Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 134


__ADS_3

"Mbak di mana pasien kecelakaan tadi siang, saya istrinya" Ucap Mira dengan wajah sangat panik.


"Owh pasien itu ya ... dia sudah di pindahkan ke kamar jenazah, soalnya menunggu keluarganya belum datang juga," Jawab orang tersebut.


Dunia serasa runtuh menimpa Mira, seketika dia ambruk di lantai. Sudah tidak sanggup lagi kakinya untuk menopang tubuhnya.


Anita, Ferdy dan Bu Merlin segera menyusul Mira yang sudah berada di dalam, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Mira duduk di lantai sambil menagih.


Sementara Anita berlari mendekati Mira lalu, memeluk tubuh sahabat nya itu, padahal dia belum bertanya apa pun serta tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya, dia hanya menenangkannya, sambil mengelus punggung Mira. Sementara Bu Merlin belum bisa berkata apa pun.


Beda lagi dengan ferdi dia mendekati bagian informasi, dan dia mendengar hal yang sama.


Dia langsung minta di tunjukkan di mana kamar jenazah tersebut.


Anita membantu Mira untuk bangun pelan-pelan, dari duduknya, lalu di persilahkan duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


 Setelah itu, Anita pergi ke luar untuk mencari minum.


Selang beberapa saat, dia telah kembali dengan membawa dua botol air mineral. Satu botol dia berikan ke pada Bu Merlin, dan satu botol lagi dia buka tutupnya, lalu menyerahkannya pada Mira.


Pelan-pelan Mira pun meneguk air yang di sodorkan sahabatnya, setelah beberapa saat Mira pun mulai tenang dan bisa menguasai dirinya kembali.


Namun, selama itu pula dia hanya terdiam, sampai Ferdy datang menghampirinya.


"Mir ... kita lihat dulu ke sana ya, Cuma kamu yang bisa memastikan apa itu benar Jack atau bukan?” Ajak Ferdy. Dan Mira pun mengangguk pelan, meskipun rasanya dia tidak sanggup untuk berjalan, tetapi dia berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.


Mira berdiri dengan bergandengan tangan oleh Anita dan Bu Merlin seolah ingin memberi kekuatan. Mereka berempat pun berjalan beriringan untuk menuju ruang jenazah yang ditunjukkan tadi.

__ADS_1


Mereka berjalan sangat lambat karena Mira masih lemas tetapi berusaha untuk kuat. Mereka terus berpegangan saat harus melewati lorong-lorong rumah sakit, hingga tibalah mereka di depan ruang jenazah.


Tubuh Mira terasa bergetar saat berada di depan ruangan.


"Mir ... Kuatkan dirimu, ya, ayo! Masuk!" Ajak Ferdy dan Anita.


"Aku nggak bisa!" Jawab Mira dengan suara bergetar sambil menggelengkan kepala.


"Ayolah ... kan ada aku sama Anita juga, tante juga ada, kamu harus kuat demi anakmu, ya!" Kata Ferdy lagi.


Mira pun berusaha menguatkan dirinya untuk masuk ke ruang jenazah itu.


Dengan perlahan Ferdy membuka pintu ruangan itu, hingga terlihatlah dari tempat mereka berdiri, ada beberapa brankar di sana yang diperuntukkan bagi para pasien yang sudah meninggal, ada dua yang terisi.


Ferdy terus berjalan mendekat ke arah salah satunya, di ikuti Mira, Anita dan juga Merlin.


Setelah berada di dekat brankar yang berisikan jenazah yang di tutup kain putih, Ferdy berdiri dan dia sendiri belum mampu untuk membukanya. Sedangkan Mira dia sudah tak kuasa untuk berdiri, dia berusaha untuk mencari pegangan agar dirinya tidak terjatuh.


"Sebentar tante... semoga ini bukan salah satu di antara Rico dan Jack!" Kata Ferdy.


"Semoga saja!" Jawab Merlin.


Anita mendekat ke arah Mira dia, merangkul bahunya untuk menguatkan, sesungguhnya perasaan Anita pun sama dengan wanita itu. Dia tidak kuasa jika harus kehilangan calon suaminya, di saat persiapan pernikahan sudah matang. jika harus batal karena Rico tiada, sungguh dia tidak bisa membayangkan akan hal itu. Namun, Anita berusaha untuk tetap kuat di hadapan Mira.


