Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 74


__ADS_3

Melihat Juna hanya diam saja, Delia berkata setelah menerik panjang, “Duduklah, katakan apa yang sudah temukan?”


Juna pun duduk setelah dipersilakan demikian dengan sopan dan tenang, di hadapan wanita yang terlihat anggun dan cantik meski beberapa helai rambutnya mulai memutih.


“Apa Anda yakin ingin mendengar semuanya, Nyonya?”


“Tentu saja, kenapa tidak? Biar bagaimanapun dia anakku, bukan?”


“Ya, saya sudah memastikan semuanya.”


Delia mengangguk sambil menatap pria di hadapannya dengan serius, seolah menunjukkan kesiapan hati, untuk mendengarkan hal terburuk sekalipun pada apa yang terjadi, terhadap anaknya yang sudah dia cari dan rindukan begitu lama.


Setelah melihat ketenangan pada diri Delia, Juna pun menceritakan satu demi satu fakta yang dia temukan tentang anak bos wanitanya itu, sebentar-sebentar dia menarik napas dalam sebelum melanjutkan episode demi episode yang terjadi secara rinci.


Pada saat Juna mengatakan tentang keadaan di suatu malam yang memaksa seorang perempuan menjual dirinya, maka saat itu pula kedua tangan Delia terkepal lalu, dia menitikkan air mata.


Mulutnya seraya berkata, “Seandainya dia tetap di sisiku, maka semua ini tidak akan terjadi, aku gagal jadi seorang ibu ... aku gagal jadi orang tua yang baik, Juna!”


Tangisan perempuan itu begitu pilu dan menyayat, berat hati Juna melihatnya, biar bagaimanapun Delia adalah seorang wanita yang jiwanya terkadang rapuh serta membutuhkan kekuatan. Namun, sebagai asisten, dia hanya mencabut dua lembar tisu dan memberikannya pada wanita itu.


Akan tetapi, dengan tegar perempuan itu berkata, “Lanjutkan ...!” Sambil menyeka air matanya dengan tisu dari Juna.


Cerita demi cerita mengalir begitu saja dari mulut Juna, ada saatnya Delia tersenyum dan kemudian kembali menitikkan air mata, hingga cerita pun berakhir wanita itu tetap diam tak percaya dengan semua yang dia dengar betapa tragisnya nasib putrinya selama ini.


 


 


*****

__ADS_1


 


 


Sementara itu di tempat dan waktu yang berbeda.


 


Merlin sudah dua hari di rawat di rumah sakit tetapi, belum ada kabar perkembangan yang baik tentang kesehatannya. Jack dan Mira, selama dua hari ini pun selalu mampir ke rumah sakit di mana Merlin di rawat, sebelum dan sesudah pulang kerja. Mereka berdua memang tidak pernah menginap di sana tetapi, mereka tetap memantau perkembangan dan perubahannya.


Selain itu Jack sangat menginginkan, yang terbaik untuk mamanya. Alat-alat medis pendukung kehidupan wanita itu, masih terpasang di tubuhnya. Bahkan hari ini keadaan Merlin lebih buruk dari kemarin.


Saat ini, Jack dan Mira pun sudah berada di ruang perawatan Merlin. Tidak bisa dipungkiri perasaan sedih tetap saja hinggap, dan mungkin hanya itu yang di rasakannya pada saat ini. Dua hari yang telah di lewati terasa begitu berat, ketika harus melihat orang yang kita sayangi terbaring lemah tak berdaya.


"Ma... Ini Jack, aku berangkat kerja dulu, ya!" Ucap Jack mengajak sang mama untuk bicara, Meskipun yang di ajak bicara tidak merespons apa pun.


"Nanti... Jack pulang kerja ingin makan makanan yang Mama masak. Jadi, bangun, ya, Ma! Jangan terlalu lama tidurnya ...." Jack terus mengajak mamanya untuk bicara.


Sedih hanya itu yang mereka rasakan dua hari terakhir ini. Dengan selalu berharap akan ada keajaiban yang di berikan untuk kesembuhan Merlin.


