
Jack pergi meninggalkan Rico dan ferdy yang masih berada di tempat acara. Pria itu merasakan kepalanya sudah pusing dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya dengan berharap, setelah tidur, lalu, kembali terbangun maka semua masalah akan hilang. Dia berjalan cepat dan, tidak butuh waktu lama untuk sampai di kamar yang tempatinya bersama Mira. Saat tiba di sana dia mengetuk pintu tapi, tidak ada sahutan dari dalam. Cukup perlahan dia memegang gagang pintu lalu memutarnya, ternyata pintu tidak dikunci. Jack masuk lalu, matanya menyapu seluruh ruangan yang super luas, dan pandangannya tertuju ke atas tempat tidur. Dilihatnya sudah terbaring di sana, seorang wanita yang mempunyai tubuh mungil, dan sudah berganti pakaian dengan gaun tidurnya. Dengan sangat perlahan, dia melangkah mendekat ke tempat tidur, lalu, duduk di tepi ranjang sambil menatap lekat wajah sang istri. Dia menyapu wajah cantik sang istri dengan tatapan lembut, dan tanpa beban. Dilihatnya wanita itu sedang tertidur pulas, dia mengusap pipi sang istri dengan tangannya, lembut disertai rasa bersyukur bisa dipertemukan dengan Mira, wanita sederhana yang telah membawa sejuta kebahagiaan dalam hidupnya. Lagi-lagi Jack tersenyum kecil kala mengingat awal mereka bertemu.
Setelah pria itu puas menatap wajah sang istri, dia pun bangkit lalu, menuju ruang ganti. Sebelum tidur dia akan terlebih dahulu mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia merebahkan tubuhnya di Sisi kiri sang istri. Di peluknya tubuh kecil sang istri dari belakang. Pria itu tidak akan melepaskan pelukannya meskipun, hanya untuk sesaat. Terlalu berharga waktu jika terbuang sia-sia baginya.
Jack pun dengan perlahan mulai tertidur, napasnya mulai teratur pertanda sang pemilik raga sudah berada di alam bawah sadarnya.
Di Sisi lain, entah ada apa dengan Anita yang saat ini tidak bisa memejamkan matanya. Dia gelisah, tidak ada lain yang dirasakannya, tapi perasaan itu begitu menyiksa. Anita menyibak selimut yang menutupi tubuhnya lalu, turun dari tempat tidur, dia mengambil segelas air putih lalu meneguknya sambil duduk sampai habis. Entah apa penyebab dari semua yang di rasakan wanita itu sehingga tidak tenang berada di dalam kamar. Padahal kamar yang ditempatinya termasuk kamar yang super mewah. Di bandingkan kamar yang ada di rumahnya. Meskipun sangat luas, tetapi tidak seluas di tempat ini.
Anita ingin mencari angin segar di luar. Akan tetapi waktu sudah menunjukkan jam dua pagi. Dengan rasa tidak karuan, Anita pun pergi ke luar kamar dan berdiri di teras kamarnya, sambil menikmati udara malam yang sangat dingin. Dia melihat ke sekeliling, tidak jauh dari tempatnya berdiri ada seorang pria yang sedang mengudarakan asap tembakaunya. Anita menatap lekat orang itu, sambil memicingkan mata karena pencahayaan yg kurang di tempat pria itu berada. Anita tidak bisa melihat dengan jelas sehingga dia terus menatapnya dan secara kebetulan, orang itu pun melihat ke arahnya.
Meskipun tidak terlalu jelas wajah orang itu, tapi Anita sudah yakin bahwa dia adalah Rico. Tiba-tiba dia dengan gerakan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Anita? Sedang apa di luar malam-malam seperti ini?” tanya Rico dengan pelan dari tempatnya berada dan tentu saja ucapan itu pun tidak bisa di dengar oleh Anita.
Rico pun berjalan ke arah Anita, berharap dis bisa mengobrol dengan wanita itu sekarang juga. Mengingat dirinya pun tidak bisa memejamkan mata, maka Rico keluar kamar juga, siapa yang menduga bila gadis itu pun merasakan hal yang sama.
Rico sudah berdiri di samping Anita. Pria itu pun berdekhem agar perempuan itu mengetahui keberadaanya. Itu berhasil, Anita pun menoleh ke arah sumber suara sambil tersenyum tipis.
"Belum tidur?” Tanya Rico terhadap Anita.
"Belum," Jawab Anita singkat.
__ADS_1
"Kenapa, Ini kan sudah jam dua pagi?” Tanya Rico terhadap Anita.
"Belum ngantuk ....” Ucap Anita sambil melihat Rico tepat pada bola mata hitamnya.
"Apa tidak kami suka tempatnya, atau ada yang mengganggu Pikiranmu?" Tanya Rico lagi.
