Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 87


__ADS_3

"Kalau jalan, tuh, pake mata!" Bentak orang tersebut sambil menepuk-nepuk pelan pakaiannya seolah-olah ada sesuatu yang kotor menempel di sana.


"Iya Pak maaf, Saya buru-buru,” ucap Siti.


" Lain kali hati-hati, "Ucap orang tersebut.


" Maaf... Pak saya tidak sengaja "Ucap siti sambil menunduk, Dia merasa bersalah terhadap orang yang ada di hadapan nya.


Sebetulnya tidak harus marah hanya hal sepele seperti itu padahal dia di kenal atasan yang paling ramah terhadap karyawan nya. Entah apa yang terjadi dengan hari ini dia menjadi seperti itu.


Suara keributan pun terdengar oleh Jack, Dia segera mendekat ke arah Ferdy dan Siti.


" Ada apa ini? Tanya Jack sambil menatap kedua manusia yang ada di hadapan nya


"Dia tuh... Jalan nya enggak pake mata" Ucap Ferdy kesal.


"Saya sudah minta maaf, Pak! " Ucap situ dengan nada gemeteran, Dia takut akan di pecat atau dapat masalah. Secara dia hanya pegawai baru sudah pasti di pecat jika melakukan kesalahan.


"Sudah, Silakan kamu kembali bekerja" Jack mempersilahkan Siti untuk kembali bekerja.


"Kamu, Kenapa marah-marah tidak jelas? Tanya Jack terhadap sahabatnya itu.


" Habis nya dia itu ceroboh jalan tidak liat-liat"Kata Ferdy masih dengan wajah kesalnya.


"Memangnya ada yang terluka? " Tanya Jack ulang sambil melihat ke atas dan bawah tubuh Ferdy.


"Ya... Tidak" Jawab Ferdy singkat.


"Lalu... Alasan nya di mana? " Tanya Jack lagi.


"Sudah lah.. gua balik ke ruangan dulu" Ucap Jack sambil berjalan perlahan meninggalkan Ferdy yang masih berdiri.

__ADS_1


Setelah Jack tidak terlihat Ferdy pun melangkah kan kakinya menuju di mana ruangan nya, Tidak terlalu jauh.Di bagian lantai atas itu khusus ruangan para orang-orang penting perusahaan.


Sampai di ruangan yang sangat luas. Meskipun di ruangan kerja rasanya sangat nyaman. Ferdy menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesaran nya sambil menyandarkan tubuhnya, Lalu membuka laptop ingin memulai pekerjaan nya.


Entah apa yang terjadi dengan dirinya, Sehingga tidak bisa berfikir dengan baik. Dia tutup kembali laptop itu lalu mengambil secangkir kopi yang telah tersedia di ruangan nya, Dia membawa cangkir kopi tersebut ke dekat jendela yang ada di ruangan nya. Sesekali dia meminumnya sambil melihat pemandangan kota dari atas gedung, Sungguh sangat indah untuk di pandang, Tetapi ketika di lihat Ferdy itu semua rasanya menjadi runyam.


Semua yang ada di hadapan nya seolah tidak membuat nya menyukai apa yang ada, Sangat menyebalkan di matanya.


Ferdy berjalan ke arah mejanya lalu meletakkan kembali cangkir kopi, Lalu duduk kembali dan membuka laptop kembali Tetapi masih juga tidak bisa untuk berfikir Ferdy kembali menutup nya dengan keras lalu berdiri dan keluar dari ruangan.


Dengan berjalan cepat dia menuju lif untuk turun ke lantai bawah, Entah mau pergi ke mana yang jelas di kantor membuat dirinya tidak bisa berfikir dengan baik.


Pas di depan lif bertemu dengan Anita dan Rico, Mereka baru datang. Sebab ada hal di luar kantor yang mesti mereka selesaikan terlebih dahulu.


Ferdy menatap mereka berdua dengan tatapan penuh amarah, Mengapa bisa semarah ini melihat mereka berduaan padahal kemarin masih biasa saja. Sungguh rasa yang sulit di artikan.


