Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 145


__ADS_3

Hari itu, sesuai rencana, Jack akan membawa keluarga kecilnya pindah ke rumah peninggalan keluarga Maholtra. Dia begitu bersyukur karena Mira cukup tenang hari ini, setelah perdebatan mereka kemarin mengenai masalah Lidia, yang berakhir dengan segala janji pria itu demi memenangkan istrinya.


 Jack merasa sangat bahagia setelah menikah dua bulan lamanya, akhirnya hati Mira luluh juga. Tentu saja hal ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dengan usaha dan kerja keras Bu Merlin, hati menantunya itu kini mau mengikuti keinginannya. Jack tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada sang istri, yang mau di ajak pindah, sambil sesekali mencium keningnya.


Sekarang Mira tidak mau berpikir tentang apa pun yang belum tentu terjadi, termasuk sikap mertuanya itu, karena sampai sekarang dia masih berusaha meyakinkan hatinya, bahwa semua akan baik-baik saja. Biar bagaimanapun mereka akan tinggal bersama Bu Merlin, yang menuntutnya untuk bisa beradaptasi dengan baik.


Sementara rumah yang mereka tempati sekarang, adalah peninggalan Zul ayahnya Zay. Semakin bertambah hari, hati Mira merasa tidak enak pada Jack—suaminya. Dia sempat berpikir dan khawatir bila disebut istri durhaka yang tidak mau mengikuti kemauan suaminya.


Cukup lama dahulu, dia merenung, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan akan tinggal di rumah suaminya, yaitu di kediaman keluarga Maholtra.


"Sayang... Terima kasih banyak yah sudah mau ikut pindah ke rumah Mama" Ucap Jack, sambil tersenyum lebar dan melingkarkan tangan di pinggang istrinya. Dia merasa sangat bahagia, ternyata Mira sudah menerima dirinya secara utuh.


"Apa sih Mas ... Pakai bilang terima kasih segala. Aku ini istrimu. Jadi, sudah sepantasnya mengikuti suami, ke mana pun dia pergi," Ucap Mira dengan nada bicara yang lembut, dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami sedang kedua tangannya melingkar di leher Jack.


Jack pun mengangkat tangan kanannya dia membelai lembut rambut sang istri, hal itu membuat Mira merasakan kenyamanan saat bersandar di pundak suaminya, sentuhan hangat dan menyejukkan jiwa itu semua Mira dapatkan dari suaminya. Jack adalah sosok suami yang tidak terlalu romantis dengan banyak mengucapkan kata-kata cinta, tetapi itu semua tidak mengurangi rasa sayangnya terhadap keluarga.


"Berangkat jam berapa kita Mas ...?” Tanya Mira terhadap suaminya.


"Mungkin agak siang, soalnya sopir yang akan mengangkut barang dari sini bisanya siang," Ucap Jack sambil menatap hangat wajah sang istri.


"Kan, barang yang akan di bawa juga tidak banyak, kenapa lama?" Kata Mira sembil mendongakkan kepala melihat wajah sang suami.


"Meskipun nggak banyak tetap saja kita masih butuh mereka, lagi pula mana sanggup mas angkat-angkat beban seperti itu sendirian," Ucap Jack dengan nada lembut, sambil terus mengelus pundak sang istri, yang dari tadi masih merasakan nyaman bersandar, justru hal itu sangat membuat Jack bahagia.

__ADS_1


Dia merasa disayangi dan di butuhkah, dari kemarin dia menantikan hal seperti ini.


Sekarang Mira sudah mulai berani mengungkapkan apa yang ada di hatinya, tidak seperti sebelumnya.


Sepasang suami istri itu masih saling duduk berdampingan, Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


ternyata itu Zay, dan dia berkata, “Papa, Mama , itu kenapa Mainan Zay masih ada yang ketinggalan?” Ucap Zay sambil merajuk, dia merasa kesal terhadap Mamanya, kenapa tidak semua mainan yang dia punya itu di kemas untuk di bawa pindah juga ke rumah yang akan mereka tempati nanti, demikian pikirnya.


"Eh, jagoan Papa kenapa seperti itu sayang ...?” Ucap Jack sambil melepaskan tangannya dari pundak sang istri. Mira pun sudah duduk tegak tidak seperti tadi, saking kagetnya dia terlonjak mendengar teriakan Zay.


"Itu, Pa ... kenapa masih banyak mainan Zay?” Ucap Zay lagi sambil menunjukkan ke arah luar.


