
Suasana pagi hari di rumah Mira, yang terasa sangat indah dan sayang bila dilewatkan begitu saja, sebab matahari seolah tersenyum menyambut semua orang di muka bumi dengan ramahnya. Bukankah setiap hari akan selalu berbeda walaupun semua manusia tinggal di bumi dan di bawah langit yang sama?
Begitulah suasana di salah satu ruang, yang ada di rumah sederhana itu, di mana semua penghuni rumah sudah berkumpul di meja makan untuk memulai sarapan mereka. Tentu saja setelahnya mereka akan beraktivitas seperti biasa di luar rumah.
Jack sudah berpakaian rapi dengan setelan kerjanya begitu juga dengan Mira—istrinya, mereka sudah menempati kursi masing-masing dan menikmati hidangan pagi itu yang sudah disiapkan oleh Bibi.
Zay, yang juga akan berangkat ke sekolah, sudah lebih dahulu duduk di dekat Merlin. Wanita itu berada di ruang makan untuk sarapan pertamanya bersama Mira—menantunya.
"Bagai mana, Ma? Apa Mama tidur nyenyak semalam?" tanya Mira mama mertuanya, sambil mengisi piring Bu Merlin dengan menu sarapan pagi ini.
"Alhamdulillah, nyenyak banget," awab Merlin sambil tersenyum ke arah sang menantu, yang melayaninya dengan sepenuh hati.
Meskipun menantunya itu sedang hamil tetapi, tidak menggunakan alasan kehamilannya untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja, penilaian positif wanita paruh baya itu pada Mira pun bertambah. Ketika dia bisa mengerjakan apa pun sendiri, maka dia akan kerjakannya tanpa meminta bantuan kepada orang lain. Termasuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarganya. Dia lakukannya sendiri padahal, ada Bi Minah yang bisa diandalkan.
"Sudah ... Sayang, kamu juga harus sarapan!" Jack memperingatkan istrinya agar dirinya segera ikut sarapan. Pria itu sudah melihat dari pagi, istrinya itu selalu sibuk dengan semua aktivitas, padahal dia sendiri harus ke kantor, belum lagi mengurus semua keperluan suami dan juga keperluan anaknya, Zay. Bagi Jack, itu sangat melelahkan, apalagi wanita itu sedang hamil tentu akan sangat riskan jika harus kelelahan. Dia sangat khawatir melihat perubahan di kaki sang istri yang mulai membengkak. Sebagai suami, tentu Jack sangat mengkhawatirkan soal kesehatan sang istri.
Dia kembali teringat akan kejadian yang lalu, saat dokter yang memeriksa kehamilan Mira mengatakan bahwa, ada benjolan di leher rahim istrinya itu, membuat Jack tidak bisa tenang sebelum pemeriksaan selanjutnya.
"Iya ... Ini juga mau makan, kok,” Jawab Mira, sambil duduk dan mengisi piringnya sendiri dengan menu sarapan yang sama.
Mereka semua menikmati sarapan pagi hari itu dengan penuh keceriaan bersama dan, keluarga yang lengkap, serta penuh kebahagiaan di ruang makan.
Setelah mereka menyelesaikan sarapan, Jakc dan Mira akan segera bersiap pergi ke kantor untuk bekerja. Sementara Zay sudah siap dengan tas dan sepatu sekolah yang sudah di pakai dengan benar.
Mereka bertiga pergi bersama, tapi dengan tujuan masing-masing, yang berbeda.
Seperti biasa Sebelum ke kantor Jack dan Mira akan mengantarkan Zay terlebih dahulu ke sekolahnya, bahka mengantarnya masuk ke kelas.
__ADS_1
"Hayu berangkat...?" Ajak Jack pada anak dan istrinya.
"Iya...Ayo!" Mira menggandeng tangan Zay untuk segera masuk ke mobil yang terparkir di halaman rumah mereka. Dia membuka pintu belakang dan mempersilahkan Zay untuk duduk di jok yang ada di sana, sedangkan Jack sudah bersiap dan duduk di belakang kemudi. Di susul kemudian oleh Mira yang duduk di kursi samping suaminya.
