
Satu minggu telah berlalu sejak kepergian Anita dan Rico ke rumah orang tuanya. Akhirnya, kabar itu terdengar juga di telinga Ferdy. Hal ini membuat dia tidak percaya ternyata langkah Rico secepat itu sudah melampauinya, untuk menjadikan Anita sebagai istri. Apabila Ferdy dikatakan cemburu juga tidak, tetapi, kenapa dia tetap merasa tidak rela jika melihat Rico dan Anita menikah dan hidup bahagia bersama. Entah dinamakan dengan apa perasaannya ini, sungguh dia tidak mengerti dengan semua yang terjadi pada dirinya sendiri.
Di kantor mereka terlihat seperti biasa.
Saat ini, kedua keluarga pun telah bertemu, tepat pada tiga hari setelah kepulangan Anita dari kampung halamannya bersama Rico.
Setelah itu, kedua orang tua Rico, pergi ke rumah orang tua Anita, untuk melamar sekaligus menentukan hari pernikahan anak-anak mereka. Kemudian, mereka menyepakati bila pernikahan antara Rico dan Anita, akan dilaksanakan sekitar dua bulan lagi. Mengingat jarak yang cukup jauh, membuat mereka mempertimbangkan waktu selama itu yang diperkirakan akan cukup untuk mempersiapkan semuanya.
Sungguh Jodoh sudah di atur sang Maha kuasa, Anita yang selalu mendambakan Ferdy bahwa dan berharap akan ada cinta darinya, entah kenapa hatinya kini justru berlabuh pada Rico, orang yang tidak pernah dia sangka sebelumnya hingga berani menyatakan cinta. Bahkan sekarang, justru dialah orang yang akan membawanya ke depan pintu gerbang pernikahan.
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Suasana pagi hari di kantor. Semua karyawan sudah berdatangan silih berganti. Mereka semua menuju ruangan dan atau tempat untuk memulai aktivitas di cubicle mereka masing-masing. Ada juga yang bekerja di luar kantor dan masih banyak karyawan lain yang selalu duduk di kursi di ruangan dan memperhatikan layar monitor.
Termasuk bagian kebersihan yang selalu bekerja di mana mereka seharusnya sebagai mana mestinya.
Mira datang ke kantor beserta Jack—suaminya, saat dia berjalan, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang perempuan yang mengenakan seragam kebersihan. Dia memperlambat langkah, sambil memperhatikan wanita yang sedang membersihkan kaca.
Mira terus mendekat ke arah wanita itu dan begitu tiba di hadapannya, seketika dia menghentikan pekerjaannya. Lalu, dia menoleh pada Mira.
"Selamat pagi?" Sapa Mira terhadap pegawai kebersihan itu.
"Pagi, Bu!" Jawab wanita tersebut sambil menunduk hormat.
"Apa kamu pegawai baru di sini?" Tanya Mira lagi.
"Iya... Bu! Saya baru hari ini bekerja di sini," Ucap Siti petugas kebersihan yang baru saja bekerja di kantor suaminya itu.
"Owhh... Pantas saya baru melihat kamu hari ini," Jawab Mira, sambil tersenyum ke arah wanita yang ada di hadapannya itu.
"Bisa bantu saya?" Tanya Mira terhadap Siti.
"Iya... Bu! Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Siti pada wanita hamil yang ada di hadapannya, dengan hati dan wajah yang bingung. Dia belum tahu siapa yang mengajaknya bicara saat ini, apalagi dia pegawai baru yang belum berpengalaman dan mengenal dengan baik para pegawai kantor.
"Buatkan saya kopi, dan antar ke ruangan saya di lantai atas, ya!" Mira memberi perintah terhadap Siti, pegawai kebersihan itu.
"Baik, Bu... Saya akan Antar ke sana," Jawab siti sambil mengangguk hormat.
__ADS_1
"Baiklah... Saya tunggu, ya, terima kasih banyak, saya permisi dulu," Ucap Mira sambil pergi berlalu meninggalkan Siti yang masih berdiri di tempat.
Entah apa yang ada di pikiran Mira saat itu padahal, dia selama bekerja di kantor, tidak pernah menyuruh siapa pun untuk membuatkannya kopi. Akan tetapi, ada yang berbeda dengannya hari ini. Dia justru meminta orang yang baru dilihatnya hari ini untuk membuatkannya kopi. Sungguh sikap yang sangat aneh, atau ini adalah salah satu pengaruh dari kehamilannya.
Setelah sampai di ruangannya, Mira duduk di kursi kebesarannya, sambil membuka beberapa file untuk di periksa ulang, sebagai salah satu tugasnya untuk memastikan jika berkas tidak ada yang salah, sebelum sampai di tangan suaminya. Dia orang yang sangat teliti selalu di periksa berulang kali agar tidak ada yang keliru.
Tidak berselang lama pintu ruangannya pun di ketuk dari luar, Mira mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
"Silakan masuk," Kata Mira terhadap orang yang ada di depan pintu.
