
Susana kantor di waktu istirahat dan jam makan siang tiba, akan selalu semua. Di mana para karyawan keluar dari ruangan masing-masing untuk mengisi perut mereka. Ada yang pergi ke kantin dan menikmati makan siang di sana, tidak sedikit juga yang membawa bekal dari rumah, ada juga yang membelinya melalui jasa pesan antar melalui aplikasi di ponsel mereka.
Semuanya sibuk dengan urusan soal isi perut, beda lagi halnya dengan Mira, wanita itu sibuk dengan dunianya dan lebih memilih untuk mengistirahatkan dirinya, dari pada menikmati waktu istirahat dan makan siang. Oleh karena itu dirinya merebahkan tubuh di sofa.
Lelah, mungkin itu yang di rasakan nya untuk saat ini. Tubuhnya terlihat sehat dan baik-baik saja, tapi, Cepat lelah itu yang sering di rasakan nya akhir-akhir ini. Biarpun begitu, dia berusaha untuk menutupi semua itu dari suaminya dan semua orang. Jika Jack sampai tahu bila dia lebih sering merasakan lelah, sudah pasti pria itu akan membuat keputusan sepihak yang tidak di sukai nya, yaitu memintanya untuk berhenti bekerja.
Mira belum siap menerima keputusan itu karena masih ada keinginan untuk beraktivitas seperti biasanya. Dia tidak mau jika harus diam di rumah terus menerus. Sudah pasti dia akan merasakan jenuh, karena sudah terbiasa bekerja, tapi kemudian harus di rumah.
Tidak terasa dia pun tertidur di atas sofa, yang memiliki ukuran cukup panjang yang memungkinkannya untuk bisa tertidur dengan nyaman. Tubuh yang terasa lelah itu beristirahat dengan damai di sana, di ruangan yang suasananya sudah sangat akrab.
Ketika jam istirahat pun hampir berakhir, Jack merasa heran karena Mira yang biasanya lebih dahulu mengajaknya makan, tapi belum juga datang, dan mengingatkannya untuk makan siang. Wanita itu biasanya selalu cerewet mengingatkan banyak hal.
Jack mengambil gagang telepon yang ada di dekatnya, lalu, menekan angka untuk menyambungkan ke ruangan Mira. Namun, setelah beberapa kali dia terus mencoba memanggil ulang, tetap tidak ada jawaban. Rasa khawatir pun muncul begitu kuat dengan keadaan istrinya, pikiran buruknya pun sudah menerawang jauh terhadap hal-hal yang akan menimpa istrinya.
Dengan gerakan cepat pria gagah itu bangkit dari duduknya, lalu bergegas pergi menuju ke ruangan istrinya dan dengan kasar membuka pintu, sambil menekan rasa galau di benaknya.
Saat pintu sudah terbuka, terlihat tubuh kecil sang istri sedang tertidur di atas sofa, hal itu membuat Jack merasa sedikit lebih tenang. Namun, setenang apa pun wajahnya, dia tetap tidak bisa menyembunyikan banyak ke khawatiran di balik raut mukanya. Sebenarnya dia belum bisa menerima sepenuhnya, akan penderitaan Mira. Saat ini dia heran, mengapa istrinya itu sampai tertidur di kantor sampai tidak mendengar suara dering telepon yang cukup nyaring.
Jack mendekati istrinya dengan perlahan karena tidak ingin membangunkannya, lalu, dilihatnya Mira yang sedang tertidur pulas, dengan tatapan penuh kasih sayang.
Jack tatap wajah sang istri dengan lekat, dia melihat tersimpan begitu banyak kelelahan di sana, tetapi, dia begitu terkesan karena selama ini Mira selalu menutupi dari keluarganya, ibunya, termasuk Jack suaminya sendiri.
Jack masih saja duduk di samping sang istri yang masih tertidur dengan pulas, dia usap pipi sang istri dengan lembut, entah kenapa melihat istrinya dalam keadaan seperti itu, dia merasakan sakit di hatinya yang tidak bisa di artikan. Dia sangat menyayangi Mira, tetapi dia juga tidak bisa membuatnya kecewa atas semua keputusan yang di ambilnya nanti.
Mira yang sensitif akan sentuhan, langsung terbangun dan membuka matanya secara perlahan.
Sungguh dia merasa sedikit terkejut saat mata terbuka, karena yang pertama dilihat adalah suaminya.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat wanita itu pun duduk, tapi menundukkan pandangannya. Sungguh dia tidak sanggup melihat tatapan suaminya yang menuntut akan banyak penjelasan.
