Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 66


__ADS_3

"Kamu kenapa, sayang? Apa kamu tidak senang dengan kehadiran anak kita?” Tanya Jack sambil menatap lekat wajah sang istri.


Mira mendongak, menatap suaminya lekat, lalu berkata, "Mas, apa kamu akan mengakui anak yang aku kandung saat ini?” Mira pun balik bertanya.


"Apa alasanku menolak anak itu?” Jack heran dengan pertanyaan yang di lontarkan Mira. Bagi pria itu, pertanyaan istrinya sangat tidak masuk akal.


"Kamu tahu kan, Mas. Anak yang kukandungi saat ini usianya sudah sepuluh Minggu, dan artinya anak ini hadir sebelum kita menikah! Kamu tahu kan, akibat dari usia kehamilanku ini, pasti semua orang akan mencibirku, menghinaku. Bahkan bisa jadi mereka memanggilku wanita murahan!” Mira berkata sambil menangis karena dia tidak sanggup jika harus menerima hinaan dari semua orang, tentang kehamilannya.


"Memang siapa yang berani bilang kamu ini murahan? Siapa? Justru kamu itu sangat mahal bagiku sayang ... Aku rela membayarmu dengan harga satu miliar. Rugi dong aku jika tidak menanam benih.” Ucap Jack sambil memeluk tubuh mungil istrinya lalu, mengusap-usap rambut sang istri agar tangisannya berhenti.


"Mas...! Serius ini, jangan bercanda!” Ucap Mira sambil memukul dada bidang suaminya.


"Kata siapa Aku bercanda? Justru ini sangat serius, kamu ini wanita yang sangat mahal dan sangat berarti, bahkan seisi dunia pun tidak akan mampu menggantikan dirimu, Sayang ...." Jack berkata sambil tersenyum dan menatap lekat wajah sang istri, yang matanya yang sudah mulai sembab karena lama menangis.


"Sudah, jangan menangis terus, kenapa kamu memikirkan apa yang belum terjadi? Aku ini suamimu dan anak yang kau kandung itu anakku. Dia hadir sebelum atau setelah pernikahan, Itu tidak akan mengubah segalanya," ucap Jack sambil terus memeluk tubuh sang istri, karena kelembutan dan ucapan itu, tangisan Mira pun mulai mereda.


"Kamu tidak meragukan anak ini, kan?” Tanya Mira sambil menatap lekat wajah sang suami.


"Kenapa harus meragukannya?" Kata Jack lalu mencium sekilas kening Mira.


"Untuk saat ini, jangan banyak berpikir, yang penting kamu dan janin yang kau kandung sehat. Sudah istirahat, ya?” Jack memerintahkan sang istri untuk segera istirahat.


Mira pun merebahkan tubuhnya lalu, Jack menyelimutinya sehingga pemilik tubuh mungil itu tenang, apalagi setelah suaminya memeluk dari belakang. Dia memejamkan mata tanpa beban.

__ADS_1


Pikiran Jack saat ini sedang kalut, bukan lagi memikirkan tentang usia kandungan seperti yang Mira pikiran. Melainkan  memikirkan tentang kesehatan sang istri.


Nafas Mira pun sudah teratur pertanda sang pemilik raga sudah berada di alam bawah sadar. Saat tertidur, dia melupakan sejenak, tentang apa yang terjadi dengan dirinya.


Waktu terus berjalan, bahkan sudah hampir pagi tetapi, Jack tidak bisa memejamkan matanya walau hanya sesaat. Pria itu terus menatap langit-langit kamar, dengan menyimpan tangannya di atas kening. Semua ucapan dokter tadi sore, terus terngiang-ngiang di telinganya.  Dan kemungkinan hal terburuk pun akan terjadi, semua pikiran-pikiran itu terus melintas di kepalanya hingga pada akhirnya dia menyibak selimut yang menutup tubuhnya, lalu menatap lekat wajah sang istri yang sudah tertidur pulas. Dia mengusap pelan pipi sang istri lalu mencium keningnya lembut. Dia turun dari tempat tidur, pergi perlahan keluar kamar. Tujuannya hanya satu untuk menenangkan diri dengan secangkir kopi dan sebatang rokok, berharap dengan menikmatinya bisa menenangkan pikirannya saat ini.


Secangkir kopi pun sudah tersedia, Jack duduk di teras belakang sambil mengudarakan asap tembakaunya. Di temani udara malam yang sangat dingin harum semerbak dari bunga-bunga yang sedang bermekaran pun, sedikit membuat pikirannya sedikit tenang. Ketenangan itu dia dapatkan ketika berada di tempat seperti ini.


