Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Patr 93


__ADS_3

Pemeriksaan pun sedang berlangsung, Jack selalu berada di dekat istrinya, saat dokter melakukannya. Setelah selesai, seorang dokter dari rombongan kecil itu, memaparkan hasil pemeriksaan kesehatan Mira. Dia juga menyarankan agar Mira menerima semua arahan dari pihak medis. Semua yang mereka sarankan itu akan lakukan untuk kebaikan dan kesehatannya sendiri juga.


Seketika pandangan mata wanita itu terasa buram karena air mata. Dia tidak percaya dengan semua yang terjadi pada dirinya. Penyakit dan kondisi tubuh yang semula di anggap ringan ternyata menyimpan penyakit yang sudah separah ini. Jika harus memilih operasi tentu saja Mira tidak setuju, dengan cara apa pun dia akan mempertahankan janin tengah yang di kandungnya.


Dia tidak peduli meskipun, dia harus kehilangan nyawanya dia tidak akan rela untuk melakukan pemisahan janin dari tubuhnya.


Mira masih saja diam tidak menjawab pertanyaan dokter yang mengajaknya bicara, wanita itu benar-benar tidak percaya jika dirinya harus mendapatkan cobaan seperti ini.


Dia ingat waktu kecil dia terpisah dari ibunya, lalu saat menikah dia pun terpisah dari suaminya, apalagi sekarang dia harus dipisahkan juga dari janin yang baru saja dikandungnya karena penyakit di rahimnya. Seandainya bisa menolak semua itu, maka, dia akan menolaknya.


"Nyonya apa Anda mendengar saya?" Tanya seorang dokter yang memaparkan riwayat kesehatannya.


Mira tidak menjawab apa pun, Sungguh bibirnya tak sanggup untuk berkata-kata.


"Ini jalan satu-satunya yang bisa kita tempuh untuk menyelamatkan salah satu di antara Anda atau bayi Anda, Nyonya!" Ucap sang dokter kembali.


Mira menggelengkan kepalanya, dengan berurai air mata dengan tangan yang memeluk lutut.


Sungguh sulit untuk di percaya, dengan semua apa yang terjadi dengan dirinya.


"Iya, Dokter! Nanti saya bujuk istri saya," Jawab Jack dengan nada sendu, masih terus berusaha untuk meyakinkan Mira. Dia berkata sambil memegang satu tangan sang istri. Dis bermaksud, dengan itu dirinya menguatkan sang istri.


"Baiklah, Kita tunggu secepatnya," Ucap sang dokter.


"Terima kasih, Dokter!" Ucap Jack.


"Sama-sama," Jawab dokter sambil tersenyum tipis ke arah Jack dan Mira.


Para rombongan dokter dan perawat pun pergi, dari ruangan perawatan Mira setelah berpamitan.


Di luar ruangan Bu Dellia duduk di kursi tunggu, melihat para dokter keluar dari ruangan anaknya. Dirinya langsung berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu. Saat pintu itu terbuka, dia melihat sang anak sedang menangis sambil di peluk oleh suaminya. Dalam hati Bu Dellia bertanya, mengapa setelah dokter keluar justru anaknya menangis.


Dia pun berjalan perlahan mendekat ke arah sang anak dan menantunya itu, lalu, duduk di kursi yang ada di hadapan keduanya. Namun, dirinya belum berani bertanya.


Setelah beberapa saat, Tangis Mira pun sudah mereda barulah Bu Dellia mulai bertanya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan Mira?" Tanya wanita paruh baya itu terhadap keduanya, Sambil menatap Mira dan Jack bergantian.


Tiba-tiba suasana menjadi hening.


"Mira, Mengidap kangker rahim stadium empat, Bu. Adapun jalan satu-satunya harus operasi," Kata Jack terhadap sang ibu mertua, dia memberi tahu soal kesehatan anaknya.


Bu Dellia pun seketika tercengang mendengar pernyataan menantunya, dia pun tidak percaya saat tahu jika sang anak menderita dengan penyakit cukup berat yang bersarang di tubuhnya. Sungguh dirinya merasa sangat bersalah, dan menyesali kenapa mereka harus di pertemukan di saat seperti ini. ‘Kenapa juga tidak dari dulu jika saja sejak dulu mungkin semua ini tidak akan terjadi’ batin Bu Delia, sedih.


