
Waktu sudah menunjukkan angka pukul sebelas siang. Matahari pun sudah tinggi, rasa panas yang muncul darinya pun sudah menyengat di kulit, bagi yang beraktivitas di luar ruangan. Lain halnya dengan Mira, dia masih asyik berada di bawah selimut. Enggan rasanya untuk bangun. Suasana sepi di rumah pun menjadikan dia lebih nyaman, Bibi pun sibuk dengan aktivitasnya. Membersihkan setiap sudut ruangan rumah, semua benda yang ada di rumah sudah Bibi bersihkan sehingga terlihat lebih mengkilap.
"Kok, Non Mira belum keluar kamar ya, tidak biasanya dia seperti ini. Apa dia baik-baik saja? Apa samperin aja ke kamarnya yah ... Takut juga terjadi sesuatu,” gumam Bibi pada diri sendiri.
Wanita paruh baya itu pun dengan langkah perlahan menuju kamar Mira, Pintu pun di ketuknya tapi, tidak ada jawaban dari dalam sana. Akhirnya Bibi pun masuk tanpa persetujuan dari sang pemilik kamar. Sarapan yang tadi diantarkan ke kamar pun masih tetap utuh, Nona muda itu sama sekali belum menyentuhnya.
"Non, Apa Nona baik-baik saja?” Tanya Bibi dengan raut wajah khawatir.
Mira menggeliat sambil mengerjapkan mata, perlahan mengumpulkan kesadarannya lalu, menjawab pertanyaan Bibi dengan suara khas bangun tidur.
"Iya, Bi! Ada apa?” Mira malah balik bertanya pada wanita yang kini berdiri di samping tempat tidurnya.
"Ini sudah jam sebelas siang loh, Non! Itu sarapan juga Belum di makan. Apa Nona tidak enak badan?” Tanya bibi lagi.
Mira bangkit dengan malas dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, Sambil mengumpulkan sisa tenaga yang di milikinya. Meskipun hanya tidur, tapi jika terlalu lama pasti akibatnya menjadi lemas di sekujur badan.
"Belum laper! "Jawab Mira dengan sura lesu.
"Apa mau Bibi buatkan yang baru lagi, atau mau makan apa gitu, Non?" Bibi menawarkan makanan lain yang di inginkan Mira. Namun, wanita itu menggeleng lalu, berkata,
"Bi, Suami saya sudah lama ya, ke kantornya?"
"Ya, Non. Dari jam tujuh pagi, sambil nganterin Zay ke sekolah," Tutur Bibi.
"Eh, Bi! Kenapa belum jemput Zay?” Tanya Mira mulai terlihat kuatir.
"Kata tuan, niar pak Rico yang menjemputnya,” Ucap Bibi.
"Oh. Ya, sudah Bi. Terima kasih banyak ya," Ujar Mira sambil menyibak selimut yang masih menutup tubuh bagian bawahnya.
"Sama-sama, Non! Saya permisi dulu. Oh, Iya kata Tuan jangan lupa di minum vitaminnya" Bibi menyampaikan pesan majikannya untuk sang istri tercinta.
"Iya, Nanti! Saya mandi Dulu," Mira pun berkata sambil melangkah ke arah kamar mandi, Dia ingin segera membersihkan tubuh nya yang rasanya sudah lengket.
"Saya permisi, Non." Bibi pun pergi keluar dari kamar
Setelah beberapa saat Mira berada di kamar mandi, akhirnya perempuan itu keluar, dan segera berganti pakaian. Setelah semuanya selesai, Dia duduk sejenak di depan meja rias, matanya pun melihat ke arah nampan yang berisikan piring makanan. Namun, Tidak sedikit pun berselera untuk menyentuh makanan tersebut.
"Pasti rasanya tidak enak, Ko melihat nya saja sudah mual sih" Mira pun berbicara sendiri.
"Sepertinya enak jika makan nasi goreng, petai, ikan asin, teri, tapi, yang membuat nya jack." Mira pun senyum senyum sendiri membayangkan makan itu, Rasanya pasti enak dalam benak nya.
__ADS_1
Entah dorongan dari mana, Mira pun mengambil ponselnya untuk menghubungi sang suami. Panggilan pertama tersambung tetapi tidak ada jawaban. Mira pun tidak menyerah lalu di panggil ulang. Akhirnya panggilan kedua pun di jawab.
"Hallo ..." Jawab sang suami di seberang sana.
"Mas, Kamu bisa pulang sekarang, yah!" Pinta Mira terhadap sang suami.
"Kan aku lagi kerja, Sayang... Sebentar lagi ada tamu penting," Ucap Jack
"Pokoknya kamu harus pulang." Mira dengan tegas mengucapkan itu.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Sang suami.
