Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 77


__ADS_3

Jack masuk dengan perlahan ke dalam ruangan sang istri tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan saat itu dia melihat Mira tengah membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya. Wanita cantik itu sudah siap untuk pulang. Begitu juga dengan dirinya.


"Sudah siap untuk pulang, Sayang...?” Tanya Jack terhadap sang istri.


Mira menoleh pada suaminya dan tersenyum sambil mengganggu lalu berkata, "Sudah. Ayo pulang," Ajaknya pada Jack.


Kedua suami istri itu melangkah keluar dari ruangan Nadia setelah menutup pintunya, sambil bergandengan tangan. Namun tiba-tiba, terdengar dering ponsel milik Jack yang dia simpan di saku bagian dalam jasnya


"Sebentar sayang... Angkat telepon dulu, ya.” Jack mengambil dan mengusap layar ponsel miliknya.


"Hallo!" Sapa Jack terhadap orang di seberang sana.


"Apa? Ok! Saya segera ke sana!" Ucap Jack melalui ponselnya.


"Ada apa mas...?" Tanya Mira terhadap sang suami yang terlihat panik. Pasti ada sesuatu yang menghawatirkan, demikian pikirnya.


"Ayo! Kita segera ke rumah sakit!” Jack mengajak Mira untuk segera pergi sambil menggenggam tangan wanita itu erat.


Mereka berdua berjalan dengan cepat, menuju halaman perusahaan di mana pria itu memarkirkan mobilnya.


Setelah sampai di sana Jack mempersilahkan Mira untuk masuk dan di ikuti dirinya.


Lelaki itu duduk di belakang kemudi sambil mengusap wajah menunjukkan ketegangan dan mengemudikan kendaraan roda empat yang mereka tumpangi dengan perlahan meninggalkan area perkantoran. Lalu, memacunya dengan kecepatan tinggi.


Waktu yang di tempuh menuju ke rumah sakit, Cukup lama karena jalanan begitu padat, bahkan mereka sempat terjebak kemacetan, mengingat ini waktunya pulang kantor. Kendaraan pun bergerak perlahan, sedikit demi sedikit, seperti merayap. Membutuhkan kesabaran hingga pada akhirnya sampai juga di area rumah sakit


Jack langsung memarkirkan kendaraan di tempat biasa lalu,  turun di susul oleh Mira.


Kedua suami istri itu pun segera menuju ke ruangan Merlin dirawat. Mereka berjalan cepat dengan melewati koridor rumah sakit hingga pada akhirnya. Sampai di depan ruang rawat ibu sambungnya.


Saat Jack perlahan membuka pintu ruangan, terlihat Bibi sedang duduk di kursi dekat ranjang pasien.


Jack dan Mira perlahan berjalan mendekat ke arah ranjang Merlin, yang sedang terbaring dengan beberapa alat medis yang menopang hidupnya menempel di tubuhnya.


"Bagai mana keadaan Mama, Bi?” Tanya Jack terhadap Bibi yang setia menunggu Merlin, majikannya.


"Tadi, dia tersadar sebentar, Tuan dan memanggil nama Tuan." Ucap Bibi menjelaskan keadaan majikannya itu kepada Jack.


"Terus, kenapa sekarang jadi belum sadar lagi?” Tanya Jack lagi.

__ADS_1


"Kata dokter ... Nyonya sudah melewati masa kritisnya, Tuan. Mungkin beberapa jam ke depan sudah bisa sadar sepenuh nya,” Jelas sang Bibi.


"Baiklah, Silakan keluar" Jack mempersilahkan Bibi untuk keluar dari ruangan


"Terima kasih, Tuan" Bibi pun mengangguk hormat. Lalu, pergi perlahan keluar dari ruang rawat dan menunggu di luar.


"Duduk, Sayang....!” Jack mempersilahkan Istrinya untuk duduk dan di kurai dia sendiri duduk di tepi ranjang pembaringan sang pasien.


"Iya," Jawab Mira singkat sambil menduduki kursi yang tersedia.


"Ya sudah, Mas.... Malam ini kita menginap saja di sini. Nanti, kalau mama bangun mencari-cari, kita ada di sini?" Mira berkata dan meminta atau mengajak suaminya untuk menginap di Rumah sakit.


"Kamu itu tidak bisa menginap di sini ... Kamu, kan, Sudah seharian bekerja, terus lagi hamil juga, kamu ini Butuh istirahat!" Terang Jack terhadap sang istri. Bukan dia tidak mau menginap untuk menemani sang mama, tetapi dia tidak tega jika istri tercinta yang sedang hamil harus ikut menginap juga. Sebab jika dia menginap sudah pasti istrinya itu juga akan ikut menginap.


"Itu, kan, ada sofa, Luas pula, bisa kita gunakan untuk tidur di sana. Aku bisa tidur di mana saja, oke?" Tutur Mira terhadap sang suami.