"Tidak ada, hanya ... Aki gelisah saja! Entah kenapa sebelumnya tidak pernah merasakan seperti ini" Anita menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya.
"Ya, sudah, kita ngobrol di bangku sana, gimana?” Rico mengajak Anita untuk duduk di sebuah bangku taman yang kebetulan mengarah ke laut. “Jika duduk di bangku itu, Pandangan kita langsung tertuju ke laut. Suara ombak pun terdengar jelas di telinga.”
Rico pun berjalan terlebih dahulu di ikuti Anita dari belakang, lalu, pria itu mempersilahkan Anita untuk duduk dan
Mereka berdua duduk bersebelahan, sehingga keduanya bisa leluasa menatap ke arah laut. Entah apa yang ada di pikiran keduanya.
Hanya itu yang terjadi pada saat ini, belum ada yang mau membuka percakapan untuk memecahkan kesunyian yang tercipta di antara mereka. Lalu, pada akhirnya Rico memulai berbicara menepis rasa sungkannya.
"Kamu ... suka pantai?” Tanya Rico sambil melirik dengan ekor matanya ke arah Anita.
"Suka, sangat suka!” jawab Anita sambil tersenyum tetapi pandangannya tetap mengarah ke depannya. Sebagai wanita yang menyukai pantai, tentu dia akan sangat menikmati suara deburan ombak. Suara ombak yang saling bersahutan, mirip sebuah lagu kehidupan, tidak pernah berhenti untuk saling mengejar impian, tidak pernah berhenti untuk satu tujuan.
"Kenapa sangat suka laut?” Tanya Rico kembali, dia seperti ingin mengetahui lebih jauh apa yang di suka atau yang tidak disukai wanita ini.
__ADS_1
"Karena aku, belajar dari batu karang di tepi pantai yang tetap kukuh dan tegar, meski, selalu di hantam kerasnya deburan ombak di lautan. Makanya aku sangat suka, Setidaknya, bisa belajar soal kerasnya hidup manusia yaitu dari laut." Anita menjelaskan panjang lebar tentang alasannya mengapa, dirinya sangat suka laut, selain membawa ketenangan, laut juga bisa menjadi motivasi diri untuk tidak menyerah.
"Kalau kamu, suka apa?” Anita balik bertanya.
"Kalau aku ... Suka kamu! Bagai mana?” Rico berkata sambil tersenyum tipis ke arah Anita. Namun, Perkataan Rico sontak membuat Anita membulatkan matanya, dengan wajah bersemu merah. Jika saja waktu saat ini siang hari, pasti rona merah itu sudah terlihat jelas. Karena sekarang malam hari, sehingga tidak terlalu terlihat. Tiba-tiba detak jantung gadis manis itu pun semakin cepat. Dia salah tingkah, hingga terlihat begitu gugup sampai meremas kedua tangannya. Terkadang, dia menggosokkan kedua tangannya seperti orang kedinginan. Apa yang dilakukan Anita itu tidak lepas dari perhatian Rico hingga pria itu tersenyum melihat tingkah lucu Anita.
"Kenapa ... dingin, ya?” Tanya Rico.
"Tidak," jawab Anita sambil menggelengkan kepala, meskipun, dia merasa dingin itu sangat wajar, karena waktu sudah pagi dan udara tentu saja sangat dingin.
Kebetulan Anita hanya mengenakan kaos oblong pendek warna Putih dan celana selutut, menambah rasa dingin yang menusuk di kulit. Rico membuka Jaket yang digunakannya, lalu menutupi tubuh wanita itu dengan benda itu.
"Pake ini!” Ucap Rico sambil memasangkan Jacket ke belakang tubuh Anita. Sebenarnya yang dilakukan Rico hanyalah bersifat perhatian, ya, perhatian sekecil ini sudah membuat Anita kehilangan akal sehatnya.
"Terima kasih,” ucap Anita dengan senyum terbaiknya.
Sementara Rico, hanya melihat senyum Anita saja, dia sudah merasa seperti menang undian. Pria itu sudah sejak lama ada rasa terhadap Anita. Akan tetapi dia tidak berani mengungkapkan rasa yang ada di hatinya. Laki-laki itu takut jika Anita menolaknya, dengan alasan bahwa dirinya tidak se tampan Jack dan juga Ferdy, bahkan dari segi kekayaan pun jauh di bawah mereka.
Rico bisa menghasilkan uang yang banyak pun itu karena bisa bekerja dengan Jack. Meskipun hanya menjadi seorang kepercayaannya, tetapi dia sudah mempunyai tabungan yang cukup, untuk kehidupannya di masa yang akan datang. Sebab Rico berasal dari keluarga yang sederhana.
__ADS_1
Bersambung