
Selama di perjalanan pulang, baik Jack maupun Mira tidak saling bicara, mereka masih menyelami pikiran masing-masing tentang apa yang baru saja mereka alami. Mira memikirkan sikap Jack yang mendadak temperamental begitu bertemu Roxy. Sementara Jack memikirkan betapa kacaunya keluarga Basrie.
Mereka terus seperti itu hingga akhirnya sampai di depan rumah. Perjalanan yang cukup lama seolah tidak terasa, walau sepanjang perjalanan mereka tidak saling bicara sepatah kata pun.
Mira turun terlebih dahulu tanpa memperdulikan Jack, sedangkan Zay digendong bibi pengasuhnya langsung ke kamarnya untuk ditidurkan. Mira cukup bersyukur setelah agak rewel, anak semata wayangnya itu pun akhirnya tertidur juga.
Dengan langkah lebarnya Jack pun menyusul Mira yang saat itu langsung masuk ke kamar mereka. Ketika pria itu masuk, istrinya tengah duduk di sofa yang ada di sebelah tempat tidur mereka yang mengarah ke jendela hingga pemandangan taman belakang bisa dengan leluasa di nikmati dari sana.
Itulah yang dilakukan Mira saat ini, dia melihat ke arah taman, menikmati keindahan bunga-bunya yang sedang bermekaran. Kedatangan Jack yang duduk di sampingnya, membuatnya sedikit terusik hingga dia menoleh sebentar lalu, kembali melihat ke arah taman.
Jack meraih tangan Mira,menatapnya lembut walau wanita yang di cuek.
"Maaf." Hanya Kata itu yang terucap dari bibir Jack. Mira tidak merespon apa pun, pandangannya masih lurus ke depan ke arah taman.
"Saya sudah mengecewakan mu, sungguh aku tidak ada niat untuk menyakiti kalian." Jack berkata dengan tatapan penuh permohonan.
"Kata maaf itu mudah diucapkan, apa tadi kamu berpikir sebelum bertindak, Jack? Tidak, kan! Kamu lihat sendiri tadi Zay sangat ketakutan, melihat kamu melakukan itu!" sahut Mira yang kini membalas tatapan Jack.
"Apa Sania begitu berharga, bagimu? Sehingga kamu tidak bisa melihatku dan Zay?" Pertanyaan Mira sungguh membuat Jack tidak bisa berkata apa pun.
"Tidak ... bukan seperti itu.” Ucap Jack sambil menggelengkan kepala, hanya penyesalan yang dirasakan Jack saat ini. Padahal semua orang tahu bahwa penyesalan adalah sesuatu yang paling tidak berguna di dunia ini.
"Lalu, apa?” Tanya Mira.
"Aku hanya tidak terima dengan semua pengkhianatan yang telah mereka lakukan, itu saja!" ucap Jack tanpa melepaskan menggenggam tangan pada istrinya. Dia memohon pengampunan darinya dengan tulus.
"Aku tidak peduli kamu mau berantem sampai babak belur pun bahkan saling membunuh, Setidaknya jangan tunjukan itu di hadapan Zay. Kamu lihat, kan, tadi betapa ketakutannya dia?"
"Iya. Aku minta maaf!” Setelah Jack Jack sudah tidak bisa berkata apa-apa, dia sadar betul bila dengan apa yang telah diperbuatnya, sungguh perbuatan yang tidak baik.
Zay baru saja bisa beradaptasi dengan lingkungan, serta menerima semua yang ada di sekitarnya. Anak itu sangat trauma dengan hal-hal seperti kekerasan itu, tapi sekarang balita itu harus kembali melihat melihat kekerasan yang sama. Tentu saja dia merasa sangat takut.
“Kuharap kamu tidak lagi melakukan itu di hadapan Zay dan di hadapan siapa pun, sebab sama saja kamu telah menghancurkan semua usahaku selama ini!" Kata Mira. Kemarahannya bukan karena tentang Sania atau Roxy, justru yang membuatnya sangat marah adalah hubungannya dengan mental Zay.
"Maaf ... aku harus melakukan apa, biar kalian bisa memaafkan ku?" tanya Jack dengan wajah yang sudah terlihat kusut. "Aku janji tidak akan melakukan itu lagi, " ucap Jack sambil mengangkat kedua tangannya lalu, memegang kedua telinga.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu melakukan apa pun, cukup kamu renungi semua kesalahanmu!" Mira berkata, sambil berdiri. Dia Ingin pergi meninggalkan kamar dan juga Jack untuk, melihat anaknya. Sontak saja dia melepaskan tangannya yang sejak tadi berada dalam genggaman suaminya.
"Sayang ... tunggu! Jangan seperti ini ... Bagai mana bisa kamu mengabaikan aku?" ucap Jack sambil pergi menyusul Mira yang sudah keluar kamar, sambil mengacak rambutnya.
Dia mengutuk dirinya sendiri, jika saja dia lebih bisa menahan emosi mungkin, tidak akan terjadi hal seperti ini.