Bu Delia berharap bahwa pertemuan dirinya dan anaknya akan membawa kebahagiaan, tapi, nyatanya mereka dipertemukan saat kabar menyedihkan datang.


"Terus solusinya seperti apa?" Tanya Bu Dellia dengan mata yang sudah di penuhi cairan bening.


"Ya, Harus segera melakukan operasi secepatnya," Jawab Jack dengan nada lirih.


"Terus kapan waktu operasinya?" Tanya Mama mertuanya lagi.


"Harus secepatnya" Jelas Jack.


"Terus, Apa masalahnya?" Kata Bu Dellia lagi.


"Kenapa menolak sayang...?" Tanya Bu Dellia terhadap sang anak sambil menatap wajahnya dengan penuh sesal.


"Mira tidak mau membunuh anak ini, tidak!" Ucap Mira pelan sambil memeluk perutnya sendiri, dan  bibir yang gemetar.


"Itu semua di lakukan demi kebaikan kamu, Sayang..!" Ucap Bu Dellia dengan suara lembutnya.


"Mira, Tidak mau menukar nyawanya dengan Mira, Sampai kapan pun tidak akan mau melakukan itu!,” Mira bicara dengan berurai air mata.


"Tapi, Kami juga tidak mau kehilangan kamu, Nak!” Kata sang mama.


"Mas! Aku mau pulang sekarang juga, Mas!" Tegas Mira.


"Tapi sayang...! Aku ingin kamu menjalani operasi, aku tidak sanggup kalau harus kehilangan kamu, Sayang!" Jawab Jack.


"Mas, hidup mati itu di tangan Tuhan. Jadi, Pulang sekarang...!" Ucap Mira lagi.

__ADS_1


"Iya tunggu sebentar yah... Tanya dokter dulu," Ucap sang suami.


"Aku tidak mau di sini, aku mau pulang!" Kata Mira sambil berurai air mata, Sedari tadi dia tidak kuasa untuk menahannya.


"Iya, Kita pulang," Jawab sang suami dengan nada lembutnya, akhirnya pria itu mengalah.


Jack pun pergi meninggalkan ruangan perawatan untuk menuju bagian administrasi mengikuti prosedur yang harus dia lakukan karena meminta pulang secara paksa.


Apabila kepulangan pasien tidak sesuai petunjuk dokter dan kemungkinan  akan menimbulkan risiko sementara pihak klinik tidak mengizinkan, maka, pihak  keluarga harus melakukan administrasi yang berbeda.


Jack melakukan semua prosedur dengan sabar sebagai tanggung jawab, jika terjadi sesuatu pada pasien, maka, tidak akan menyalahkan pihak rumah sakit. Semua itu sudah sesuai ketentuan dan pria itu tetep meminta untuk membawa istrinya untuk pulang.


Setelah beberapa saat kemudian, semuanya  prosedur pun sudah selesai, Jack kembali ke ruang perawatan sang istri.


Setelah itu, Perawat pun datang untuk membuka infus yang masih menempel di tangan Mira. Setelah masalah infus sudah selesai, wanita itu terlihat lega.


Jack mengemasi beberapa barang yang akan kembali di bawa pulang, setelah selesai, pria itu menghubungi Rico agar segera menjemput dirinya di klinik kesehatan itu.


Setelah cukup lama menunggu akhirnya jemputan pun datang.


Mereka semua keluar dari klinik untuk menuju tempat parkir. Di mana kendaraan roda empat yang akan mereka tumpangi berada.


Mereka semua pulang, dengan mobil yang perlahan melaju pergi meninggalkan area parkir klinik.


Perjalanan yang mereka tempuh hanya sebentar karena jarak klinik dan rumah Mira cukup dekat. Setelah sampai di halaman rumah, Mira pun keluar terlebih dahulu tanpa menunggu ibu dan suaminya.


Wanita itu berjalan dengan cepat untuk masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar.


Bu Dellia dan Jack pun menyusul Mira dengan cepat pula, untuk segera masuk ke rumah.


Sementara  Rico tidak mampir terlebih dahulu, dia segera kembali ke kantor. Dia ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Jack, tapi, keinginan itu ditahannya karena melihat semua orang yang tadi menumpang di mobilnya, bermuka masam.


 


 

__ADS_1


__ADS_2