Pintu ruangan pun terbuka, terlihat seorang wanita muda yang menggunakan hijab dan seragam kebersihan itu berdiri, sambil memegang nampan di tangan dan ada secangkir kopi di atasnya.
"Permisi, Bu....” Ucap Wanita itu.
Siti pun berjalan perlahan mendekat di mana meja Mira berada. Lalu, menaruh kopi di atas meja tersebut.
"Ini kopinya Bu...!" Ucap siti terhadap Mira.
"Iya... Terima kasih banyak!" Jawab Mira sambil melihat ke arah Siti, yang entah kenapa dia merasa kasihan ketika melihat wajahnya.
"Saya permisi Bu, saya mau kembali ke bawah," Ucap Siti.
"Ada apalagi ya, Bu?Apa kopinya tidak enak?” Tanya Siti lagi, terlihat kuatir.
"Owhh... Bukan itu, kamu jangan dulu kembali ke bawah. Bisa tolong bantu saya di sini sebentar untuk merapikan beberapa berkas yang ada di sana?” Tunjuk Mira pada salah satu sudut ruangan di mana ada sebuah rak yang berisikan beberapa berkas.
"Iya... Bu, akan saya kerjakan,” ucap Siti tanpa membantah perintah dari wanita yang ada di hadapannya itu. Bagi dirinya, ini hari pertama bekerja, setidak-tidaknya, dia mendapatkan perlakuan baik dari orang yang posisinya lebih tinggi di tempat itu, sangat menyenangkan.
"Nanti kamu pisahkan semua itu, menurut tanggal dan tahun ya?” Perintah Mira terhadap Siti.
"Iya... Bu," Jawab Siti singkat sambil mendekat ke arah Rak yang berisikan berkas tersebut. Dia mulai membuka lembar demi lembar berkas tersebut untuk di pisah, tetapi Siti sangat heran apa yang mesti dia rapuhkan sebab, ini sudah rapi dan terurut sesuai apa yang di perintahkan padanya.
"Oh... iya... Kamu tinggal di sini sudah lama?” Tanya Mira terhadap Siti.
"Saya baru datang dari kampung beberapa hari lalu, Bu, Dan melamar di perusahaan ini, alhamdulillah, saya di terima Bu, walaupun cuma petugas kebersihan. Bagi saya sudah sangat bersyukur, Bu, asalkan pekerjaan ini halal,” Jawab Siti.
"Terus kamu tinggal di mana?" Tanya Mira lagi.
__ADS_1
"Saya tinggal di rumah kontrakan belakang kantor ini Bu...! Jadi, tidak perlu ongkos cukup jalan kaki itu sudah sampai" Ucap siti lagi.
"Iya... Jalan kaki lebih sehat ya! Oh iya.. Apa kamu sudah menikah? Tanya Mira lagi.
"Belum Bu... Belum nemu jodoh mungkin, Lagi pula saya masih muda belum kepikiran untuk menikah" Kata Siti.
"Apa orang tuamu masih lengkap?" Tanya Mira.
"Saya sudah tidak ada orang tua Bu...!” Jawab Siti dengan wajah sendu.
"Maaf... Tidak ada maksud lain,” Ucap Mira merasa bersalah atas pertanyaannya.
"Tidak apa-apa Bu," ucap Siti.
"Melihat kamu... saya jadi inget dulu waktu saya belum menikah, saya juga pernah bekerja seperti kamu pas saya kuliah dulu,” Kata Mira.
"Apa pendidikan terakhirmu?" Tanya Mira.
"S1 Arsitektur Bu," Jawab Siti.
"Loh, kok, kita sama yah... kenapa kamu mau menerima jadi petugas kebersihan?" Tanya Mira
"Itu karena yang dibutuhkah di kantor ini hanya petugas kebersihan Bu...!" Jawabnya.
"Kenapa tidak coba melamar di kantor lain... Siapa tahu ada lowongan?" Ucap Mira terhadap Siti.
"Iya... Untuk Sementara kerjaan inj sangat membantu saya untuk bertahan di kota ini," Ucap Siti sambil tersenyum ke arah Mira yang masih saja memperhatikan dirinya.
Waktu cukup lama berlalu hingga pekerjaan yang di perintahkan Mira pun akhirnya sudah selesai.
"Bu.. sudah selesai, Saya permisi," Ucap Siti sambil berdiri lalu membungkukkan badannya pertanda hormat.
"Baiklah.. Terima kasih banyak atas waktunya," Ucap Mira tersenyum tipis sambil mempersilahkan Siti untuk keluar ruangan.
Setelah sampai di luar ruangan, Siti berjalan buru-buru untuk kembali ke lantai bawah sebab masih banyak pekerjaan yang menjadi tugasnya belum dia selesaikan.
Tiba-tiba dia menabrak seorang lelaki tanpa sengaja.
__ADS_1
"Kalau jalan, tuh, pake mata!" Bentak orang tersebut sambil menepuk-nepuk pelan pakaiannya seolah-olah ada sesuatu yang kotor menempel di sana.
"Iya Pak maaf, Saya buru-buru,” ucap Siti.