
Di kediaman keluarga Basrie,terdapat satu ruangan yang sangat besar dan di kelilingi barang-barang mewah. Semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang itu. Terlihat Basrie duduk di sofa tunggal dan Nilam duduk di samping Roxy, sementara Farida belum turun dari kamarnya.
Semalam, nyonya besar rumah itu mengalami sesak di dadanya, ketika mendengar kenyataan yang baru saja terjadi. Jika saja Parida mempunyai riwayat jantung, mungkin wanita itu sudah meninggal. Disebabkan oleh keterkejutannya mendengar semuanya.
"Ada apa sih, Pa?Kenapa kita semua harus berkumpul di sini?" Tanya Roxy dengan raut wajah yang kurang bersahabat. Dia terlihat kesal.
"Tunggu Mira datang, nanti semuanya akan menjadi jelas,” ucap Basrie.
"Kenapa harus ada Mira? Memangnya dia bagian dari anggota keluarga ini?" Tanya Nilam ketus dan menatap ayah mertuanya dengan wajahnya yang berkerut, dia tidak pernah menyukai Mira sejak dulu.
"Zay itu cucuku! Jadi, Mira sebagai ibunya, ada hak di sini,” jawab Basrie dengan tegas sambil menatap menantunya itu tajam.
"Tapikan Zay masih kecil, mana ngerti urusan orang dewasa?" Roxy pun tidak mau kalah dengan melontarkan kata-kata yang terdengar seperti protes. Sudah terlihat jelas mereka berdua tidak menyukai Zay dan Mira.
"Justru karena Zay masih kecil, Yang perlu tahu itu Mira ...." Ucap basrie dengan penuh penekanan.
"Jangan bilang Papa mau menbagi warisan?” Rocy berkata penuh Selidik, banyak prasangka dan emosi dalam benaknya.
"Itu hakku, mau membaginya atau tidak itu urusanku. Toh semua harta itu, hasil dari kerja kerasku selama ini. Bukan seperti kamu yang bisanya menghabiskan uang. Kalau tidak dibagi sekarang, mungkin perusahaan akan bangkrut di tangan mu!" Ucap basrie dengan tatapan tajam terhadap Roxy. Sebenarnya dia menyayangi anak itu, tapi sikap Roxy yang suka menghamburkan uang membuat pria itu kecewa.
"Tapi, tidak seperti itu ... Zay itu cucu dan aku anakmu, Pa. Jadi, yang lebih berhak itu anak, bukan cucu!" Roxy sangat kesal jika Ayahnya sudah bicara soal kelakuannya yang suka menghabiskan uang, meskipun, pada kenyataannya memang demikian, dia suka menghamburkan uang demi berpesta pora bersama teman-temannya.
"Zay itu anak dari Jul kakak kamu, dia juga berhak atas semua itu." Ucap Basrie yang mulai kesal dengan tingkah anak keduanya itu. Bagaimana tidak kesal bila sudah memiliki anak dua, tetapi kelakuannya masih seperti anak kecil.
"Jul itu, sudah meninggal tidak butuh harta,” ucap Roxy kesal.
__ADS_1
"Memang, tapi, Kan anaknha masih hidup. Jadi, dia berhak menerima semuanha, sama seperti kamu. Lagi pula, Zay itu satu-satunya penerusku nanti. Semua anakmu itu perempuan, mana bisa diandalkan,” ucap Basrie dengan sorot mata tajam terhadap Roxy.
"Tapi aku juga sedang berusaha memberikan cucu laki-laki, Nilam itu sudah tidak bisa memberiku anak laki-laki makanya, aku cari wanita lain yang bisa memberiku anak lagi. Kenapa kalian menolaknya? Dia itu sudah hamil sebentar lagi melahirkan,” ucap Roxy dengan nada santainya.
Meskipun Nilam duduk di sampingnya, bagi Roxy itu tidak masalah, dia dengan terang-terangan memberi tahu tentang wanita simpanan yang saat ini sedang mengandung benihnya. Roxy sangat yakin jika yang di kandung wanita itu adalah anak laki-laki yang sangat diharapkannya.
