk duduk, dan orang itu pun langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Jack.
"Ada apa menemuiku?” Tanya Jack terhadap orang itu.
"Ya elah jutek amat pak Bos!" Jawab orang itu, dia adalah Ferdy, walaupun dia sudah biasa dengan sikap tegas Jack, dia masih saja bercanda.
"Cepat katakan! Jangan basa-basi, lagi banyak pekerjaan ini!" Kata Jack.
"Coba liat jadwal, Hari ini kita ada meeting dengan klien di kafe Mawar berdiri!" Kata Ferdy terhadap sahabatnya itu sekaligus bosnya di kantor.
"Owh, iya hampir saja lupa!" Jawab Jack sambil tertawa kecil, belakang ini Jack sering melupakan sesuatu jika tidak selalu di ingatkan.
#Fav
#Rate
#Like dan komentar juga yah
#Terimakasih banyak atas semua dukungan nya🤗
__ADS_1