"Maafkan aku, mas.... ?" Ucap Mira sambil tetap menundukkan pandangannya.
"Maaf untuk apa?" Jack malah balik bertanya terhadap istrinya.
"Lupa ingetin untuk makan siang, habisnya tadi ngantuk banget, sih," Kata Mira.
"Seharusnya aku yang minta maaf, tidak bisa melihat bahwa kamu itu sekarang sedang mengandung dan sedikit bermasalah soal kehamilan mu, maaf ... terkadang aku egois selalu melihat kamu dari sisi lain. Ternyata ada banyak hal yang kamu sembunyikan dengan rapi dariku. Aku tidak tahu bahwa kamu itu lelah dan merasakan sakit. Kamu juga tidak pernah bilang itu semuanya, kan? Jadi aku merasa gagal menjadi suami yang baik. yang selalu siaga untuk istrinya, aku gagal, Mir!" Ucap Jack sambil menatap wajah sang istri dengan sendu.
"Mas... kok, ngomong seperti itu, bukan maksudku untuk menutupi semuanya dari kamu, cuma aku tidak mau kamu terlalu khawatir, akan semua itu!" Jawab Mira sambil menundukkan pandangannya, sungguh tidak sanggup dia mantap wajah suaminya. Mira selalu membuat suaminya kesal dan ingin menang sendiri, termasuk semua keinginannya yang tidak mau di tolak. Dari tidak mau berhenti bekerja, sampai harus menjalani operasi pun, Jack selalu menurut apa pun yang menjadi keputusan Mira.
Terkadang dia juga berpikir bahwa dirinya terlalu egois, sehingga tidak memikirkan suaminya yang selalu mengkhawatirkan dirinya.
Sepasang suami istri itu seketika diam, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun, karena tenggelam dalam kata-kata hatinya sendiri.
"Mas... makan siang yuk?" Ajak Mira terhadap suaminya, setelah beberapa saat terdiam.
"Lapar?" Tanya Jack balik terhadap istrinya.
Mira pun mengangguk dengan pelan, sejujurnya dia tidak merasakan lapar sedikit pun. Ini semua dia lakukan untuk membuat suaminya makan siang.
"Ya sudah, mau makan di mana? " Tanya Jack lagi.
"Di sini saja, Mas... lagi malas ke luar," jawab Mira.
"Ya sudah, pesan dulu," Kata Jack, sambil mengambil ponselnya dari saku lalu mengusap layarnya, membuka salah satu aplikasi, dia memesan dua porsi makanan.
__ADS_1
Jack dan Mira pun masih setia duduk di sofa yang ada di ruangan sambil menunggu pesanan datang.
"Jika mau rebahan lagi nggak apa-apa, sambil menunggu makan datang," Jack berkata sambil menepuk pahanya, agar Mira merebahkan tubuh dan kepalanya dan paha suaminya di jadikan bantal.
"Iya, mas... " Mira pun menuruti permintaan suaminya.
Setelah beberapa saat mereka menunggu sambil berbincang-bincang, pesanan akhirnya datang juga.
Jack bangkit dari duduknya, setelah wanita yang tadi merebahkan diri pun bangun. Lalu Jack dengan perlahan mendekat ke arah pintu, untuk mengambil pesanannya.
Setelah berada di depan pintu, terlihat seorang kurir sedang berdiri sambil membawa box makan yang di pesanannya.
Jack menerima pesanan itu setelah bang kurir menyerahkan, lalu, dia kembali ke dalam ruangan di mana sang istri sedang menunggunya.
Jack meletakkan makanan itu di atas meja, lalu membukanya satu terus di serahkan terhadap istrinya untuk segera dinikmati berdua.
"Jangan lupa di habiskan, ya!” Perintah Jack terhadap istrinya.
"Iya... Mas," Jawab Mira singkat.
Mereka berdua pun makan siang dalam keheningan. Kebiasaannya jika sedang makan tidak ada percakapan apa pun.
Setelah beberapa saat, makan siang pun sudah selesai.
Mira merapikan sisa makanan yang telah mereka makan, lalu mengambilkan air minum untuk suaminya.
Setelah selesai dengan acara makan siang, Jack pun kembali ke ruangan nya, mereka semua akan ada meeting di jam dua siang termasuk juga mira.
__ADS_1
Bersambung