Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 58


__ADS_3

"Mau di peluk?” Tanya Jack terhadap Zay.


"Iya!” Jawab Zay dengan wajah cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. Mira pun ikut serta menyejajarkan tubuh dengan anaknya lalu, mereka memeluk Zay bersama.


Keluarga kecil itu terlihat sangat bahagia, Sura tepuk tangan kecil tapi cukup riuh pun terdengar dari semua yang ada di tempat itu.


Mereka bertiga pun menuju tempat di mana sudah tersedia beberapa makanan dan aneka buah serta camilan di atas meja. Mereka terus memperlihatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Jack menggandeng tangan Mira, dengan senyum merekah, mereka sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta itu.


"Mas, kemarin bilangnya cuma bertiga! Nah kenapa sekarang jadi banyak orang di sini?” Mira berbicara sambil berbisik di telinga sang suami. Dia merasa risi dan sungkan.


"Awalnya sih, memang, aku cuma mau bertiga, karena kamu mau mengajak Bibi, jadi! Rencana pertama gagal dan sekarang rencana diubah," Ucap Jack. “Lagian kita, kan, sudah menikah tetapi belum mengadakan pesta. Memang sih tidak terlalu mewah, tapi, ya ... setidaknya kita berbagi kebahagiaan sama orang-orang terdekat kita." Imbuh Jack lagi.


"Terima kasih, atas semuanya, sayang.” Mira tidak henti-hentinya menatap wajah sang suami tercinta, dengan tatapan takjub.


Suasana di tempat itu pun terlihat sangat indah dan lebih bermakna karenanya. Pesta di alam terbuka dan dihiasi bintang di angkasa, canda tawa di antara semua yang ada di sana tidak henti-hentinya menambah keakraban suasana. Mereka sangat menikmati semuanya, berbagi kebahagiaan, tertawa bersama hingga Jack lupa jika ada satu orang yang telah terluka.


Dia adalah orang yang bersedih dengan kepergian Jack dari rumah, membuat orang tersebut depresi.


Waktu sudah laut malam, acara pesta kecil-kecilan namun mewah itu pun sudah selesai. Zay sudah pergi ke kamarnya, di temani oleh Bibi. Para tamu yang mereka undang pun sudah kembali ke tempat penginapan mereka masing-masing.


Tinggallah di tempat itu sepasang suami istri, Rico, bersama Ferdy dan Anita. Mereka duduk berhadapan di meja yang sama, Dan ditemani beberapa camilan dan minuman kesukaan mereka.


Terkadang perbincangan mereka menciptakan tawa di antaranya. Mereka  tidak henti-hentinya menggoda Mira, pasangan lain yang ada di antara mereka. Hingga satu pertanyaan membuat suasana mendadak hening.


"Apa tante Merlin tahu, kalian mengadakan pesta ini?” Tanya ferdi terhadap Jack.


Hening, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir siapa pun,


hngga pada akhirnya, Jack menjawab, "Tidak,” kata Jack sambil menggelengkan kepalanya, wajah yang tadi terpancar penuh dengan kebahagiaan seketika berubah muram.


"Kenapa?” Tanya Ferdi lagi.


"Setelah menikah, aku baru pulang sekali ke rumah itu," jawab Jack datar. Dia merasa hambar dengan ikatan yang terjalin di antara keluarganya.


"Lalu, respons tante, bagaimana, kamu jarang pulang?” Tanya Ferdi, sepertinya pertanyaan pria ini sudah mewakili semua orang yang juga penasaran dengan hal ini.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Entah itu benar atau hanya pura-pura, Mama meminta agar jangan pergi, tapi aku tidak menurutinya,” Jawab Jack dengan tatapan yang menerawang ke masa di mana dia pergi tanpa menghiraukan Merlin yang terus berteriak, memintanya agar tidak pergi.


"Apa kamu tahu, keadaan tante saat ini?” Masih tanya Ferdi.


"Tidak ... aku tidak tahu." Jack menjawab sambil menggelengkan Kepala


Tiba-tiba Rico pun angkat bicara, pria itu adalah orang kepercayaan Jack. Mereka sudah berteman sejak mereka duduk di bangku SMA. Jika tengah seperti ini barulah Rico bersikap layaknya sebuah sahabat.


"Kemarin gua, mampir ke rumah, lu," Ucap Rico dengan nada acuh tak acuh khas miliknya.


"Lalu?” Ferdi menimpali, dia juga penasaran rupanya.


"Gua, liat keadaan tante Merlin tetapi, dia tidak seperti biasanya, Entah apa yang terjadi, tubuhnya agak sedikit kurus dan tidak terawat, rambut acak-acakan dan yang bikin gua heran, tatapan matanya kosong, bahkan ke-gua aja beliau nggak kenal. Saat gua ajak dia bicara, dia nggak ada respon, gitu aja yang bisa gua kasih tahu ke lu!” Rico menjelaskan tentang keadaan Merlin pada saat ini.


"Yang bener, Lu!” ucap ferdy dan Anita  secara serempak sedangkan, Jack meresponsnya dengan diam.


