
"Ada hal penting yang belum sempat gua ceritain sama lu," Ucap Rico.
"Apa, Cepat ceritakan sekarang?" Tanya Jack penasaran. Dia menatap Jack lekat sambil membenahi duduknya menjadi lebih serius.
"Kamu tahu Juna, kan?" Tanya Rico terhadap Jack.
"Iya... Kenapa dengan dia?" Tanya Jack ulang.
"Dia baru saja membeli rumah di kampung Anita dan tumah tersebut persis ada depan rumah orang tua Anita. Awalnya, sih, gue sempet nggak percaya!" Kata Rico.
"Lalu... Apa hubungannya gue dengan dia, sih?" Tanya Jack sambil mengerutkan alisnya dan memalingkan pandangan malas.
"Ya... gini, masalahnya gua lihat Sania di rumah itu, Jack!” Kata Rico.
"Apa? Yang bener, lu?" Jawab Jack dengan ekspresi wajah terkejutnya.
"Iya. Sebetulnya ada hubungan apa antara Sania dan Juna? Jadi penasaran, gue.” Ucap Rico sambil menopang dagunya.
"Itu yang mesti kita cari tahu dan kenapa Juna menyembunyikan Sania, ada hubungan apa di antara mereka?" Kata Jack.
"Kita laporin aja soal keberadaan Sania ke pihak kepolisian" Ucap Rico, Mungkin ini cara terbaik untuk membuat Sania kapok dengan semua perbuatannya,” kata Rico.
"Tunggu dulu, kita cari tahu dulu ada hubungan apa di antara mereka berdua!"
"Ya... Sudah terserah lu. Kalau dia nekat melakukan apa pun gua tidak mau tanggung jawab!" Ucap Rico dengan penuh penekan.
"Jangan ngomong begitu, dong! Jadi khawatir gua Soal keselamatan Mira," Ucap Jack dengan Wajah di selimuti rasa khawatir, Sejujurnya dia juga sangat takut dengan Sania. Dia itu orang yang sangat nekat dan bisa melakukan hal apa pun asal semua tujuannya tercapai.
"Ya... Aku pikir secepatnya Si Minyak goreng itu harus di kasih pembalasan biar dia kapok!" Ucap Rico dengan nada kesal sambil mengepalkan tangannya.
"Ya... Gua tahu Juna, dia itu orang kepercayaannya Mama Karina, tapi ada hubungan apa dia, dengan Sania?" Jack Masih berpikir dan menerawang terhadap kedekatan mereka. Selama ini Dia tidak pernah tahu bahwa Juna mengenali Sania.
Perbincangan di antara mereka terus berlangsung sudah cukup lama sehingga kemudian Rico memutuskan untuk kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Tinggal Jack di ruangannya sendiri yang masih berpikir keras tentang apa yang di ucapkan sahabatnya itu. Selama ini dia tidak pernah tahu bahwa Juna mengenali Sania. Sungguh aneh dengan semua keadaan yang terjadi pada hidupnya.
Jack mulai menetralkan pikirannya lalu, memulai membuka beberapa file yang akan diperiksa, lembaran demi lembaran pun dia buka sehingga tanpa terasa hampir seluruhnya selesai.
Saat jam istirahat pun sudah tiba, Jack pun menyudahi seluruh aktivitasnya. Dia berdiri lalu berjalan, mendekat ke arah jendela dari sana bisa menyaksikan ramainya pusat kota. Kendaraan yang berlalu lalang di jalanan seolah menjadikan pemandangan dari atas gedung begitu terlihat indah untuk di nikmati.
Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa, hal ini sedikit meringankan beban semua hal yang ada dalam pikirannya. Ketika melihat semua keindahan itu.
Jack masih saja berdiri sambil menatap keindahan yang ada tiba-tiba dari arah belakang ada yang melingkarkan tangan ke pinggangnya. Hal itu membuat pria itu terlonjak kaget membuat dia refleks melepaskan tangan orang tersebut. Akan tetapi orang itu malah mengeratkan pelukannya sambil membenamkan wajah di punggung sang suami. Setelah tahu jika itu adalah Mira, Jack bernapas lega. Bukannya Jack tidak senang dengan perlakuan istrinya tetapi dia kaget. Biasanya istrinya tidak pernah seperti ini bahkan lebih sering malu-malu.