Begitu juga dengan Merlin dan juga Ferdy, pada dasarnya mereka juga merasakan hal yang sama dengan Mira tetapi mereka lebih memilih untuk tidak terlihat.


Setelah beberapa saat mereka berdiri di samping jenazah yang masih tertutup, akhirnya Mira memberanikan diri meskipun tangannya gemetaran. Namun, dia buka kain penutup itu dengan perlahan sambil mata terpejam dan yang lainnya pun ikut menutup mata juga.

__ADS_1


Setelah terbuka kain itu, tetapi Mira belum membuka matanya. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, dia pun membuka matanya dengan perlahan.


Dia kaget dengan wajah orang yang ada di atas brankar, penuh dengan luka sampai dia tidak dikenali karena begitu hancurnya wajah orang itu. Ada kemungkin terkena pecahan kaca saat mobil terjun ke jurang atau terkena benturan benda tajam lain.


"Nit ... ini Rico bukan? Tadi pagi dia pake baju yang gimana? Seperti ini, bukan?” Tanya Ferdy, Mira masih diam mematung tidak bicara sedikit pun.


Dia berusaha mengenali calon suaminya dari pakaian yang di kenakan.Begitu juga Mira dengan cepat mengingat pakaian suaminya.


"Ini bukan Jack! Dia tadi pagi pakai baju kemeja, bukan kaos seperti ini dia tidak memakai cincin pernikahan" Kata Mira sambil menatap lekat ke jenazah yang ada di hadapannya. Sementara Anita menjawab,


"Tidak tahu, tadi pagi kita nggak berangkat bareng. Jadi aku nggak tahu barang yang dia pake tadi pagi dan belum sempat ketemu!” Coba bukan yang satunya lagi, ini bukan Rico juga!” Kata Bu Merlin, dia sangat yakin bahwa itu bukan Rico, dia hapal betul tubuh Rico itu seperti apa meskipun bukan anaknya, tetapi sedari kecil dia sudah berteman dengan Jack hingga wanita itu sudah hapal.


"Iya, tante ....” Jawab Ferdy.


Dia pun berjalan perlahan mendekat ke arah brankar yang satunya lagi, untuk memastikan bahwa bukan Jack atau Rico.


Mira bersandar di tembok, sungguh merasa lelah sekali bahkan untuk melangkah pun rasanya sudah tidak kuasa.


Ferdy dengan perlahan menarik kain penutupnya, setelah terbuka ciri-cirinya seperti Rico tetapi belum bisa di pastikan itu betul atau tidak. Sebagian tubuhnya hancur bahkan wajahnya pun tidak bisa di kenali.


Seketika tubuh Mira ambruk Anita yang berada di sampingnya tidak bisa menahan tubuhnya dan ferdi menoleh ke arah wanita yang sudah terkulai di lantai dengan tidak sadarkan diri.


Seketika  semuanya menjadi panik karena Mira pingsan, dengan gerakan cepat Ferdy mendekat ke arah Mira. Langsung di angkat lah tubuh mungil Mira oleh Ferdy, lalu, dengan langkah lebar dia gendong menuju Unit gawat darurat.


Anita dan bu Merlin mengikutinya, dari belakang sungguh luar biasa ujian bagi keluarga Mira.


Meskipun tidak bisa mengimbangi kecepatan langkah Ferdy, tetapi Bu Merlin berusaha untuk kuat berjalan cepat. Meskipun, pada dasarnya wanita paruh baya itu pun sudah lelah.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Mira sudah sampai di ruang Unit gawat darurat, dia sedang di periksa oleh salah satu dokter jaga pada malam ini dan ada beberapa perawat juga yang membantu. Selang infus pun mulai di pasang ke tangan Mira, tetapi dia belum juga membuka matanya.


Ferdy yang berada di dalam, sedangkan Anita dan Bu Merlin menunggu di luar. Duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan, dengan perasaan gusar akan kondisi Mira.


__ADS_2