Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 55


__ADS_3

Hari masih cukup pagi, namun matahari sudah bersinar cukup garang, akan tetapi sinar mentari yang seperti ini sangat mendukung bila berada di pantai. Saat itu, semuanya sudah bersiap akan berangkat berlibur, ke tempat yang Jack inginkan. Semula, pria itu hanya ingin pergi bertiga, antara dirinya, istri dan anak sambungnya. Namun, tidak Mira tidak ingin meninggalkan Bibi sendiri di rumah, bahkan wanita itu tidak mau ikut jika Bibi tidak diajak ikut serta.


Dengan berat hati, akhirnya Jack pun setuju.


Keluarga kecil itu pergi dengan diantar oleh Rico, ke pelabuhan penyebrangan menuju sebuah pulau pribadi yang dimiliki Jack.


Begitu pula dengan kapal yang akan mereka tumpangi, itu pun milik pribadinya, termasuk hotel tempat di mana mereka akan menginap nanti.


Sepertinya pria itu sudah memperhitungkan segalanya hingga dia bisa memastikan bahwa, tidak akan merasa bosan selama berada di sana.


Keadaan di dalam kapal pribadi itu pun sangat nyaman dan mewah, bahkan mirip seperti hotel mini di dalamnya, meskipun, mereka akan berlayar dalam waktu yang cukup lama, mereka pun tidak akan terasa bosan di dalamnya.


Salah satu bentuk kemewahannya adalah, terdapat beberapa ruangan dan fasilitas yang sangat lengkap.


 


Saat ini, mereka sudah berada di dalam kapal. Zay sangat senang ketika melihat keindahan laut, anak kecil itu begitu antusias bersenandung sambil berlari menuju ruang nakhoda. Dia ingin bertanya langsung bagaimana cara mengoperasikan kapal, tentu saja dia ditemani Bibi, sampai dia masuk ke ruangan tersebut dengan gembira.


Mira duduk di luar, dengan memakai kaca mata hitamnya, sambil menikmati hamparan laut yang sangat luas nan biru. Sebuah rasa yang sulit diartikan ketika melihat samudera luas itu. Mira sangat suka nuansa alam, Jack tidak salah mengajak Mira untuk berlibur ke pulau pribadi miliknya.


"Bagai mana, kamu Suka, kan?” Tanya Jack pada Mira, pria itu mendekat lalu, duduk di kursi yang di sebelah istrinya. Itu adalah kursi malas, di mana sandarannya sedikit miring ke belakang, sengaja dirancang demikian untuk para penikmat pantai dan lautan.


Mira menoleh sambil tersenyum, wajah itu lebih menarik dengan kaca mata bertengger di hidungnya.


"Ya, aku Suka!” Jawab Mira dengan Singkat.


"Hmm ... Lalu, aku sudah dimaafin, kan ya?” Ucap Jack sambil menatap istrinya lekat, namun penuh permohonan, mirip seperti mata pampkin yang bersinar agar permohonannya dikabulkan.


“Iya, kan, Sayang ....?” katanya lagi, dengan wajah yang masih memelas penuh permohonan.


"Kesalahan yang mana, ya?” tanya Mira, sebenarnya perempuan itu sudah memaafkannya, karena sebetulnya Mira tidak bisa lama-lama marah.


Namun, ucapan itu justru membuat Jack sedikit salah tingkah, dia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti ini.


"I-Itu loh, uang di ...!” Jack ragu menjawabnya, sebab dia merasa malu sendiri ketika harus mengingat saat dirinya berkelahi bersama Roxy. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, Akan lebih bisa mengendalikan emosi.


"Saya tidak pernah marah!” Mira berkata sungguh-sungguh, memberi penjelasan terhadap Jack bahwa, sebenarnya dirinya tidak marah. Itu hanya teguran bagi orang yang ada di hadapannya agar lebih bisa mengontrol emosi, apalagi tidak baik juga mengumbar emosi sehingga dia harus menguasai diri.


"Jika tidak marah ... Lalu, kenapa mendiamkan aku?” Tanya Jack.

__ADS_1


"Itu hanya teguran, Buat kamu, Mas" Mira pun menatap lekat wajah sang suami yang sangat tampan itu, Alis tebal hidung mancung dan mata yang sayup, membuat Mira tersadar ternyata suaminya itu memang tampan. Pantas saja Sania tergila-gila padanya.


"Jangan melihatku seperti itu!” Ucap Jack dengan nada menggoda. Dia menatap Mira sambil membasahi bibirnya.


"Ti-tidak," Jawab Mira gugup dengan wajah yang sudah merah merona seperti buah tomat yang siap panen.


"Kenapa wajahmu merah?” kata Jack, dia semakin senang menggoda Mira.


"Wajahku tidak merah, Mungkin ini efek dari skincare yang kupakai Jadi, merah seperti ini," Jawab Mira dengan malu-malu.


Jack menggeser duduk nya lalu, memperbaiki posisinya sehingga kini menghadap Mira.


"Terima kasih, Sudah menjadi bagian dari hidupku dan menerima disetiap Kekuranganku.” Jack meraih tangan Mira, lalu mengecup punggung tangannya.


"Terima kasih, Juga telah menerimaku dan Zay, apa adanya, tanpa meminta imbalan apa pun juga," Ucap Mira sambil tersenyum penuh kebahagiaan.


