Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 176


__ADS_3

"Aku tidak sanggup, mas... jika suatu saat harus kehilangan kamu dan juga Zay, lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu" ucap Mira.


"Jangan pernah bicara seperti itu... siapa juga yang akan meninggalkan kamu, kita akan menua bersama" kata Jack sambil terus mengelus punggung sang istri.


Setelah beberapa saat Jenazah Bu Dellia pun sudah siap di bawa ke rumah duka, semua sudah di persiapkan oleh Ferdy. Sebab saat ini hampir semua urun kantor maupun pribadinya Jack di pegang Ferdy, Rico belum bisa fokus ke semuanya.


Semenjak istrinya hamil ada saja alasan nya, jika lagi ada pekerjaan yang harus di kerjakan.


Persiapan pemakaman pun sudah hampir selesai.


Mobil jenazah sudah siap dan akan mengantarkan ke tempat tujuan, Mira tidak beranjak sedikit pun dari sisi sang Mama.


Jenazah sudah di masukan ke dalam mobil dan siap berangkat.


Jack dan Mira menggunakan kendaraan yang berbeda, setelah Jack memberi pengertian terhadap istrinya.


Kendaraan yang di tumpangi mereka mengikuti dari belakang mobil jenazah .


Perjalanan yang sedikit lambat,untuk segera sampai di rumah duka.


Sepanjang perjalanan pun tidak ada seorang pun yang berbicara, Bu Merlin pun tidak bisa berkata apapun.


Bahkan dia terus berfikir di dalam hatinya yang paling dalam, ada apa sebetulnya yang terjadi dengan dirinya dan Bu Dellia.


Sehingga Bu Dellia jadi seperti ini setelah mendengar dia berbicara.


Kendaraan yang mereka tumpangi pun sudah sampai di rumah duka, kabar meninggal nya Bu Dellia pun cepat menyebar.Dan para pelayat pun sudah mulai berdatangan dan karangan bunga pun sudah memenuhi halaman dan sepanjang jalan di dekat rumah duka, hanya untuk mengucapkan bella sungkawa.


Dari situ sudah terlihat bahwa banyak orang yang sangat menyayangi Mira, tetapi ada hal yang mengganjal di pikiran Jack.


Ada apa yang terjadi dengan Juna,dia tidak datang ke jakarta meskipun sudah tahu bahwa Bu Dellia sudah meninggal.

__ADS_1


Dan pertanyaan itu menari-nari terus di kepala Jack.


Mira dan juga Jack turun dari kendaraan yang di tumpangi, sudah ada Anita yang menyambut kedatangan Jenazah Bu Dellia, Anita sangat khawatir dengan keadaan sahabat.


Sudah terlihat juga dokter Riya, dan keluarga besar Ferdy pun sudah hadir termasuk juga Selvi.


Tanpa di sengaja tatapan dokter Riyan dan Selvi pun bertemu.


"Mir... yang sabar yah! " kata Anita sambil mengulurkan tangannya, dia ingin memeluk sahabatnya itu.


Sudah pasti Mira sangat rapuh pada saat ini, tetapi sekarang dia sudah tidak menangis lagi. Mungkin air matanya sudah habis saat di rumah sakit.


Kedua sahabat itu saling berpelukan, Mira sedikit lega ternyata masih banyak orang di sekitar yang sangat menyayanginya.


"Terimakasih banyak ya Nit... kamu selalu ada buat aku dan keluargaku" kata Mira sambil menatap wajah sahabat nya itu.


"Nggak usah ngomong seperti itu! yuk masuk sudah banyak yang menunggu di dalam, termasuk tante Ani juga sudah datang" ucap Anita.


Setelah semuanya sudah siap Jenazah akan di bawa ke pemakaman untuk segera di makam kan, banyak orang juga yang akan ikut mengantar ke sanah.


Semuanya sudah berada di area pemakaman dan jenazah pun akan segera di turun kan, Mira tidak sedikit pun beranjak dari sisi sang Mama.


Sedikit demi sedikit liang lahat sudah tertutup dengan tanah.


Acara pemakaman pun sudah selesai, sedikit demi sedikit pun para tamu yang datang sudah pada pulang.


Hanya tinggal Mira dan para sahabat terdekat yang masih berada di sanah.


"Yang sabar ya mir... kamu pasti kuat! " kata dokter Riyan, dia juga berpamitan untuk segera pulang.


"Terimakasih banyak, sudah hadir" ucap Mira.

__ADS_1


"Sama-sama, pamit pulang yah" dokter Riyan pun pergi meninggalkan area pemakaman, setelah berpamitan terhadap Mira dan juga Jack.


Setelah tidak ada orang lain lagi di pemakaman, hanya ada Mira dan juga Jack yang masih di sanah. Rasanya Mira enggan sekali beranjak dari sanah, "Sayang sudah yuk kita pulang?" ajak Jack terhadap istri.


"Tunggu sebentar lagi yah, Mas... " jawab Mira.


"Nanti kamu sakit, harus ingat juga kesehatan kamu juga penting loh ada Zay dan juga aku yang sangat membutuhkan kamu" kata Jack dengan nada bicara yang lembut, sehingga mampu membuat Mira sedikit melupakan kesedihan nya.


"Ya sudah kita pulang sekarang! " jawab Mira sambil bangkit dan menggandeng tangan suaminya.


Mira dan Jack pun pulang dari area pemakaman.


*


*


*


Di tempat yang lain.


Setelah pulang dari pemakaman Ibu Dellia, dokter Riyan pun langsung pulang ke rumahnya.


Dia tidak kembali ke klinik di mana tempat dia bekerja, dia terus kepikiran oleh satu hal.Entah apa yang terjadi dengan dirinya,"Kenapa senyum gadis itu sangat manis sekali,menyejukkan... "kata Riyan dalam batin.


"Akh, seperti nya aku sudah tidak waras!baru juga bertemu tadi itu pun dalam keadaan tidak tepat ,dan aku juga tidak tahu siapa wanita itu,bisa saja dia sudah menikah "kata Riyan dia menggerutu sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Dokter Riyan pun mengambil kembali kunci mobilnya,dia akan pergi ke suatu tempat.


Mungkin tempat itu bisa membuat dia sedikit lebih tenang.


#Jangan lupa like dan komentar nya

__ADS_1


__ADS_2