Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 61 janda


__ADS_3

Zay dengan penuh semangat berlari ke tepi pantai, anak kecil itu sudah tidak sabar untuk segera bermain. Dengan langkah cepat Bibi mengikutinya. Di belakangnya ada Mira dan juga Jack menyusul anak dan pengasuh itu dengan santainya. Mereka semua sudah berada di pantai, menikmati keindahannya. Terlihat air laut pada saat ini sedang menarik pasang ombak pun sedikit besar. Arusnya pun lumayan kencang. Jika tidak hati-hati bisa saja terbawa arusnya yang deras, mengingat sifat air, bila kecil akan menjadi teman, bila besar akan menjadi lawan.


"Zay, Hati-hati!” Mira mengingatkan anak kesayangannya, untuk selalu siaga.


"Iya, Ma!” Zay pun dengan berlari-lari di tepi pantai, Sesekali ombak menghantam tubuh kecilnya. Namun, Bukannya takut anak tersebut melainkan malah tertawa lepas. Melihat anaknya seperti itu Mira pun sangat bahagia.


"Mau berenang juga?” Jack bertanya kepada sang istri, sambil meraih pinggang wanita itu untuk mendekat ke arahnya. Dia sedikit menundukkan kepala demi bisa menatap wajah Mira dan mencium keningnya sekilas.


"Pengen sih, tapi ... Kok perasaanku tidak enak seperti ini ya?” Mira merasa tidak enak hati, tapi dia sendiri tidak tahu entah kenapa. Dari pagi hatinya merasa kosong, padahal di kelilingi orang-orang tersayangnya.


"Memangnya, apa yang kamu rasakan, Sayang?”


"Entahlah. Seperti akan di tinggal jauh!" Pekik Mira.


"Jangan asal ngomonglah ... Mungkin itu hanya sebuah perasaan kamu saja. Jangan terlalu di pikirkan.” Jack berusaha menenangkan istri tercinta, Sambil mengusap-usap lembut bahunya.


Mira bersandar di dada bidang sang suami, dia mencari kenyamanan di dalam dekapan pria itu. Jack mengusap usap pundak sang istri, Semakin lembut.


Mira malah menangis dengan perlakuan Suaminya.


"Hai, kenapa denganmu? Apa ada yang sakit?” Jack menangkup wajah Mira dengan kedua telapak tangannya, sambil menatap lekat wajah sang istri, yang sudah di penuhi cairan air mata.


"Tidak ...!” Mira menggelengkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Lalu, kenapa jadi cengeng seperti ini?” Jack sangat khawatir, dia terlihat panik dengan apa yang terjadi terhadap istrinya, padahal tadi pagi biasa saja, tapi, kenapa jadi seperti ini, pikirnya.


"Apa dia kerasukan setan di pulau ini?" Kembali Jack bicara dalam batin sambil bergidik ngeri, dan melihat ke sekeliling, bulu kuduknya tiba-tiba meremang.


"Kita kembali ke penginapan saja, ya?” Tawar Jack terhadap  sang istri.


"Tidak, aku mau tetap di sini saja! Mau lihat Zay berenang.” Mira juga tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Padahal sebelumnya Mira tidak secengeng ini.


"Ya, sudah ... Duduk yuk!” Ajak Jack untuk duduk di salah satu kursi yang ada di tepi pantai. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat duduk itu, yaitu sebuah bangku panjang dan cukup luas untuk berdua.


Jack duduk terlebih dahulu lalu di susul Mira. Akan tetapi, wanita itu urung untuk duduk, melainkan merbahkan tubuhnya, dan menjadikan paha suaminya sebagai bantal.

__ADS_1


Jack mengusap lembut rambut sang istri, entah apa yang terjadi hari ini Mira sifatnya berubah.


"Mas, kita pulang, ya, sore ini?” Ajak Mira.


"Loh, kok buru-buru mau pulang? Baru satu malam kan, kita di sini, masa sudah mau pulang?”


"Kamu lupa, ya Mas! Zay, kan, Sekolah!” Ujar Mira.


"Tidak perlu, khawatir, Mas sudah mengurus semua nya, kita akan tinggal di sini selama satu minggu!" Ucap Jack sambil mengelus pipi sang istri. Mira masih betah tiduran dengan paha suami sebagai bantal.


"Tapi, Mas! Kantor juga bagaimana?” Tanya mira lagi.


"Kantor itu, ada Ferdy dan Anita, jangan khawatir mereka bisa kok, meskipun tanpa kita." Ujar Jack sambil tersenyum menatap lekat wajah sang istri.


"Lah, kan, mereka juga ada di sini? Mana bisa beresin kantor!" Mira terus saja berbicara.


"Nanti sore, mereka semua pulang!” Jawab Jack tenang.


