Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 121.


__ADS_3

Jack keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, tubuh dan wajahnya terlihat segar, dengan sisa tetesan air yang masih menempel di rambut dan kulitnya, menambah kesan memesona yang keluar seiring dengan aroma sampo menguar dari rambutnya. Pria itu melangkah ke tempat tidur lalu, mengambil pakaian yang telah di siapkan istrinya. Meskipun sama-sama bekerja, dan Mira juga sedang hamil tetapi, dia selalu menyiapkan semua keperluan suaminya. Jack sudah berulang kali melarang Mira untuk melakukan semua aktivitas dalam rumah tangganya tetapi, wanita itu tetap saja melakukannya dengan sukarela. Sebab baginya semua yang dia lakukan adalah kewajiban seorang istri selama dia masih mampu untuk mempersiapkan keperluan suaminya. Memang, sebenarnya ada Bi Minah yang bisa membantunya, tetapi, Mira tidak pernah membebani wanita paruh baya itu dengan kebutuhan diri dan suaminya. Mengurus suami dan mempersiapkan kebutuhan Jack itu bukan tugas seorang pembantu rumah tangga, melainkan tugas pribadinya. Seorang asisten rumah tangga hanya melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan rumah, seperti beres-beres, menyapu  dan yang lainnya. Bahkan, memasak pun sering Mira lakukan sendiri, Bi Minah hanya membantu saja.


Setelah selesai berganti pakaian dan merapikan diri, Jack pun keluar dari kamar untuk menuju ruang makan.


Terlihat dari kejauhan sang istri sedang duduk di salah satu kursi yang ada di sana sambil mengobrol dengan Bi Minah, diselingi dengan tawa kecil dari mereka berdua.


Jack yang melihat itu tersenyum tipis sambil melangkah ke arah sang istri, menarik kursi yang ada di samping, lalu, duduk tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Mira.


"Lagi bahas apa sih..? Sepertinya seru sekali?” Tanya Jack pada dua wanita yang ada di dekatnya itu.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget....?" Ucap Mira sambil tertawa kecil ke arah suaminya, yang menetapnya dengan tatapan penuh dengan kasih sayang.


"Ko gitu sih... kan, mau juga ikut ketawa, bareng sama kamu,” kata Jack sambil berpura-pura kesal terhadap istrinya.


"Ini urusan perempuan loh.... Mas, enggak usah ikut-ikutan," Ucap Mira, sambil mengisi piring suaminya dengan menu makan malam yang telah di siapkan Bi Minah, asisten mereka. Dia pun mengisi piringnya juga, lalu mereka makan malam bersama dengan penuh cinta.


Makan malam pun berlangsung dengan hening, kebiasaan di rumah itu jika sedang makan tidak ada satu orang pun yang berbicara. Hanya alat makanlah yang terdengar suaranya ketika bersentuhan.

__ADS_1


Setelah cukup lama, makan malam pun telah selesai.


Mira merapikan sisa makanan dan peralatan yang kotor di bantu Bi Minah. Sementara Jack pun masih setia duduk di kursi yang di tempatnya sejak pertama kali dia makan tadi. Pria itu memperhatikan istrinya yang sedang memberikan semua peralatan dapur, dari tempatnya duduk.


Sungguh Jack merasa beruntung dan bersyukur bisa memiliki Wanita seperti dirinya. Mira adalah seorang wanita sederhana yang tidak suka akan kemewahan dan harta, walaupun, apa yang dia minta bisa terwujud dengan sekejap saja karena Jack pasti akan melakukan apa pun diinginkan istrinya itu. Sejak menjadi istri Jack, otomatis dirinya sudah menjadi orang kaya, tapi, kepribadiannya tetap saja tidak berubah, dia masih mau tinggal di rumah sederhana miliknya sendiri bahkan mampu membuat Jack menurut dan tinggal bersamanya, padahal suaminya mempunyai rumah sepuluh kali lipat luas dari rumah yang mereka tempati sekarang.


Hal ini tidak menjadikan Mira untuk menjadi orang sombong atau merubah dirinya, dia tetap menjadi pribadi yang apa adanya dan rendah hati.


Saat ini Mira telah selesai merapikan semuanya, lalu dia membuat satu cangkir kopi untuk suaminya. Itu kebiasaan Jack sebelum tidur, dia harus minum kopi dan menghisap rokok di teras rumah sambil menikmati udara malam yang menyejukkan.


Seperti saat melihat wajah sang istri, selalu membuat dirinya merasa sejuk, aman dan nyaman bila berada di dekatnya.


"Iya... Kamu ke Kamar aja duluan, ya!" Jack memberi perintah terhadap istrinya agar segera pergi ke kamar untuk beristirahat terlebih dahulu.


Meskipun Jack menyukai kebiasaan merokok tetapi, dirinya tidak pernah merokok di dalam rumah atau saat bersama orang yang dicintainya. Dia sangat tahu betul bahwa asap rokok sangat berbahaya bagi keluarganya, oleh karena itu sebisa mungkin dia selalu menghindari rokok saat bersama istri dan anaknya. Seandainya dia ingin merokok pasti dia akan pergi ke teras dan menjauhi orang-orang.


"Iya, baiklah, kalau begitu, aku masuk dulu ya, Mas... " Jawab Mira sambil pergi berlalu meninggalkan suaminya yang masih di ruang makan. Mira sudah hafal betul kebiasaan suaminya itu.

__ADS_1


Setelah Mira pergi ke kamar, Jack pun bangkit dari duduknya sambil membaqa cangkir kopi yang telah di siapkan sang istri, lalu, melangkah ke teras untuk menikmati kopi dan rokoknya.


Rutinitas yang tidak bisa dia tinggalkan selama ini.


Setelah berada di teras Jack pun duduk di salah satu kursi yang ada di sana, lalu meletakkan cangkir di atas meja. Dia pun mengambil satu batang rokok lalu menyalakan korek api.


Satu isapan sudah membuat kepala Jack merasa tenang.


Sudah cukup lama pria itu berada di teras di temani angin malam dan harum bunga yang bermekaran di malam hari, menikmati ketenangan yang dia ciptakan sendiri. Dia bisa melupakan segala kepenatan dari rutinitas sehari-hari saat berada di rumah seperti ini.


Akhirnya, Jack sudah menghabiskan sebatang rokok dan secangkir kopinya dengan penuh kepuasan, lalu, dia kembali ke dalam rumah karena tidak yega meninggalkan istrinya terlalu lama, meskipun masih di area rumahnya sendiri.


Dengan perlahan Jack berjalan menyimpan cangkir yang kotor di dapur yang sudah habis isinya lalu, segera menuju ke kamar.


Sesampainya di depan ruangan itu, dengan perlahan Jack memutar gagang pintu hingga terbuka. Saat sudah ada di dalam, terlihat dengan jelas tubuh sang istri yang sedang meringkuk di atas kasur yang di balut dengan selimut. Dia pun perlahan mendekat ke arah tempat tidur, lalu duduk di samping sang istri yang sedang tertidur. Dia tatap lekat-lekat wajah sang istri yang terlihat lelah, dia elus dengan pelan wajah istrinya itu sambil tersenyum tipis.


Setelah puas menatap wajah sang istri, akhirnya dia pun berbaring di samping sang istri sambil memeluk tubuh mungil wanita yang dicintainya itu dari belakang.

__ADS_1


Setelah beberapa lama waktu berlalu hingga akhirnya terlihat pria itu terlihat menghela nafasnya yang mulai teratur, pertanda sang pemilik raga pun sudah tertidur dengan pulas.


__ADS_2