"Ayo, kita lihat dulu yah, nanti Papa suruh Bi Minah mengemasnya, kalau itu mau kamu bawa!"  Ucap Jack, sambil mengajak Zau keluar dari kamar, untuk melihat mainan apa yang di maksud anak itu.


Kedua laki-laki yang sangat berharga di dalam kehidupan Mira itu, berjalan keluar kamar meninggal dia yang masih duduk termenung di sofa.


Dia beranjak membuka lemari dengan serius, karena berpikir jika mungkin ada sesuatu yang tertinggal. Namun, dia hanya melihat sebuah laci yang  kemudian membawa tangannya untuk menarik laci itu, hingga terbuka.


Di dalamnya dia melihat sepasang buku nikahnya dengan Zul, suaminya yang telah tiada. Pandangan mata Mira seketika meredup.


Dia mengambil buku, membukanya perlahan, lalu, mengusap photo Zul dengan ibu jarinya, sambil berkata, "Zul ... Semoga kau tenang di surga, aku dan Zay juga sekarang sudah bahagia ... jangan khawatir ya? Zay sudah mendapatkan sosok ayah seperti dirimu, walaupun kamu tidak ada di sisinya, tapi, dia tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ayah ..." Ucap Mira pada dirinya sendiri.


Tidak terasa air mata Mira pun luluh, ternyata sekarang dia sudah mempunyai kehidupan baru, tetapi, bukan berarti Mira juga harus melupakan Zul, bagi Mira dia adalah seseorang yang sangat berharga di masa lalunya dan tidak akan pernah bisa terganti.

__ADS_1


Meskipun, suaminya sekarang adalah Jack, tetap, saja ada tempat terindah di hati Mira untuk suaminya itu. Dia terus menatap lekat buku nikah, sambil menghapus sisa air mata.


Setelah cukup lama dia menatapnya, terus dia simpan kembali buku itu ke dalam laci, sebab di sanalah tempatnya. Mira menyeka air matanya, sebelum menutup kembali pintu lemari.


Setelah itu, dia segera bergegas keluar untuk melihat sang putra dan suaminya. Dia berjalan perlahan untuk menuju kamar sang anak, setelah berada di depan pintu Mira pun langsung memutar gagang pintu, terlihat kedua pangeran itu sedang berbincang. Mereka kini tampak seperti sahabat dekat, dan tidak seperti tadi.


"Sedang apa sih kalian?" Tanya Mira terhadap anak dan suaminya, sambil berjalan perlahan mendekati keduanya.


Setelah dekat Mira pun berjongkok di hadapan mereka berdua,


"Ini Ma, Zay kan, tadi bilang banyak mainan yang belum di kemas tapi kata Papa nggak usah di bawa, di sana sudah banyak mainan baru yang di siapkan nenek!" Kata Zay dengan nada bicara sangat lantang dan penuh kebahagiaan, anak kecil itu sangat antusias ketika papanya mengatakan sudah banyak mainan baru yang di siapkan neneknya.


"Oh iya?" Jawab Mira dengan raut wajah sangat kaget, mendengar pernyataan anaknya.


"Iya, Ma ... jadi kata Papa yang ini tetap di kemas tetapi akan di sumbangkan ke panti asuhan," Kata Zay.


"Woww anak Mama luar biasa deh, baiknya!" Puji Mira terhadap anaknya.


Jack yang melihat interaksi ibu dan anak itu hanya tersenyum dengan penuh kebahagiaan, inilah kebahagiaan yang seutuhnya menurut Jack.


"Kan, Papa yang ajarin Ma ... katanya kalau kita punya banyak mainan boleh berbagi sama mereka yang lebih membutuhkan,” Ucap Zay sambil menatap wajah sang Papa, tatapan itu pun mendapatkan respons yang sangat luar biasa, dengan senyum terpancar dari bibir Jack untuk anaknya. Hal itu membuat Zay merasa bahagia bisa berada di antara Kedua orang tua yang sangat menyayanginya.


"Terus, nanti semua mau Zay yang antar ke sana atau minta tolong Bi Minah untuk mengantarkan nya?" Tanya Mira terhadap suaminya.

__ADS_1


"Biar nanti pas hari libur kita yang berkunjung ke sana, sekaligus berbagi kebahagiaan bersama mereka," Jawab Jack dengan wajah tersenyum.


"Ya sudah, itu sudah ada suara mobil di depan, pasti yang akan membawakan barang-barang kita, sudah datang!" Ucap Mira sambil berdiri dan memegangi pinggangnya, yang terasa pegal setelah berlutut tadi.


__ADS_2