Nilam hanya pasrah menerima keadaan, jika suaminya telah membagi cinta dengan wanita lain,
Kejadian tadi malam, saat Roxy pulang ke rumah dengan membawa seorang wanita yang sedang hamil, membuat Nilam dan Parida sangat kaget. Tidak mereka sangka Roxy bisa melakukan semua itu. Dia sering mengatakan pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan, ternyata itu hanya alasannya saja.
Pria itu sudah merasa bosan dengan Nilam yang banyak menuntut, tidak seperti wanita simpanannya yang selalu membuatnya merasa nyaman dalam keadaan apa pun. Jika bukan karena kedua putrinya, dia sudah tidak mau hidup bersama wanita itu lagi.
"Kenapa harus malu, dia itu mengandung anakku, Pa!” Roxy menjawab dengan santai.
"Kamu ini seperti orang yang tidak ada moral, ya? Kamu bangga bisa menghamilinya meskipun kalian bukan suami istri?” Basrie berbicara sambil menggelengkan kepalanya. Menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
"Justru saya bangga bisa membuat dia hamil, Itu tandanya benih yang kupunya unggul. Banyak orang yang bibitnha kurang bagus sehingga gagal,” Jawab Roxy dengan wajah yang tenang.
Dia tidak peduli dengan orang yang ada di sekitarnya, padahal orang yang ada di sekitarnya sudah merasa jera dengan semua omongan yang diucapkannya.
__ADS_1
Nilam mungkin juga akan mencincang halus tubuh Roxy, dia tidak akan bertahan jika bukan karena harta. Bagi Nilam, harta lebih penting untuk kelangsungan hidupnha di masa yang akan datang. Meskipun, Roxy seperti itu, dia tidak terlalu memikirkan asal jatah uang bulanan tidak berkurang. Dengan uang yang di berikan suaminya, Nilam pun bisa senang-senang bersama teman sosialitanya.
Nilam berasal dari keluarga kelas bawah, Sudah jelas jika dia mempermasalahkan ini semua, besar kemungkinan dia akan kembali ke asalnya. Tidak ada lagi kemewahan yang selama ini dia dapat dari keluarga Basrie. Tujuan utama Nilam ada di keluarga ini bukan soal kasih sayang suaminya, melain kan demi uang. Bagi Nilam harta sangat berharga dibanding apa pun. Mau Roxy menghamili sepuluh gadis pun dia tidak peduli, asal jatah bulanan tetap aman.
"Sungguh sangat mengecewakan!” Basrie pun sangat heran dengan Roxy, entah dari mana dia mempunyai sifat seperti itu. Basrie menatap lekat-lekat wajah Roxy yang terlihat sangat santai. Entah terbuat dari apa otak anak ini sehingga bisa bersikap begini. “Apa salah, ya, pas membuat adonannya?” Basrie terus membatin.
Sifat Roxy berbeda jauh dengan Julian. Dia sangat penurut dan baik dari kecil pun perbedaan mereka sudah terlihat jelas. Roxy dari dulu sangat membangkang, bahkan sering mencuri tas mahal milik Parida, hanya untuk diberikan kepada wanita yang di sukainya. Padahal waktu itu, dia masih duduk di kelas lima sekolah dasar.
Julian yang sangat penurut selalu diutamakan bahkan selalu di banggakan kepada semua orang.
Hal ini juga yang membuat Roxy tidak suka dengan Kakaknua sejak dulu. Namun, sekarang pun terulang kembali dengan anak-anak mereka. Julian mempunyai anak laki-laki tetapi tidak dengan dirinya, meskipun Roxy selalu membuat ulah agar Julian terlihat jelek di mata semua orang, tetapi, semua usahanya selalu gagal.
"Kapan ini dimulai acaranya?” Tanya Roxy yang sudah mulai jenuh menunggu di ruangan ini.
"Tunggu, mungkin sebentar lagi datang," Jawab sang ayah.
"Seperti bos saja harus di tunggu seperti ini.” Jawab Roxy dengan kesal.
"Sabarlah, Ini masih pagi! Perjalanan pun lumayan jauh." Basrie memberi pengertian kepada Roxy.
"Ya sudah, Saya tunggu lima menit lagi, jika belum sampai juga, saya pergi," Ucap Roxy dengan wajah yang mulai kesal.
__ADS_1
Bersambung