Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 85


__ADS_3

"Bu, Boleh saya bertanya?” Ucap Rico terhadap Bu Hamidah.


"Iya, Tanya saja,” Kata Bu Hamidah.


"Apa ibu tahu, Seorang wanita yang ada di Rumah seberang, yang warna cat rumahnya Putih?” Tanya Rico, membuat Bu Hamidah mengernyitkan alisnya.


"Owhh... itu tetangga baru di kami, belum juga satu bulan di sini," jawab bu hamidah.


"Apa ibu tahu, siapa nama tetangga baru itu?” Tanya Rico lebih lanjut, raut wajahnya lebih serius dari sebelumnya.


"Untuk soal itu, Ibu kurang tahu. Soalnya selama tinggal di sini dia tidak pernah keluar rumah dan bergaul dengan tetangga, orangnya tertutup,” Kata bu Hamidah. Walaupun rumah mereka berdekatan tetapi, tetangga baru itu belum pernah bertegur sapa dengan mereka juga beberapa tetangga lainnya. Bahkan wajahnya pun Bu Hamidah belum melihatnya secara jelas, dia itu seperti apa. Saat bertemu untuk pertama kalinya dia datang ke kampung ini, wajahnya tertutup masker membuatnya susah untuk dikenali. Hal ini tampak sangat misterius.


"Owhh... Jadi, begitu ya, Bu. Terima kasih atas informasinya, Bu!” Ucap Rico sambil tersenyum tipis ke arah calon ibu mertuanya.


"Sama-sama, Ya sudah, istirahat dulu sana ...." Perintah bu Hamidah terhadap Rico.


"Iya... Bu." Rico pun masuk ke kamar Dani, Itu kamar yang tidak terlalu luas, tapi, sangat rapi dan bersih, untuk ukuran kamar anak laki-laki. Biasanya, anak laki-laki itu, identik dengan berantakan tetapi, tidak bagi Dani. Semua barang tertata dengan rapi. Rico merebahkan dirinya ke tempat tidur, meskipun sempit tapi, sangat nyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya, yang sudah lelah seharian di perjalanan. Setelah Rico menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia termenung sambil menatap langit-langit kamar, dan tersenyum sendiri.


Di luar kamar, kedua orang tua Anita masih setia duduk di sofa, dialah Pak Ali dan Bu Hamidah. Mereka masih tidak menyangka bahwa kepulangan anak perempuannya saat ini, dengan membawa calon menantu untuk mereka. Rasa haru lingkupi hati mereka sebab rasanya, baru kemarin sore gadis itu masih di gendong dan ternyata hari ini, sudah ada yang memintanya untuk di jadikan istri. Sungguh, tidak terasa  waktu sangat cepat berlalu.


"Bu... rasanya masih tidak percaya, anak kita akan menikah,”  Ucap pak Ali sambil melihat ke arah istrinya.


"Iya... Bah, perasaan baru kemarin ibu gendong-gendong dia. Eh, hari ini sudah ada yg memintanya untuk di peristri," Jawab bu Hamidah sambil tersenyum tipis ke arah sang suami yang, masih setia duduk di temani secangkir teh dan camilan lainnya.


Di saat Bu Hamidah dan Pak Ali sedang asyik berbincang berdua, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang mereka.


"Ibu dan Bapak, kenapa belum tidur?” Tanya Anita yang muncul begitu saja di hadapan kedua orang tuanara Lalu, dia perlahan mendekat ke arah orang yang sudah membesarkan dirinya itu.

__ADS_1


"Sudah bersih-bersihnya?" Tanya sang ibu


"Sudah, Bu," Jawab Anita sambil merebahkan kepalanya di atas paha ibunya.


"Bu... Nita kangen ibu, walaupun aku kalau sudah menikah nanti, aku masih tetap anak gadis Ibu dan Bapak yang selalu ingin di peluk kalian, kalau aku bersedih," Ucap Anita sambil mendongakkan kepala ke arah wajah sang ibu.


"Kenapa, kamu berbicara seperti itu... sampai kapan pun kamu itu tetap putri kecil kami," Ucap Bu Hamidah sambil membelai lembut wajah sang anak.


"Lagian, kenapa juga kamu ngomong seperti itu?" Pak Ali pun ikut menimpali.


"Nit, kamu ketemu dia di mana?" Tanya Sang Ibu terhadap putrinya.


"Dia orang kepercayaan bos di tempat Nita bekerja Bu, tapi, dia bukan dari keluarga kaya. Ibunya sudah meninggal dan punya satu kakak dan satu adik perempuan," Kata Anita terhadap ibunya, Dia menjelaskan tentang latar belakang calon suaminya.


"Ibu tidak mencari menantu yang kata raya, Nak! Yang penting dia tulus menyayangi dan mencintai kamu. Bagi ibu itu sudah cukup," Ucap Sang ibu.


Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ini, saatnya Semua orang harus mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian sibuk bekerja. Malam hari adalah waktu bagi semua orang untuk memulihkan tenaga, hingga mereka bisa melakukan aktivitas dan pekerjaan seperti biasanya di keesokkan harinya.


