
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, di mana Jack dan Ferdy akan pergi ke tempat meeting yang sudah mereka sepakati.
Ferdy sudah menunggu Jack di loby kantor, karena mereka akan berangkat bersama dengan menggunakan mobil miliknya. Sementara menunggu, dia terlihat asyik mengusap layar ponsel sambil mengecek beberapa pesan, yang masuk melalui surelnya yang kemungkinan penting dan belum terbaca.
Setelah beberapa saat pria itu menunggu akhirnya Jack pun datang, dan pria itu langsung duduk di kursi penumpang depan, Ferdy yang akan menjadi sopirnya kali ini, selain karena memang dia tidak suka jika mobilnya di kemudikan orang lain, Jack adalah atasannya.
Kendaraan itu melaju secara perlahan menuju keluar dari area gedung perkantoran setelah Ferdy menginjak pedal gas, lalu, mengemudikannya dengan kecepatan sedang.
Perjalanan yang mereka tempuh pun tidak terlalu jauh, cukup menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke tujuan.
Setelah sampai di cafe tempat mereka mengadakan janji bertemu, Ferdy pun memarkirkan kendaraannya di tempat yang tersedia. Mereka berada di sebuah cafe yang cukup terkenal di tengah kota, hingga mereka harus memesan ruang pribadi sebelumnya agar bisa menjalani meeting dengan nyaman, sebab kalau tidak, mereka dipastikan tidak akan mendapat tempat duduk.
Setelah berada di dalam kafe, Jack dan Ferdy pun langsung menuju ke tempat di mana ruangan yang akan mereka tempati. Seorang waiters menyambut ramah kedatangan pria tampan itu dan menunjukkan ruangan mereka. Sepertinya para pelayan itu akan selalu ramah dan dituntut untuk bersikap demikian, sesulit apa pun pelanggan yang akan mereka hadapi. Apalagi pria-pria tampan seperti Jack dan Ferdy. Hanya ada mereka berdua yang ada di ruangan itu, karena ternyata orang yang mengadakan perjanjian untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka, belum datang.
Jack dan Ferdy duduk di tempat yang sudah tersedia.
"Kita nggak terlambat kan?" Tanya Jack sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
"Memangnya kenapa?" Tanya balik Ferdy.
"Takutnya kita yang terlambat, soalnya orang yang mau kita temui belum juga datang," Kata Jack.
"Mungkin masih di jalan," Jawab Ferdy.
"Eh, tapi, kok gua merasakan ada sesuatu yang bakal terjadi deh!" Ucap Ferdy.
"Jangan suka aneh-aneh deh, lu!" Jawab Jack sambil bersandar wajah terlihat kesal pada Ferdy.
"Perasaan gua aja, nggak enak banget ini, ada apa yah?" Kata Ferdy sambil mengusap kepalanya, gelisah.
"Apa yang Lu pikirin?" Tanya Jack.
"Entahlah, yang jelas hati gua gelisah sekarang,"
__ADS_1
"Bukannya tadi lu baik-baik saja, terus kenapa tiba-tiba seperti ini?" Tanya Jack terhadap sahabatnya itu.
"Lah, mana gua tahu, perasaan ini tiba-tiba muncul gitu aja!" Jawab Ferdy.
Di saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba ada seorang yang menyapa keduanya.
Ternyata orang itu yang mereka tunggu, dan orang itu pun mendekat ke arah ke duanya. Lalu, Jack mempersilahkan tamunya untuk duduk di salah satu tempat yang telah tersedia.
"Maaf saya terlambat" Kata orang itu, dia adalah Arga. Seorang pria berperawakan sedang yang berkulit coklat dan berwajah cukup teduh, tengah mengumbar senyum.
"Nggak apa-apa kita juga baru datang kok," Jawab Jack.
Tetapi Ferdy dari tadi tidak berbicara sedikit pun, dia malah memperhatikan terus orang tersebut. Entah kenapa laki-laki itu saat melihat Arga, seolah tidak asing.
Ferdy mengesampingkan perasaan janggalnya dan, memilih fokus membahas tentang kesepakatan kerja sama antar perusahaan, setelah Jack memulai pembicaraan mereka. Banyak hal yang mereka bahas soal apa yang akan mereka kerjakan di masa yang akan datang.