"Aku baik-baik saja, tapi ini anakmu yang tidak baik," Ucap Mira.
"Maksudnya, apa perutnya terasa sakit atau apa?" Tanya Jack dengan penuh kekhawatiran.
"Tidak sakit, Tapi, anakmu ini minta makan Nasi goreng pete ikan asin teri, Kamu yang membuatnya!" Mira pun menjelaskan tujuannya terhadap sang suami.
"Astaga, Sayang....! Mana bisa aku membuat yang begituan! Selama ini aku hanya bisa masak air dan indomie!"
"Ya,kan, nanti kamu masak sambil lihat youtube," Sarkas Mira.
"Aku enggak bisa, Sayang...!" Jack pun mempertegas ucapannya.
"Pokonya, kamu harus pulang titik. Jika tidak aku tidak akan makan dan anakmu ini kelaparan!" Ancam Mira.
Jack pun menggaruk kepala yang tidak gatal, penting itu yang sedang di rasakannya saat ini. Di satu sisi dia harus bekerja, di sisi lain, ada istri yang sangat dicintainya, tengah merajuk.
"Ya sudah, aku pulang sekarang!" cap Jack sambil memutuskan sambungan teleponnya.
Mira pun dengan penuh semangat keluar kamar sambil senyum-senyum sendiri.
"Eh iya, lupa, kan, bahan-bahannya tidak ada," Gumam Mira.
Mira pun kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, lalu menghubungi suaminya lagi. Telepon pun langsung tersambung, terdengar suara dari seberang sana.
"Iya, Sayang ...!" Aku pulang sekarang baru nyampe perkiraan ini," Jawab Jack.
"Ih, bukan itu. Bahan-bahan untuk memasaknya tidak ada. Jadi, Mas, harus mampir dulu ke pasar. Membeli semua bahannya, ya?” ucap Mira.
"Astaga, kenapa tidak menyuruh Bibi saja ke pasar? Nanti aku nyampe, dah siap semua bahannya."
__ADS_1
"Bibi lagi sibuk, Tidak bisa pergi ke mana-mana!" Bohong Mira.
"Ya, sudah, matikan teleponnya, aku lagi nyetir sekarang ini," Ujar Jack.
"Iya, Hati-hati. Mas!" Ucap mira langsung memutus sambungan teleponnya.
Setelah menunggu dalam waktu yang lumayan lama, akhirnya sang suami datang juga dengan menenteng beberapa kantong belanjaan di tangannya. Terlihat wajah sang suami yang kurang bersahabat. Namun, tetap memberikan senyum terbaiknya.
"Mas, Cepat juga nyampenya!" Mira menyambut kedatangan sang suami sambil tersenyum lebar.
"Iya, jalan juga tidak terlalu macet jam segini,” Jawab Jack sambil meletakkan semua belanjaan di atas meja.
Jack duduk di kursi yang ada di dapur sambil mengatur napasnya.
"Coba lihat, benar tidak itu semua?” Jack mempersiapkan Mira untuk mengecek barang belanjaannya.
Mira pun melihat satu persatu bahan yang akan di gunakan untuk memasak.
"Mas, kenapa beli petenya yang seperti ini?” Ucap Mira protes.
"Iya, itu kan yang namanya pete? Emangnya salah, ya?" Jawab Jack tidak semangat.
"Seharusnya, Mas ... Beli yang sudah di kupas, Ini mah mesti ngupas lagi," Sarkas Mira
"Ya, tinggal kupas aja, Sayang ... Apa susahnya?"
"Jadi lama matengnya, kalau seperti ini. Kapan makannya kita?” Ucap Mira.
Sebentar aku buka Youtube dulu mau lihat cara membuatnya.” Jack pun mengeluarkan ponsel dari sakunya langsung memulai pencarian.
Setelah beberapa saat sudah di temukan apa yang dicarinya.
Jack mulai memasak sambil melihat ke arah layar ponsel. Meskipun, ini untuk pertama kali dia melakukan hal ini. Namun, dia bukan anak kecil yang tidak tahu menahu tentang bumbu dapur.
Sang tuan putri hamil, terus melihat sang suami yang sedang memasak. Aroma dari masakan pun tercium melalui Indra penciumannya, hal itu membuat Mira sudah tidak sabar untuk segera menikmatinya. Jack dengan sigap menghidangkan masakannya yang sudah matang di atas meja makan. Mira dengan penuh semangat menyambutnya dan Jack dengan senyum merekah menyajikan nasi goreng permintaan istrinya.
"Ini sudah siap Nyonya Jack. Nasi gorengnya!” Jack menyerahkan nasi goreng ke hadapan Mira.
Satu sendok nasi goreng sudah berhasil masuk ke mulut Mira.
"Mas ....”
__ADS_1
Bersambung