"Ya.. sudah Bu, Pak! Ini sudah terlalu larut malam, Sudah waktunya kita tidur, Lagipula Bapak capek setelah seharian bekerja di kebun," Ucap Anita terhadap Bapak Dan ibunya.


"Iya... Kamu juga istirahat yang cukup, ya?" Ucap Bu Hamidah sambil bangun dari duduknya lalu, di susul Oleh pak Ali. Mereka pergi meninggalkan Anita yang masih duduk di tempatnya semula.


Tidak berselang lama gadis itu pun pergi ke kamarnya untuk segera beristirahat juga. Selama seharian di perjalanan, membuat tubuhnya pun terasa sangat lelah.


Setelah berada di dalam kamar, dia pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar yang bercat putih, tak lama kemudian, perlahan nafasnya pun sudah terdengar teratur, pertanda sang pemilik raga telah tertidur dengan pulasnya.


Keesokan harinya, suasana pagi hari di rumahnya Anita, berjalan seperti biasa. Bu Hamidah pada umumnya sebagai seorang istri, dia sibuk di dapur dengan mempersiapkan semua keperluan seluruh anggota keluarga. Sementara kebiasaan Pak Ali setelah sholat subuh, dia selalu berjalan kaki keliling sekitar rumah, intuk melakukan olahraga ringan sekedar menunggu waktu sampai sarapan tiba. Akan tetapi, pagi ini terasa berbeda dan di hatinya penuhi rasa gembira. Biasanya dia hanya seorang diri melakukannya, tapi,  sekarang ada calon menantunya yang menemani, dialah Rico, pria gagah yang menjadi pilihan anaknya. Tidak sedikit pula dari para tetangga yang menyapa mereka dan bertanya siapa orang tersebut, tetapi pria itu hanya menjawabnya dengan senyuman.

__ADS_1


Setelah berjalan cukup jauh, mereka pun kembali ke rumah. Di sepanjang perjalanan Rico terus bertanya terhadap sang calon ayah mertuanya, tentang semua yang di lihatnya dan menarik rasa ingin tahunya. Hal ini membuat pak Ali sangat suka dengan sikap Rico yang ramah seperti ini.


Setelah sampai di rumah sarapan pun sudah siap di hidangkan dengan menu seadanya. Itu adalah menu yang sederhana, tentu saja menu yang ada di kampung beda dengan menu makan yang ada di kota. Meskipun begitu, mereka tetap menikmatinya.


Anita dan Rico akan kembali lagi ke Jakarta siang ini dan Rico akan kembali lagi ke tempat itu di lain waktu, dia akan kembali beserta ayahnya dan menetukan tanggal pernikahan mereka.


"Sudah pulang?" Tanya Bu Hamidah terhadap sang suami yang sedang duduk di teras bersama Rico karena mereka baru saja sampai di rumah dan belum sempat untuk masuk.


"Ini, Baru juga sampai," Jawab pak Ali.


"Ya Sudah ... Kita sarapan dulu, Ibu sudah masak untuk sarapan pagi ini," Ajak Bu Hamidah terhadap sang suami dan calon menantunya.


Akhirnya mereka berdua pun mengikuti Bu Hamidah ke arah dapur di mana sarapan pagi sudah tersaji di sana. Rico tampak takjub, mungkin baginua, baru pertama kali melihat menu sarapan seperti itu. Dia selama ini sarapan hanya sepotong roti dan segelas kopi itu sudah cukup untuk membuat perutnya terisi.


Anita pun mengisi piring Rico dengan menu sarapan yang sudah tersaji. Begitu pula yang dilakukan Bu Hamidah pada suaminya, setelah itu mereka menikmati sarapan, sambil sesekali bercanda hal ringan. Hal itu membuat sarapan bersama dengan penuh cinta pun tidak terasa sudah usai. Anita dan Ibunya merapikan semua bekas sarapan tadi. Sementara Pak Ali dan Rico kembali ke teras depan sambil melihat, aktivitas warga yang berlalu lalang melewati rumah mereka.


"Pak, apa Bapak tahu penghuni rumah yang itu?" Tanya Rico sambil menunjuk ke arah rumah yang bercat putih tak jauh dari rumah Anita.


"Owhh... itu, rumah Pak Juna dia baru beli dari Pak Handoko," Ucap Pak Ali.


"Juna?" Ucap Rico sambil mengerutkan alisnya. Dia merasa pernah mengenal nama itu tetapi entah dia lupa di mana.


"Iya... Baru pindah juga dua minggu yang lalu," Jawab Pak Ali.


"Dia tinggal di situ sama istrinya ya, Pak?” Tanya Rico lagi.


"Wahh... Kalau itu Bapak kurang tahu, Soalnya bertemu pak Juna saja cuma di hari pertama dia pindah dan setelah itu tidak pernah melihatnya lagi, yang sering  terlihat setiap hari di rumah itu cuma seorang perempuan,” Kata Pak Ali dia memberi tahu semuanya yang dia ketahui pada Rico.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya... Pak!” Ucap Rico, sambil tersenyum tipis, dia seolah menemukan sesuatu yang sangat berharga.


__ADS_2