Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Par 57


__ADS_3

Jack dan Mira sudah berada di depan pintu kamar yang akan mereka tempati. Jack pun membuka pintu sambil menggendong Mira, ini membuatnya sedikit kesusahan tetapi, pria itu tetap semangat hingga pintu pun berhasil dibuka. Sebuah kamar super mewah yang sudah didekorasi dengan sangat bagus. Hal ini membuat Mira tidak percaya, ternyata seorang pimpinan perusahaan yang dikenal super galak, tegas dan tidak suka tersenyum ketika di kantor, bisa seromantis ini.


Mira menutup kedua mulut dengan kedua tangannya, sedangkan mata membulat sempurna melihat hiasan kamar yang begitu indah.


Jack membawa Mira masuk secara perlahan, sementara kedua matanya menyapu ke sekeliling kamar. Sungguh sangat-sangat indah, gumamnya dalam hati.


"Kamu suka?” Tanya Jack terhadap sang istri, pria itu pun meletakan tubuh wanitanya di atas tempat tidur yang sudah di taburi kelopak bunga mawar. Harum semerbak aroma bunga itu memenuhi ruangan dan begitu menggoda di hidung. Suasana seperti ini membuat nuansa kamar semakin indah.


"Iya! Aku suka.” Mira pun berkata, seraya menganggukkan Kepalanya pelan. Dia sudah tidak bisa berkata apa pun. Bahagia, hanya itu yang dia rasakan saat ini.


Mira duduk di atas kasur dan Jack pun mendekat duduk di sampingnya. Wanita itu menggeser posisi duduknya, agar suaminya memiliki tempat duduk yang lebih nyaman di sampingnya.


"Semoga ini awal yang baik untuk kita,” Ucap Jack sambil tersenyum tipis ke arah sang istri. Mira pun membalas senyuman suaminya lalu, secara refleks memeluk tubuh kekarnya, sambil mengecup pipi sang suami sekilas.


Jack merasa senang dengan sikap Mira yang agresif seperti itu padanya, apalagi saat wanita itu merebahkan kepalanya di dada bidang miliknya sehingga mereka bisa merasakan detak jantung sang suami, demikian juga sebaliknya. Suara ritme jantung mereka semakin cepat. "Semoga kita tetap seperti ini, untuk selamanya," Ucap Mira sambil mendongak melihat ke arah wajah sang suami, disertai tatapan teduh dan, berhasil menghipnotis dirinya. Jika berada di dekatnya akal sehat Mira hilang. Dia tergila-gila dengan suaminya sendiri.


"Amin," Jawab Jack sambil mengelus rambut sang istri.


"Mandi sana." Jack memberi perintah terhadap sang istri agar segera membersihkan tubuhnya.


"Iya, baiklah!” Jawab Mira Singkat, tapi dengan segera dia pun menggeser duduk, untuk menjauhkan diri dari suaminya.


Mira lalu turun dari tempat tidur berjalan ke arah kamar mandi dan segera masuk ke dalamnya. Betapa terkejutnya wanita itu melihat semua dekorasi serta ornamen yang ada di sana, seluruh sudut di penuhi kelopak bunga mawar, menjadikan ruangan ini sangat indah dan menawan, membuat orang yang mandi akan betah bila berlama-lama untuk memanjakan diri. Hidung Mira mencium bau harum dari bunga-bunga yang begitu semerbak hingga membuatnya hampir lupa akan tujuannya.

__ADS_1


Setelah tersadar, wanita itu senyum-senyum sendiri di kamar mandi, bukannya segera membersihkan diri, justru dia bermain-main dengan bunga yang ada dan, asik menghirup aroma dari lilin terapi. Sebuah kebahagiaan yang tidak terduga sebelumnya.


Sebab, Mira tidak pernah berpikir akan menjadi wanita yang seberuntung saat ini, dia qanita yang tidak pantas di sebut layak berada di dekat Jack, suaminya. Mengingat dari status sosial pun sudah jauh berbeda. Sungguh jarak perbedaan itu ibarat jauh antara bumi dan langit. Akan tetapi, semesta punya cara untuk menyatukan perbedaan di antara Jack dan Mira.


Setelah lama bermain dengan semua bunga yang bertaburan, akhirnya dia memulai membersihkan diri.


Sebenarnya, untuk acara inti membersihkan diri hanyalah sebentar, tapi acara mandi itu menjadi lebih lama beberapa saat, karena dia menjadi sibuk dengan bunga. Beberapa saat kemudian, ritual mandi pun sudah selesai dan Mira keluar dengan menggunakan jubah mandi dan handuk di kepalanya, wanita itu duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


Mira melirik ke setiap sudut ruangan, mencari keberadaan suaminya tetapi, tidak di temukan di setiap sudutnya.


