
"Dari mana, kalian?" Tanya Jack pada sang istri.
"Hmm... Dari sana ...." Mira menjawab dengan gugup, Bi Minah yang berada di sampingnya hanya menunduk malu, dia juga merasa segan pada majikannya serta, tidak berani menatap wajah Tuannya.
"Dari mana?" Tanya Jack ulang.
"Ya dari sana!" Jawab Mira sambil melewati suaminya begitu saja.
Bi Minah masih mematung di depan pintu.
Jack hanya melirik Bi Minah sekilas, dan langsung menyusul istrinya yang tadi meninggalkan dirinya pergi begitu saja. Pria itu sama sekali tidak puas dengan pernyataan Mira yang tidak memuaskan. Nuansa kebohongan terlihat jelas dari wajahnya.
Bi Minah pun langsung masuk dan melangkah menuju kamarnya sendiri, Setelah sang tuan menyusul istrinya.
Rasa takut dan rasa bersalah mulai menguasi wanita itu sebab Dia yang secara tidak langsung memberi tahu istri majikannya, soal orang pintar tersebut. Dia tidak menyangka jika Mira benar-benar percaya padanya dan akan pergi ke sana saat itu juga.
Sementara itu, Mira yang sudah berada di kamar, akan segera membersihkan diri karena merasa gerah, setelah berada di luar rumah seharian tadi. Sungguh dirinya berkeringat. Selain itu dia menganggap jika berendam mungkin akan membuat lelah dan letih pada tubuhnya menjadi sedikit rileks.
Jack pun sudah berada di dalam kamar, melihat istrinya akan bersiap untuk membersihkan diri, dia tidak berbicara apa pun dan membiarkan aktivitas istrinya sampai selesai. Pria itu dulu baru akan mengajaknya untuk berbicara. Timbul rasa curiga pada benaknya setelah menerima pengakuan dari dari Bu Marlin jika Mira pergi ke pasar untuk berbelanja, tapi saat istrinya pulang tadi, wanita itu tidak membawa belanjaan sedikit pun. Mana ada belanja ke pasar menghabiskan waktu seharian penuh?
Jack duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya, melihat-lihat tempat pengobatan yang bagus untuk istrinya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang istri pun keluar dari Kamar mandi dengan tubuhnya yang hanya di lilit handuk. Hal itu membuat Jack menelan salivanya. Melihat tubuh mulus sang istri yg terlihat jelas. Namun, dia berusaha untuk menetralkan semua yang ada di pikirannya.
Mira duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambut. Setelah itu, dia mengganti pakaiannya dengan piama.
Setelah selesai dengan semua ritualnya, Mira pun naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuh, Dengan membelakangi suaminya.
__ADS_1
Jack pun menatap punggung sang istri dengan, dengan frustrasi. Perasaannya begitu rumit. Usia pernikahan mereka baru seumur jagung, membuat pria itu belum mengenal seluruhnya sifat istrinya itu. Akan tetapi, karena kasih sayang yang besar dan rasa tidak tega, akhirnya dia mengurungkan semua niatnya ingin bertanya lebih jauh tentang kepergiannya hari ini. Kini dia hanya membiarkan sang istri untuk istirahat dan akan bertanya kembali esok hari.
Jack pun keluar dari Kamar, Tujuannya ingin mencari angin segar. Dia menuju taman belakang rumah untuk menikmati udara malam, walaupun cukup dingin, dia tetap ingin berada di sana sekedar merefresh pikirannya. Dia berharap, semoga malam yang dingin bisa mengubah suasana hati dan pikirannya menjadi lebih adem.
Jack duduk di teras itu dengan di temani secangkir kopi dan rokok. Mungkin dengan menghisap tembakau-tambakau itu membuat dirinya lebih tenang.
Pikirannya sungguh tidak bisa di katakan baik-baik saja untuk saat ini. Mengingat apa yang terjadi terhadap istri dan penyakitnya, sungguh membuat dirinya pusing tujuh keliling.