Jack pun perlahan menyalakan mesin kendaraan roda empatnya lalu, menginjak pedal gas secara perlahan-lahan, hingga kendaraan itu pun pergi meninggalkan halaman rumah, dengan kecepatan sedang.
Perjalanan yang mereka tempuh sudah cukup lama akhirnya mereka pun sudah sampai di sekolah.
"Ayo! Turun, Nak!” Mira mengajak Zay untuk turun dari mobil, sambil melepas sabuk pengamannya.
"Iya... Ma!” Jawab Zay sambil keluar dari kendaraan yang dikemudikan oleh ayah sambungnya itu.
Jack tidak hanya diam di dalam, dia pun keluar dan berdiri di samping sang istri.
"Pa! Aku ke kelas dulu yah?” Zay berpamitan terhadap sang ayah sambil menyalami dan mencium punggung tangannya.
Mira berjalan di samping anaknya dan menghantarkannya sampai ke depan kelas, di mana sudah ada wali kelasnya yang menunggu kedatangan semua muridnya.
"Selamat pagi, Bu?" Sapa Mira dengan ramah terhadap seorang guru tersebut.
"Pagi juga... Mama Zay,” Jawab sang guru dengan senyum lebar sambil menatap ke arah anak didiknya.
"Apa kabarnya Bu? Sudah lama, ya, tidak bertemu,” Ucap Mira lagi, seraya menjabat tangan sang guru. Guru itu menyambut dengan sopan.
"Iya... Sekarang Zay sering di antar ayahnya, Jadi, jarang bertemu,” Jawab Bu guru.
"Titip Zay... Ya, Bu?” Ucap Mira.
__ADS_1
"Iya, itu sudah tugas kami!" Jawab Bu guru itu lagi.
"Saya permisi dulu, ya, Bu ... Zay, belajar yang benar , Sayang," Ucap Mira sambil berpamitan lalu perlahan pergi meninggalkan Zay dan Bu guru yang masih berdiri di depan kelas.
Jack masih berdiri di depan mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dia menunggu sang istri dengan sabar di sana. Tidak berselang lama Mira pun sudah sampai di hadapannya seraya berkata dengan tegas.
"Yuk!” Ucap Mira sambil masuk begitu saja ke mobil yang akan mereka tumpangi.
"OH, Iya...” Jawab Jack singkat.
Pria matang berwajah tampan itu pun kembali melajukan kendaraannya, dengan perlahan pergi meninggalkan area sekolah, menuju kantor tempatnya bekerja. Dia mengendarai mobil dengan penuh kesabaran, meskipun perjalanan yang harus mereka tempuh cukup jauh.
Setelah mereka sampai di halaman parkir gedung kantornya, Mira keluar dari mobil dengan penuh semangat dan bergegas menuju di mana ruangannya berada, tanpa memedulikan suaminya, bahkan dia mendahului langkah Jack hingga sampai ke kantor.
"Sungguh aneh wanita hamil itu, apa dia tidak melihatku yang dari tadi ada di sampingnya?" Jack bergumam sendiri. Dia sangat heran kenapa istrinya begitu saja meninggalkannya pergi, tanpa permisi terlebih dahulu. Setelah menghela napas, pria itu pun berjalan sendiri menuju ruangannya, tanpa memedulikan para karyawan yang menatapnya aneh karena tidak berjalan bersamaan dengan istrinya.
Setelah berada di ruangan pribadinya yang cukup besar, Jack menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil berpikir, mencari solusi bagaimana caranya bisa melarang Mira agar berhenti bekerja.
Akhirnya, Jack pun mengambil gagang telepon lalu, menekan beberapa angka yang biasa dia gunakan untuk menghubungi seseorang.
Beberapa saat kemudian, panggilan pun tersambung dan, pria itu berkata sambil menekan pelipisnya.
"Ke ruanganku sekarang juga!” Perintah Jack terhadap seseorang yang ada di seberang telepon, lalu, mengakhiri kembali panggilan tersebut, tanpa menunggu jawaban dari orang yang diajaknya bicara.
__ADS_1
Bersambung