Baru saja dia mendapat kebahagiaan, kenapa harus muncul lagi masalah seperti ini. Sungguh Jack tidak bisa berpikir, baginya meluluhkan hati Mira untuk bisa memaafkannya itu jauh lebih sulit, banding meluluhkan hati klien. Jack sangat frustasi, dan hanya diam berdiri di depan pintu kamar Zay. Dia berusaha ingin membuka pintunya tetapi ternyata pintu itu terkunci. Dengan langkah gontai pria bertubuh tinggi tegap itu menuju ruang tengah dan merebahkan badannya di sofa yang ada di sana.
Jack memejamkan mata sambil memijat pelipisnya karena kepalanya terasa berat. Sudah tidak bisa berpikir dan hanya ingin masalahnya segera berakhir.
Perlahan namun pasti, waktu terus berjalan tanpa pernah mau menunggu, sementara Jack sudah mulai merasa sedikit tenang dan kepalanya pun terasa ringan. Kemudian pria itu pun tertidur dan mulai masuk ke alam bawah sadarnya, setelah dia mencoba memasrahkan diri atas apa yang akan terjadi nanti. Dia hanya berharap semua yang terjadi hari ini itu akan selesai lalu, saat dia terbangu nanti, semua menjadi baik-baik saja.
Tidak berapa lama setelah Jack memejamkan mata, Mira keluar dari kamar Zay, dan melihat keadaan Jack sedang tertidur dengan pulasnya di sofa. Wanita itu mengabaikannya lalu, menuju dapur untuk memasak. Dia akan mempersiapkan untuk makan malam, sementara Bibi juga sudah ada di tempat itu untuk membantunya.
Mira sudah terbiasa saat ada di rumah pasti akan selalu memasak, sebab baginya memasak itu hal yang sangat menyenangkan.
"Non, apa semarah itu Nona sama tuan?” tanya Bibi sambil memotong beberapa sayuran.
"Tidak, BI,” jawab Mira dengan singkat.
Mendengar ucapan sang asisten, Mira tersenyum dan menyahut, “Tidak, Bi ... Saya cuma tidak mau, Zay merasa takut, cuma itu." Jawab Mira.
"Jika marah, jangan terlalu lama, Non! Itu tidak baik, semua masalah akan selesai jika kita mampu menyikapinya dengan bijak,” kata Bibi yang berusaha menasihatinya.
"Terima kasih, Bi!” sahut Mira masih dengan tersenyum tipis di bibirnya.
"Sama-sama, Non," Jawab Bibi sambil tersenyum juga.
🌾
🌾
🌾
Di belahan bumi lain.
__ADS_1
Prang!
Suara piring terjatuh karena di lempar, terdengar begitu keras memekakkan telinga.
"Saya tidak mau makan!" ucap wanita itu.
"Jika nyo nya tidak makan, Nanti sakit ...” Bujuk bibi
"Mau sakit, mau tidak, itu urusanku dan juga bukan urusan kamu! Kalian jangan mengaturku!” Bentak wanita itu.
"Jika Nonya sakit, terus nanti yang akan merawat tuan Jack sispa?” Bibi terus membujuk.
Dia adalah Merlin yang biasanya akan dengan mudah menurut jika di bujuk menggunakan nama Jack, dan setelah itu dia akan lebih tenang dari sebelumnya.
Namun, saat ini berbeda, wanita itu tampak lebih sulit dari biasanya. Dia membulatkan mata ke arah Bibi.
Namun, Bibi tetap membujuknya dengan sabar. Akhirnya, sambil tersenyum dan duduk dengan baik, wanita itu berkata, "Ambilkan aku makanan!" Perintah Merlin kepada Bibi.
Bibi pun dengan langkah cepat menuju dapur untuk mengambil makanan yang sudah disediakan khusus untuk Merlin.
Waktu itu Jack, memutuskan untuk pergi dari rumah dan lebih memilih tinggal bersama Mira.
Hal itu membuat Merlin prustasi dengan keadaan. Dia tidak terima, setelah Jack pergi dan selalu melamun serta tidak mau melakukan apa pun. Jangan kan untuk kegiatan lain, hanya untuk makan dan mandi saja Merlin tidak melakukanya. Entah, berapa banyak sudah perabotan rumah yang hancur di banting dan di hancurkannya.
Terkadang Merlin menangis sambil berteriak memanggil-manggil Jack, Semua yang di lakukan nya sudah di luar batas wajar orang normal lainnya. Wanita itu sudah seperti orang gila, tubuhnya yang mulai kurus, tidak terawat dan rambut yang tidak pernah di sisir.
Semua orang yang bekerja di rumah itu hanya prihatin melihat keadaan majikan mereka pada saat ini.
Merlin yang dulu beda dengan wanita yang mereka lihat pada saat ini.
Entah ini karma atau apa sehingga Merlin harus menerima semua ini, ketakutan berlebih itu tidak baik sehingga membutakan mata hati, kita tidak bisa membedakan mana sayang mana obsesi.
__ADS_1
Bersambung