"Mana nyaman tidur di situ, pokoknya kita pulang saja, Besok pagi lagi baru kita ke sini lagi," Tolak Jack untuk menginap di rumah sakit.


"Terus jika Mama bangun dan nyari kamu lagi, gimana...?” Tanya Mira.


"Ya, Titip pesan ke Bibi! Kalau Mama nyari, bilang kita pulang dulu," Jelas Jack.


"Tapi, kan, Kasian mama... " Ucap Mira sambil menatap lekat wajah sang mama mertua yang sedang tertidur pulas.


Setelah cukup lama Jack dan Mira berasa di ruangan Merlin, Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk pulang.


"Sayang... Kita pulang yuk, Ini sudah terlalu malam.” Ajak Jack terhadap sang istri.


"Ya," Jawab Mira singkat.


"Ma, Kami pulang dulu ya," Ucap Jack terhadap sang mama sambil mengecup kening Merlin sekilas.


Setelah itu, mereka berdua pun berjalan perlahan keluar dari ruangan.


Sampai di ruangan lainnya, terlihat Bibi sedang mengobrol dengan seorang yang di utus Jack untuk menemaninya.


"Bi," Panggil Jack


"Iya, Tuan.. " Jawab Bibi sambil menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Saya pulang dulu, Nanti kalau Mama bangun dan nanyain saya bilang saja kamj pulang dulu, ya, besok juga pasti sebelum ke kantor mampir dulu. " Jack pun menitip pesan terhadap Bibi yang menjaga mamanya.


"Baik Tuan...! " Jawab Bibi sambil mengangguk.


"Ok, Saya permisi," Ucap Jack.


"Mari, Bi," Sapa Mira terhadap Bibi.


Sepasang suami istri itu pun pergi meninggalkan ruangan sang mama, Jack sambil menggandeng tangan sang istri. Rasanya tidak rela bagi Jack jika harus melepaskan genggamannya walau hanya sesaat.


*****


Di belahan bumi lainnya.


Terdengar suara perempuan sedang berteriak memaki suaminya karena kelakuannya yang mengakibatkan dirinya pun harus ikut menderita. Tidak bebas berkeliaran ke mana-mana dan sekarang semua aset sudah di sita serta tabungan pun sudah di bekukan oleh pihak bank, sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.


Sekarang mereka tinggal jauh dari perkotaan. Demian mengajak istrinya untuk bersembunyi di sebuah desa terpencil dan menyewa sebuah rumah yang sangat sempit, bahkan jauh dari kata layak untuk di tempati. Tetapi mungkin ini adalah cara satu-satunya untuk menghindari dari kejaran polisi.


"Gara-gara kamu ini semua, kalau saja kamu tidak melakukan bisnis kotor ini semua tidak akan terjadi!" Ucap Rara terhadap sang suami, Sambil berteriak dan berkacak pinggang.


"Jangan pernah menyalahkan aku!" Jawab Demian dengan sura kerasnya, sambil menatap istrinya dengan tatapan penuh amarah. Sudah sejak kemaren istrinya tidak berhenti marah-marah padanya.


"Terus, Saya harus menyalahkan siapa? Hah! Jika bukan kamu dan gara-gara kamu aku harus tinggal di tempat yang seperti ini, kan?" Ucap Rara yang tidak kalah keras teriakannya dari sang suami.


"Kamu nikmati saja apa yang ada untuk saat ini, masih untung juga kamu bisa makan. Jadi, jangan protes. Tambah pusing saja!" Ucap Demian terhadap sang istri.


"Apa yang di nikmati? Bahkan uang pun sudah tidak punya lagi semua uang yang a punya itu di tabungan, dan itu semua sudah tidak bisa di ambil!" Jawab Rara kesal


"Ya, Itu kamu mungkin bisa jual, beberapa perhiasan kamu dulu." Sarkas Demian terhadap sang istri.


"Mana bisa... itu perhiasan, Peninggalan orang tuaku. Jadi, sampai kapan pun tidak akan aku jual, titik!" Ucap Rara kesal.


"Jika tidak boleh di jual, ya sudah, tidak usah makan!" Jelas Demian terhadap sang istri.


"Memangnya, Kamu sudah tidak punya uang lagi?” Tanya Rara terhadap sang suami.


"Ini uang terakhir yang ku punya, Yang di pakai buat sewa rumah selama satu tahun ke depan." Jelas Demian terhadap sang istri.


"Terus kita makan sehari-hari dari mana? " Tanya Rara terhadap sang suami.

__ADS_1


"Sudah jangan bicara terus tambah pusing ini kepalaku!” Ucap Demian sambil pergi berlalu keluar rumah meninggal sang istri masih saja uring-uringan.


Bersambung.


__ADS_2