Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 91


__ADS_3

"Bagai mana dengan keadaan istri saya dokter?” Tanya Jack terhadap sang dokter yang ada di hadapannya, dengan cemas.


"Ini tidak baik-baik saja, Pak!" jawab dokter itu dengan tenang.


"Maksudnya? Apa yang terjadi dengan istri saya?” Tanya Jack dengan wajah sangat khawatir.


"Jadi begini.. Sepertinya, kondisi istri Anda ini harus segera dilakukan tindakan, Pak,” Ucap Dokter itu, sambil menatap ke arah Jack yang mulai gusar akan keadaan istrinya.


"Maksudnya?" Tanya Jack ulang.


"Sepertinya, menurut pengamatan kami, sel kanker yang tumbuh di rahim istri Anda sudah menyebar, jadi jika tidak segera di lakukan operasi maka akibatnya akan fatal," dokter itu menjelaskan keadaan Mira sebenarnya, pada pria yang ada di hadapannya itu. Dokter memberitahu keadaan Mira pada saat ini, yang kondisinya sudah mengkhawatirkan.


Seketika pandangan Jack meremang di kala mendengar semua pernyataan dari sang dokter. Pantas saja akhir-akhir ini Mira sering mengeluh perutnya keram dan sakit. Bahkan, akibatnya dia sering sekali pingsan, yang ternyata separah ini, penyakit yang di derita istrinya itu. Sungguh Jack merasa sesak dalam dadanya yang merambat sampai ke ubun-ubun kepala, seolah kesedihannya mulai menyebar seperti penyakit yang di derita istrinya.


"Lakukan yang terbaik Dokter, untuk kesembuhan istri saya," Ucap Jack dengan nada suara yang sedikit gemetar, tubuhnya seolah lemas demi menahan beban rasa takut kehilangan yang sangat besar.


Sejujurnya dirinya tidak sanggup melihat kesakitan yang di derita Mira, jika saja dia bisa menggantikan posisi istrinya, maka, dengan rela dia akan menukar posisinya hingga wanita yang dicintainya itu tetap baik-baik saja. Seandainya, setiap manusia bisa menolak semua beban derita atau ujian hidupnya, maka mereka akan melakukannya agar hidupnya baik-baik saja.


"Jadi, Pak, Kita harus mengangkat janin yang ada di kandungan Bu Mira, meskipun bisa di pertahankan tapi, janinnya itu sangat sulit untuk berkembang," Kata dokter dengan gamblang.


Mendengar ucapan dokter itu, sungguh, seketika saja serasa isi dunia ini hancur berkeping-keping di bawah kaki Jack.


"Apa ibunya akan selamat dokter?" Tanya Jack lagi.


"Jika penanganannya cepat, sang Ibu pasti bisa selamat. Apabila sel kankernya di angkat, maka dia tidak akan merasakan kesakitan lagi, tetapi, akibat dari semua itu, risikonya adalah dia tidak akan bisa hamil kembali," Tutur dokter yang ada di hadapan Jack. Dia menjelaskan dengan rinci.


Tubuh Jack serasa lemah lunglai, seakan kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk menopang bobot tubuhnya sendiri. Dia menyandarkan badan di kursi lalu, menghela  nafas panjang sambil memejamkan matanya, Dia merasa dunia ini sangat kejam terhadap dirinya, dan mengapa takdir selalu berakhir begitu menyakitkan.


"Sebentar lagi istri Bapak akan siuman, Silakan nanti komunikasikan dengannya secara baik-baik, tentang keadaan dia yang sebenarnya, biar kita akan segera melakukan tindakqn selanjutnya," Kata dokter lagi.


"Jika istri saya menolak bagiamana? Apa tidak ada cara lain Dokter?” Tanya Jack dengan wajah sedih yang sangat kentara. Pria itu sudah yakin pasti istrinya akan menolak semua usulan yang mengharuskan para tenaga medis itu mengambil bayinya.

__ADS_1


"Iadi, karena sel kankernya sudah menjalar, jalan satu-satunya ya, harus operasi, Pak! Apabila pasien menolaknya, ya, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Keputusan tetap kembali ke pasien, mau atau tidak, kami tidak bisa memaksa,” Ucap Dokter yang memeriksakan keadaan Mira.


"Baiklah, kalau begitu, Terima kasih banyak dokter,” Ucap Jack.


"Nanti kasus Istri Anda akan saya alihkan ke dokter lain, soalnya hari ini jadwal terakhir saya di klinik ini, besok akan ada yang menggantikan Saya, tapi jangan kuatir,  rekap medis Bu Mira, akan saya kasihkan nanti," Ucap Dokter itu.


"Baiklah" Jawab Jack dengan pelan, sungguh dia tidak bisa berbuat apa pun, bahkan hanya untuk bicara pun rasanya berat sekali.