Tanpa terasa Jack berada di teras itu cukup lama hingga waktu pun sudah menunjukkan tengah malam.
"Masih belum tidur, ini sudah malam!” Tanya orang yang tiba-tiba muncul di samping Jack membuatnya terkejut.
Jack pun menoleh karena kaget mendengar suara itu, Sontak dia tersenyum ke arah sumber suara, setelah menyadari jika itu adalah Merlin, ibu sambungnya.
"Belum" Jawab Jack singkat.
"Belum bisa tidur, Ma... aku masih banyak pikiran! Mama juga kenapa belum tidur?" Tanya Jack terhadap Mamanya.
Saat itu mereka sudah duduk berhadap-hadapan dan mulai berbincang.
"Mama sudah tidur, Tadi haus ingin mengambil minum, terus lihat pintu belakang terbuka. Mama Cuma khawatir, takutnya Bi Minah lupa mengunci pintunya," Ucap Bu Merlin.
"Ke pikiran Mira?" Tanya sang mama lagi setelah melihat Jack tidak menanggapi.
"Iya... Coba Mama bujuk agar Mira mau operasi,” Kata Jack sambil menatap sang mama dengan penuh permohonan.
"Begini, ya, Mama juga bingung, kalau Mama ada di posisi Istrimu, Mama juga pasti akan melakukan hal yang sama. Ibu Mana yang rela di pisahkan dari anaknya, Jack. Apalagi kalau harus berpisah bahkan belum sempat melihat matanya," ucap Bu Merlin dengan nada bicara yang lembut.
__ADS_1
"Tapi, Ma... Jack tidak mau kehilangan Dia," Ucap Jack dengan suara lemahnya. Sungguh pria itu tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan Mura.
"Kita, hanya bisa berdo'a dan berserah diri pada sang kuasa. Hanya sang penciptalah yang bisa mengubah segalanya, semoga ada keajaiban untuk Mira dan bayinya," Ucap sang Mama berusaha untuk menguatkan sang anak.
"Iya, Ma... tapi, doa juga harus di sertai dengan usaha, kalau tidak di sertai dengan itu, semua itu sia-sia," Ucap Jack.
"Tidak ada doa yang sia-sia," Ucap sang mama sambil menatap wajah sang anak.
"Sudah lah, Ma... ini sudah malam tidur lagi sana, jaga kesehatan Mama!" Jack memberi perintah terhadap sang Mama untuk segera tidur kembali.
"Iya... ini juga mau, Kamu juga jangan begadang. Serahkan terhadap Sang Maha Kuasa!” Ucap Merlin sambil mengusap bahu sang anak, memberi kekuatan melalui sentuhan itu.
"Iya, Ma!" Jawab Jack singkat.
Bu Merlin pun pergi meninggal kan Jack yang masih berada di teras rumah.
Setelah Mamanya ke kamarnya, pria itu pun mulai nyalakan rokoknya lagi, dan mengudarakan asap-asap dari tembakau itu sesuka hati. Sejenak dia merasa lebih tenang setelah menghabiskan beberapa batang rokok. Sementara malam tetap berjalan merangkak dan memanggil mentari untuk melaksanakan tugasnya hari esok menyinari bumi.
Saat pagi benar-benar tiba, Jack masih belum juga bisa memejamkan matanya. Dia masih setia duduk di kursi sampai beberapa penghuni rumah terbangun dan memulai menjalani aktivitas seperti biasanya.
Tubuh pria itu tidak bisa menolak rasa lelah hingga dia pun memutuskan untuk segera bangkit dari duduknya ingin segera masuk rumah menuju kamar berharap dia bisa memejamkan matanya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan notifikasi panggilan masuk, dan pria itu langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo," ucap Jack terhadap orang yang menelepon.
Setelah mendengar pembicaraan dari orang yang menghubungi melalui benda pipih itu di seberang sana, seketika Jack panik.
__ADS_1
"Ok... Gua ke sana sekarang!" Ucap Jack cepat, penuh rasa khawatir. Pria itu pun bergegas masuk ke rumah dengan terburu-buru.