Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 67


__ADS_3

Pagi itu tiba dengan cerah membawa semburat cahaya mentari menyeruak melalui celah jendela yang terbuka, semilir angin berembus membelai pipi Mira yang masih memejamkan mata. Sementara Jack sudah bersiap ingin segera pergi ke kantor. Dia memakai stelan jas warna navi hari ini. Sambil merapikan pakaiannya, sesekali dia melirik wanita yang tampak masih enggan beranjak dari tempat tidur. Rasanya, istrinya itu malas sekali akan memulai aktifitas. Sungguh ini bukan sifat Mira yang seperti ini, padahal, ketika hamil Zay, dia tidak pernah seperti ini.


"Sayang... Hari ini kamu ada jadwal konsul lagi sama dokter Ryan. Kamu ingat, kan? Nanti sore Rico jemput kamu. Hari ini ada meeting penting jadi aku enggak bisa jemput kamu dulu, kita ketemu di rumah sakit saja, oke?"


Jack berbicara dengan panjang lebar, tetapi, yang di ajak bicara tidak menyahut. Akhirnya dia pun mendekat ke arah tempat tidur lalu melihat keadaan istrinya sambil menyibak selimutnya.


"Hai, Sayang....! Kamu dengar apa yang aku bilang tadi, kan?" Jack memastikan bahwa istrinya mendengar apa yang di katakannya tadi.


"Hmmmmz...!” Hanya itu jawaban Mira.


"Ya, sudah, aku berangkat dulu! Jangan lupa di minum vitaminnya!" Jack berpesan agar sang istri tidak lupa untuk meminum vitaminnya. Jack pun mencium kening sang istri lalu turun dari tempat tidur.


"Aku berangkat sekarang, jaga diri baik-baik." Ucap Jack sambil pergi berlalu meninggalkan Mira yang masih betah berada di bawah selimut.


Jack melangkah keluar kamar, menuju ruang tengah untuk memulai sarapan bersama di meja makan, dan  di sana dia melihat Zay yang sudah siap untuk berangkat sekolah. Anak itu terlihat manis dan tersenyum saat Jack mencium keningnya


"Sudah sarapannya?" Tanya Jack pada anak sambungnya itu.


"Sudah, Pa! Mamah mana?” Tanya Zay heran, melihat Jack hanya sendiri sebab, biasanya mereka keluar kamar selalu berdua dengan sanga mama.


"Hmm .... Mama, masih tidur!" Jawab Jack sambil tersenyum ke arah Zay, lalu, duduk di kursinya.


"Tidak bisanya, Mama masih tidur!" Zay pun merasa heran kenapa mamanya masih tidur, Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini.


"Lah, kenapa mukanya di tekuk seperti itu, jagoan?” Tanya sang ayah, sedangkan Zay justru beranjak pergi.


"Zay, berangkat sekolah sama siapa?” tanya anak itu sambil menatap dengan alis berkerut.


"Kan, Papa yang antar," Jawab Jack.


"Mama, sakit ya, pah?” tanya Zay.

__ADS_1


"Tidak, Mama hanya tidak enak badan. Kan, sebentar lagi Zay akan di panggil kakak, tau nggak itu artinya apa?"Ucap Jack sambil mengelus rambut sang anak. Sementara Zay hanya menggelengkan kepalanya.


“Artinya, kamu mau punya adik, sayang.”


"Oh ya....Yang benar pah?” Zay pun dengan senyum merekah dibibirnya. Anak kecil itu tampak sangat bahagia ketika akan menjadi seorang Kakak.


"Iya, masa Papa bohong?" Jawab Jack singkat.


"Apa kita sudah siap berangkat, Sekolah?" Tanya sang ayah lagi.


"Sudah! ayo, Pah!" Zay pun mengajak Papa sambungnya untuk segera pergi ke sekolah.


"Sebentar, panggil Bibi dulu" Ucap Sang ayah.


"Bi, Sini!" Jack pun memanggil Bibi.


"Iya, Tuan!” Bibi pun berlari dari arah dapur ke ruang tengah.


"Baik, Tuan" Jawab Bibi sambil mengangguk hormat terhadap sang majikan yang terlihat begitu mengkhawatirkan istrinya.


