Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
75.


__ADS_3

Mira memulai aktivitas di kantor seperti biasanya, tapi, pekerjaannya kali ini lebih banyak dari sebelumnya, dikarenakan sudah hampir satu minggu semua pekerjaan itu di abaikan. Memang, saat ini statusnya sudah berubah menjadi istri sang pimpinan perusahaan, tetapi, tidak perubahan status itu tidak menjadikannya pribadi yang hanya gemar bermalas-malasan. Dengan ketelatenan yang dia miliki, serta segudang semangat dan senyuman, dia mulai membuka lembar demi lempar dokumen yang menumpuk dan tersusun rapi di hadapannya.


Mira bekerja di ruangan yang tidak terlalu luas, itu adalah ruangannya sejak pertama kali bekerja. Walaupun, dia sudah mempunyai suami seorang pimpinan, namun dia tetap bekerja di ruangan itu dengan penuh semangat. Dia berpikir, meskipun sudah menjadi istri pemilik perusahaan, tetapi dia harus tetap melakukan yang terbaik untuk perusahaannya. Bukankah tidak ada orang yang tahu ke depan akan seperti apa. Bisa saja hari ini di atas dan besok akan berubah sebaliknya. Jadi, perempuan itu mengantisipasi sebelum hal itu terjadi, jika saja ada hal yang tidak diinginkan, setidak-tidaknya dia sudah memiliki tabungan.


Mira terus saja sibuk menyelesaikan tumpukan dokumen yang membutuhkan revisi darinya, hingga tidak terasa semua pekerjaan itu pun hampir selesai dan sudah menunjukkan waktunya  istirahat dan makan siang. Akan tetapi, wanita itu enggan sekali untuk menghentikan pekerjaan, sebelum benar-benar selesai. Berbeda dengan tubuhnya yang sudah merasa lelah. Dia bersandar sebentar sambil memejamkan mata dan menarik napas dalam di kursi, merasakan kepalanya yang sedikit pusing. Pinggangnya pun mulai terasa kram. Saat itu dia berusaha menetralkan perasaannya. Mungkin ini terjadi karena dia duduk terlalu lama. Setelah itu Dia bangkit dari duduk dan berjalan perlahan keliling ruangan.


Setelah merasa lebih baik, dia pun kembali ke meja kerjanya, memulai lagi pekerjaannya. Padahal ini watunya istirahat. Tidak berselang lama pintu ruangan pun di ketuk.


"Masuk!" Mira mempersilahkan orang yang mengetuk pintu.


Mira mempersilakan orang itu masuk tanpa melihat Siapa yang datang. Sementara orang yang masih berdiri di depan pintu menggelengkan kepala karena melihat wanitanya tengah sibuk bekerja di ruangannya, walaupun sudah waktunya makan siang.


"Ini sudah jam istirahat, Kenapa masih bekerja?" Tegas sang pemilik perusahaan, siapa lagi pria itu kalau bukan suaminya.


"Tanggung... ini sedikit lagi," Jawab Mira enteng.


"Apa perlu, aku harus memecatmu biar waktu untuk istirahatmu cukup, di rumah?" ancam Jack terhadap sang istri.


"Owhh,” seketika Mira menoleh kesal dan berkata, “Tidak pak.... Saya masih butuh pekerjaan ini!" Jawab Mira dengan mata membulat melihat ke wajah sang suami yang sudah mulai tidak bersahabat.


"Tapi, kenapa jam istirahat masih bekerja, Sayang ... aku tidak suka!” Tegas Jack.


"Iya... saya minta maaf! Ini sudah berhenti, kok!" Mira menghentikan semua aktivitasnya. Melihat ke arah sang suami yang kini sedang duduk di sisi meja kerjanya.


"Mas... Jelek tahu kalau kamu marah seperti itu!" Ucap Mira.


"Orang ganteng itu meskipun lagi marah tetap ganteng!" Jawab Jack sambil tersenyum penuh arti.


"Dih! pede banget sih?" Jawab Mira sambil berdiri. Dia ingin duduk di atas sofa. Namun, baru ingin melangkah Sang suami menarik tangannya, Sehingga Mira terjatuh ke dalam pelukan hangatnya.

__ADS_1


"Mau ke mana?" Tanya Jack.


"Ke sana ... kan, katanya harus istirahat, ini gimana sih?" Jawab Mira gugup karena dia sudah mencium aroma yang lain dari suaminya.


Sudah tidak ada jarak di antara mereka. Tangan Jack sudah melingkar di pinggang sang istri. Dia mengambil alih posisi. Di angkatlah tubuh mungil sang istri ke atas meja kerja lalu dia berdiri di hadapan Mira.


"Mas... Mau Apa? Ini kantor, loh!" Ucap Mira sambil melindungi kedua bukit kembar miliknya dengan kedua tangannya.


