Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 107


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Ferdy kembali juga.


Selvi masih duduk diam di mobil, dan bayi kecil sedang tertidur di pangkuannya.


Pria itu membuka pintu dan memasuki mobilnya, lalu menyalakan mesin. Dia menginjak gas secara perlahan melajukan kendaraan roda empat itu pergi meninggalkan area klinik, tempat Selvi di rawat sebelumnya.


Ferdy melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Mereka menumpangi kendaraan yang membelah jalanan untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh.


Saat itu matahari pagi pun sudah berganti dengan siang. Sinarnya pun begitu terik dan sudah berhasil membakar kulit, bagi orang-orang yang beraktivitas di luar ruangan.


Sekitar satu jam kemudian, kendaraan yang membawa mereka masuk ke sebuah area perumahan sederhana.


Rumah yang berdiri memenuhi pemukiman itu, berukuran dan bentuknya hampir sama semua. Mungkin bangi yang baru pertama datang, akan merasa sedikit bingung karena melihat tatanan bangunan yang relatif sama.


Ferdy pun berhenti di depan salah satu rumah,  dia turun dari mobil dan berjalan ke rumah itu lalu, membuka pintunya. Dari arah pintu yang terbuka, pria itu mempersilakan Selvi untuk turun.


"Ayok turun!” Ferdy berkata sambil memberi isyarat pada wanita itu untuk mengikutinya.


"Iya." Selvi menjawab sambil mengangguk pelan dan berjalan mendekati di mana Ferdi berdiri.


Saat melihat ke dalam isi rumah itu dari pintu rumah sudah terbuka, Selvi merasakan perasaan yang aneh bercampur tidak enak pada pria di sampingnya. Dia melihat ada beberapa orang sedang menata perabotan rumah tangga di dalamnya.


Ferdy mempersilakan Selvi untuk masuk ke rumah itu, lalu menyuruhnya untuk duduk di sofa yang sudah tersedia di sana.


"Selamat datang pak!” Sapa para pegawai yang sedang melakukan aktivitas bekerja sesuai instruksi bos mereka. Ferdy berkeliling ke arah belakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal.


"Iya,” Ferdy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah terhadap mereka.


Pandangan Selvi menelisik ke setiap sudut ruangan, Dia tidak berani bertanya lebih jauh tentang rumah ini.


Setelah memastikan bahwa tidak ada yang terlewat satu pun, termasuk perlengkapan bayi baju-bajunya dan bahkan, pakaian untuk Selvi pun sudah tertata rapi di dalam lemari yang ada di salah satu kamarnya.


Ferdy kembali ke ruangan di mana Selvi sedang duduk, sambil menggendong bayinya. Pria itu pun duduk di depan Selvi dan menatapnya lurus.


"Dengar, sebelum kamu pulih dan bisa bekerja, tinggallah di sini ... saya tidak mau mendengar penolakan apa pun dari kamu dan jangan coba untuk melarikan diri, di sini sudah di lengkapi CCTV. Jadi, jangan macam-macam, apa kamu mengerti?” Jelas Ferdy terhadap Selvi.

__ADS_1


Gadis itu hanya menunduk diam tidak berkata sepatah kata pun, sungguh dirinya sangat bingung dengan semua yang harus dia alami saat ini. Entah harus memanggil Ferdy itu orang jahat atau orang baik, jika orang baik kenapa dia memaksakan kehendaknya dan jika dia orang baik, kenapa tidak membiarkannya untuk pergi.


"Baiklah, Pak!" Selvi menjawab sambil menundukkan kepala.


"Saya bukan Bapak kamu, jangan panggil saya seperti itu!" Ucap Ferdy dengan penuh penekan.


"Iya, Tuan...." Jawab Selvi lagi.


"Saya juga bukan Tuanmu! Cukup panggil aku dengan nama saja," Kata Ferdy sambil menatap wajah Selvi, jika di perhatikan saksama, ternyata wanita itu sangat cantik di matanya. Hanya saja sedikit tidak terawat membuat wanita itu terlihat kusam dan kumuh.


"Tapi Pak... Umur kita, kan, beda jauh ... saya tidak mau dibilang ngelunjak sama yang lebih tua, Pak!" Jawab Selvi ragu.


"Apa saya terlihat setua itu?" Tanya Ferdy sambil menatap tajam Selvi.


"Tidak juga, sih."


"Lalu kenapa kamu masih membantah?" Tegas Ferdy.


