Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 125


__ADS_3

“Astaga... kalian ini! Kenapa tidak di kunci pintunya, sih?”


Kata seseorang yang sedang berada di depan pintu, dia langsung berbalik badan lagi. Dia adalah Anita.


Namun, Jack tetap santai sambil memeluk istrinya, yang baru saja mulai tenang.


"Tidak usah kaget seperti itu, kita kan suami istri sah-sah saja," Ucap Jack dengan santainya, Solah tidak bersalah sudah membuat orang lain salah tingkah.


Mira mendorong dada bidang suaminya agar dilepas, sungguh dia merasa malu terhadap sahabatnya itu. Pasti Anita akan membully dirinya kalau saja dia tahu, dirinya menangis karena Jack tersenyum pada semua orang dan berbincang dengan Lidiya, saat rapat tadi. Sudah pasti Anita akan tertawa terbahak-bahak. Jack melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh mungil sang istri, dengan berat hati, lalu mereka berdua berjalan ke arah sofa.


Anita pun di persilahkan untuk memasuki ruangan dan, setelah gadis itu berada di sana dia duduk di salah satu sofa tunggal yang ada di hadapan Jack dan Mira, yang duduk secara berdampingan di sofa yang berukuran lebih panjang.


Setelah itu, Anita pun mulai berbicara tentang tujuannya menemui Mira.


"Mir... lu sibuk nggak? Aku lagi butuh bantuan, nih?" Kata Anita dengan wajah penuh permohonan.


"Nggak... memangnya bantuan apa?" Tanya Mira terhadap sahabatnya itu.


"Eh tunggu dulu... kenapa mata, lu sembab, seperti orang yang habis menangis?" Tanya Anita sambil menatap lekat wajah sahabatnya dengan rasa penasaran.


"Siapa bilang habis nangis? Cuma perasaan Li aja!" Jawab Mira sambil mengusap matanya, Jack yang melihat sikap istrinya, hanya tersenyum tipis.


"Jangan bilang lu nangis, gara-gara suami, lu, tadi berbincang dengan Lidiya?" Kata Anita sambil melihat ke arah Jack yang masih saja duduk santai, dengan wajah yang datar tanpa ekspresi apa pun.


"Kata siapa? Orang nggak nangis juga, ini kelilipan tadi," Mira terus saja ngeles, dia pasti kena bully sahabatnya jika tahu hal itu.


"Ya sudah, jika lu baik-baik saja. Eh pak bos ini urusan perempuan, bisa tinggalkan kami berdua tidak?" Ucap Anita terhadap Jack yang sedang duduk santai di samping istrinya.


"Sepenting apa sih! sehingga tidak boleh tahu?" Jawab Jack kali ini menunjukkan wajah yang serius.


"Rahasia perempuan, ah!” Anita menimpali.


"Ya sudah, Sayang ...  kembali ke ruangan dulu ya, ingat ini masih jam kantor. Jangan digunakan untuk ghibah, ngomongin orang, saya bayar kalian untuk bekerja bukan untuk hal tidak penting!” Jack berkata sambil bangkit dari duduknya, lalu, melangkah perlahan dan  pergi meninggalkan ruang istrinya.


Setelah Jack pergi dan menutup pintu ruangannya, Mira terlihat fokus pada Anita, hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.

__ADS_1


"Ada apa sih?" Tanya Mira terhadap Anita


"Gua lagi butuh bantuan lu!"


"Iya, apa?" Tanya Mira. lagi.


Anita pun mengambil ponsel miliknya, lalu membuka galeri terus memperlihatkan beberapa foto gaun pengantin, padanya.


Setelah beberapa saat Mita melihat foto demi foto yang ada, sambil mengerutkan alisnya.


"Menurut lu, yang bagus itu yang mana?"  Tanya Anita.


"Semuanya juga bagus, kalau menurut gua," Kata Mira.


"Elah, lu itu ya ... kan gua butuh solusi,” kata Anita lagi.


"Iya semua itu bagus-bagus loh, gua, kan belum pernah pake baju begituan jadi nggak tahu juga yang bagus seperti apa?” Ucap Mira dengan wajah sendunya.


Meskipun Mira sudah menikah dua kali, tetapi dia tidak merasakan yang namanya menggunakan gaun pengantin mewah seperti yang di tunjukkan sahabatnya itu.