"Mau ikut pulang!” Pekik Mira, sambil mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang minta mainan.


"Tidak, justru tempat ini sangat nyaman, sebelumnya, belum pernah aku mendapatkan kemewahan seperti ini... Dulu waktu bersama ayahnya Zay, hidup kami sangat susah, harus menghemat agar bisa bertahan dan bisa makan dari bulan ke bulan. Jul hanya karyawan biasa. Jadi, dia tidak punya cukup uang, hanya sekedar untuk berlibur.” Mira bercerita sekilas tentang hidupnya tempo lalu.


"Sekarang kamu mau apa? Biar kukabulkan semua keinginanmu. Jangan ragu untuk meminta sesuatu, selama aku mampu, pasti akan kupenuhi." ujar Jack sambil memainkan jari-jari tangan istrinya.


"Aku tidak ingin apa pun, Untuk saat ini, aku hanya ingin pulang dan makan bubur sumsum yang ada di depan rumah pak RT.” Mira mengutarakan keinginannya.


"Ya, sudah, kusuruh koki di sini agar membuatnya.”  Ujar Jack, dia tidak mau rencananya untuk berlibur satu minggu gagal, acara bercocok tanam bisa tidak panen jika Mira ingin segera pulang.


"Tidak mau, Orang aku tuh, ya ... maunya yang di depan pak RT, Ya beda lah rasanya jika yang membuat lain orang.”


Mira pun bangun dan duduk, terlalu lama dia tiduran di paha Suaminya, bisa saja pria itu merasa kesemutan tetapi tidak berani untuk mengatakannya.


"Kenapa bangun?" Tanya Jack  terhadap sang istri.


Tiba-tiba suara seseorang membuyarkan percakapan mereka.

__ADS_1


"Eh kalian di sin! Gua cari-cari ternyata di sini!” Ucap Anita kesal, sambil duduk di bangku yang lain.


"Lu, tuh, yah! Dari mana saja? Kenapa tadi pagi tidak sarapan bareng kita?" Mira Bertanya terhadap Anita mengapa tadi pagi tidak ikut sarapan bersama.


"Iya Maaf, Mir! Lagian tadi malam tidak bisa tidur, gelisah mulu aku, kenapa ya, baru bisa merem dari jam lima pagi!" Tutur Anita terhadap Mira dan Jack.


"Tapi, Ferdy bilang, Lu! Tadi malam bareng Rico, Dari mana, lu?” Cecar Mira terhadap Anita.


"Tidak dari mana-mana." Jawab Anita dengan gugup.


"Elah, lu! Kagak usah malu juga kali," Ujar Jack sambil menatap lekat wajah Anita yang gugup.


“Rico itu naksir, lu, Nit!” Pernyataan Jack membuat Anita melotot tidak percaya dengan apa yang diucapkan laki-laki itu kepadanya.


"Enggak usah sok kaget, lu!  Udah tahu juga." Sarkas Anita, Sambil tersenyum tipis.


Akhirnya mereka bertiga pun tertawa bersama, mengingat wajah Rico yang sangat serius bagaimana jika dia bucin? Mereka tidak bisa membayangkan.


Canda tawa di antara mereka pun terjadi, entah hal apa yang mereka bicarakan sehingga di setiap kata yang terlontar, menciptakan tawa, ketika berada di sini, Anita sangat senang karena Jack memosisikan dirinya bukan sebagai bos, melainkan sebagai suami dari sahabatnya.


"Nit, kita ke sebelah sana, yuk? Sepertinya bagus loh!” Mira mengajak Anita untuk berjalan ke dekat dermaga, kebetulan ada banyak ayunan di sana. Mira sangat suka bermain ayunan apalagi ayunan yang di tapi pantai, Jika lagi pasang bisa sambil main air juga.


"Ayo!” Anita pun mengiyakan ajakan Mira. Mereka berdua berjalan menuju ayunan, meninggalkan Jack yang masih duduk di bangku taman pantai sambil melihat ke laut.


Matahari sangat terik sekali sehingga menciptakan rasa panas yang kuat, Anita dengan mengenakan kaca mata hitam dan topi pantai yang lebar, agar wajahnya yang cantik dan mulus, tidak menjadi korban sengatan panasnya matahari pantai.


"Nit, kok, kepalaku pusing sih?” tanya Mira sambil memijit pelipisnya.


"Eh, Tunggu! Kamu pusing kenapa? Kita ke tempat tadi aja yuk, Mungkin dari sinar matahari" Ajak Anita mengajak Mira untuk kembali ke tempat tadi.


Namun tiba-tiba, tubuh Mira sudah tergeletak di hamparan pasir, sudah tidak sadarkan dari. Hal ini membuat Anita panik dan segera berteriak memanggil  Jack.


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2