Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 133


__ADS_3

Braakk!


Tiba-tiba suara benturan keras terdengar begitu memekakkan.


Saat itu, Rico tidak bisa mengendalikan kendaraan yang mereka tumpangi. Bahkan, secara sadar, dia masih sempat membanting setir ke arah kanan, sebelum akhirnya berhenti di sisi sebuah tebing. Dia melakukan itu, untuk menghindari truk yang kemungkinan mengalami tem blong di depannya. Sebab kalau tidak, mungkin dua pria gagah itulah yang mengalami nasib seperti truck yang tadi hampir menabrak mereka.


Namun, naas truk yang tadi hampir menabrak itu, kini terjungkal ke jurang yang cukup dalam. Entah bagaimana keadaan pengemudinya sekarang, apakah baik-baik saja atau sebaliknya.


Sesaat mereka belum bisa berbuat apa-apa, karena belum juga ada kendaraan lain yang melintas ke arah jalan yang mereka lewati saat kecelakaan itu terjadi. Bahkan sampai kini, keadaan Rico dan Jack pun belum ada ditahui. Ujung mobil keluaran terbaru itu menabrak sisi tebing dengan keadaan yang cukup parah.


Sudah cukup lama akhirnya ada juga kendaraan yang melintas ke arah itu hingga Jack dan Rico pun mendapatkan bantuan berkat orang-orang yang kebetulan melintas juga di jalan yang sama. Termasuk juga sopir truk yang kecelakaan bersama mereka.


Kejadian itu cukup menyita perhatian hingga setiap kendaraan yang melintas pun memberi pertolongan. Meskipun demikian, mengevakuasi korban kecelakaan menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Beberapa saat setelah evakuasi berakhir, Jack, Rico dan sopir truk, di bawa oleh ambulans, yang kebetulan juga tengah melintas setelah kembali mengantarkan pasien ke rumah dan hendak menuju rumah sakit. Tentu saja semua orang yang kebetulan menemukan mereka pada kecelakaan itu meminta bantuan pada sopir ambulans, untuk membawa mereka ke Rumah sakit terdekat.


Berhubung kawasan itu adalah daerah terpencil, maka, perjalanan dari lokasi kejadian menuju rumah sakit, menyita waktu yang cukup lama.


 


Setelah sampai di rumah sakit ketiga korban kecelakaan yaitu Jack, Rico dan sopir truk, langsung ditangani oleh pihak medis yang selalu siaga.


Namun, ketiga orang itu belum ada yang mengenalinya.


Sementara Jack dan Rico mendapatkan perawatan, di sisi lain Mira sedang gelisah entah disebabkan oleh sesuatu yang tidak jelas. Setelah kepergian suaminya, dia merasa ada sesuatu yang akan terjadi dengan sirinya.


 Sebenarnya dalam hati kecil Mira tidak mengizinkan suaminya untuk pergi, tetapi, karena ini soal perusahaan yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya dengan berat hati dia mengizinkannya juga.


Mira tahu daerah yang menjadi tujuan Jack itu merupakan daerah rawan kecelakaan, jalan yang terjal, banyak tikungan tajam yang kiri kanannya jurang.


Mira menarik nafas lalu mengembuskannya perlahan, dia berusaha untuk menetralkan perasaan, karena dia rasa itu hanya sebuah kekhawatiran yang berlebihan.


Sementara Mira sedang mondar-mandir, dia terdengar suara pintu di ketuk, lalu, dia langsung menuju ke arah pintu untuk membukanya.


Terlihat seorang wanita yang sudah tidak lagi muda, tetapi, masih terlihat cantik. Dia itu ibu mertua Mira, Bu merlin datang dengan membawa sebuah paper bag di tangannya. Entah apa itu isinya.


Mira menyambut kedatangan mertuanya itu dengan penuh senyuman.


"Kok, wajahmu seperti sedang tegang begitu? Kenapa?” Tanya Bu Merlin terhadap sang menantu.


"Tidak ko, Ma...! Masuk dulu, yuk!" Mira mengajak Mertuanya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Merlin pun mengikuti ajakan mira, lalu, mereka berdua duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu.


"Ma... Mau minum apa?” Tanya Mira terhadap sang mertua.

__ADS_1


"Nggak usah repot-repot lah, nanti juga Mama nyari sendiri.” Jawab Merlin sambil tersenyum ke arah menantunya itu.


"Ya masa ... Mama harus bikin minum sendiri, kan, ada Mira sama Bi Minah, kalau butuh apa-apa bilang aja ya, Ma ...!"Kata Mira.


"Iya,” Jawab Bu Merlin sambil menatap lekat wajah Mira.


"Tunggu sebentar ya, Ma... ?" Ucap Mira sambil berdiri.


Merlin hanya mengangguk pelan, sementara Mira langsung melangkah perlahan menuju ke dapur, untuk membuatkan minuman bagi ibu mertuanya.


Setelah beberapa saat Mira pun sudah kembali dengan membawa cangkir berisi air minum, dan,  diletakannya di atas meja. Mira juga tidak lupa membawa camilan untuk dinikmati bersama.


"Ma... Minum dulu." Mira mempersilakan Bu Meelin untuk minum.


Bu Merlin pun mengambil cangkir itu, dia sangat menyukai teh buatan Mira, yang menurutnya, mempunyai rasa yang sangat nikmat.


"Terimakasih ya ... enak loh, tehnya," Kata bu Merlin.


"Ma, Mira telepon Jack dulu yah, ini soalnya udah dari pagi belum ngasih kabar, seharusnya ini sudah sampai di sana." Ucap Mira sambil menatap ke arah ibu mertua.