Dia menikmati semua itu seorang diri hingga tanpa terasa, secangkir kopi di hadapannya sudah habis dan sebatang rokok pun sudah tidak tersisa. Namun, nyatanya belum mampu membuat mata pria itu mengantuk. Terlalu berat ke khawatiran yang Jack rasakan malam ini.


Kehilangan, mungkin itu yang sangat Jack takutkan. Dia pernah merasa begitu kehilangan, seperti saat merasa sepi karena tidak pernah tahu sosok seorang ibu yang melahirkannya. Meskipun dia tidak pernah tahu sosoknya seperti apa, tetapi, dia tidak pernah kekurangan kasih sayang. Dia mendapatkan kasih sayang seorang ibu itu dari Merlin, wanita itu begitu menyayanginya walau dia hanya ibu sambungnya. Nyatanya, seperti itulah adanya, dia memberikan kasih sayang layaknya ibu yang lain. Pikiran Jack pun menerawang ke belakang di mana hanya ada tawa dan canda dalam keluarganya. Apa dia terlalu jahat sehingga meninggalkan Merlin seperti ini? Hati kecilnya mengatakan tidak rela, jika harus menyakiti Merlin seperti ini tetapi, tidak dengan pikirannya.


Terlalu banyak orang-orang yang tersakiti karena ulah wanita ini.


Di Belahan bumi lainnya.


Di sebuah tempat hiburan malam yang cukup terkenal di kota, terdengar suara bising dari salah satu ruang privat yang ada. Tampak seorang wanita sedang marah-marah, di sana. Wanita itu terus memaki orang yang ada di hadapannya, hingga semua barang yang ada di sana pun menjadi korban ke marahannya.


"Sebetulnya kalian bisa kerja tidak sih?” Wanita itu berkata dengan tatapan mata penuh dengan amarah yang membara, sambil berteriak dan melempar gelas yang ada di tangannya ke sembarang arah.


"Maafkan kami, Nyonya! Kami mengaku salah!" Jawab seorang lelaki yang perawakannya tinggi besar dan agak menakutkan, layaknya seorang bodyguard.


"Maaf itu gampang, tapi, Saya sudah membayar kalian sangat mahal, kerja begitu saja kalian tidak becus!" Kemarahan Sania pun sudah meledak, di kala dia mendengar kabar bahwa Jack membawa Mira berlibur ke pulau pribadi Miliknya. Dia merasa bahwa, dialah yang seharusnya menjadi ratu dalam hidup Jack, dan dia sangat membenci kenyataan itu, kenapa laki-laki yang dicintainya lebih memilih seorang janda di bandingkan dirinya. Hal ini sangat membuat Sania murka.

__ADS_1


Sebuah botol minuman pun kena sasaran kemarahan Sania selanjutnya. Botol itu berhasil di lempar hingga pecahan dari botol tersebut berserakan di lantai.


"Kami janji, akan melakukan yang terbaik," Ucap kedua orang yang berada di hadapan Sania. Mereka terus menunduk, sudah merasa takut terhadap amukan sang bos. Mereka takut bukan karena Sania hebat atau hal lainnya tetapi, mereka takut kehilangan pekerjaan. Jika mereka di pecat maka merak khawatir akan nasib anak istrinya akan makan apa mereka nanti. Saat ini mencari pekerjaan sangat sulit.


"Sudah, cepat kalian pergi dari hadapanku!" Sania mengusir kedua orang itu dengan kasar


Demian yang dari tadi menyaksikan kejadian itu hanya diam tak bergeming. Jika dia bicara pun Sania tidak mungkin mendengarkan semua yang akan dia ucapakan.


Watak Sania yang keras kepala dan tidak akan menerima saran dari siapa pun, membuatnya enggan bicara. Sebab Jika tujuan Sania belum tercapai maka, cara apa pun akan dia tempuh. Termasuk bila harus menghilangkan nyawa orang lain. Itu semua akan dia lakukan jika orang tersebut akan menghalangi rencananya.


"Om, Kenapa lu? Diam saja dari tadi?” Tanya Sania terhadap Demian.


"Terus, aku harus apa menurutmu?" Jawab Demian singkat.


"Ngasih ide apa, kek, gitu! Untuk rencana selanjutnya," Kata Sania sambil meneguk minuman dari gelasnya dengan sekali teguk.


"Rencana selanjutnya, ya, tinggal di Jalan kan saja!” Ucap Demian santai.


Rencana apakah yang akan dilakukan  Sania dan Demian? yuk ikuti terus kisahnya, ya!


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2