Jack pun membalikkan tubuhnya sehingga posisi mereka saling berhadapan. Dia dengan jelas menatap wajah sang istri.
"Ada apa? Kamu ngagetin saja...” Tanya Jack terhadap sang istri.
"Tadi, Sudah dipanggil-panggil. Masnya.... diem Saja!”
Mira diam sejenak untuk melihat pada wajah sang suami, lalu, kembali berkata, “Apa ada yang di pikirkan?” Tanya sang istri penasaran terhadap sikap suaminya. Dia heran, kenapa suaminya itu sampai tidak sadar akan kedatangannya ke ruangan ini.
"Ayo duduk...!" Ajak Jack terhadap sang istri sambil merangkul pinggangnya lalu, di ajak duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Mau makan apa, sekarang?" Tanya Jack lagi.
"Apa saja yang penting enak," Jawab sang istri.
"Ya, Kan, aku tidak tahu yang enak menurutmu itu seperti apa, Soalnya kemarin saja. Nasi goreng menurutku tidak enak tetapi enak menurutmu!" Ucap Jack sambil melirik ke arah sang istri yang dari tadi sudah menaikkan kakinya ke atas sofa dan selonjoran di sana.
"Apa saja, deh... Asal jangan yang mengandung susu dan coklat," Ucap Sang istri.
"Tapi aku suka susu," Jack menimpali ucapan sang istri.
"Ikh... Itu makanan buat aku atau kamu sih mas... " Jawab Mira kesal. Dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan suaminya.
"Ya, Sudah Mas.. pesan dulu, ya," Ucap Jack sambil berdiri lalu mengusap kepala sang istri. Dia berjalan ke arah meja di mana dia menaruh telepon genggamnya. Dia pun mulai menyentuh layar dan memesan makanan untuk makan siang bersama sang istri.
__ADS_1
Sepasang suami istri itu cukup lama menunggu makanan yang mereka pesan, hingga akhirnya makanan itu pun sudah tiba. Mereka berdua makan siang bersama di ruangan sang pimpinan perusahaan itu, dengan penuh canda dan tawa pun mengiringi aktivitas makan siang mereka. Mungkin inilah kebahagiaan yang seutuhnya bisa bersama orang terkasih setiap hari. Di rumah, di kantor dan di mana pun bisa terus bersama. Tetapi tidak sedikit pula orang-orang yang tidak bisa setiap saat bisa bersama orang-orang terkasih mereka. Sungguh sangat membuat iri bagi orang yang setiap saat bisa bersama. Mungkin ini yang di namakan takdir Sang Maha Kuasa. Jangan pernah bandingkan hidupmu dengan orang lain, yang terlihat bahagia belum tentu itu yang sesungguhnya.
Bahagia juga bisa di dapat dari cara apa pun tanpa harus bisa berdekatan dengan orang terkasih.
Semoga kehidupan Mira dan Jack bahagia selamanya.
Makan siang pun sudah selesai, Mira merapikan sisa makanan mereka. Dan Mira pun kembali ke ruangan pribadinya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.
Di belahan bumi lainnya, Terlihat seorang wanita paruh baya sedang duduk di taman belakang rumah menikmati udara siang yang terasa panas bagi yang aktivitas di luar ruangan. Dia terus memikirkan tentang keluarganya yang dulu terpisah apakah mereka masih bisa bertemu atau tidak dengan sang putri. Meskipun sudah ada kabar tentang putrinya, tetapi itu semua masih simpang siur dia juga belum berani mengambil tindakan apa pun.
Dengan pandangan lurus ke depan sambil melihat bunga-bunga bermekaran tiba-tiba lamunannya di buyar kan oleh panggilan seseorang.
"Selamat siang nyonya?" Sapa orang tersebut.
"Siang...? " Jawab Bu Dellia terhadap orang tersebut.
"Saya membawa kabar baik," Ucap orang itu.
"Silakan duduk dulu, Kabar apa yang kau bawa?" Tanya Bu Dellia.
"Sabar dulu nyonya, boleh minta kopi dulu tidak?" Ucap Juna sambil mengambil posisi duduk persis di depan Bu Dellia.
"Minta bibi Nay... Sana" Ucap Bu Dellia.
"Iya... Nyonya soalnya haus, banget ini." Juna pun menimpali ucapan sang majikan, Lalu, memanggil Bi Nay untuk meminta secangkir kopi.
Bersambung
__ADS_1