Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 120


__ADS_3

Mira, Zay dan Jack pun mereka berjalan perlahan keluar dari rumah Bu Parida, mantan mertua Mira yang sebenarnya sangat menyayangi Zay, lebih dari cucunya yang lainnya. Ketiga orang itu akan segera pulang ke rumah mereka.


Dengan berat hati wanita paruh baya itu pun melepas kepergian keluarga kecil Mira, dia membiarkan cucu laki-lakinya pulang, dengan penuh harapan dilain kesempatan, Mira—menantunya, bisa mengizinkan Zay akan menginap di rumahnya lebih lama. Karena hanya anak itulah yang bisa dia jadikan sebagai pelipur lara atas rasa rindu pada Jul, anaknya yang telah tiada.


Setelah berada di luar rumah, mereka pun berpamitan untuk segera pulang, Bu Parida memeluk cucunya itu secara lembut dengan penuh kasih sayang karena belum ikhlas untuk melepaskannya. Satu hari terlalu singkat baginya untuk bersama dengan sang cucu. Namun, apalah daya ada yang lebih berhak dari pada dirinya, yaitu ibunya Mira.


Mereka segera masuk ke dalam kendaraan yang akan mereka tumpangi, setelah semua berada di dalamnya, Jack perlahan melajukan mobil itu secara perlahan meninggalkan area pekarangan rumah Bu Parida yang menatap kepergian mereka dengan perasaan sedih.


Tanpa terasa, siang hari yang terasa panas, telah berganti dengan malam, saat mobil Jack melaju membelah keramaian jalan kota yang tak pernah sepi dari aktivitas manusia. Suana kota semakin indah di malam hari dengan adanya sinar lampu yang menerangi setiap sisi jalan,membaut suasana malam semakin indah untuk di pandang.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup memakan waktu lama, apalagi ruas jalan yang harus mereka lalui termasuk area rawan macet. Jarak yang biasa di tempuh hanya dengan satu jam, bisa menghabiskan waktu sampai dua jam, bahkan bisa lebih lama lagi.


Tentu saja hal itu sangat sangat melelahkan, sebab perjalanan dalam kemacetan itu tidaklah menyenangkan. Setelah cukup  lama berada di jalan, Zay pun tertidur di kursi belakang hingga kendaraan yang mereka tumpangi sudah sampai di pekarangan rumahnya. Jack memarkirkan kendaraannya lalu, membuka pintu samping mempersilahkan istrinya untuk turun lebih dahulu.


Lalu, dia membuka pintu belakang, untuk menggendong Zay keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.


Mira berjalan terlebih dahulu untuk membukakan pintu.


Jack masuk menyusul istrinya sambil menggendong Zay, begitu pintu terbuka. Anak kecil dalam gendongannya itu yang masih saja tertidur pulas, padahal tadi siang dia tertidur di mobil. Hal itu wajar, karena Zay orang yang mudah tertidur.


Jack meletakkan anak itu di atas kasur lalu menutupinya  dengan selimut. Meskipun Jack hanya sebagai ayah sambung bagi Zay, tetapi dia sangat menyayanginya, seperti anak kandungnya sendiri.


Jack menatap lekat wajah polosnya, yang terlihat sangat teduh dan menyejukkan. Dia tersenyum sendiri di kala menatap wajah itu di saat tertidur pulas.

__ADS_1


Setelah cukup puas menatapnya dia pun melangkah perlahan meninggalkan kamar Zay dan menutup kembali pintu kamar dengan perlahan.


Jack pun segera pergi menuju kamarnya, dia ingin segera membaringkan tubuhnya setelah seharian berada di luar rumah, meskipun itu berada di dalam ruangan tetap saja meninggalkan rasa tidak nyaman pada tubuh.


Setelah sampai di kamar, dia melihat ke setiap  sudut ruangan tetapi istrinya tidak berada hingga dia pun mendekat ke arah kamar mandi, ternyata istrinya sedang berada di sana.


Jack dengan setia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi sambil duduk di atas sofa, sedangkan pakaian sudah di lepas dan hanya tersisa boxernya saja.


Setelah cukup lama dia menunggu akhirnya Mira keluar juga dari kamar mandi, dengan tubuh hanya di balut handuk setinggi lutut, disertai aroma dari sabun yang di gunakan istrinya itu menguar sangat menyegarkan Indra penciuman pria itu. Apalagi terlihat dengan jelas tubuh mulus sang istri.


"Mas... mau mandi sekarang?" Tanya Mira sambil melihat ke arah suaminya yang sedang duduk di atas sofa, menatap tak berkedip pada dirinya.


"Iya...!" Jawab Jack singkat.


Setelah kepergian  suaminya ke kamar mandi Mira segera berganti pakaian, dengan baju kebanggaannya yaitu daster.


Setelah selesai berganti pakaian Mira pun keluar dari kamarnya segera menuju dapur, untuk melihat menu makan malam yang telah di siapkan asisten rumah tangga yang setia itu.


Saat Mira tiba di sana, wanita itu pun masih sibuk di dapur sedang menyimpan makan malam.


"Bi, masak apa hari ini?" Tanya Mira terhadap Bi Minah.


"Ini Non, makanan kesuksesan Tuan dan Zay," Jawab Bi Minah sambil memperlihatkan masakannya.

__ADS_1


"Sepertinya enak sekali itu Bi... " ucap Mira.


Mira pun duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu, dia hanya memperhatikan Bi Minah karena baginya hari ini sangat melelahkan hingga dia tidak sanggup jika harus mempersiapkan semuanya lagi, ketika sampai di rumah. Rasa kelelahan pun sering Mira rasakan akhir-akhir ini.


Tanpa menunggu waktu lama, makan malam pun sudah siap di hidangkan, terlihat  sangat menggoda selera wanita hamil itu.


"Non, Semuanya sudah siap.. Apa Bibi panggil Zay dulu, yah?"Ucap Bi Minah sambil berjalan ke arah kamar Zay.


"Tunggu bi... Zay sudah tidur biarkan saja, dia sudah makan juga di rumah neneknya, tadi," Kata Mira melarang wanita itu untuk memanggil anaknya.


"Owhh, begitu ya Non, Ya, sudah," Jawab Bi Minah sambil berbalik melangkah lagi ke arah semula.


Mira pun bangkit dari duduknya, dia akan memanggil suaminya untuk segera makan malam.


Setelah sampai di kamar tetapi kamar masih kosong, belum terlihat juga suaminya. dia mendekati kamar mandi ternyata suaminya masih berada di dalam.


"Mas.. kamu masih di dalam, lama amat mandinya?" Ucap Mira sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya... tunggu sebentar," Jawab Jack dari dalam sana.


"Jangan lama-lama... aku tunggu di ruang makan, ya!" Ucap Mira sambil pergi berlalu meninggalkan suaminya yang masih berada di dalam kamar mandi. Entah apa yang dilakukannya di dalam sana.


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2