Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 92


__ADS_3

Pagi yang sangat cerah, secerah mentari yang bersinar hari ini, sinar lembutnya seolah memberi harapan pada setiap insan yang memulai aktivitas seiring dengannya merambat menuju langit. Seperti harapan yang di miliki jack. Dia berharap sang istri akan menerima ajakannya untuk melakukan operasi. Harapannya sebesar cintanya pada Mira saat ini. Hanya dengan cara itulah yang bisa menyelamatkan salah satu di antara orang yang dia cintai, apakah Mira atau janin yang dikandungnya. Pria itu berharap bahwa, istrinyalah yang akan tetap  hidup mendampinginya.


Jack tidak mempermasalahkan jika kelak, Mira tidak bisa lagi mengandung anaknya sebab, yang terpenting baginya adalah kesehatan dan kesembuhan wanita itu. Untuk masalah anak, toh sudah ada Zay, yang jadi anaknya sekarang, bagi Jack itu semua sudah cukup, sedangkan Mira, tidak ada yang bisa menggantikannya, tidak ada Mira yang lain seperti istrinya.


Akan tetapi, sepertinya wanita itu sangat kuat dengan pendiriannya, sulit juga untuk memberi pengertian padanya, apalagi untuk melakukan operasi. Biasanya apa yang terjadi dan keputusan yang diambil oleh Jack secara sepihak, hanyalah salah saja di matanya.


Hari ini adalah waktu di mana keputusan  Mira mau atau tidak untuk melakukan operasi itu.


Jika mau atau tidak mau, tetap saja akan menjadi konsekuensi bagi Mira dan keluarganya sebab, para petugas medis hanya menyarankan sebuah tindakan yang menurut pandangan mereka bagus. Namun semua keputusan berada di tangan pasien dan keluarganya, sementara pihak dokter hanya melakukannya sesuai prosedur saja.


Jack sedang duduk di kursi yang ada di sisi tempat tidur pasien, di hadapan sang istri, yang dari tadi terus merengek ingin segera pulang ke rumah. tetapi Jack berusaha untuk sedikit memberi pengertian terhadap istrinya yang tergolong cukup keras kepala itu.


"Mas... Nanti siang kita pulang, kan?" Tanya Mira terhadap sang suami yang dari tadi terus menatapnya penuh arti, dan itu sulit sekali di artikan oleh Mira sendiri.


"Iya, Kita tunggu Dokter dulu... Kalau boleh, ya, kita pulang tapi, kalau tidak terpaksa pulangnya nanti dulu, oke?" Kata Jack sambil menegang tangan kiri sang istri, Secara yang sebelah kanan terpasang infus.


"Bosan aku di sini, Mas. Lagi pula aku sudah tidak pusing lagi, kok. Jadi ini tidak ada masalah, kan?" Celoteh Mira terhadap sang suami.


Jack yang melihat semua itu membuat dadanya terasa semakin sesak, pikiran buruk segera terlintas di benaknya. Dia membayangkan jika harus kehilangan wanita cantik yang sedang digenggam tangannya, sungguh dia tidak sanggup. Apalagi dia pernah kehilangan sebelumnya, membuat hatinya seolah merasakan kesedihan kembali menerpa. Meski dalam diam, dia mencoba menahan segalanya demi Mira. Dia tetap harus bersikap rasional dan tenang.


"Iya... kita pulang tapi, nanti ya," Ucap Jack dengan suara lembut. Dia tidak ingin perkataannya membuat istrinya tersinggung.


"Kenapa sih mas.... Kok, ngeliatin aku begitu banget? Apa ada yang salah ya, di mukaku?" Tanya Mira terhadap sang suami .


"Tidak ada yang salah ... Apa ini perasaanku saja atau benar, kamu itu terlihat sedikit kurus," Ucap Jack sambil merubah posisi duduknya. Dia beranjak  ke atas ranjang dan mendekat di samping sang istri hingga tubuh mereka saling menempel.


"Ah... Aku tidak kurus, kok! Itu cuma perasaan Mas.. saja!” Jawab Mira sambil menyentuh pipinya dengan kedua tangan.


