
Jack berlari menuju tempat di mana Mira tergeletak. Saat dia tiba di sana, dia melihat Anita yang tengah menepuk-nepuk pipi sahabatnya. Namun, Tidak ada respons sama sekali.
"Nit, apa yang terjadi?” Tanya Jack, sambil berlutut untuk mengambil alih tubuh istrinya. Lalu, dia menggendongnya menuju ke area yang cukup teduh. Sementara Anita mengikuti langkah Jack, yang terlihat panik.
Semua yang ada di sana pun tak kalah panik, termasuk Bibi dan Zay, dia orang itu berlari menuju tempat di mana Mira dibaringkan.
"Bi, Tolong ambilkan kayu putih atau apa saja, buat
Nyonya, ya!” Jack memberi perintah.
"Iya, Tuan!” Bibi pun dengan gerakan cepat berlari menuju kamar, untuk mengambil sesuatu yang dibutuhkan agar membuat seseorang segera sadar dari pingsannya.
Jack dengan penuh kekhawatiran, terus mengusap-usap telapak tangan Mira untuk memberi kehangatan. Rasa takut dan khawatir yang mendalam akan kehilangan wanita yang dicintai mulai menyelimuti dirinya. Bahkan rasa itu seolah menari di kepalanya.
"Sayang, Bangun! Kumohon ... Kamu denger aku, kan?” Jack pun semakin panik, sudah beberapa menit tetapi Mira belum sadarkan diri juga.
"Kita bawa ke penginapan saja!” Ajak Anita, Agar Mira di bawa ke penginapan yang lebih nyaman.
Jack pun langsung menggendong tubuh kecil sang istri untuk menuju kamar mereka. Dengan langkah lebarnya dia menyusuri ruang demi ruang hingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana.
Setelah itu Jack segera meletakan sang istri di atas tempat tidur king size miliknya. Dia terus memberikan sentuhan hangat agar istrinya cepat sadar dari pingsannya.
Tak lama, kejadian itu pun terdengar pula oleh Rico dan ferdy juga. Mereka berdua langsung berlari menuju tempat di mana Jack dan Mira menginap.
Langkah kedua pria itu begitu lebar dengan membawa perasaan khawatir baik pada Mira juga Jack hingga sampao di kamar dengan cepat.
__ADS_1
Keduanya pun bertanya pada Jack,dengan kompak.
"Apa yang terjadi dengan Mira?” Tanya Rico dan Ferdy secara serempak hingga keduanya menoleh satu sama lain. Tetapi Jack menanggapinya hanya dengan menggelengkan kepala.
"Mungkin Mira kecapean ....” Jawab Anita singkat.
"Emang, Lu apain Mira, Sampai dia kecapean, Jack?” Ferdy bertanya terhadap Jack, dengan tatapan sangat tajam ingin minta penjelasan.
"Sumpah, tidak diapa-apakan!” Jawab Jack dengan wajah yang sudah frustrasi. Melihat sang isyri yang belum tersadar juga. Entah kenapa dia merasa Mira hari ini cukup cuku. Moodnya cepat berubah, padahal sebelumnya Mira itu sangat sabar, dan juga bukan perempuan manja. Tapi hari ini dia terlihat terliha. Dia merengek minta pulang, padahal sebelumnya sangat antusias. Jack menjelaskan semua yang dia rasakan dan dia alami hari ini pada ketiga sahabatnya itu.
"Cepat persiapkan semuanya, kita pulang sekarang!” Jack memberi perintah terhadap Ferdy dan Rico agar secepatnya mengurus kepulangan mereka. Dia tidak mau menundanya lagi takut terjadi hal yang lebih buruk pada istrinya bila, permintaannya tidak segera dituruti.
"Siap," Jawab Rico dan Ferdy, mereka berdua pun pergi dari kamar itu.
Namun, tiba-tiba Rico membalikkan tubuhnya sambil berkata, "Cepat, kasih kabar Rumah sakit yang di sana, suruh mereka siapkan ruangan khusus untuk Mira!” Ucap jack.
Anita sudah kembali ke kamar Mira, tetapi, perempuan itu masih betah dengan tidur panjangnya. Jack terus mengusap usap minyak angin ke hidung Mira, Agar istrinya cepat sadarkan diri.
Anita terus berada di Sisi Mira, karena khawatir sesuatu hal terjadi dengan sahabatnya itu.
Setelah sekitar hampir tiga puluh menit, akhirnya Mira pun siuman dari pingsannya. Matanya. perlahan membuka lalu, melihat ke sekeliling, yang pertama kali dilihatnya adalah, Bibi, Anita dan juga Zay di kamarnya.
