Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 76


__ADS_3

Jack sudah berada di ruangan kebesarannya, setelah selesai makan siang dan beradegan mesra dengan istrinya. Setumpuk pekerjaan yang belum selesai menyambutnya, seolah-olah sahabat yang setia menemani selama di kantor. Ruangannya yang super mewah dan berada di lantai paling atas seperti kebanyakan kantor para pimpinan lainnya, menjadi fasilitas pendukung dari beratnya tugas yang dia lakukan. Dari sana juga bisa menikmati keindahan kota, bagaimana tidak, sebab kantornya terletak di dalam salah satu gedung pencakar langit di kawasan perkantoran yang berdiri di sisi jalan utama.


Sebuah fasilitas yang pantas didapatkan sesuai dengan tanggung jawab dan kompensasi fiskal dari pemiliknya.


Berkas-berkas yang harus di periksa ulang. Dia membuka lembar demi lembar kertas, Sambil senyum-senyum sendiri di kala dia mengingat wajah menggemaskan sang istri. Sangat beruntung sekali dirinya bisa memiliki istri seperti Mira, wanita sederhana tidak banyak menuntut dan hidup apa apanya. Apalagi mereka berada dalam satu kantor hingga bisa melakukan hal, yang intim tanpa merasa berdosa karena mereka memang sah melakukannya apa saja.


Ternyata hati Jack sepenuhnya sudah di tempati oleh Mira, Tidak ada lagi nama Karina yang selama ini memiliki tempat khusus di hatinya. Hanya dengan hitungan bulan Istrinya ini sudah berhasil mengubah segalanya. Dia yang dulu tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun setelah kepergian Karina. Akan tetapi, setelah bertemu dengan Mira, nama Karina seolah terkikis sedikit demi sedikit dari hatinya hingga kemudian benar-benar hilang dan tergantikan nama Mira di dalamnya.


Pintu ruangan saat itu terbuka setelah terdengar suara ketukan di sana. Seketika Jack menoleh ke arah pintu.


"Boleh masuk?" Tanya orang yang sudah berada di ambangnya


"Silakan... " Jack mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke ruangannya.


Terlihat seorang pria yang sangat gagah berdiri di sana dengan stelan kerjanya, dis sangat tampan dengan gaya tenang dia pun melangkah mendekati Jack.


Dia pria idaman kaum hawa tetapi, hanya satu yang sedikit membingungkan hingga saat ini, yaitu keadaan pria itu yang sampai sekarang masih belum memiliki pasangan. Entah dia seorang yang pemilih atau belum menemukan yang pas.


"Terima kasih," jawab orang tersebut sambil berjalan ke arah sofa, Lalu, duduk di sana tanpa menunggu di persilahkan oleh sang tuan pemilik ruangan.


"Ada hal penting apa, tumben kamu ke ruangan ku?" Tanya Jack terhadap orang tersebut.


"Ada.. " Jawabnya singkat.


"Ok. Katakan!" Jack berkata sambil beranjak dari kursi kebesarannya lalu, berjalan perlahan dan duduk di hadapan orang tersebut. Setelah itu dia menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap tajam pada Ferdy. Ya, laki-laki itu adalah Ferdy.


"Katakan sekarang, Apa kabar yang kau bawa?" Tanya Jack terhadap sahabat dan sekaligus partner kerjanya.


"Soal... Sania dan Demian," Ujar Ferdy.


"Lalu...!" Tanya Jack lagi.


"Mereka sekarang sedang di buru polisi karena melakukan bisnis investasi ilegal dan, semua korbannya menuntut mereka berdua. Tidak sedikit korbannya bahkan uang yang mereka bawa mencapai triliunan!" Tutur Ferdy serius pada sahabatnya tersebut.


"Sekarang mereka ada di mana? Apa mereka sudah di penjara?” Tanya Jack lagi.


"Untuk sementara, belum di temukan tetapi, semua aset yang mereka miliki sudah di sita pihak kepolisian termasuk, club, Rumah dan berbagai kendaraan mewah yang mereka punya,” Jelas Ferdy.


"Terus itu ... Istrinya Demian ke mana?” Tanyanya lagi.


"Dia juga ikut menghilang. Entah ke mana mereka perginya, Polisi sedang melacak keberadaan mereka!" Ujar Ferdy.

__ADS_1


"Bagus, Dong....! Jadi, kita tidak perlu bergerak, Sudah ada mereka kita hanya membuat laporan atas Sania dan Demian dengan kasus yang berbeda. Berdasarkan bukti yang kita punya!” Tutur Jack terhadap Ferdy.


"Nah, Itu yang gua maksud... Bukti yang kita punya atas kejahatan mereka. Tinggal kita serahkan ke pihak yang berwajib, kita tinggal menunggu hasilnya,” sahut Ferdy sambil menganggukkan kepalanya.


"Terus bagaimana dengan CCTV yang ada di rumah apa sudah diperiksa?" Tanya Ferdy lagi, kini tatapannya kembali serius.


"Sudah, Tetapi CCTV yang mengarah ke tangga tidak berfungsi." Jelas Jack.