Setelah lama mereka mengajak sang mama untuk berbincang, meskipun tidak ada respons dari orang tersebut, mereka tetap tidak menyerah. Untuk membuat Merlin cepat bangun dari tidur panjangnya.


"Ayo! kita berangkat ke kantor!" Ajak Jack terhadap sang istri lalu berdiri dari kursi dekat ranjang pasien.


"Iya, ayo!" Mira pun mengangguk pelan, sambil beranjak melangkah, pertanda setuju dengan ajakan sang suami.


"Ma... Kami berangkat kerja dulu, ya!" Ucap Jack sambil mengecup sekilas kening sang mama.


Entahlah, apakah Merlin mendengar, merasakannya atau tidak, tentang semua hal yang ada di dekatnya. Namun, otaknya terlalu lemah untuk merespons semuanya. Akan tetapi, tanpa Jack dan Mira ketahui, cairan bening pun keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


Mereka berdua pun keluar dari ruang perawatan yang di tempati Merlin, menuju tempat parkir. Jack berjalan sambil menggandeng tangan istrinya, seolah menunjukkan pada dunia dan semua orang bahwa dirinyalah pemilik Mira, wanita yang sangat spesial baginya.


Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka karena kemesraan yang mereka tunjukkan sangat membuat iri. Sepasang pria tampan dan wanita cantik.


Begitulah adanya, meskipun Mira sudah memiliki anak satu dan sekarang sedang hamil, tapi, tidak mengurangi kecantikan nya. Bahkan sekarang terlihat lebih cantik dari sebelumnya.


Setelah berjalan menyusuri koridor dan turun menggunakan lift, kini mereka berada di perkiran di mana Jack memarkirkan mobilnya di sana. Dia membuka pintu untuk Mira lalu mereka masuk dan duduk sambil memakai sabuk pengamannya. Secara perlahan kendaraan roda empat yang mereka naiki pun pergi meninggalkan halaman rumah sakit hingga mereka menghadapi kesibukan di jalanan.


Lalu lalang kendaraan pagi itu sudah mulai memadati jalan. Aktivitas para penghuni bumi pun sudah dimulai. Di mana pagi adalah awal akan memulai aktivitas. Namun tidak sedikit pula pagi di pergunakan untuk tidur. Biasanya semua itu karena semalaman harus mereka menggunakan sebagian besar waktunya untuk bekerja.


Perjalanan yang mereka tempuh cukup lama, karena jarak dari rumah sakit ke kantor itu cukup jauh.


Kendaraan yang mereka tumpangi pun sudah memasuki area perkantoran. Jack segera memarkirkannya di tempat biasa, di mana tempat tersebut di khususkan untuk CEO perusahaan.


Jack seperti biasa memperlakukan Mira bak seperti ratu di istana raja.


Pintu mobil sudah terbuka Jack mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya itu turun. Lalu, mereka pergi ke ruangan dengan bergandengan tangan. Semua karyawan pun fokus ke arah sepasang suami istri tersebut. Tatapan dari semuanya membuat Mira risi.


"Mas... Ko aku risi, ya liat cara mereka menatap kita?" Ucap Mira tidak nyaman dengan apa yang terjadi di kantor pagi ini. Tatapan mereka sulit di artikan. Bisa saja tatap dari mereka itu mencibir atau apa.


"Kenapa?" Tanya sang suami.


"Ya lihat saja cara mereka menatap kita, Aneh pan... " Jawab Mira.


"Biasa saja, itu hanya perasaan kamu saja sayang... " Tukas Jack.


"Ishh,” Ucap Perempuan itu singkat.


"Sudah, lah, jangan pedulikan mereka!" Tutur Jack sambil merangkul pinggang sang istri.

__ADS_1


"Iya," Mira sangat gugup sekali ketika Jack memperlakukannya seperti itu di hadapan karyawan.


Setelah beberapa saat yang lalu, mereka pun sampai di tujuan yaitu, Lantainya yang paling atas yaitu di mana ruangan Jack dan Mira saking berdekatan. Sehingga tidak sulit bagi mereka.


__ADS_2