Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 51


__ADS_3

Jack dan Mira sudah sampai di kediaman keluarga Basrie, Rumah yang sangat mewah dan ada banyak tanaman-tanaman hias sehingga menjadikan rumah itu Teresa adem.


Mira turun terlebih dahulu lalu di susul Jack, sementara Zay di gendong Bibi, yang mengasuh.


Jack menggandeng tangan Mira menuju pintu masuk. Baru saja dia akan menekan bell pintu tapi, pintu sudah terbuka.


Betapa terkejutnya Jack melihat orang yang membukakan pintu. Keduanya pun saling melempar pandangan, serta  saling mengunci dengan sorot mata tajam dari mereka.


Meskipun kejadiannya sudah sangat lama tetapi, Jack masih mengingat dengan jelas, sosok lelaki yang pada saat itu berselingkuh dengan Sania.


Jack pun tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya sehingga Mira merasa kesakitan.


"Sakit, Jack. Apa yang kamu lakukan?” Ucap Mira sambil menarik tangannya dari genggaman suaminya.


Jack baru tersadar jika dirinya telah menyakiti Mira, lalu, dia berkata, "Maaf ....” sambil menarik tangan Mira lalu mengelusnya, dengan lembut.


"Cih! Dasar buaya!" Ucap Roxy dengan tatapan penuh amarah.


"Ngomong apa, lu!” Tanya Jack dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.


"Lu itu buaya! Bisa-bisanya merebut wanita milik orang lain!" Roxy berkata, sambil berlalu pergi meninggalkan Jack dan Mira.


Mamun, tiba-tiba Jack menarik bahu laki-laki itu dan menghajarnya sampai babak belur. Terlihat di sudut bibir Roxy sudah mengalir cairan merah.


Roxy tidak terima jika dirinya diperlakukan demikian hingga dia pun bangkit dan langsung menyerang  pria di hadapannya, seolah dia tak mau kalah.


Pergulatan di antara dua pria bertubuh kekar itu sudah tidak bisa di kendalikan. Mira sudah berteriak tetapi, suaminya tidak mendengar semua yang dia ucapkan. Seolah matanya tidak melihat bahwa Mira ada di antara mereka.


Jack sangat marah terhadap Proxy Karena dahulu, dia yang berselingkuh dengan Sania—mantan tunangan nya. Jack marah bukan karena masih sayang terhadap Sania, tetapi, merasa terhina oleh semua perbuatan yang di lakukan keduanya.


Sementara Roxy sangat marah terhadap Jack karena Sania lebih memilih Jack di bandingkan dirinya.


 


Meskipun, Jack sudah memutuskan semua ikatan antara Sania begitu pula dengan Roxy, tapi wanita itu selalu mendekati dirinya dengan berbagai cara. Ada saja rencana jahat yang selalu di lakukan nya.

__ADS_1


Roxy menikah dengan Nilam bukan karena dia mencintainya tetapi, karena putus asa.


Pada malam itu, di mana Sania mengakhiri hubungan dengannya, Roxy sangat marah dan sakit hati sehingga menghabiskan banyak minum hingga mabuk berat. Dia berjalan keluar klub malam dengan jalannya yang sempoyongan hingga sampailah dia di halaman parkir. Kakinya lemah hingga dia terjatuh dan, pada saat itulah Nilam membantunya.


Gadis itu secara kebetulan akan pulang dari pasta yang diadakan di klab itu. Melihat ada orang tergeletak, Nilam pun mendekati lalu, membawa Roxy ke dalam mobilnya sendiri.


Meskipun, Nilam sangat bingung akan mengantarkan Roxy ke mana, akhirnya dia memantapkan hati untuk membawa pria mabuk itu ke sebuah penginapan. Dia merasa ini adalah inisiatif yang tepat.


 


Di sepanjang perjalanan Roxy terus meracau, memangil-manggil nama sania dan racauannya tidak berhenti sampai Nilam berhasil memesan satu kamar untuk di gunakan Roxy. Setelah itu dengan di bantu para pegawai hotel, Roxy di bawa ke kamar yang sudah di pesan dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Pada saat Nilam ingin keluar dari kamar tersebut, Roxy menariknya ke tempat tidur lalu menindihnya. Meskipun wanita itu memberontak tetapi, tenaganya kalah kuat oleh Roxy. Percintaan sepihak malam itu pun terjadi.


Tanpa disadari, Roxy telah  melahap NNilam dengan sangat buas sampai berulang kali.


Setelah kejadian itu, Roxy dan Nilam tidak pernah bertemu lagi hingga pada akhirnya wanita itu hamil. Menyadari dirinya yang telah berbadan dua barulah Nilam mencari keberadaan Roxy.


Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk menemukan keberadaan laki-laki yang sudah menggagahinya. Pada akhirnya mereka menikah, saat kehamilan Nilam menginjak tiga bulan.


