Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 174


__ADS_3

Bu Dellia sudah di pindah ke ruang perawatan yang sudah di siapkan sang menantu, dan juga mira bisa beristirahat dengan nyaman tanpa harus meninggalkan sang Mama.


Siang telah berganti dengan malam, dan malam pun telah berganti dengan pagi, Bu Dellia sudah tiga hari di rawat di rumah sakit ini tetapi belum juga ada perubahan masih sama seperti semula. Doker yang menangani Bu Dellia pun sudah memberi tahu Mira bahwa ini hanya menunggu ke abaikan, Bu Dellia masih hidup pun itu semua berkat semua alat yang terpasang di tubuhnya. Jika semua alat itu di lepas kemungkinan besar sudah tidak bisa di pertahankan lagi.


Mira hanya bisa pasrah saat mendengar penjelasan dokter tentang kondisi kesehatan sang Mama, Jack sudah berencana akan membawa mertuanya ke kota di mana dia tinggal. Sebab jika terus berada di sini bisa menghambat pekerjaan dirinya dan juga terlalu lama meninggalkan Zay, Zay juga masih sangat butuh perhatian dari kedua orang tuanya.


Permintaan Jack untuk membawa Bu Dellia pun ke rumah sakit lain di setujui oleh pihak rumah sakit di mana sekarang Bu Dellia di rawat.


Ferdy sudah mengurus semuanya soal kepindahan rumah sakit Bu Dellia, tinggal menunggu pasien nya.


Jack juga pemegang saham terbesar di rumah sakit yang akan di tuju, jadi tidak akan kesulitan untuk melakukan apapun.


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, Ambulance yang akan membawa Bu Dellia pindah rumah sakit pun sudah siap tinggal menunggu perwat membawa Bu Dellia untuk segera di bawa keluar ruangan dan di pindah ke ambulance, Jack pun mengutus satu dokter dan satu perawat agar mengawasi Ibu mertua nya selama di dalam perjalanan. Dia tidak mau mengambil resiko apapun di dalam perjalanan nanti.


Semuanya sudah siap, Mira dan Jack akan menggunakan kendaraan yang berbeda. Sebab sudah ada yang menjaga Bu Dellia di dalam ambulance tersebut, Mira pun setuju bahwa dirinya akan menggunakan kendaraan yang berbeda.


Persiapan pun sudah selesai, saat nya mereka semua meninggal area gedung rumah sakit yang sangat luas dan mewah ini, hanya kalangan menengah ke atas yang bisa menikmati pasilitas di sini. Meskipun sangat mewah yang namanya rumah sakit semua orang pun tidak ingin mengunjungi nya.


Butuh waktu berjam-jam untuk sampai di rumah sakit yang di tuju.


Waktu bergulir begitu cepat, siang pun telah berganti dengan malam tetapi Jack dan Mira masih menikmati perjalanan, Tetapi ambulance yang membawa Bu Dellia sudah sampai di rumah sakit yang di tuju, sebab kecepatan ambulance sama kendaraan pribadi itu sangat jauh berbeda.


Ferdy sudah mengurus semuanya, jadi Mira dan Jack sudah percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Jack juga tidak bisa mengendarai dengan kecepatan tinggi, mengingat kondisi Mira saat ini sedang hamil tua.

__ADS_1


Bagaimana kalau melahirkan di jalan atau terjadi sesuatu makanya Jack lebih memilih jalur aman meskipun lambat untuk sampai ke tempat tujuan.


Waktu yang mereka tempuh sangat lama, setelah melewati perjalanan yang penuh dengan perjuangan akhirnya mereka sudah sampai di rumah sakit yang di tuju.


Jack memarkirkan mobil nya lalu keluar terus membuka pintu samping mempersilahkan istrinya untuk segera turun, mereka setelah melihat keadaan Bu Dellia akan pulang terlebih dahulu ke rumah. Sebab, sudah tiga hari mereka sudah tidak bertemu Zay dan juga Mama Merlin.


Dengan berjalan sambil menggandeng tangan sang istri ,Jack berjalan perlahan sambil bergandengan untuk segera masuk ke ruangan di mana Bu Dellia di rawat.


Mira juga sudah merasa kesulitan jika harus berjalan cepat, usia kandungan nya sudah memasuki bulan ke tujuh dan perut nya pun sudah mulai membesar dan buncit.


Setelah beberapa saat mereka berdua sudah sampai di ruangan yang di tempati Bu Dellia, Jack langsung menekan tombol akses untuk masuk. Di sini Bu Dellia mendapatkan pengamanan khusus, tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan ini.


Setelah berada di dalam Jack dan Mira pun mendekat ke arah di mana Bu Dellia belum menunjukkan respon apapun.


"Mama masih marah yah...? bukan Mira nggak mau tinggal sama Mama. Tapi, sekarang kan sudah menikah sudah kewajiban ikut suami kemanapun pergi! " kata Mira yang sudah tidak kuasa lagi menahan air matanya.


"Ya sudah kalau Mama masih belum mau ngomong! Mira pulang dulu yah? " ucap Mira sambil mencium tangan sang Mama,dia mengusap air mata yang keluar dari ujung Mata sang Mama dengan ibu jarinya.


Jack yang setia berada di samping istrinya, selalu memberikan kekuatan bagi sang istri.


Mira dan Jack pun keluar dari ruang perawatan Bu Dellia, sudah di tugaskan salah satu orang suruhan Jack yang menemani Bu Dellia malam ini. Jika tidak seperti ini sudah pasti Mira akan menolak untuk pulang.


Waktu berputar begitu cepat, sekarang jam sudah menunjukkan ke arah angka dua belas, Mira dan Jack pun baru tiba di rumah. Mira bisa di sebut wanita kuat, meskipun dalam keadaan hamil dan itu pun sedang bermasalah tetapi dia tidak mengeluh sedikit pun.


Keduanya pun membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum memulai aktifitas malam yaitu mengistirahatkan tubuhnya.Mereka berdua sudah berganti pakaian dengan baju rumahaan,Mira sudah naik ke atas tempat tidur untuk segera mengistirahatkan tubuhnya walaupun itu hanya sejenak, berharap besok ada kabar baik soal kesehatan sang Mama.

__ADS_1


Semua orang sudah berada di alam bawah sadarnya,Jack juga merebahkan tubuhnya di samping sang istri di peluklah wanita hamil itu.


Sebab bagi Jack tidur sambil memeluk sang istri itu lebih pulas dan nyaman dan memberikan kehangatan.


*


*


*


Di tempat lain.


"Bang.... aku lapar! bangun dong jangan tidur mulu" ucap Anita sambil mengguncang kan tubuh suaminya.


"Apalagi sih sayang.... aku baru aja mau tidur ini kalau kamu seperti ini terus kapan aku tidurnya" Jawab Rico dengan suara serak khas bangun tidur, dan mata nya pun masih merem.


"Anak kamu nih yang rewel minta makan terus" ucap Anita dengan nada suara yang manja.


"Memangnya mau makan apalagi" kata Rico dia bangun lalu duduk sambil mengucek-ucak matanya, sambil menetralisir keadaan.


"Mau makan sate mang udin! " kata Anita, dia bicara tanpa merasa bersalah.


"Tapi ini kan sudah malam, bisa saja udah habis! " jawab Rico.


Mendengar Rico berbicara seperti dan agak sedikit tinggi nada bicara nya, langsung membuat Anita menundukkan pandangan nya sambil mengusap Air mata. Anita yang kuat dan tidak pernah menangis sekarang menjadi wanita paling cengeng.

__ADS_1


__ADS_2