Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 63


__ADS_3

Tidak terasa, perjalanan yang mereka lakukan sudah mencapai delapan jam lamanya. Waktu berlalu begitu saja, hingga Jack beserta keluarga dan sahabatnya pun sudah sampai di Jakarta. Sebelum pulang ke Rumah, Jack akan membawa Mira ke Rumah sakit terlebih dahulu. Begitu khawatirnya pria itu hingga dia memutuskan demikian. Takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Walaupun, Mira sudah menolaknya tetapi, bukan Jack namanya jika tidak memaksakan.


Akhirnya, tiba juga kedua suami istri itu di sebuah Rumah sakit ternama di Jakarta. Jack tidak membiarkan Mira untuk berjalan, dia menggendongnya Sampai di ruang pemeriksaan, padahal Mira sudah merasa tidak pusing lagi. Perasaannya sudah membaik tapi, saja Jack bersikukuh dengan kelakuannya. Dengan gerakan cepat Jack membawa Mira ke ruangan pemeriksaan yang sudah di siapkan sebelumnya.


Tiba di sebuah ruangan pemeriksaan, seorang Dokter sahabat Jack, sudah menunggu kedatangannya, siapa lagi dia kalau bukan Dokter Farhan, dialah dokter yang akan menangani Mira.


Jack pun dipersilahkan oleh salah satu perawat untuk masuk ke ruangan.


"Silakan masuk, Tuan?” kata Perawat mempersilahkan Jack, dengan ramah dan sopan.


"Terima kasih," Jack menjawab dengan singkat


Sambil mengikuti langkah perawat dari belakang.


Setelah sampai dalam ruangan Jack meletakan istrinya di ranjang pemeriksaan pasien. Kedatangan mereka langsung di Sambut ramah oleh sang dokter.


"Apa yang terjadi dengan Mira?" Tanya sang dokter terhadap Jack.


"Tidak tahu, tadi pagi tiba-tiba mengeluh pusing terus pingsan.” Jack memaparkan kejadian tadi pagi.


"Baiklah, kita periksakan dulu,” kata dokter Farhan, dengan membawa alat stetoskop akan segera memeriksakan keadaan Mira.


"Apa, yang kamu rasakan saat ini, Mira?” Tanya dokter Farhan pada Mira.


"Sekarang sih tidak terasa apa-apa, cuma akhir-akhir ini sering merasa lelah dan pusing, kurang nafsu makan, hanya itu dok!” Mira menceritakan keluhannya terhadap sang dokter.


"Baiklah kita periksa dulu ya?" Dokter Farhan pun akan menyentuh bagian perut Mira. Namun, tiba-tiba Jack menepis tangannya.


"Eh apa-apa ini!” Ucap Jack sambil menyingkirkan tangan dokter dari perut istrinya.


Perbuatan Jack membuat dokter Farhan mengerutkan keningnya, “Kamu ini, Jack. Bagaimana bisa memeriksa tanpa harus menyentuhnya?” Batin dokter kesal.

__ADS_1


"Astaga Tuan, ternyata Anda posesif juga ya? Bagaimana bisa saya memeriksakan istri Anda tanpa menyentuhnya, saya ini dokter bukan cenayang yang bisa mengetahui apa yang terjadi tanpa menyentuh!” Ucap sang dokter sambil menyeringai dengan penuh keheranan. “Ternyata ada seorang suami seperti ini ya?” Batinnya lagi.


"Apa tidak ada dokter wanita di sini? Saya tidak mau istri Saya di sentuh pria lain.” Tanya Jack terhadap dokter Farhan.


"Hai, Tuan posesif! Saya ini dokter yang ingin memeriksa keadaan istri Anda! Jika tidak mau di periksa oleh Saya kenapa juga di bawa ke sini?” Dokter Farhan pun mulai kesal dengan kelakuan Jack.


"Pokoknya, cari dokter wanita!” kata Jack menegaskan ucapannya agar mencari dokter wanita.


Akhirnya dokter Farhan pun berinisiatif untuk meminta bantuan salah seorang rekannya, dia mengangkat gagang telepon untuk menghubunginya. Setelah beberapa saat dokter wanita pun datang, ke ruangan pemeriksaan Mira. Dia seorang wanita cantik, namanya dokter Nadia, seorang dokter ahli penyakit dalam, sedangkan dokter Parhan hanyalah dokter umum.


"Selamat malam Dok, Tuan ... Ada yang bisa di bantu?" Dokter Nadia pun menyapa sambil menganggukkan kepala terhadap Jack dan dokter Farhan pertanda memberi hormat.


"Saya butuh bantuan dokter, Itu Nyonya Jack tolong periksa, Saya tidak bisa memeriksanya, karena suaminya yang sangat posesif itu, Silakan dokter?" Dokter Farhan pun mempersilahkan untuk memeriksa Mira,


Dokter Nadia pun melakukan tugasnya memeriksa, keadaan Mira dengan telaten.