"Oh iya, BI, nanti kalau Zay pulang sekolah, Bibi nggak perlu jemput, biar Rico saja, ya Bi!" Ucap Jack terhadap sang Bibi.


"Iya, Tuan!" Sahut bibi sambil mengangguk hormat.


"Baiklah, Zay salim dulu sama Bibi, sana!" Perintah Jack terhadap sang anak. Meskipun, Bibi seorang pelayan di rumah ini tetapi, Mira dan Jack tidak pernah membedakan itu semua. Mereka mengajarkan Zay dengan baik, harus tetap menghormati yang lebih tua.


Zay pun mencium punggung tangan bibi, baru setelah itu akhirnya mereka pun pergi menuju halaman parkir dan menaiki mobil mereka.


Jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh, hanya saja jalan yang dilalui harus melewati pasar. Di mana aktivitas pasar sangat ramai ketika pagi hari. Pasar pagi hari ini tampak  kesibukan seperti biasanya Terlihat sangat ramai sekali sehingga mengakibatkan jalanan lumayan padat. Parkir kendaraan di lakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab menyimpan mobil di sembarang tempat, mungkin ini yang mengakibatkan jalan menjadi sempit. Sehingga laju kendaraan pun sangat lambat.


Dengan penuh kesabaran, Jack mengendarai mobilnya hingga akhirnya sampai juga di sekolah.

__ADS_1


Jack turun diikuti oleh Zay, lalu, mereka berdua melangkah bersama untuk masuk kelas, di mana seorang guru sudah menunggu kedatangan para peserta didiknya.


"Pagi bu,?" Sapa Jack terhadap seorang guru yang sedang berdiri di depan kelas.


"Pagi juga, Pak!” Jawab sang guru sangat Ramah.


"Ayo, Zay! Masuk kelas, teman-teman mu sudah menunggu," Ajak bu guru terhadap Zay.


"Baiklah, Sayang! Masuk dulu ya, Nanti pulang di jemput om Rico, oke?" Ucap Jack mempersilahkan anaknya untuk masuk ke kelas, sambil mengepalkan tinjunya ke atas guna memberi semangat.


"Iya." Zay pun mengangguk sambil menyalimi tangan sang ayah lalu, Zay pergi bersama bu guru menuju kelas.


Jack pun masih berdiri di depan sekolah dan melihat ke setiap penjuru sekolah, banyak anak yang baru saja datang, seperti dirinya. Ada yang di antar ibunya, Ayahnya dan Ada juga yang di antar para pengasuhnya. Suasana sekolah pagi ini sangat ramai, seketika ingatannya menerawang ke dua puluh delapan tahun lalu. Di mana dia pergi ke sekolah selalu di antar Merlin dan tidak akan meninggalkannya sebelum pulang. Rasa rindu itu terlalu besar sehingga bisa mengalahkan rasa kecewanya. Pria itu pun tersenyum sendiri di kala ingat waktu dia masih kecil. Di mana menjadi anak paling bahagia yang tidak kekurangan kasih sayang sedikit pun.


"Ko jadi rindu masa-masa itu ya?" Jack bergumam sendiri sambil menggelengkan kepala.


Jack pun segera pergi dari halaman sekolah lalu, menuju tempat parkir, di mana dia menyimpan mobilnya.


Tujuan utamanya yaitu kantor. Perjalanan yang di tempuh pun sangat jauh dari sekolah Zay, menuju ke sana sehingga membutuhkan waktu cukup lama. Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan keadaan Merlin apakah dia terlalu jahat dengan memperlakukan wanita itu begitu dingin.


Setelah sampai di kantor, Jack langsung bergegas pergi menuju ruangannya. Para karyawan pun menyambut hangat kedatangan sang pemilik perusahaan. Dengan langkah lebarnya terburu-buru untuk segera sampai di tempat itu, Namun, Tiba-tiba dia menabrak seorang wanita, membuatnya hampir terjatuh. Dengan refleks Jack menangkap tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.


"Maaf," Ucap Jack terhadap orang tersebut.


"Tidak apa-apa, Pak," Ucap wanita itu sambil menundukkan kepala.


“Kamu?”


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2