Mira segera mengganti pakaian dengan mini dress warna tosca, yang terlihat sangat cocok di kulitnya yang halus dan mulus. Dengan tidak lupa dia memberikan riasan tipis pada wajahnya. Riasan itu sederhana tapi, terlihat sangat cantik dan elegan, sesuai dengan pakaian yang dikenakannya.


Mira berjalan keluar kamar, dia ingin menemui Zay karena sejak tadi sore, ibu satu anak itu belum bertemu dengan anaknya. Zay tinggal satu kamar bersama Bibi. Sehingga dia tidak leluasa untuk tidur bersama anaknya.


Mira berdiri di depan pintu kamar lalu mengetuknya, tapi, setelah beberapa saat tidak ada sahutan dari dalam. Merasa memiliki hak yang sama pada kamar itu, dia membuka pintu dengan perlahan. Betapa heran dia dibuatnya karena saat dia  menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan, dia tidak menemukan keberadaan Zay beserta pengasuhnya. Wanita itu mencari ke kamar mandi yang menjadi satu dengan kamar itu, tapi, tetap tidak menemukan apa pun juga.


Kekhawatiran pun sudah mulai menguasai dirinya.


“Kenapa, ada apa, ke mana cara bersama semua orang menghilang?” batin Mira.


Lalu, dia keluar dari kamar Zay sambil memanggil-manggil nama anaknya dengan suara cukup keras. Dia berusaha mencari ke setiap sudut penginapan, tapi tetap tidak menemukan keberadaan semua orang. Baik Jack, Zay atau pun Bibi.


Mira terus berjalan menyusuri lorong-lorong yang lumayan gelap, karena pencahayaan yang kurang bagus sehingga menjadikan tempat ini sedikit gelap. Dengan semua keberanian yang dimilikinya, Mira pun terus berjalan mengikuti lorong tersebut, entah menuju ke mana arahnya, Mira juga tidak tahu. Namun, kaki Mira terus melangkah. Akhirnya, sampailah dia di sebuah tempat yang tidak terlalu luas.

__ADS_1


"Ini tempat apa” gumamnya lirih. Tiba-tiba rasa kuatirnya muncul, menyebabkannya terus bertanya pada diri sendiri sambil berjalan mundur. Dia melihat ke sekeliling yang tidak terlalu jelas karena tidak ada pencahayaan yang memadai, sulit bagi Mira untuk bisa melihat, dengan jelas.


Tanpa putus ada wanita itu terus mencari-cari keberadaan  suaminya di ruang terbuka. Entah apa yang dirasakan Mira pada saat ini, sedikit bingung menderanya.


"Takut hantu?” tidak ... Mira tidak takut dengan semua itu. Ketakutan yang dia rasakan saat ini hanya satu yaitu takut terjadi sesuatu dengan orang-orang yang sangat di sayanginya, hingga pada akhirnya dia menabrak sesuatu. Suasana yang sedikit gelap, membuat Mira meraba-raba benda yang ada di sekitarnya hingga, pada akhirnya tangannya menyentuh sesuatu. Sentuhan itu berhasil mengubah segalanya.


Awalnya yang gelap, seketika tempat itu berubah menjadi terang benderang. Saat itu yang dia lihat adalah sebuah tempat yang terdapat beberapa meja. Seluruh tempat itu didekorasi ala pesta. Pesta yang sangat mewah. Terlihat Jack sedang berdiri di salah satu ujung ruangan. Tidak hanya itu, di sana pun ada sahabat terdekatnya dan bersama suaminya.


Tentu saja semua uang dilihat Mira pada saat ini sulit di percaya.


Wanita itu pun berkata dengan kesal, setelah rasa keterkejutannya hilang. "Kemarin bilangnya hanya ingin liburan bertiga, tetapi, kenapa sekarang jadi rame seperti ini?” ucap Mira dalam hati.


Jack perlahan mendekat ke arah istrinya yang menatap dengan Ekspresi wajah yang rumit. Namun, Jack membalas dengan wajah yang penuh senyum. Dia terus mendekat ke arah Mira, hingga sudah tidak ada jarak di antara mereka, laki-laki itu melingkarkan tangannya di pinggang wanitanya, lalu merangkul dan membawa ke dalam dekapannya. Jack menyesap aroma tubuh sang istrinya yang sudah membuatnya candu. Beberapa saat mereka masih saling memeluk. Mereka lupa bahwa di tempat tersebut bukan hanya berdua, melainkan ada Zay dan sahabat terdekat mereka.


"Aku juga mau di peluk!” pinta Zay sambil menyela kedua orang tuanya sehingga kedua insan yang sedang berpelukan itu pun kaget dan, refleks melepaskan pelukan lalu, melihat ke arah Zay, sambil tersenyum kaku.


"Mau di peluk?” Tanya Jack sambil berjongkok menyejajarkan tubuhnya terhadap Zay.


"Iya!” Jawab Zay dengan wajah cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. Jack dam Mira pun ikut menyejajarkan tubuh dengan anaknya lalu, mereka memeluk anak kecil bersama.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2