Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 137


__ADS_3

"Ma... Mira sudah di pindah ke ruang perawatan, dia baik-baik saja, Mama dan Anita bisa ke sana sekarang kalau mau mengunjunginya," Kata Jack sambil menatap lekat wajah sang mama, yang terlihat sangat jelas kelelahan terukir di wajahnya.


"Alhamdulillah jika baik-baik saja," Jawab Bu Merlin sambil tersenyum, menatap lekat wajah anaknya.


"Ayo! Tante kita lihat Mira dulu?" Ajak Anita terhadap Bu Merlin.


Kemudian kedua wanita itu pun berdiri dari duduknya, dan menuju di mana ruang perawatan Mira berada. Mereka  berdua menyusuri lorong rumah sakit, berjalan ke arah kamar Mira seperti yang telah di beritahukan Jack.


Sementara dua pria yang saling berteman, Jack dan Ferdy masih duduk di kursi yang ada di depan Unit gawat darurat.


"Lu mau nginep di mana? Ada kok, hotel di dekat sini juga! Lu, bisa istirahat di sana, gua tahu, lu  pasti capek ya, kan? Dah, sana, lu, butuh istirahat juga!" Ucap Jack terhadap sahabatnya itu karena dia tahu bahwa Ferdy pasti sangat lelah. Setelah melewati apa yang terjadi di hari ini, Jack juga tidak mau Ferdy akan sakit akibat kurang istirahat.


"Gua bisa tidur di mana saja, di mobil di mushola pun bisa jika sudah ngantuk," Jawab Ferdy.


"Ya nggak gitu juga kali," Jack menimpali.


"Jika mau cek in, pesan dua kamar sekalan buat Mamah nginep di sana, ya!  Kasihan dia takut sakit lagi, nggak bagus juga suasana rumah sakit buat dia. Orang tua rentan terkena penyakit, kan?" Kata Jack terhadap Ferdy.


Jack sangat khawatir soal kesehatan Mamanya, sudah pasti merasakan kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang, jika harus istirahat di ruang rawat itu mungkin kurang nyaman.


Setelah beberapa saat Jack dan Ferdy berbincang, mereka berdua memutuskan untuk menemui Rico.


Sejak tadi belum ada yang melihat keadaannya, meskipun tidak terlalu parah tetapi tetap saja banyak luka di tubuhnya, akibat terbentur dan terkena serpihan pecahan kaca.


Jack dan Ferdy bangkit dari duduknya, mereka berjalan perlahan untuk menuju lantai lima. Sementara Jack berjalan tanpa alas kaki dan menggunakan baju pasien, dia tetap santai dengan keadaan seperti itu.


Mereka berdua menuju lift yang akan mengantarkan ke lantai lima, keduanya sudah berada di dalam lift, Ferdy menekan tombol yang akan menghantarkan mereka ke lantai tujuan.


Setelah beberapa saat mereka ada di dalam, akhirnya lift pun berhenti di lantai yang mereka tuju.


Jack keluar terlebih dahulu dan berjalan dengan perlahan hingga Ferdy yang mengikuti di belakangnya dapat mengimbangi langkahnya. Setelah beberapa saat mereka berdua sudah ada di depan ruangan Rico, Jack memutar gagang pintu dengan perlahan. Setelah pintu terbuka terlihat dengan jelas sahabat dari kedua laki-laki itu yang sedang berbaring di atas tempat tidur pasien, ada beberapa luka di tubuhnya yang di balut dengan perban.


Jack masuk terlebih dahulu dan di ikuti Ferdy, mereka berdua berjalan perlahan untuk mendekat ke ranjang pasien.


"Gimana kabar lu?" Tanya Ferdy terhadap sahabatnya itu.

__ADS_1


Sontak Rico membuka mata saat mendengar suara yang di kenalnya, padahal dia baru saja memejamkan mata. Akan yetapi, belum sepenuhnya tertidur.


Jack duduk di kursi yang ada di dekat Rico, sedangkan ferdi duduk di sisi pembaringannya. Dia menatap ke atas dan bawah tubuh sahabatnya, untuk memastikan bahwa Rico baik-baik saja.


"Kenapa ngeliatinnya begitu amat?" Oceh Rico.