"Sayang, kamu sudah bangun!” Jack yang melihat istrinya membuka mata pun dengan cepat membawanya ke dalam pelukannya lalu, mengecup keningnya bertubi-tubi.
“Tolong ... Jangan membuatku khawatir, lagi. Akal sehat ku sudah tidak berfungsi kala melihatmu seperti tadi ...." Ucap Jack sambil mengeratkan pelukannya.
"Memangnya apa yang terjadi? Nah! Anita sama Bibi juga pada ngapain mereka di sini?" Tanya Mira dengan bingung.
__ADS_1
"Astaga ... Mira! Kamu itu sudah membuat kami kehilangan akal sehat, tahu? Tadi kamu itu pingsan di pinggir pantai masa tidak ingat?" Protes Anita terhadap sahabatnya.
"Iya, Ingatnya aku tadi itu ... kita mau ke dermaga yang banyak ayunannya, iya, kan? Tetapi, setelah itu aku tidak ingat lagi." Ujar Mira, Sejujurnya dirinya juga tidak tahu apa yang terjadi padanya saat ini. Sebelumnya Mira tidak pernah seperti ini.
"Ya, sudah ... tidak perlu mengingatnya, Yang penting sekarang kamu sudah sadar. Jika merasakan sesuatu atau ada yang sakit jangan sungkan bilang, aku kan suamimu," Peringatkan Jack terhadap sang istri.
"Sekarang masih pusing tidak?” Tanya Jack terhadap istrinya.
"Sudah lebih ringan rasanya ini kepala. Cuma, sekarang aku ngantuk!” Pekik Mira sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Dengan manjanya Mira terus bersandar sambil memejamkan mata. Dia tidak peduli ada Zay anaknya yang tengah melihat ke arahnya. Mira, saat ini hanya menginginkan bisa tertidur pulas sambil memeluk erat suaminya.
"Ya sudah, tidur yang nyenyak ya! Kita akan berangkat sekitar tiga puluh menit lagi," Ucap Jack sambil mengelus punggung sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Bibi, Zay dan Anita pun pergi meninggalkan Jack dan Mira. Mereka semua akan bersiap untuk pulang.
Bagi Jack yang lebih penting itu kesehatan Mira, liburan yang sudah di rencanakan dan berakhir seperti ini pun tidak masalah. Asal bisa segera pulang ke Jakarta. Ingin segera memeriksakan keadaan istrinya. Belum tenang hati rasanya jika, belum mengetahui apa penyebab dari pingsannya Mira.
Awalnya Jack ingin mengajak Dokter Farhan untuk ikut serta bersama mereka saat liburan ke tempat ini, tetapi, dokter itu tidak bisa ikut karena ada hal yang lebih penting dan tidak bisa dia tinggalkan. Awalnya Jack terus memaksakan agar dokter Farhan tetap ikut, karena khawatir ada hal yang tidak di ingin terjadi, selama keluarganya berlibur di pulau. Mengingat jauhnya tempat ini ke tempat pemukiman warga, serta akses kesehatan pun sulit. Saat itu Dokter Farhan memberi pengertian terhadap Jack, bahwa lebih banyak orang yang lebih membutuhkan dirinya di banding ikut dengannya berlibur. Memang bayaran yang di tawarkan Jack lebih Mahal tetapi, bukan itu yang dokter Farhan cari.
Dokter Farhan adalah sahabat Jack sekaligus dokter kepercayaan keluarga Maholtra. Oleh karena penolakan itu, akhirnya Jack pun tetap pergi meskipun Dr Farhan tidak ikut.
**********
Saat ini semua sudah siap di dermaga. Sementara kapal yang akan mereka tumpangi pun sudah siap untuk berlayar mengarungi samudera nan biru. Mengantarkan kemana pun, ke tempat yang mereka inginkan. Sebuah kapal pesiar berukuran sedang, dan super mewah. Hanya orang tertentu yang bisa menumpanginya, Sangat beruntung sekali mereka yang bisa menikmati kemewahan dunia. Namun, tidak sedikit pula orang yang tidak beruntung sehingga tidak pernah tahu akan keindahan lain di berbagai penjuru dunia. Jangankan untuk berlayar mengarungi samudera, berkunjung ke pulau pribadi, tidur di kamar yang super mewah, sebab untuk makan dan tidur di tempat yang layak pun mereka tidak sanggup. Mungkin sebagian orang merasa iri ketika yang lain bergelimpangan harta tetapi, sebagian orang terus berada di dalam kemiskinan. Akan tetapi, inilah hidup yang mesti kita terima dan jalani, meskipun tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebetulnya hidup ini mudah, terkadang hanya cara berpikir manusialah yang menjadikannya sulit.
Bersambung
__ADS_1