"Pacaran mulu, Kesiangan kan"Ucap ferdi dengan nada sinis nya sambil menekan tibol lif.


" Dih... kita ada kerjaan di luar tadi"Jawab anita sambil melihat ke arah Rico yang tidak merespon ucapan temannya itu.


"Dia kenapa sih? " Tanya Anita terhadap Rico tentang sikap Ferdy yang mendadak aneh.


"Mana ku tahu" Jawab Rico sambil mengerahkan bahunya lalu berjalan sambil memasukkan tangannya di saku celana.


"Kan kamu itu temannya, Masa tidak tahu"Tanya Anita lagi.


" Sudah jangan Banyak tanya terus"Kata Rico dengan mempercepat langkah nya.


"Iya... Sudah" Jawab Anita singkat.


Mereka berdua sudah ada di ruangan Jack, Mereka bertiga akan membahas tentang sebuah proyek pembangunan destinasi wisata yang ada di daerah A, Jack ingin segera memulai nya tetapi Rico dan Anita menolak jika mereka yang menangani proyek tersebut. Rico meminta terhadap Jack agar pembukaan lahan tersebut setelah Dirinya dan Anita menikah, Jadi meski mereka di utus ke pelosok pun akan dengan senang hati, Secara mengawasi pembangunan itu sangat cukup lama membutuhkan waktu jadi tidak masalah bagi mereka asal tunggu setelah menikah.

__ADS_1


"Kalian menikah itu masih dua bulan lagi! "Ucap Jack.


" Waktu segitu... Mana cukup untuk persiapan dan harus bolak-balik keluar kota mengurus semua itu"Ucap Rico dengan wajah yang sudah frustasi karena bos nya tetap kekeh dengan pendirian nya.


"Iya... kita juga harus mempersiapkan pernikahan" Anita menimpali.


"Berikan saja sama Ferdy... Mungkin dia bisa mengerjakan nya dalam waktu singkat" Ucap Rico.


"Mana bisa... lu sudah tahu kan yang di blitung itu dia yang pegang, Mana mungkin yang sekarang di kasih ke dia lagi yang ada ngamuk-ngamuk" Kata Jack dengan raut wajah mulai tidak tenang dan bimbang.


"Nanti saja lah... Tunggu setelah kami menikah" Ucap Rico dengan nada penuh permohonan.


"Kenapa kalian untuk menikah saja butuh waktu lama, Lah gua nikah sehari udah kelar tidak butuh waktu yang lama" Ucap Jack dengan prontal.


Anita dan Rico hanya saking melirik, Mereka sangat pusing dengan kelakuan bos nya.


"Ya... Menikah itu sesuatu yang sakral jadi kami ingin mempersiapkan nya dengan matang" Ucap Anita sambil melihat ke arah sang calon suami.


"Sudah lah... Serah kalian, Awas Saja jika sudah menikah kalian ada alasan lain. Bulan madu ke bulan sabit apalah, Gua tidak mau menerima alasan apapun setelah itu. Dan satu hal cuti menikah hanya satu minggu tidak ada tawar menawar" Ucap Jack dengan nada penuh penekanan.


"Iya bos ku... yang baik hati dan tidak sombong" Ucap Rico sambil tersenyum tipis menatap ke arah sang bos.


"Sudah sanah kalian kembali ke ruangan masing-masing" Ucap Jack sambil mengerahkan tangannya.


"Ya, Sudah lu duluan Nit" Rico memberi perintah terhadap Anita agar kembali ke ruangannya terlebih dahulu.


"Baik... Pak Jack saya kembali ke ruangan jika sudah tidak ada yang di bicarakan" Ucap Anita sambil menunduk hormat lalu pergi berlalu meninggal ruangan atasannya.


Tinggal lah Rico dan Jack yang berada di ruangan tersebut.


"Kenapa belum kembali? Tanya Jack dengan Nada sinis nya.

__ADS_1


"Ada hal penting yang belum sempat gua cerita" Ucap Rico.


"Apa, Cepat ceritakan sekarang?" Tanya Jack penasaran.


__ADS_2