"Hanya memastikan bahwa Lu, itu baik-baik saja, takutnya ada sesuatu yang hilang, kan, berabe nanti" Ucap Ferdy dengan nada bicara santai.


Jack hanya menyimak interaksi kedua orang tersebut, meskipun awalnya Ferdy rada cemburu terhadap Rico tetapi sekarang sudah menerima kenyataan bahwa Anita itu bukan jodohnya.


"Kenapa lu ada di sini? Siapa yang kasih kabar soal kita?” Tanya Rico.


"Tante Merlin yang kasih kabar, ada pihak Rumah sakit menghubungi Mira,” Jawab Ferdy.


"Terus Anita tahu nggak, gua kecelakaan??” Tanya Rico.


"Tidak!” Jawab Jack dan Ferdy serempak.


"Kenapa kalian nggak kasih kabar ke Anita, dia itu kan calon istri gua masa kalian nggak kasih kabar! Coba sini gua pinjem ponsel lu?" Kata Rico sambil menadahkan tangannya, ke arah Ferdy.


"Kasih kabar Anita, lah, pasti dia sangat khawatir saat ini. ponsel gua juga nggak tahu ada di mana sekarang," Kata Rico sambil menatap tajam wajah sahabatnya itu, yang sudah terlihat kelelahan dan masih mengenakan setelan kerja.


"Eh, itu kan di bawah tempat tidur ada tombol! tinggal lu tekan, pasti perawat akan datang dan lu tanya ponsel di mana? ponsel gua bukan wakaf!" Jawab Ferdy santai.


"Dasar aja lu pelit, masa iya sama sahabat sendiri tega," Kata Rico.


"Mira ikut tidak?"  Tanya Rico sambil menatap ke arah Jack.


"Ikut, sekarang dia sedang istirahat di ruangan gua," Jawab Jack.


"Lah, kalian kenapa Anita bisa nggak di ajak sih, bener-beber, yah, kalian jahat ke gua!" Gerutu Rico.


"Memangnya kalau ada Anita di sini kamu mau ngapain?" Tanya Jack, lagian belum halal juga nggak boleh deket-deket.


"Nggak gitu juga pasti dia khawatir belum ada kabar" Kata Rico sambil menatap lurus ke depan, dia ke pikiran soal Anita yang belum tahu keadaan dirinya.

__ADS_1


"Ya, sudah, ni, ponselnya, telepon gih calon istri lu!” Ucap Ferdy sambil menyerahkan ponsel miliknya untuk di gunakan Rico.


"Terima kasih, gitu kenapa dari tadi!" Ucap Rico mengambil  ponsel dari tangan sahabatnya.


Setelah ponsel di tangannya, Rico pun mengusap layar ponsel lalu menekan angka-angka yang ada di sana dia sudah hafal nomor calon istrinya itu.


Setelah beberapa saat panggilan pun terhubung, dan belum ada jawaban juga, Di ulangi lagi panggilannya akhirnya di jawab juga.


"Hallo, ada apa?" Kata Anita di sebrang sana dengan nada juteknya


"Ini aku, Rico.. tadi siang aku kecelakaan, sekarang lagi di rawat di rumah sakit!" Ucap Rico terhadap calon istrinya itu.


"Owhh." Hanya itu yang terlontar dari bibir Anita.


"Ko cuma gitu doang, nggak khawatir apa gitu?" Ucap Rico kesal.


"Ya terus aku harus bilang apa?" Jawab Anita dengan nada santainya.


"Ya sudah, aku cuma kasih kabar aja takut khawatir doang," Ucap Rico dengan raut wajah di penuhi kekecewaan.


Akhirnya Rico pun mengakhiri panggilan teleponnya, lalu menyerahkan kembali ponsel itu ke tangan sahabatnya.


Ferdy menerima ponselnya kembali lalu, dimasukkan ke saku kemejanya.


"Sudah telepon calon istri kok, wajahnya melas begitu?" Kata Ferdy.


"Tidak, biasa saja!" Jawab Rico singkat.


Setelah beberapa saat tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara karena ketiga pria itu sedang larut dengan pikiran masing-masing.


Di saat yang sama, pintu kamar secara perlahan terbuka, dan terlihat seorang wanita cantik berdiri di depannya.


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2