Kejadian baku hantam itu menimbulkan keributan dan terdengar di telinga Basrie hingga pria paruh baya itu keluar dan ingin melihat apa yang terjadi. Sampai di depan rumahnya, dia pun terkejut, demi melihat dua orang yang sedang berduel.


Kedua pria itu pun seketika menghentikan aksinya.


"Apa yang membuat kalian bertengkar seperti ini? Hah!” Tanya Basrie dengan sorot mata tajam terhadap Jack dan Roxy.


"Dia yang mulai duluan!” Ucap Roxy sambil mengusap ujung bibirnya yang masih berdarah dengan punggung tangannya, sementara tatapan matanya acuh tak acuh pada pria yang menjadi lawannya.


"Jika bukan marena omonganmu, aku juga tidak mungkin menghajarmu!” kata Jack, membela dirinya sendiri.


"Sudah! Cukup!” ucap Mira sambil menarik tangan Jack yang ingin menghajar Roxy kembali.


“Jack, apa kamu tidak malu melakukan semua ini di hadapan Zay? Dia sangat ketakutan, Jack!” kembali Mira bicara.


Mendengar nama Zay, Jack pun tersadar bahwa kelakuannya sangat tidak baik untuk dilihat anak kecil.

__ADS_1


Jack pun mendekat ke arah Zay tetapi, Zay malah berlindung di balik tubuh bibi, anak kecil itu tidak ingin mendekat ke arah Jack. Sementara tubuhnya gemetar saat Jack berusaha mendekatinya, dia benar-benar ketakutan.


"Sudah hentikan semua ini! Cepat kalian semua masuk!" ucap Basrie sambil mengajak semuanya ke dalam dan dia melangkah lebih dulu.


Mereka semua telah berkumpul di ruang keluarga. Roxy di bantu Nilam untuk mengompres luka yang telah di hadiahkan Jack padanya.


Sebenarnya Jack jago bela diri sehingga dia tidak terluka terlalu parah seperti Roxy. Tidak suit baginya untuk, membuat tubuh laki-laki itu babak belur.


"Kalian ini seperti anak kecil! Tidak sepantasnya kalian berlaku seperti ini. Bagaimana jika ini ditiru oleh Zay? Kelakuan kalian ini sama saja dengan mengajarinya, tahu?” Basrie memberi nasehat terhadap kedua orang itu.


"Saya minta maaf ....” ucap Jack sambil menundukkan kepala, pria itu sadar bahwa, kelakuannya saat ini sudah membuat Zay ketakutan. Bisa saja Zay tidak mau dekat lagi dengannya. Sebab anak kecil itu melihat dengan jelas, Jack membabi buta menghajar lawannya, secara langsung.


Jack kecewa pada dirinya sendiri, begitu pula dengan Mira saat ini. Namun, wanita itu tidak berkata apa pun selain diam sambil menggendong Zay—anaknya yang masih merasa ketakutan.


Akhirnya Basrie menjelaskan tentang tujuannya memanggil Mira untuk berkumpul di keluarga mantan mertuanya.


"Jadi, tujuan saya memintamu datang ke sini, hanya untuk membacakan surat wasiat. Hmm ... Surat ini sudah saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun.” kata Basrie dengan nada bicara yang sangat serius.


Pernyataan pria paruh baya itu, membuat Roxy membulatkan matanya.


"Jangan bilang Papa akan memberikan sebagian harta untuk dia!” ucap Roxy dengan nada bicara sangat kesal sambil melihat ke arah Zay.


"Kenapa tidak? Dia juga berhak. Dia cucuku juga.” Ucap Basrie.


"Tidak. Ini tidak bisa ...!” Ucap Roxy yang terlihat jelas tidak terima dengan apa yang di ucap kan oleh sang papa.


"Jadi, Papa akan memberikan beberapa persen dari saham yang kita punya?” Tanya Roxy terhadap papanya. Basrie pun mengangguk.


"Jadi begini ... Sebenarnya, Perusahaan cabang yang ada di Kalimantan itu, sudah Papa oper, diatasnamakan Zay dan perusahaan yang ada di Jakarta itu hak Meutia dan Clara." Basrie menjelaskan tentang pembagian aset yang dimilikinya.


"Apa-apaan ini!” Sentak Roxy dengan raut wajah penuh amarah. “Aku juga anak Papa, kenapa Papa tidak memberiku perusahaan? Kenapa, Pa?”


"Itu hak kamu, yang Papa berikan untuk mereka berdua." Ucap sang ayah dengan nada santainya.


"Oh, tidak bisa! Saya juga akan punya anak dari wanita lain, Pa! Jadi, dia juga berhak bukan hanya mereka berdua!" Ucap Roxy yang amarahnya sudah di ubun-ubun. Dia benar-benar kesal dengan keputusan papanya.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2