"Mungkin di sana tidak ada jaringan, jadi, Jack belum bisa ngasih kabar," Kata bu Merlin sambil berusaha untuk menenangkan Mira.


"Semoga Ya, Ma... tidak terjadi apa-apa, soalnya, perasaanku nggak enak banget dari tadi pagi," Kata Mira sambil pandangan lurus ke depan.


"Iya, Ma... " Jawabnya.


Setelah beberapa saat Mira dan Ibu mertuanya terdiam sejenak, dia teringat akan Ferdy siapa tahu, sahabat Jack itu sudah mengetahui kabar dari kedua sahabatnya.


"Ma, aku ambil handphone dulu ya, ke kamar mau telepon Ferdy atau Anita, siapa tahu mereka sudah ada kabar soal, Jack," Ucap Mira, dan bu Merlin pun mengangguk pelan pertanda dia setuju atas ucapan menantunya.


Setelah beberapa saat Mira telah kembali dengan membawa handphone di tangan nya. Dia duduk kembali di samping ibu mertua lalu mengusap layar ponsel dan menghubungi suaminya terlebih dahulu, tapi, tetap masih belum bisa terhubung.


Dia mencoba menelpon Ferdy, kali ini Panggilan pun sudah tersambung tetapi, tidak ada jawaban. Lalu Mira, mencari kontak Anita dia berusaha untuk menghubunginya tetapi, sama saja tidak ada jawaban.


"Ma... nggak ada jawaban dari semuanya, gimana ya Ma?" Kata Mira.


"Mungkin mereka lagi sibuk, jadi tidak bisa menjawabnya, sudah, kamu tenang saja," Kata Bu Merlin berusaha untuk menenangkannya.


Mira terdiam sejenak, berusaha menetralkan perasaannya kembali, dia berpikir positif bahwa, suaminya tidak mengalami kejadian apa pun.


Tiba-tiba Mira di kagetkan dengan panggilan telepon, setelah dia lihat itu nomor dari luar daerah. Bukan dari kantor, yang dia pikir Anita yang menghubunginya dengan telepon kantor, ternyata itu bukan.


Dia mengusap layar ponselnya, lalu mulai melakukan percakapan.

__ADS_1


"Hallo dengan siapa? ada yang bisa di bantu?” Kata Mira terhadap sang penelepon itu.


"Halo, apa Ibu kenal dengan saudara yang bernama Jack Maholtra, sekarang dia berada di rumah sakit. mengalami kecelakaan, kami hanya memberikan informasi—" Kata sang penelepon tersebut.


Seketika dunia Mira serasa berhenti berputar, tiba-tiba dia teringat akan kejadian beberapa tahun lalu saat Jul mengalami kecelakaan. Terekam kembali di ingatannya. Ponsel yang di pegang Mira pun langsung jatuh.


Merlin segera mendekat ke arah Mira lalu, menguncangkan tubuh menantunya, dia bertanya ada apa yang terjadi. Namun, justru Mira menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong dan pipinya penuh dengan air mata.


Sungguh Bu Merlin bingung harus berkata apa sebab Mira di tanya pun tidak menjawabnya.


Setelah beberapa saat Merlin memberikan waktu agar Mira sedikit tenang, akhirnya Mira pun berkata.


"Jack, Ma... dia sekarang ada di rumah sakit, mengalami kecelakaan!" Ucap Mira sambil terbata-bata, sungguh dia tidak bisa berpikir jernih karena panik.


Merlin pun seketika merasa lemas seolah tubuhnya tidak ada tulangnya.


"Ma... Sekarang kita, harus ke sana, Ma! Tapi sama siapa?"  Tanya Mira sambil menangis.


"Tunggu, Mama hubungi Ferdy dulu biar kita ke sana sama dia!" Kata Bu Merlin.


Wanita itu pun menghubungi Ferdy, dan setelah itu panggilan pun terhubung dan Ferdy menjawab kalau dia akan segera datang menjemput Mira dan ibu mertuanya itu untuk menuju rumah sakit di mana Jack dan Rico berada.


Setelah menuju cukup lama akhirnya Ferdy datang bersama Anita.


Mira sudah siap untuk berangkat menyusul suaminya. Mereka semua sudah berada di dalam kendaraan yang akan mengantarkan ke tempat tujuan.


Tentu saja mereka harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Selama itu pula Mira tidak henti meneteskan air matanya. Ibu mertua yang berada di sampingnya pun terus menenangkan bahwa, Jack akan baik-baik saja.


Setelah cukup lama, mereka di perjalanan akhirnya sampai juga di sebuah rumah sakit yang menjadi tujuan mereka di mana Jack dan Rico berada.


Dengan gerakan cepat Mira keluar dari mobil, bahkan sedikit berlari tanpa memikirkan kondisinya sendiri. Dia segera menuju resepsionis untuk segera bertanya di mana suaminya berada.


Setelah sampai di dalam, Mira langsung bertanya.


"Mbak, di mana pasien kecelakaan tadi siang, saya istrinya!" Ucap Mira dengan wajah sangat panik.


"Owh pasien itu ya ... dia sudah di pindah ke kamar jenazah, soalnya menunggu keluarganya belum datang juga!" Jawab orang tersebut tanpa rasa bersalah.


Mira merasakan seolah dunia yang dipijaknya runtuh, seketika dia ambruk di lantai. Kaki wanita itu seakan tidak sanggup lagi menopang bobot tubuhnya sendiri.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2