Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 112


__ADS_3

Mira akan segera bangun dari duduknya dia berniat mengajak suaminya untuk pulang.


"Mau ke mana?” Tanya Jack sambil menarik tangan istrinya dengan lembut, tapi tetap saja membuat Mira terjatuh ke dalam pelukannya.


Kini posisi Mira berada di pangkuan Jack, tapi perempuan itu mencoba menghindari pelukan suaminya.


"Mas, lepasin, Mas... aku mau ambil tas, kita, kan, mau pulang. Lagian ini sudah sore juga, sudah waktunya pulang kantor, kan?” Kata Mira panjang lebar.


"Kata siapa boleh pulang? Kamu harus lembur hari ini jadi jangan coba-coba membantah ya, atau mau aku hukum dengan hukuman yang lebih parah?" Ancam Jack terhadap istrinya.


"Ih, ngancem-ngancem mulu," Ucap Mira, sambil mengerucutkan bibirnya, hal itu membuat sang suami gemes melihatnya.


Jack pun mulai melancarkan aksinya, untuk memberikan hukuman terhadap istrinya. Tangannya sudah mulai masuk ke dalam kemeja sang istri, Hal itu membuat Mira merasa geli.


"Mas... geli, ih." Mira pun menahan tangan suaminya agar tidak masuk ke dalam kemeja yang dikenakannya. Mira berpikir jika setelah ini, tubuhnya akan merasa lebih lelah lagi karena hukuman yang di berikan suaminya sungguh luar hukuman yang biasanya.


"Kenapa?" Tanya Jack sambil menghentikan tangannya.


"Jangan di sini, lah," Jawab Mira.


Setelah mendengar jawaban istrinya, bukannya menghentikan aksinya, Jack malah semakin liar. Hal ini juga membuat Mira hilang kendali. Akhirnya sepasang suami istri itu memadu kasih di atas sofa yang ada di ruangan itu. Setelah mencapai puncak di antara keduanya, mereka pun pergi ke toilet yang tidak jauh dari sofa tempat mereka memadu cinta, untuk membersihkan tubuh.


Mungkin bercinta di kantor mempunyai sensasi yang lain bagi Jack sehingga dia ingin terus mengulanginya di waktu yang berbeda.


Setelah keduanya sudah rapi kembali, mereka pun bersiap untuk pulang. Jack keluar dari ruangan Mira terlebih dahulu, lalu, diikuti oleh istrinya. Meskipun Jack dan Mira suami istri, tetapi ketika di kantor mereka terlihat seperti karyawan dan atasan seperti yang lainnya, terkecuali di ruang tertutup, bila hanya ada mereka berdua.

__ADS_1


Jack berjalan terlebih dahulu, dia akan menunggu di tempat parkir.


Mira pun berjalan di belakang suaminya dengan perlahan, dia tidak mau terburu-buru. Apalagi kakinya yang bengkak lagi membuat cara berjalannya sedikit berbeda karena menahan pegal yang luar biasa. Mira terus melangkahkan kakinya dengan perlahan, hingga tiba di depan lift dia bertemu dengan Ferdy, yang juga akan pulang seperti dirinya.


"Hai, Mir... Jack mana?" Tanya Ferdy terhadap Mira.


Belum sempat Mira menjawab, pintu lift tiba-tiba terbuka mereka berada di lift yang sama. Setelah berada di dalam lift, tidak ada yang mulai berbicara apa pun, Ferdy merasa canggung berada di satu ruangan bersama Mura. Walau bagaimana pun dia pernah menaruh hati terhadapnya. Namun takdir berkata lain. Ternyata Mira berjodoh dengan sahabatnya, Setelah beberapa detik lift pun sampai di lantai tujuan mereka.


Mira keluar terlebih dahulu, seraya berkata, "Duluan, yah!" Ucap wanita itu sambil melangkahkan kaki keluar dari sana.


Setelah Mira keluar Ferdy pun keluar juga, dia berjalan perlahan untuk menuju tempat parkir. Dia berencana setelah pulang kantor akan mengunjungi Selvi terlebih dahulu.


Ferdy sudah berada di parkiran dan segera membuka pintu mobilnya, setelah berada di dalam dia pun mulai menyalakan mesin kendaraan roda empatnya. Dia mulai menginjak gas dengan perlahan, kendaraan yang di tumpangi nya perlahan meninggalkan area perkantoran. Sebelum ke rumah Selvi dia akan mampir terlebih dahulu untuk membeli beberapa barang, yang di pikir itu kebutuhan bayinya Selvi, yang kemarin belum sempat di belinya. Kali ini dia akan membelinya lalu, diantar ke rumah yang di tempati Selvi.


