
Mira telah berada di samping sang Mama, dia tidak kuasa untuk menahan tangis di saat sudah melihat dengan langsung keadaan Mamanya.
"Ma....! " hanya kata ini yang bisa terucap dari bibir nya sambil bergetar.
Tidak ada respon apapun dari sang Mama, dia melihat ke arah monitor yang merekam aktivitas jantung sang Mama hanya terlihat seperti gelombang. Bahkan dia sendiri pun tidak tahu itu artinya apa, Mira terus menatap layar itu dan sesekali melihat ke arah wajah sang Mama.
Belum juga dia rasakan seutuhnya kebahagiaan bersama sang Mama.
Mira menggenggam kuat tangan Sang Mama, dia mengajak nya bicara meskipun sang Mama tidak bisa menjawab sepertinya mendengar semua apa yang di ucapkan anaknya.
Terlihat dari ujung mata nya mengalir air mata, Mira yang melihat itu langsung mengusap nya dengan ibu jarinya.
Sesak di dada hanya itu yang di rasakan Mira, saat ini dia tidak ingin apapun di dalam hati terus berdoa hanya untuk kesembuhan sang Mama. Dia berjanji dalam hati bahwa setelah Mamanya sembuh, tidak akan pernah jauh darinya lagi, bahkan Mira akan membawa sang Mama ke kota di mana dia tinggal.
Agar setiap saat bisa mengunjunginya dan bisa memantau kesehatan sang Mama, jika sudah seperti ini hanya penyesalan yang ada .
Kenapa dia nggak langsung menerima sang Mama saat mengetahui dia anaknya, kenapa pada saat itu dia sulit sekali menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan.
Mira tidak sedikit pun beranjak dari sisi pembaringan sang Mama, dia, merasa takut jika dia tinggal kan maka. Sang Mama akan pergi saat dirinya tidak ada, saat ini Mira tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Jack yang berada di luar ruangan merasakan khawatir akan keadaan istrinya, sebab Mira juga butuh istirahat dan tidak boleh stres itu juga bisa membuat dirinya bahaya.Tetapi, Jack juga bingung harus bagaimana.
Setelah beberapa saat Jack meminta masuk ke ruangan sang Mertua akhirnya, di perbolehkan juga untuk memasuki ruangan.
Jack melihat istrinya yang terus menggenggam tangan sang Mama, dia juga ikut merasakan apa yang sedang di rasakan sang istri.
__ADS_1
Jack terus mendekat ke arah istrinya yang tengah duduk, dan pandangan nya tidak lepas dari wajah sang Mama.
"Mama akan baik-baik saja" ucap Jack sambil mengelus bahu sang istri.
Mira pun tidak menjawab apapun, dia hanya melirik sekilas terhadap sang suami yang berdiri di samping nya sambil terus mengelus bahunya. Dia memberi kekuatan terhadap sang istri lewat sentuhan itu.
Setelah beberapa saat waktu pun bergulir begitu cepat, hari telah berganti dengan malam, lamu-lampu pun sudah mulai menyala hal itu menambah suasana gemerlap malam menjadi indah Tetapi bagi mira semua lampu yang menyala tidak mampu membuat dunianya saat ini terang.
Dari pertama datang Mira tidak mau beranjak dari sisi sang Mama, dan dia juga tidak makan atau pun minum.Jack sangat khawatir jika Mira terus seperti ini nanti dia juga akan jatuh sakit.
"Sayang kamu juga butuh istirahat, bagaimana nanti kalau kamu sakit? Zay juga pasti sedih dan anak yang kamu kandung pun butuh gizi! kamu juga perlu makan" ucap Jack berusaha untuk memberi pemahaman terhadap sang istri. Tetapi, Mira hanya menggelengkan kepala dia belum mampu untuk meningkatkan sang Mama walau hanya sekejap.
Jack harus memutar otak agar istrinya bisa istirahat tanpa harus keluar dari ruangan sang Mama, akhirnya dia keluar sebentar dia mempunyai ide.
Bahasa dirinya punya kekuasaan di dunia bisnis, bahkan bisa saja dia membeli rumah sakit ini pada saat ini juga jika tujuan nya di persulit.
*
*
*
Flashback On
Malam itu Juna datang ke rumah Bu Dellia dengan membawa beberapa bukti ,yang telah di minta nya soal kasus kecelakaan yang menimpa putrinya beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Meskipun dia sudah berusaha untuk mengikhlaskan nya tetapi itu tidak bisa, dia selalu di hantui bayang-bayang Karina, dan karina juga sering datang ke mimpinya agar menjaga saudari kembarnya dari orang-orang yang akan mencelakai nya. Dari situ Bu Dellia berniat membuka kembali kasus kecelakaan yang menimpa putrinya.
Juna duduk di sofa yang berhadapan dengan Bu Dellia, dia menyerah kan semua bukti yang telah di kumpul kan beberapa bulan terakhir ini. Dengan usaha dan kerja keras akhirnya Juna pun berhasil mengumpulkan semua bukti sedetail mungkin.
Bu Dellia, pun mengambil map coklat yang berisi kan semua bukti-bukti yang di kumpulkan nya, Bu Dellia mengambil map itu lalu membuka nya dengan perlahan dan meneliti satu demi satu dari bukti yang ada.
Dia awal nya terlihat biasa saja tetapi setelah melihat bukti yang terakhir dia kaget.
"Apa ini maksudnya Jun....? " tanya Bu Dellia.
"Itu semua benar Bu... " jawab Juna.
"Tidak, ini tidak mungkin! kalau seperti ini berarti keselamatan Mira juga terancam, ini tidak bisa di biarkan saya harus memberi tahu anak saya dan saya tidak mau kehilangan anak yang kedua kalinya" kata Bu Dellia dia tidak percaya dengan bukti yang di berikan Juna.
"Tentang dulu Bu... kita harus lebih hati-hati biar mereka juga lengah agar tidak membaca pergerakan kita" ucap Juna terhadap Bu Dellia, jika Bu Dellia ceroboh bisa saja menghancurkan rencana nya yang telah di susun sangat rapih.
"Mana bisa tenang! anak saya meninggal itu semua karena mereka dan sekarang Mira pun sudah pasti dalam bahaya" kata Bu Deliia, dia sambil bangkit dari duduk nya. Dia niat nya akan mengambil ponsel nya yang di simpan di atas nakas, baru juga dia akan melangkah entah apa yang terjadi dengan dirinya. Bu Dellia tiba-tiba terjatuh dan bagian kepala belakang nya terbentur sisi meja yang ada di ruangan itu.
Setelah melihat itu semua Juna reflek langsung bangun lalu sedikit berlari ke arah di mana Bu Dellia terjatuh.
Bu Dellia pun sudah tidak sadarkan diiri,dengan gerakan cepat dia langsung membopong Bu Dellia menuju rumah sakit di bantu beberapa pelayanan yang ada di sanah.
Perjalanan baru rumah Bu Dellia ke rumah sakit pun tidak terlalu jauh, tidak menghabiskan waktu lama di perjalanan akhirnya mereka pun sampai di Rumah sakit yang di tuju.
Bu Dellia pun langsung mendapatkan perawatan oleh pihak medis.
__ADS_1
Flashback Off
Bu Dellia sudah di pindah ke ruang perawatan yang sudah di siapkan sang menantu, dan juga mira bisa beristirahat dengan nyaman tanpa harus meninggalkan sang Mama.