"Ya.. sudah kita serahkan bukti yang ada saja, Toh mereka  sudah ada kasus lain. Sama saja akan memberatkan mereka. Apalagi yang kita punya bukti soal pembunuh pasti akan lebih berat hukumannya!" Ferdy menjelaskan semuanya.


Di sela-sela perbincangan mereka, Rico datang tanpa mengetuk pintu karena dia lihat pintu ruangan Jack masih terbuka. Dia membawa amplop coklat di tangannya.


"Permisi,” Sapa Rico pada kedua sahabat sekaligus bosnya itu.


"Silakan duduk?” Jack mempersilahkan Rico untuk duduk, Dan dia pun duduk bersebelahan dengan Ferdy.


"Itu aku membawa buktinya, semua sudah ada di sana. Tinggal di periksa ulang apakah masih ada yang kurang atau tidak?" Rico menyerahkan amplop yang ada di tangannya.


"Ok," Jack pun mengambil amplop tersebut lalu membukanya. Dia periksa satu-persatu semua bukti yang ada dalam amplop itu.


"Gua kira itu sudah cukup!" Sela Ferdy.


"Ok... Setelah pulang kantor kalian berdua buat laporan semua itu ke kantor polisi. Maaf Gua enggak bisa ikut. Harus ke rumah sakit juga. Pokonya, semua gua serahin sama kalian berdua." Tutur Jack memberi perintah terhadap Rico dan Ferdi.


"Ok. Siap!" Jawab Rico dan Ferdy secara bersamaan.


Perbincangan di antara ke tiganya pun sudah selesai dan mereka sudah membagi tugas masing-masing.


"Ya, Sudah gua pamit!" Ucap Ferdy sambil berdiri lalu pergi perlahan menuju pintu keluar.


"Baiklah.... Terima kasih banyak, ya!" Ucap Jack pada kedua sahabatnya itu.


"Ok deh...Gua juga pamit. Mau mengantar Anita pulang," Ucap Rico sambil berdiri.


"Eh, Tunggu.... Sejak kapan Lu jadi sopir pribadi Anita?" Tanya Jack dengan nada meledek pada Roco dengan mengangkat kedua alisnya serta tersenyum miring.


"Sejak hari itu!" Jawab Rico dengan Nada santainya.


"Eh, Kalian sudah membuat Ferdy patah kaki saja!" Ucap Jack sambil tertawa lebar. Dia tidak bisa membayangkan wajah sahabatnya yang satu itu apabila suatu saat nanti mengetahui hubungan Rico dan Anita.


"Dih! Siapa suruh dia lambat? Ya gua tikung ajalah!" Jawab Rico sambil mengangkat bahu dan tawa kecilnya m.

__ADS_1


"Ok, Deh, jangan pakai lama. Soalnya yang mengucap kata cinta tiap hari akan kalah dengan orang yang mengajaknya dengan Bismillah!" Ucap Jack sambil menepuk bahu sahabatnya tersebut.


"Do'ain, gua, yah... semoga bisa segera menghalalkannya!" Ucap Rico dengan penuh harap.


"Itu, Sudah pasti. Gua ingin yang terbaik untuk sahabat-sahabat semuanya," Ujar Jack.


"Sudah, pulang sana,”  Ucap Jack terhadap sahabatnya itu.


"Lu, ngusir gua?” Ucap Rico.


"Itu bukan mengusir lebih tepatnya menyuruh pulang, Karena gua juga mau pulang dan harus ke Rumah sakit hulu, tahu?" Ucap Jack.


"Iya... gua keluar tetapi, ke kantor polisinya setelah mengantar Anita ya?” Ucap Rico.


"Serah, lu, dah...!" Jawab Jack singkat.


Rico pun keluar dari ruangan Jack, dia akan segera pulang untuk mengantar kan Anita untuk pulang.


Tinggallah Jack di ruangan kebesarannya. Dia merapikan semua pekerjaan yang belum selesai dikerjakan dan berniat akan membereskan keesokan harinya.


Mengingat hari ini sudah menunjukkan waktunya pulang kantor. Apalagi dia juga harus mengunjungi Mamanya terlebih dahulu dan berharap hari ini ada kabar baik tentang kesehatannya. Waktu dua hari sudah cukup lama bagi Jack menunggu kabar baik soal perkembangannya.


Jack segara bangkit dari duduk lalu, berjalan perlahan menuju pintu keluar. Dia akan menuju ke ruangan sang istri untuk mengajaknya segera pulang.


Jack pun sudah berada di depan ruangan sang istri tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung membuka pintunya terlihat seorang wanita cantik sedang berkemas. Dia sudah siap untuk pulang.


"Sudah siap untuk pulang, Sayang...?” Tanya Jack terhadap sang istri.


"Sudah. Ayo pulang," Ajak Sang istri.


Terdengar dering ponsel milik Jack,


"Sebentar sayang... Angkat telepon dulu ya.” Jack pun mengusap layar ponsel miliknya.


"Hallo!" Sapa Jack terhadap orang di sebrang sana.


"Apa...? Ok saya segera ke sana," Ucap Jack melalui ponselnya.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2