Mira pun masih terdiam, menatap lekat wajah sang suami yang terlihat murung. Dia menggenggam erat tangan pria yang duduk di sampingnya itu.  Berusaha untuk menguatkan hati karena keadaan ibundanya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Apa, sih, Lu! Nggak bisa, lu berbesar hati nerima dengan cara memaafkannya?” Tanya ferdy sambil menyenggol bahu Jack, tapi pria itu bergeming.


"Nit, tolong bawa Mira ke penginapan dulu! Ada hal penting yang mesti kami bicarakan!" Ferdy memberi perintah terhadap Anita agar mereka berdua meninggalkan para pria yang sedang berusaha menyelesaikan masalah.


"Iya, ayu Mira!” Anita mengajak Mira untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.


Setelah kepergian Anita dan Mira, Jack menyandarkan tubuhnya, di sandaran kursi, sambil memejamkan mata.


"Hal apa yang membuat kamu sulit, untuk memaafkan tante Merlin?” Tanya Ferdi lagi.


Sementara Rico masih menyimak dengan saksama.


"Kamu tahu sendiri, kan, alasannya? Jadi, tidak perlu di jelaskan lagi.” ucap Jack sambil menyilakan kedua tangannya di atas dada.


"Kamu tidak bisa memaafkannya, karena dia ikut terlibat atas meninggalnya Karina?” kembali Ferdi bertanya.


"Nah, Itu salah satunya,” Jawab Jack singkat.


"Lu harus ingat satu Hal ... Lu mesti iklhas melepas kepergian Karina, mungkin ini jalan terbaik untuk lu dan Karina, apalagi sekarang sudah ada Mira yang harus kamu jaga dengan baik, jangan biarkan hati lu dikuasai amarah dan dendam, itu semua hanya merugikan diri lu sendiri, Jack!” Kata Ferdi.

__ADS_1


“Lalu, apa lagi? Disaat Gua meminta Mama buat menemui Mira, dia malah maki-maki istri gua! Padahal saat itu gua berharap Mama meminta Mira untuk menjadi menantunya, ternyata semua itu salah ... Di malam itu juga gua tahu, semua kebohongan yang selama ini tertutup rapi, ternyata, gua cuma anak sambung dari dia, Gua bukan anak kandungnya, Fer!” Pernyataan Jack tersebut sontak membuat ferdy terkejut, tapi, tidak halnya dengan Rico, karena laki-laki itu sudah mengetahui semuanya dari awal. Jack sudah menceritakan semuanya pada sahabatnya, semua tentang Merlin dan dari situ juga terungkap fakta, bahwa kecelakaan yang dialami Mira itu ada hubungannya dengan Merlin.


"Saran gua, ya, Meskipun tante Merlin seperti itu tapi, tetap aja dia yang sudah merawat kamu, menjaga kamu sampe kamu tumbuh jadi orang yang cerdas seperti ini. Itu semua tidak lepas dari perannya, walau dia seorang Ibu sambung, tapi dia cukup bertanggung jawab sudah ngurusin kamu selama ini." Ucap Rico sambil menatap lekat wajah Jack yang sudah kusut.


"Memang sih, Kata maaf itu mudah diucapkan tapi, sulit di lakukan!" Ferdy menimpali. Namun, Jack masih terdiam.


"Lalu, langkah selanjutnya yang mau kamu ambil apa?” Tanya Rico.


"Ya, aku tidak tahu.” Jawab Jack Singkat.


"Bagai Mana dengan bukti yang sudah ada, apa itu semua masih kurang untuk menjebloskan Demian dan Sania ke penjara?” Tanya Rico terhadap Jack namun dijawab oleh Ferdi.


"Itu belum terlalu kuat, kita mesti cari bukti lain dari kejahatan yang mereka lakukan!” Ucap Ferdy tegas.


"Apa perlu kita tambah bukti tentang bisnis ilegal yang di lakukan Demian?”  Rico bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Nah, mungkin ini lebih bagus, tetapi bagaimana dengan Sania, dia, kan, tidak terlibat dengan bisnis obat terlarang itu? Pasti nantinya dia akan bebas berkeliaran, gua nggak mau hal itu terjadi! Mereka semua harus menerima semua akibat dari perbuatan mereka!” Ucap Jack tak kalah tegas.


"Lah, kita kan belum mencari bukti yang kuat, tentang bisnis itu? Bisa saja Sania ikut terlibat di dalamnya, kita, kan, belum tahu?” Ferdy menjelaskan semuanya. Hal ini dibenarkan oleh Rico, pria itu mengangguk tanda setuju.


"Jika seperti itu, Secepatnya lengkapi semua bukti yang sudah ada.” Jack mempertegas semuanya.


Malam sudah terlalu larut, untuk menyelesaikan semua masalah yang baru saja mereka bicarakan, dan bila mereka menuruti, maka mungkin sampai pagi tidak akan selesai. Akhirnya mereka bertiga pun mengakhirinya.


"Sudah malam, pasti Mira sudah menungguku,” kata Jack sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Iya, sih, pengantin baru." Goda Rico dan Ferdi, “lah kita siapa yang menunggu?”


Mereka bertiga pun tertawa.


"Gua pamit,” ucap Jack sambil berdiri lalu pergi beranjak meninggalkan Rico dan Ferdy.


Setelah itu ketiga pria itu pun pergi ke tempat di mana mereka masing-masing menginap malam ini.


 


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2