"Silakan, kembali ke ruangan istri Anda, semoga dia sudah sadar dan tidak semakin parah," Ucap Dokter itu sambil tersenyum ke arah Jack.


"Saya permisi, Dok?" Jack berdiri dari duduknya, tapi, kakinya serasa sulit untuk bergerak.


"Bapak baik-baik saja kan?" Tanya dokter itu sambil mendekat ke arah Jack yang masih mematung.


"Saya, Tidak apa-apa Dok,"


"Yang sabar ya, Pak!” Ucap Dokter sambil menepuk bahunya Jack.


Mira juga telah sadar dari pingsannya, Dan sekarang sudah menunggu sang suami kembali dari ruangan dokter.


Setelah beberapa saat pintu ruangan pun terbuka, Seketika Mira menoleh ke arah pintu masuk. Terlihat seorang lelaki tengah berdiri di depan pintu sambil menatap dirinya yang terbaring di ranjang pasien. Sungguh tatapan suaminya itu sangat aneh yang menatap dirinya dengan sangat dalam.


"Mas... kenapa berdiri di situ? Ayo masuk!” Ucap Mira terhadap sang suaminya yang masih saja berdiri di depan pintu.


Jack yang mendengar istrinya itu bicara, menjadi sulit mengendalikan dirinya. Dia sungguh sudah tidak kuasa untuk menahan tangis. Namun, dia berusaha menutupi semua itu dari istrinya.


"Iya, Sayang...” Jack pun mendekat ke arah sang istri lalu mengusap kepalanya dengan lembut Dan penuh cinta.


"Apa kita bisa pulang sekarang?" Tanya Mira terhadap suaminya.


"Kenapa mikirin pulang?"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Mas...!" Kata Mira sambil menyibak selimut.


"Eh, kata siapa baik-baik saja?" Tanya Jack terhadap istrinya.


"Aku tidak merasakan sakit apapun, Jadi kita bisa pulang," Ucap Mira keukeuh.


"Tidak bisa...! Kita menginap di sini," Ucap Jack dengan penuh penekanan.


Mendengar suaminya bicara dengan nada yang sedikit meninggi, Mira pun terdiam langsung menarik selimut kembali lalu membaringkan tubuhnya. Dia membelakangi suaminya, Yang tengah duduk di tepi ranjang itu dengan perasaan kesal.


Melihat istrinya menunjukan reaksi yang berbeda, Jack pun naik ke atas ranjang pasien lalu berbaring di belakang istrinya, Lalu di peluklah dari belakang.


"Aku Tidak ada maksud untuk membentak kamu, Sayang... Maafin, Mas! yah?” Ucap Jack sambil memeluk istrinya itu.


Bukannya menjawab malah air mata sang istri semakin meleleh, Jari jempolnya pun mengusap cairan bening yang terus mengalir dari ujung mata istrinya. Sungguh, pria itu sangat merasa bersalah telah berbicara dengan nada yang tinggi tanpa di sadari ya.


Jack pun semakin mengeratkan pelukannya, Sudah cukup lama dia memeluk sang istri di tempat tidur hingga pada akhirnya Mira pun tertidur, tubuhnya terlihat begitu lemah.


Setelah istrinya tertidur Jack pun perlahan bangun Dan turun dari ranjang pasien. Ditatapnya wajah lembut sang istri dengan lekat, wajahnya yang terlihat  polos seperti tanpa dosa itu tertidur pulas.


Jack keluar ruangan, Dia mencari tempat di mana dia bisa mengudarakan asap-asap tembakaunya tanpa gangguan.


Dirinya sudah tidak bisa berpikir dengan baik, Hanya rokoklah yang bisa membuatnya tenang untuk sesaat.


Jack pun duduk di kursi taman yang ada di belakang klinik sambil rokoknya yang terselip di antar dua jarinya.


Sudah cukup lama dia duduk di kursi taman itu dengan di temani udara malam yang dingin, tetapi, semua itu tidak mampu membuat isi kepalanya merasa dingin.


Jika ini takdirnya harus kehilangan seseorang yang sangat di cintainya, bahkan belum sempat untuk melihat wajahnya, Sungguh takdir ini sangat menguji kesabarannya.


Tidak semua orang bisa merasakan kehidupan yang sempurna, seperti halnya dengan Jack, dia di kelilingi banyak harta tetapi selalu saja. Orang yang ada di sekitarnya pergi Dan tidak akan kembali.

__ADS_1


Makanya jangan pernah membandingkan hidupmua dengan orang lain. Nikmati hidupmu  sambutlah dengan senyuman, Meskipun itu tidak sesuai dengan harapan🤗🤗


__ADS_2