"I-i-iya.... Fer!" Jawab Selvi gugup, dirinya tidak sanggup lagi untuk menatap wajah Ferdi.


Menurutnya cukup ganteng tetapi, sangat menyeramkan, seperti harimau yang akan menerkam mangsa ketika melihat tatapannya.


"Baiklah, terima kasih banyak,” Jawab Ferdy sambil tersenyum tipis ke orang tersebut. “Silakan istirahat di kamar itu, Nona." Ferdy memberi perintah terhadap Selvi untuk memasuki kamar yang telah di sediakan.


"Baiklah," Selvi menimpali ucapan Ferdi.


Selvi pun bangun dari duduknya untuk menuju kamar. Dia berjalan dengan perlahan, sambil menahan rasa ngilu dibeberapa bagian tubuhnya. Dia pun menarik langkahnya untuk memasukinya.


Sesampainya di dalam kamar, Selvi tercengang. Meskipun tidak terlalu luas, tapi ukuran kamar itu cukup untuk ditempati dirinya beserta sang buah hati. Ada satu buah lemari pakaian dewasa dan lemari pakaian anak, sudah di lengkapi dengan semua kebutuhan.


Selvi menaruh sang bayi kecil yang masih tertidur pulas itu di atas kasur, lalu dirinya menuju lemari untuk melihat isinya.


Dia membuka lemari tersebut, lalu melihat isinya dengan tatapan senang sekaligus haru. Semua kebutuhannya  ternyata sudah lengkap di dalamnya, dan semua  kebutuhan make up pun, tersedia.


Selvi mengambil handuk dia ingin mandi, seraya hatinya terus bersyukur. Dia berjalan menuju kamar mandi ingin berganti pakaian yang sudah dua hari ini dipakai. Selvi sudah berada di kamar mandi, tapi,  tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Selvi bingung harus berbuat apa, secara dia sudah membuka bajunya. Bagaimana pun dia belum pulih hingga tidak bisa melakukan apa pun dengan gerak cepat.

__ADS_1


Suara tangis bayi pun semakin kencang, sampai terdengar di telinga Ferdy. Dia awalinya diam saja tetapi semakin lama semakin kencang tangis itu.


Dia penasaran lalu bangun dari duduk, dan menaruh ponsel yang sedang di pegang. Dia berjalan perlahan, mendekati kamar Selvi lalu memegang gagang pintu lalu memutar


Pintu sudah terbuka, terlihat bayi kecil sedang menangis di atas kasur sendiri. Dengan gerakan cepat Ferdy pun mendekat ke arah bayi tersebut, lalu menggendongnya berusaha untuk menenangkannya.


Setelah cukup lama bayi itu ada di gendongan Ferdy akhirnya tenang juga. Sesekali bayi itu tersenyum entah apa yang di lihatnya.


Suara pintu kamar mandi pun terbuka, terlihat dengan jelas seorang wanita yang baru saja berganti pakaiannya.


"Kalau mau apa-apa bilang, jangan seperti bini bagaimana kalau dia jatuh?” Ferdy memperingatkan Selvi untuk lebih hati-hati.


"Iya, tadi dia sedang tidur," Ucap Selvi sambil menunduk.


"Lain kali hati-hati, jadi orang tua itu jangan ceroboh,” kata Ferdy.


"Iya, maaf," Jawab Selvi.


Selvi pun mengulurkan tangannya meminta bayinya untuk di gendong kembali, dan Ferdy pun menyerahkannya.


Ferdy keluar dari kamar Selvi, lalu pergi menemui para pekerja yang sedang merapikan perabotan yang ada di bagian lainnya.


Semua sudah tertata rapi, rumah itu memang terlihat sederhana tapi, di dalamnya terlihat sangat mewah.


"Sudah selesai semuanya Pak... kami pamit pulang,” Ucap para pekerja yang telah selesai mengerjakan tugasnya.


"Baiklah, terima kasih banyak,” Jawab Ferdy sambil tersenyum ramah ke arah mereka


Tinggallah Ferdy dan Selvi di rumah ini, dia kembali ke ruang tengah dan mengambil ponselnya.


Ferdi mengusap layar ponsel tersebut lalu melakukan panggilan.


Panggilan pun tersambung, dia berbicara langsung.


"Siapkan satu orang pengasuh untuk bayi, dan segera antar ke sini sekarang juga!" Perintah Ferdy terhadap orang yang dibalik telepon.

__ADS_1


Setelah berbicara Ferdy pun memutuskan panggilan secara sepihak.


 


__ADS_2