"Apa di sini sering terasa sakit?" Tanya Jack sambil mengelus perut sang istri yang masih rata, dengan pandangan yang tidak lepas dari wajah Mira.


"Ya, kadang sih, Suka kram gitu tapi... Hilang dengan Sendirinya setelah aku bawa rebahan,” Jawab Mira.


"Apa itu terasa sakit banget atau seperti apa?" Tanya Jack lagi, Dia ingin mendengar langsung atas keluhan sang istri, tubuh mereka semakin rapat dan kini tangan Jack merengkuh bahu Mira dengan hangat.


"Iya, sakit, ... tapi itu hanya sebentar," Ucap Mira. Dia menduga itu hanya kram biasa karena wanita itu tidak tahu kebenaran dibalik rasa sakitnya.


"Kenapa tidak pernah bilang kalau sering kram ini perut?" Kata Jack sambil mengelus-elus terus perut sang istri. Hal ini membuat Mira tidak nyaman.


"Ikh, Mas... geli tahu jangan di elus-elus, mulu," Ucap Mira, sambil tertawa kecil.


“Memangnya kenapa kalau aku tidak bilang? Aku Cuma tidak mau ngerepotin kamu, Mas!”


Ck!

__ADS_1


Di sela perbincangan mereka, pintu ruangan terdengar di ketuk dari luar, Jack bangkit dari duduknya dan segera berjalan perlahan mendekat ke arah pintu untuk segera membukanya.


Saat pintu terbuka, terlihat dua orang wanita paruh baya dan Zay, dua orang itu sedang berdiri di depan pintu. Selain Zay mereka adalah Bu Dellia di temani Bi Minah juga.


"Selamat pagi! Bagaimana keadaan Mira, sekarang?" Kedua wanita itu masuk begitu saja melewati Jack. Rentetan pertanyaan pun muncul dari Bu Dellia dia juga sangat khawatir dengan keadaan Mira—anaknya, bahkan tadi malam saja wanita itu tidak bisa tidur.


"Baik, Silakan duduk!” Jack pun mempersilahkan Bu Dellia untuk masuk dan duduk.


Bu Dellia pun perlahan berjalan sambil menggandeng tangan Zay, ke arah di mana Mira sedang duduk di atas ranjang pasien.


Mira yang melihat itu tidak merespons apa pun. Entahlah, dia belum merasakan empati pada Bu Dellia, meskipun dia benar-benar ibunya. Mungkin karena sejak kecil Mira tidak tinggal bersamanya dan tidak pernah merasakan kasih sayang darinya hingga dia begitu kecewa, membuatnya bersikap acuh tak acuh saja.


Mira hanya tersenyum tipis melihat wajah polos sang putra yang sudah mengenakan seragam sekolah. Setelah selesai sarapan tadi, anak itu memaksa ikut untuk menemui Mira—mamanya.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" Tanya Bu Dellia sambil mendekat ke arah sang putri yang selama ini begitu di rindukannya.


"Baik," Jawab Mira singkat sambil membuang pandangannya ke arah lain.


"Alhamdulilah, Ini Mama bawakan sarapan untuk kamu dan juga Suamimu," Ucap Bu Dellia sambil meletakan kantong makanan di atas nakas.


"Mau sarapan sekarang?” Tanya Bu Dellia dengan suara lembutnya terkesan penuh kasih sayang. “Kalau kamu tidak kuat, biar ibu suapi, ya?”


"Nanti saja!" Jawab Mira dengan suara pelan namun masih bisa terdengar dengan jelas di telinga Bu Dellia.


"Iya, Ma! Tapi Zay tidak mau ke sekolah kalau nggak bertemu sama Mama dulu. Makanya aku ikut ke sini bareng sama Bibi, sama Nenek! Mama, kenapa sih? Mama sakit apa?”


Pertanyaan anak kecil itu bukan hanya melukai hati Jack yang tidak mungkin menjawab secara jujur. Akan tetapi, membuat Mira dan semua yang ada di ruangan itu bertanya-tanya, sebenarnya sakit apa Mira hingga dia pingsan dan harus dirawat? Seandainya hanya karena kehamilan, itu tidak mungkin, sebab dia merasa baik-baik saja.


