
‘Apakah itu betul atau tidak? Kenapa dia ada di sini?’ pikir Rico, sambil terus menatap ke satu arah yang sama.
Anita menatap kekasihnya heran, lalu menepuk pundak pria di sampingnya dengan lembut seraya berkata, "Kenapa... Malah bengong, Hayu masuk" Ajak Anita terhadap Rico.
"Eh... iya." Rico pun segera melangkah mengikuti ke mana Anita membawanya.
Setelah berada di depan pintu, Anita pun mengetuknya. Tidak berselang lama pintu pun terbuka.
Terlihat dengan jelas seorang ibu-ibu yang berdiri di depan pintu yang terbuka, dia mengenakan gamis berwarna coklat. Wanita itu Sudah tua tetapi, masih terlihat cantik di sisa usianya. Mungkin kecantikan Anita menurun dari wanita itu yang tidak lain adalah ibunya.
“Assalamualaikum, Bu?” ucap Anita sambil tersenyum lebar menatap ke arah wanita yang juga tengah menatapnya dengan takjub. Namun, Sang ibu masih belum menjawab salam dari anaknya. Akan tetapi justru melirik seorang pria yang berdiri di sisi Anita.
"Ini siapa, Nak?” Tanya Hamidah terhadap anaknya.
"Astaga, Ibu... Bukannya menjawab salam, malah bertanya," Ucap Anita sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh.. Iya, Waalaikumsalam." Bu Hamidah menjawab dengan gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat suasana yang canggung itu, Rico segera melangkah lebih dekat, sambil mengulurkan tangannya.
"Kenalin tante, Nama saya Rico?” Rico berkata sambil menyalimi tangan sang calon ibu mertua. Hamidah menyambut hangat uluran tangan itu.
“Oh, ya. Silakan masuk?” Bu Hamidah pun mempersilahkan Anita dan Rico untuk masuk.
Setelah berada di ruang tengah, Rico di persilahkan untuk duduk di sofa yang ada di sana. Tak lupa dia membawa masuk semua bingkisan yang tadi di bawanya dari kota.
Sementara Anita langsung menuju kamar yang dulu pernah di tempatnya. Mungkin isi kamar tidak akan berubah karena selama dia pergi tidak ada yang menempati kamar tersebut.
Setelah menyimpan semua barang di kamar, Anita pun menyusul Ibunya ke dapur yang sedang membuat minuman untuk Rico, tamu spesialnya hari itu.
"Bu... Lagi buat minum? Apa Itu?” Tanya Anita terhadap ibunya, sambil melihat ke arah gelas yang sudah terisi oleh air panas yang sudah di campur gula dan teh.
"Dia tidak minum teh, Bu!" Kata Anita terhadap ibunya.
"Terus, dia biasa minum apa?" Tanya Hamidah—Ibunya.
"Kopi," Jawab Anita singkat.
"Ya, Sudah, Bu, biar Anita saja yang buat, Ibu ke depan temenin dia. Oh, ya, Bapak belum pulang Bu?” Tanya Anita terhadap ibunya, karena sejak datang dia belum melihat bapaknya.
"Bapak ke mesjid, Pas kamu datang tadi dia baru berangkat. Paling juga nanti pulangnya setelah isya," jawab Bu Hamidah terhadap anaknya.
"Oh... Ya sudah yuk ke depan, Sudah siap ini kopinya" Ajak Anita terhadap ibunya.
__ADS_1
"Eh... iya,"
Anita dan Bu Hamidah pun menuju ruang tengah di mana Rico sedang duduk menunggu kedatangannya.
"Silakan di minum kopinya?” Anita meletakkan gelas kopi di hadapan Rico, serta beberapa camilan yang ada di piring.
Setelah itu dia mempersilahkan pria itu untuk meminum kopi buatannya lalu, dia sendiri duduk di sofa yang lain, berdampingan dengan Ibunya.
"Terima kasih, Bu, Nit,” Ucap Rico sambil mengangguk hormat kepada calon ibu mertuanya.
"Kenapa enggak bilang kalau kamu mau pulang?” ucap Ibu Hamidah sambil menatap wajah anaknya yang sudah lama tidak berjumpa. Selama ini, jika kangen mereka hanya saling menghubungi melalui telepon saja.
"Kejutan buat ibu dan bapak,” jawab Anita sambil tersenyum lebar menatap sang ibu yang sudah semakin tua. Kulitnya pun sudah mulai keriput, pertanda sudah tak lagi muda.
"Ya... Seharusnya jangan begitu juga, siapa tahu Ibu nggak ada di rumah," Jawab ibunya.
"Anita ... Apa dia, calon suamimu?" Tanya Bu Hamidah terhadap Anita.
Pertanyaan Bu Hamidah itu, membuat Rico yang tengah menyeruput kopi pun tersedak.
"Pelan-pelan minum nya!" Ucap Bu Hamidah dengan alis yang berkerut menunjukkan kepedulian.
"Masih panas, yah?” Tanya Anita.
"Tidak!" Rico menjawab sambil menggelengkan kepala.