"Aku tahu ini kantor, Jadi cukup diam dan nikmati!" Jawab sang suami dengan nada santainya.


"Bagaimana kalau ada yang masuk?" Jelas sang istri.


"Jangan kuatir ... Sudah aku kunci. Jadi, tidak ada siapa pun yang bisa masuk, Sudah jangan banyak bicara!" Jack dengan gerakan cepat membungkam mulut istrinya dengan sebuah ciuman agar istrinya berhenti bicara. Dan menyesapnya dalam-dalam dan di rasakannya  rasa manis dari bibir ranum milik istrinya. Hal itu membuat sang istri gelagapan karena tidak bisa bernafas.


"Mas... Kamu mau membunuhku, ya?" Pekik Mira sambil mendorong tubuh kekar suami agar menjauh darinya.


"Mana bisa aku mau membunuhmu, Justru aku akan membawamu mengarungi indahnya surga dunia!" Ucap Jack dengan nada menggoda.


"Aku juga haus... Ingin minum susu hangat." Jack bicara sambil tangan membuka satu persatu kancing kemeja milik sang istri. Terlihat dengan jelas gunung kembar milik Mira yang begitu menggodanya. Meskipun masih tertutup oleh kain penutup dada tetapi, sudah membuat Jack menelan salivanya.


"Di sini tidak ada susu, adanya juga kopi," Jawab Mira dengan wajah polosnya. Dia tidak paham apa yang di maksud oleh suaminya. Terkadang Mira sulit mencerna apa perkataan suaminya, yang selalu menggunakan makna kiasan.


"Kata siapa tidak ada?" Jawab Jack sambil tersenyum tipis, lalu, menggerakkan tangannya ke area gunung kembar.


"Iya... tidak ada, aku pan tidak pernah membeli susu. Kan, kamu tahu tidak pernah minum susu,” Ucap wanita itu heran. Dia merasa bahwa dirinya tidak pernah membawa susu ke ruangannya. Semakin tidak masuk ajal semua omongan Jack baginya.


"Sudah jangan banyak bicara.... Sini ku kasih tahu mana yang aku ingin kan!" Jawab sang suami dengan penuh semangat bermain di area kesukaannya.


"Ikhhh .... " sebuah suara keluar begitu saja dari mulut Mira karena kesal.

__ADS_1


Setelah cukup lama Jack bermain-main di area kesukaannya, Lalu, mengancingkan kembali kemeja milik sang istri. Pakaian Mira pun kembali dirapikan oleh dirinya sendiri.


"Yuk kita makan siang?" Ajak Jack pada istrinya, setelah selesai merapikan pakaiannya.


“Itu, aku sudah bawa makanan untuk kita, jangan biarkan dia kelaparan.” Jack berkata sambil mengelus perut sang istri yang masih terlihat rata.


"Iya," Jawab Mira singkat.


Mereka berdua pun duduk di sofa, yang ada di ruangan itu, secara berdampingan. Jack membuka makanan yang di bawanya lalu memberikan suapan pertama untuk sang istri.


"Aku bisa makan sendiri," Ucap Mira, dia enggan membuka mulutnya.


"Tapi, Aku mau nyuapin kamu. Jadi, jangan menolak, ya..." Ucap sang suami dengan nada perintah.


Mura terpaksa menerima suapan dari suaminya. Meskipun, dia tidak suka dengan perlakuan Jack yang terkesan memanjakannya.


Suapan demi suapan di berikan Jack untuk sang istri hingga tinggal tersisa sedikit. Setelah selesai menguapi sang istri kini giliran Jack menghabiskan makan siang miliknya sendiri.


"Terima kasih, Mas... Lain kali jangan seperti ini. Tidak enak jadinya. Ini mah ke balik bukannya istri yang melayani suami tapi, kamu yang melayani aku, iya, kan? Jadi, aku merasakan kalau terkesan istri tidak baik," Ucap Mira sambil mengerucutkan bibirnya, dengan mata yang menatap sang suami yang masih mengunyah makanan.


"Justru, kamu itu sudah memberikan pelayanan terbaik sayang... Jadi aku juga harus memperlakukanmu dengan baik, Agar jatah harian tidak berkurang." Ucap Jack sambil menatap wajah sang istri yang terlihat menggemaskan di matanya.


"Aku tidak melakukan apa pun untukmu," Ucap mira sambil menopang dagunya.


"Sudah ... jangan banyak bicara. Pokonya kamu sudah melakukan yang terbaik itu menurutku. jadi, jangan banyak berpikir dan tanya, oke?" Jelas sang suami.


Jack berkata sambil memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya, setelah itu dia menyusut bibir dengan tisu menandakan acara makan siang sudah selesai. Pria itu membereskan sisa makan mereka dan kembali ke ruangannya, sedangkan Mira kembali melanjutkan pekerjaannya.


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2