"Semoga kita terus bahagia dan di jauhkan dari orang-orang jahat." Ucap Jack sambil meraih tubuh mungil Mira dan memeluknya erat seolah ingin menjadikan satu dengan dirinya. Jack sangat rindu dengan wangi tubuh Mira. Karena beberapa hari terakhir istrinya itu mendiamkannya, seolah mereka musuh yang saling perang dingin.


"Berarti nanti malam, Kodok bisa masuk kandang dong?” tanya Jack terhadap Mira. Perkataan Jack sontak membuat Mira memukul dada bidang suaminya, lalu, mendorong pelan, membuay pelukan itu terlepas begitu saja.


"Ngomong apa, sih?” Tanya Mira yang pura-pura tidak mengerti apa yang diucapkan Jack.


Jack dan Mira pun tertawa kini kedua tangan mereka saling melingkar, tampak jelas kebahagiaan yang ada di antara mereka. Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa di ucap kan dengan kata-kata.


Mira sangat bersyukur ada orang yang bisa menerimanya dengan kedua tangan terbuka. Meskipun, mengingat cara pernikahan mereka terasa begitu mirip dengan jalan cerita sebuah drama yang mengenaskan, dia tetap berpikir positif, bahwa semua yang terjadi dalam hidupnya itu adalah sekenario yang sudah di gariskan sang maha pencipta. Sebab sejatinya manusia hanya bisa berusaha dan berencana, tidak bisa menolak takdir yang sudah digariskan oleh-Nya.


"Masuk, yuk!” ajak Jack pada Mira.


Mengingat perjalanan yang akan mereka tempuh sangat jauh, Jack berpikir bila Mira Butuh istirahat. Ya, mereka harus menempuh jarak dalam waktu delapan jam untuk sampai dipulau tujuan. Pulau yang sudah Jack siapkan sejak dulu, saat di mulai memiliki sebuah keinginan jika dia menikah, maka tujuan utama berlibur pulau di pulaunya itu.


Saat Mira dan Jack berada di dalam, mereka mencari keberadaan Zay. Akhirnya mereka melihat Zay, sedang ngobrol dengan nahkoda kapal, dengan antusias. Terlihat Zay terkadang tertawa kecil, sangat menggemaskan.


Jack dan Mira pun masuk ke ruangan itu sambil menyapa semua orang yang ada di sana.


"Nak, keluar Yuk! jangan mengganggu!” Mira mengajak Zay, anak lelakinya itu untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Iya," sahut Zay dan mengangguk setuju.


Jack pun berjalan mendekat ke arah Zay, lalu, menggendong serta membawa Zay keluar dari ruangan itu .

__ADS_1


Bibi dan Mira mengikuti berjalan di belakang Jack, hingha tiba di sebuah ruangan yang seperti di kamar hotel.


"Bi, kalau mau istirahat, di sini saja bareng Zay, ya?" ucap Jack memberi tahu Bibi bahwa kamar ini untuk istirahat dirinya dan Zay.


"Baik, Tuan! Terimakasih banyak.” Wanita itu tersenyum sambil menunduk hormat pada majikannya yang dia anggap sangat baik, hingga dia mengucap banyak terimakasih terhadap Jack.


"Sama-sama, Bi." Jack pun mendudukkan Zay di atas sofa diruangan ini. Lalu berkata, "Hai jagoan Papa sudah bilang belum sama Mama?" Jack berbisik di telinga Zay tentang missi yang akan di Jalankan Jack melalui Zay.


"Belum, bilang apa, Pa?" Zay menjawab sambil menggelengkan Kepala.


“Stt... Jangan keras-keras,” bisik Jack lagi.


Mira yang melihat interaksi keduanya mengerutkan kening, dia berpikir pasti ada yang tidak beres.


"Zay, ada apa?” Tanya Mira pada anaknya.


"Ma, Zay mau temen,” seketika Zay menoleh pada ibunya dan berkata dengan lantang.”


U Zay sontak membuat Mira membulatkan matanya.


"Hah, teman, teman apa?” Jawab Mira kaget.


“Ya, teman, Ma .... Biara Zay gak sendirian lagi. Boleh kan, Ma ... Zay ingin punya dedek bayi, biar di panggil kakak, terus bisa main bareng!" Zay pun mengutarakan keinginannya dengan gaya polos khas anak-anak.


Mira saat itu juga langsung melihat ke arah Jack meminta penjelasan, tapi laki-laki itu hanya mengerakkan bahunya, mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu menahu tentang apa yang di ucapkan anaknya.


"Ya sudah, istirahat dulu, ya sekarang ... Jangan minta yang aneh-aneh,” perintah Mira terhadap Zay.


"Iya," Zay mengangguk pelan.


Setelah memastikan anak itu istirahat dengan nyaman,


Mira dan Jack pun pergi berlalu meninggalkan kamar, sebab tempat itu akan menjadi tempat istirahat Bibi juga.


 


Jack mengajak Mira untuk menuju tempat istirahat yang akan mereka tempati.


Sebuah ruangan yang super luas, ruang yang hanya ada di kapal seperti yang mereka miliki. Kamar itu tertata rapi, semua barang yang ada di sana pun terlihat elegan. Mira tidak menyangka perjalanan kali ini akan seperti ini. Jack sudah membuat dirinya tidak bisa berkata apa-apa. Pria itu benar-benar membuatnya terpana, tapi itu wajar, mengingat dia telah mempersiapkan semua ini dengan sempurna.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2