Kendaraan yang di tumpangi Ferdy pun sudah berhenti di tempat pusat perbelanjaan, dia segera turun setelah mobil terparkir. Dengan langkah cepatnya dia bergegas untuk segera masuk.


Dia tidak menyadari bila dibalik kegiatannya itu, ada seseorang yang mengawasi.


Setelah menurutnya cukup, Ferdy menuju kasir untuk membayar semua barang belanjaannya. Kini, semua barang sudah di bayar dan, dia bergegas keluar dari pusat perbelanjaan tersebut, lalu, memasukkan semua belanjaannya ke dalam bagasi. Saat merasa semua barang sudah tersimpan rapi, dia masuk ke mobil dan kembali melajukan kendaraannya dengan perlahan.


Tidak butuh waktu lama untuk menuju di mana perempuan itu tinggal, walau dia harus melalui jalanan yang sedikit macet, secara waktu itu adalah waktunya semua orang pulang dari kantor. Jadi, wajar hingga mengakibatkan jalanan kemacetan seperti sekarang.


Di luar dugaannya semula, perjalanan yang dia kira hanya memakan waktu sekitar lima belas menit saja, ternyata harus membuatnya sampai lebih lama hingga akhirnya dia sampai di perumahan di mana Selvi berada.


Ferdy sudah sampai di depan rumah yang di tempati Selvi, dia langsung turun lalu, segera bergegas mengambil semua barang yang sudah di belinya dari bagasi.

__ADS_1


Tangan Ferdy pun penuh kiri kanan menenteng semua belanjaan tersebut, dia sudah berdiri di depan pintu lalu mengetuknya.


Setelah beberapa saat pintu pun terbuka, terlihat seorang ibu muda sedang menggendong bayi kecil yang terlihat masih rewel.


"Selamat sore...." sapa Ferdy pada Selvi, sambil tersenyum.


"Iya, Mas.. silakan masuk," Selvi mempersilahkan Ferdy untuk masuk.


Setelah berada di dalam Ferdy pun menaruh semua, belanjaannya di ruang tengah.


"Itu, kenapa anakmu rewel?" Tanya Ferdy terhadap Selvi yang sedang berusaha menenangkan bayinya.


"Mungkin masih lapar, Mas,” Jawab Selvi sambil menepuk-nepuk punggung bayinya dengan pelan agar tidak rewel lagi.


"Kenapa enggak kamu kasih asi lagi, kasihan dia, sekarang," Ucap Ferdy dengan tatapan tajam.


"Sudah, tapi, kan, ASI-nya tidak subur makanya dia rewel terus."


"Makanya makan yang banyak, biar ASI-nya mencukupi. jangan nurutin nggak mau makan saja, pikirkan juga bayi kamu!" Oceh Ferdy terhadap Selvi.


"Sini bayinya, coba, tuh, kamu buat susu Formula ada di kantong yang itu. Tapi jangan dibiasakan, ya, gunakan kalau hanya lagi darurat saja," Ferdy memberikan perintah terhadap Selvi agar membuatkan susu untuk bayinya.


Selvi menyerahkan bayinya terhadap Ferdy agar di gendong, lalu dirinya pergi ke dapur untuk membuat susu formula.


Setelah beberapa saat Selvi pun kembali dengan membawa sebotol susu di tangannya. Ferdy mengambil botol tersebut dari tangan Selvi lalu menyodorkannya ke mulut bayi, dengan cepat sang bayi pun langsung menghisapnya sampai habis. Setelah botol susu kosong, sedikit demi sedikit bayi itu mulai memejamkan matanya hingga pada akhirnya bayi itu pun tertidur pulas dalam gendongannya. Ferdy menatap lekat wajahnya yang menurutnya sangat meneduhkan jiwa, setelah lama menatapnya dia memberikan bayi itu kepada ibunya yang dari tadi hanya memperhatikan semua yang dilakukan pria itu dengan takjub.

__ADS_1


Selvi menerima anaknya untuk ditidurkan di kamar, biar lebih pulas dan tidak terganggu.


Selvi menerima uluran tangan Ferdy yang memberikan bayi, dia pun perlahan pergi dari ruang tengah menuju kamarnya berada.


__ADS_2