 


“Sekarang, kan, sudah ketemu sama Mama ... jadi, kamu harus berangkat sekolah, sekarang sudah siang lho, awas terlambat nanti.” Sahut Mira.


“Tapi, kan sudah dekat dari sini, Ma!” kata Zay dengan wajah polosnya.


“Ya, sudah ... berangkat sana.” Kata Mira sambil mengusap lembut kepala anaknya.


“Ya, deh ... Zay, pergi dulu, ya, Ma!” kata Zay sambil mencium punggung tangan Mira, Jack, dan juga Bu Dellia. Setelah itu pergi keluar ruangan bersama Bi Minah setelah berpamitan.


“Hati-hati di jalan, ya Sayang!” kata Mira sambil melambaikan tangan pada Zay saat sudah sampai di depan pintu.


Setelah kepergian Zay, kini tinggallah mereka bertiga dalam ruangan itu, hingga terciptalah suasana canggung antara Jack, Bu Dellia dan Mira


 

__ADS_1


Suasana hening untuk beberapa saat lamanya hingga terdengar suara Bu Dellia bicara, sambil memegang tangan Mira—anaknya.


“Mira, apa kamu masih marah sama Mama?”


Suasana kembali hening, Mira tidak segera menjawab pertanyaan ibunya. Dia memilih diam dan tak merespon apa pun.


Sementara Jack duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur hingga dia bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh kedua wanita yang sama-sama duduk di atas bangsal pasien.


Mira memalingkan pandangan dan tetap diam, meski sebenarnya dia berusaha menahan tangis karena kedatangan wanita yang mengaku sebagai ibunya itu, sangat mengejutkan baginya. Dia belum bisa menerima seluruhnya jika ternyata ibu yang melahirkannya masih hidup.


“Mira, coba lihat Mama, Nak!” kata Bu Delia dengan lembut, sedangkan tangan mereka masih saling bertaut.


Mira melihat pada Bu Dellia yang menatapnya lembut.


“Apa alasanku, marah? Hanya saja ....” ucap Mira.


“Maafkan, Mama, Nak.” Kata Bu Delia sambil berurai air mata.


“Mama bersalah sama kamu. Sebenarnya Mama sudah mencarimu ke mana-mana tapi, takdir selama ini belum mempersatukan kita, waktu pertama kali kita bertemu waktu itu, Mama tidak tahu kalau kamu adalah anak Mama!”


Mira kembali diam dan memalingkan pandangan ke arah lain, sekuat tenaga menahan tangis agar tidak tumpah.


Seandainya bicara tentang kesalahan, maka, di antara Mira dan Bu Dellia tidak ada yang salah, mereka sama-sama korban. Apalagi bicara tentang luka, maka dua wanita itu pun sama-sama terluka! Ibu mana yang mau dipisahkan dari anaknya dan anak siapa yang mau dipisahkan dari ibunya?


Hanya saja waktu itu Bu Delia tidak bisa melawan orang tuanya hingga dia pasrah begitu saja.


“Ya sudah, kalau kamu belum bisa memaafkan Mama, tidak apa-apa ... yang penting, di usia Mama sekarang sudah tenang bisa melihat anak dan cucu Mama baik-baik saja.” Ucap Bu Dellia dengan suara lembutnya.


Disela-sela perbincangan itu, terdengar pintu terbuka dan tampak beberapa orang dokter serta perawat datang hendak melakukan pemeriksaan pada Mira.


“Permisi ....” kata salah satu dokter yang masuk.


“Silakan!” kata Jack seraya berdiri dan mendekati tempat tidur Mira. Begitu pula dokter dan perawat tadi ikut mendekati bangsal di mana Mira berada.


“Maaf, bisa Ibu menunggu di luar? Hanya boleh satu orang penunggu saja di kamar pasien.” Kata salah satu perawat kepada Bu Delia.


“Baiklah,” kata Bu Delia sambil melangka meninggalkan Mira, dia akan menunggu di luar ruangan sampai pemeriksaan selesai dilakukan.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2