Tanpa terasa, pembicaraan mereka sudah berlangsung selama satu jam lebih, hingga meeting pun selesai.
Arga berpamitan terlebih dahulu.
"Baiklah, terima kasih banyak Pak Arga atas waktunya, selanjutnya nanti asisten saya yang akan menghubungi Anda!" Kata Jack sambil tersenyum mantap ke arah Arga.
Sedangkan Ferdy hanya tersenyum tipis, dia memilih diam, tidak berbicara.
Arga pun telah pergi dari ruangan itu, tinggallah Ferdy dan Jack yang masih berada di dalam.
"Lu yakin mau kerjasama bareng dia?" Tanya Ferdy.
"Memangnya kenapa, bukankah ini juga menguntungkan buat perusahaan kita?" Jawab Jack.
"Tapi kok, perasaan gua atau memang betul, apa yang dia omongkan itu seolah bohong, nggak yakin gua perusahaan dia itu jujur atau nggak!" Kata Ferdy, dia berbicara seperti itu entah apa yang ada di dalam pikirannya. Dia ngerasa Arga itu ada niat tertentu untuk perusahaannya.
"Jangan suka mikir yang aneh-aneh, kadang lu itu terlalu ketakutan untuk mencoba sesuatu yang baru atau beradaptasi dengan lingkungan baru, apa salahnya kita mencoba, toh kita juga yang punya kewenangan untuk memutuskan kontrak, kalau ada hal yang tidak sesuai dengan prosedur yang telah kita sepakati, maka, kita berhak memutuskan kontrak, kan?" Ucap Jack panjang lebar.
__ADS_1
"Ya sudah, semoga aja apa yang gua pikir sekarang, hanya sebuah ketakutan, doang!" Ucap Ferdy.
"Sudahlah, ini sudah sore waktunya kita pulang!" Ucap Jack.
"Ayolah!" Jawab Ferdy sambil berdiri dari duduknya, lalu berjalan perlahan ke arah pintu keluar. susul juga oleh Jack.
Kedua orang itu pun berjalan keluar menuju mobil mereka, yang berada area parkir keduanya pun langsung masuk ke dalam kendaraan yang akan mereka tumpangi.
Ferdy pun menginjak gas dengan perlahan sehingga kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang. Jalan yang tidak terlalu ramai membuat si pengendara leluasa berada di jalan.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, mobil pun sudah memasuki area perkantoran.
Jack turun terlebih dahulu, dia akan segera pulang ke rumah. Setelah seharian berada di luar, rasa rindu terhadap sang istri pun sudah semakin kuat, Jack sebetulnya belum terbiasa di kantor tidak melihat istrinya. Biasanya jika dia rindu terhadap Mira, bisa langsung datang ke ruangan di mana istrinya itu berada, tetapi, saat ini hanya bisa menatap gambarnya di layar ponsel miliknya.
"Gua langsung pulang, nggak ke kantor lagi ya?" Ucap Ferdy yang masih berada di dalam mobil.
"Lu mau ke mana? Gua juga mau langsung pulang!" Tanya Jack.
"Mau melihat keadaan Selvi, sudah beberapa hari ini gua nggak berkunjung ke sana," Jawab Ferdy.
"Ya sudah pergi sanah, gua juga mau langsung pulang," Kata Jack.
Ferdy pun langsung memutar kembali kendaraan ke arah pintu keluar kantor, dia akan segera mengunjungi wanita yang sudah beberapa hari ini tidak dia lihat keadaannya.
Setelah kepergian Ferdy, Jack pun pergi menuju ruangan pribadinya, membuka pintunya yang terkunci karena setiap dia pergi, maka pintu ruangan itu akan terkunci secara otomatis dan hanya dia yang bisa membukanya. Pria itu menuju meja kebesarannya di mana ada beberapa barang miliknya tergeletak di meja itu.
Jack mengambil barang-barang miliknya lalu kembali ke luar, sudah tidak sabar ingin segera kembali ke rumah di mana ada seseorang yang sangat dirindukannya.
Jack berjalan sangat buru-buru sehingga tidak melihat apa yang ada di depannya.
Tiba-tiba ....
Brakk!
__ADS_1
Seseorang menabraknya.
"Maaf saya buru-buru!" Ucapa Jack tanpa melihat ke arah orang yang di tabraknya.