"Mereka lagi berkunjung ke rumah nenek. Katanya kangen sudah lama nggak ke sana,” Jawab ibunya.
"Oh."
Tiba-tiba di sela perbincangan di antara mereka terdengar suara seseorang yang mengucap salam dari luar.
Hamidah pun segera beranjak dari duduknya dan langsung membuka pintu. Dilihatnya sang suami ada di sana dan dia pun mencium punggung tangan suaminya.
"Silakan masuk Bah, Lagi ada tamu, nih.” Hamidah mempersilakan suaminya untuk masuk.
"Siapa, tamunya, Bu?” Tanya suaminya.
"Anita, Bah,” Ucap Hamidah.
Akhirnya kedua orang tua Anita itu pun duduk kembali di sofa. Bapaknya Anita duduk persis di hadapan Rico. Hal ini membuat Rico sangat gugup ketika melihat sang calon mertua terus memperhatikan dirinya.
Setelah beberapa saat mereka terdiam, akhirnya, timbul juga pertanyaan dari sang calon mertua.
"Siapa namamu?” Tanya Pak Ali, Bapak Anita.
__ADS_1
"Rico, Om!" Jawab Rico dengan gugupnya.
"Tujuan kamu apa datang ke sini?” Pak Ali pun tanpa basa-basi langsung bertanya terhadap Rico tentang apa tujuannya datang ke sini.
Hal ini membuat Rico panas dingin ketika mendengar pertanyaan itu dan tatapan intimidasi dari pak Ali, membuatnya canggung. Dia segera mengatasi kegugupan dengan menarik napas panjang lalu mengembuskannya secara perlahan.
"Tujuan saya datang ke sini pak, Untuk meminta anak Bapak untuk menjadi istri saya,” Ucap Rico dengan sedikit bergetar karena sejujurnya dia sangat takut melihat tatapan mata pak Ali, seolah-olah tatapan itu bisa membunuhnya.
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu?” Tanya Pak Ali.
"Saya yakin dengan keputusan yang sudah saya pilih, Pak,” Ucap Rico sambil meluruskan pandangan, untuk meyakinkan Bapak mertuanya.
Anita dan Ibu Hamidah pun tidak ada yang berbicara sepatah kata pun, Hanya mendengarkan saja.
"Saya hanya punya satu permintaan untukmu, kalau kamu memang ingin menjadikan Anita sebagai istrimu?" Kata Pak Ali.
"Apa itu pak?" Tanya Rico
"Jangan pernah membuat dia menangis, cintai dia apa adanya, kalau kamu sudah tidak membutuhkannya lagi, maka, kembalikan dia pada kami, jangan membuat dia menderita!" Kata pak Ali dengan penuh penekanan.
"Saya janji Pak, saya akan menjaga anak Bapak dan berusaha untuk membuat dia bahagia selamanya," Jawab Rico dengan raut wajah yang sudah memucat dan keringat dingin pun sudah terasa di badannya.
"Jika kamu sudah yakin dengan yang menjadi pilihanmu, suruh keluargamu segera datang ke sini, biar kita bisa saling kenal dan bisa membicarakan untuk kelanjutan hubungan kalian, buat apa tunggu lama-lama? Kalian sudah dewasa, sudah sepantasnya menikah dan punya anak dan, kami di panggil kakek nenek!" Ucap Pak Ali sambil melirik ke arah sang istri yang sedari tadi hanya terdiam.
Akhirnya Rico pun bisa bernafas dengan lega setelah mendengar ucapan dari sang calon mertua, Bahwa dirinya diterima jadi calon menantunya.
"Baik, Pak! Saya akan segera kembali ke sini bersama Ayah nanti," Ucap Rico sambil menghela nafas panjang.
"Ya sudah, ini sudah malam, pasti kalian juga butuh istirahat setelah perjalanan jauh." Ucap pak Ali.
"Iya, Pak lelah sekali" Jawab Anita.
"Oh, ya... Nak Rico, jika mau istirahat bisa di kamar Dani," Ucap Bu Hamidah.
"Iya, Bu," Jawab Rico singkat.
"Tunjukkan, Dulu, Bu kamarnya. Dia, kan, tamu mana tahu kamar Dani yang mana," Kata pak Ali sambil melirik ke arah istri nya.
"Ayo, Nak! Ibu tunjukkan dulu." Bu Hamidah pun mengajak Rico untuk menuju kamar Dani.
"Iya, Bu! Terima kasih banyak." Rico pun berdiri dan berpamitan terhadap Pak Ali untuk memberikan tubuhnya terlebih dahulu dan beristirahat.
Setelah sampai di depan pintu kamar Dani tiba-tiba Rico bertanya terhadap Bu Hamidah.
"Bu, Boleh saya bertanya?” Ucap Rico terhadap Bu Hamidah.
__ADS_1
"Iya, Tanya saja,” Kata Bu Hamidah.
"Apa ibu tahu, Seorang wanita yang ada di Rumah seberang, Yang warna cat rumahnya Putih?” Tanya Rico, membuat Bu Hamidah mengernyitkan alisnya.