Ketika menikah dengan Jul, dia hanya menggunakan kebaya sederhana dan tidak ada pesta seperti orang lain.


sungguh sangat beruntung sekali sahabatnya itu, yang bisa merencanakan pernikahan dengan baik dan sesuai dengan keinginannya.


"Ko melamun sih?" Anita menyadarkan Mira yang terdiam sejenak dan entah apa yang ada di pikirannya.


"Tidak,” Jawabnya singkat sambil tersenyum.


"Eh, Lu, Baik-baik aja kan... apa lagi sakit?” tanya Anita dengan tatapan naik turun menelisik tubuh Mira.


"Aku tidak apa-apa, cuma sedikit pusing saja" Jawab Mira, dengan nada pelan namun masih terdengar jelas.


"Kurang istirahat lu, pasti... "


"Kebanyakan tidur" Jawab Mira.

__ADS_1


"Yakin, lu nggak apa-apa?"


"Nggak... ini sebentar lagi hilang kok," jawab Mira sambil tersenyum, agar sahabatnya itu tidak khawatir padanya.


"Alhamdulillah jika lu nggak apa-apa."


"Nit, acara pernikahan lu, jangan di kampung deh! Takutnya gua nggak kuat perjalanan jauh, soalnya nanti pas lu, nikah, kehamilan gua, dah masuk bulan keempat. Sekarang aja gua sering banget capek, cepat banget capeknya, padahal gak banyak kerjaan," Ucap Mira sambil menatap wajah Anita dan, berharap acaranya di adakan di kota ini agar Mira tidak harus melalui perjalanan jauh.


"Itu semua kan, sudah di rencanakan di sana, nggak mungkin juga di batalin tiba-tiba. Lagian, kan keluarga gua, kan di sana semua, gimana dong?"


"Takutnya gua tidak bisa hadir, nggak apa-apa, yah?" Kata Mira.


"Kok, kamu ngomong begitu sih, lu, harus hadir pokoknya di acara penting gua. Lu itu sahabat sekaligus kakak gua yang selalu ada di saat seperti apa pun, masa di hari bahagia gua lu nggak hadir!" Kata Anita, sambil menatap wajah Mira dengan lekat.


"Gua juga maunya ada di acara penting itu, tapi jika hari itu gua tidak hadir di acara itu, lu jangan sedih yah. Doa gua selalu ada kok untuk lu," Ucap Mira sambil tersenyum tipis menatap lekat wajah sahabatnya.


"Pokoknya gua maunya lu hadir, tidak ada alasan apa pun," Kata Anita lagi.


"Iya.. gua akan berusaha hadir di acara lu, tetapi itu kan, hanya rencana, terus kalau hari itu gua tidak bisa hadir ... ya, gua minta maaf,” ucap Mira sambil memalingkan pandangan ke arah lain.


"Lu itu kalau ngomong jangan ngasal, lu, akan hadir di pernikahan gua dan itu harus!” Ucap Anita dengan penuh penekanan.


"Iya, iya... " Jawab Mira.


"Ada yang lu sembunyikan, ya, dari gua... sejak kapan lu tidak mau cerita?" Tanya Anita.


"Lu tahu kan penyakit gua sekarang seperti apa? Jadi, tiap hari yang berkembang itu bukan janin tetapi kanker itu, pertumbuhannya lebih cepat di banding janin, jika bilang ke suami gua apa yang di rasakan saat ini pasti dia memaksa gua buat  melakukan operasi itu, dan itu yang paling nggak mau gua lakukan!" Kata Mira dengan lirih.


"Mir... dengar gua baik-baik, yah, Jack itu sayang banget sama lu, jadi apa pun keputusannya, pasti itu yang terbaik buat lu," Tegas Anita.


"Iya... gua tahu, tapi anak ini juga penting, dan gua nggak akan pernah setuju sampai kapan pun untuk melakukan operasi,"


"Sampai kapan lu bertahan dengan rasa sakit ini?" Tanya Anita.


"Selama gua masih bernafas, akan bertahan dengan rasa sakit ini dan akan berusaha terlihat baik-baik saja di mata suami gua, dan lu jangan pernah bilang ke dia, ya!" Ancam Mira terhadap Anita.

__ADS_1


"Sungguh tidak mengerti apa yang ada di pikiran, lu, Mir... " Anita berkata sambil geleng-geleng kepala.


"Nanti juga lu mengerti kalau sudah menjadi seorang ibu, betapa berharganya seorang anak!" Ucap Mira sambil berusaha tersenyum.


__ADS_2