"Sudah berapa lama mengalami hal seperti ini?” Tanya dokter Nadia.


"Sudah sekitar, Empat minggu! Saya merasa pusing, cepat lelah terus na*fsu makan hilang, Tapi, sebelumnya tidak pernah sampai pingsan seperti tadi.” Mira pun memberi penjelasan terhadap dokter yang memeriksakan dirinya.


Deg!


Mira merasa kaget dengan pertanyaan dokter itu.


‘Bagaimana aki lupa tentang hal ini? Aku bahkan bulan lalu pun tidak datang bulan. Aku pikir karena stres jadi telat datang bulan.’ Batin Mira.


“Jadwal menstruasi saya tidak teratur dokter, Jadi Saya juga bingung kapan terakhir datang bulan,” Jawab Mira.


"Baiklah, biar lebih akurat hasilnya, kita tes dulu, ya?” Dokter itu mengambil sesuatu dari dalam laci dia pun menyerahkan sebuah alat tes kehamilan


Dan, menyuruh Mira untuk pergi ke toilet.

__ADS_1


Mira pun pergi ke toilet yang ada di ruangan tersebut ditemani sang suami. Setelah berada di dalam toilet Mira pun segera melakukan apa yang di suruh dokter Nadia. Dengan hati yang mulai tidak karuan, Mira mencelupkan alat itu ke dalam mangkuk yang sudah berisikan urinenya. Lalu, mengangkatnya. Tangan Mira mulai gemetar ketika terlihat dengan jelas dua garis merah tertera pada alat tes itu.


Melihat wajah sang istri yang sudah memucat dan tangan gemetar, Jack pun mengambil alih alat yang di pegang istrinya. Dia tidak tahu apa maksud dari alat itu. Yang dia tahu hanya dua garis merah. Lalu, dia bertanya pada Mira.


"Ini maksudnya apa?"


"Itu artinya Aku hamil, Mas!" Mira menjawab dengan bibir yang sedikit bergetar. Bagi Mira ini terlalu cepat menikah saja belum genap satu bulan, tapi mengapa ini sudah terjadi.


"Apa...? Kamu hamil?" Jack langsung memeluk tubuh sang istri dengan menghujaninya banyak ciuman di wajah. Jack sangat senang bisa membuat Mira hamil. Namun, Mira masih tidak bergeming dengan apa yang di lakukan suaminya. Pikiran Mira masih menerawang ke masa di mana dia pernah melakukan itu bersama Jack Sebelum menikah.


"Aku sangat bahagia sekali sayang," Ucap Jack berkali-kali tidak hentinya dia terus mengucapkan terima kasih.


Mira dan Jack pun keluarga dari toilet dengan membawa alat yang sudah jelas hasilnya, yaitu garis dua yang artinya Mira positif hamil. Dengan wajah penuh kegembiraan Jack pun menyerahkan alat itu pada dokter Nadia. Akan tetapi wajah Mira tidak seceria suaminya.


"Selamat, ya, Tuan. Istri Anda hamil.” Dokter Nadia pun memberi ucapan selamat terhadap Jack dan Mira.


"Hah... Hamil?” Jawab dokter Farhan kaget.


"Iya, hamil. Ini hasil pemeriksaannya.” Dokter Nadia pun menyerahkan alat tersebut kepada dokter Farhan. Lalu, dia mengambil alih alat itu, dan dia mengangguk, ternyata betul Mira sedang hamil.


"Baiklah Tuan, Pemeriksaan selesai silakan untuk pemeriksaan selanjutnya, temui dokter Ryan. Dia dokter ahli kandungannya saya hanyalah dokter ahli penyakit dalam," Nadia menyarankan terhadap Jack agar menemui dokter Ryan, dia itu dokter kandungan yang praktik juga di Rumah sakit yang sama.


"Baiklah, kapan saya bisa bertemu dengannya?” Tanya Jack.


"Silakan, bicara dengan dokter Farhan saja dia tahu jadwal dokter Ryan di sini." Nadia pun menyerahkan kembali terhadap dokter Farhan.


"Baiklah," Jawab Jack.


"Tugas Saya sudah selesai, Saya permisi dulu." Dokter Nadia pun keluar dari ruangan pemeriksaan untuk menuju ke ruangannya sendiri.


"Kapan bisa bertemu dengan dokter itu, Han?" Tanya Jack terhadap dokter Farhan.

__ADS_1


"Tunggu, sebentar saya telepon dulu apakah sudah pulang atau belum, soal dia praktiknya sudah selesai tadi, jam delapan, sekarang sudah jam sembilan." Dokter Farhan memberi penjelasan pada Jack.


"Baiklah, kalau sudah pulang, suruh dia balik lagi! Jika tidak! Akan aku tutup Rumah sakit ini!" Ancam Jack terhadap dokter Farhan.


__ADS_2