
Satu Minggu telah berlalu, hari-hari yang di lalui seperti biasanya.
Rutinitas tiap hari tidak ada yang berubah selalu seperti itu,ke kantor ke rumah antar anak ke sekolah.Itulah roda kehidupan manusia selalu seperti itu, tetapi ada yang berubah setiap hari dan tidak akan bisa kembali ke mana di kita berada pada saat ini yaitu umur.
Setiap hari umur kita bertambah tetapi juga bisa di katakan berkurang,dan hal itu pulak tidak bisa mengulang.
Setiap hari orang selalu sibuk mengejar dunia sehingga lupa terhadap hari akhir.
Pagi hari yang sangat cerah,semua orang menyambut pagi dengan senyuman.
Beda lagi dengan Selvi,dia belakangan ini sering sekali melamun entah apa yang ada di pikiran nya.
Dia bukan nya segera bergegas untuk segera memandikan anak nya dan juga dirinya,dia malah asik duduk melamun entah apa yang ada di pikiran nya
Di dalam lubuk hati yang paling dalam dua sangat merindukan ibunya,pada saat seperti ini seharusnya ada seorang ibu yang menguatkan nya.Meskipun Bu Ani dan juga Ferdy selalu memberikan yang terbaik untuk Selvi, tetapi tidak bisa di bohongi bawa dia juga sangat rindu akan hadir nya seorang ibu.
Setelah cukup lama Selvi berkelana bersama pikiran nya,dan bayinya pun sedang asik bermain sendiri tanpa menghiraukan ibunya yang sedang melamun.
Tiba-tiba lamunan nya di buyarkan oleh suara keturunan pintu.
"Mba... di panggil Nyonya besar! " terdengar suara memanggilnya dari luar pintu.
Seketika lamun Selvi buyar, lalu dia bangkit dari duduk nya sambil menjawab"Iya, Bi saya akan segera ke sanah"ucap Selvi sambil membawa bayinya.
Selvi keluar dari kamar sambil membawa anaknya, setelah sampai di ruang keluarga terlihat Ferdy dan juga Bu Ani sedang duduk bersama di ruangan tersebut.
Selvi pun langsung duduk di samping Bu Ani, lalu Bu Ani mengambil anak nya Selvi dan Selvi pun langsung menyerah kan ya.
"Apa Andra belum mandi? " tanya Bu Ani terhadap Selvi.
"Belum, Ma..! " jawab Selvi.
"Kamu kenapa sih, sudah beberapa hari terlihat sangat murung apa ada yang di pikiran? " tanya Ferdy.
"Iya, nggak usah ada yang di sembunyikan coba cerita" Bu Ani pun ikut menimpali ucapan Ferdy.
__ADS_1
"Nggak ada ko kak, Ma...! " jawab Selvi.
"Apa merasa jenuh di rumah terus, atau kamu mau melanjutkan kuliah? "tanya Ferdy terhadap adiknya, walau bagai mana pun tetap Selvi butuh pendidikan yang lebih ting" Iya, kalau menurut Mama lebih baik kamu kuliah, siapa tahu dengan banyak kegiatan kamu tidak terlalu fokus dengan semu masalah yang ada! "ucapan Bu Ani.
" Tapi kan Andra masih kecil! "jawab Selvi.
" Kamu nggak perlu mikirin itu, kan ada Mama dan pengasuh nya juga"kata Bu Ani.
"Tapi, Ma...! " Selvi merasa sangat malu berada di keluarga ini,dia di perlakuan seperti layak nya seorang putri mereka selalu berusaha membuat Selvi tidak merasa senang dan bahagia. dan aneh nya Bu Ani sama sekali tidak pernah merasakan dendam sedikit pun terhadap Ibu nya Selvi.
"Sudah nggak usah tapi-tapian, sekarang yang kamu pikirkan maunya kuliah di bagian bisnis atau apa? " tanya Ferdy.
"Tapi aku nggak tertarik dengan dunia perkantoran! " jawab Selvi.
"Maunya apa? "
"Aku lebih tertarik ke desainer" jawab Selvi ragu.
"Itu terserah kamu mau nya di mana! " kata Ferdy.
Selvi kembali ke kamarnya dia akan segera membersihkan diri, hari ini dia akan di antar Ferdy untuk mencari kampus sesuai dengan keinginan nya.
Meskipun Selvi sudah memiliki anak dan anak tersebut hadir tidak ada dasar pernikahan, hal itu tidak menjadikan Ferdy dan juga Bu Ani akan membiarkan Selvi berlarut dalam kesedihan.
Dan semua itu tidak akan menghalangi untuk Selvi untuk mengejar cita-cita nya.
*
*
*
Di tempat lain
Pagi itu di rumah Bu Dellia di kagetkan dengan di temukan nya sang pemilik rumah jatuh pingsan.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Juna pun langsung membawa Bu Dellia ke rumah sakit.
Sudah dua puluh empat jam Bu Dellia di ruang perawatan intensif tetapi belum sadarkan diri, malah semakin kritis keadaan nya.
Mira dan juga Jack sudah di kasih kabar tentang kesehatan Bu Dellia, sebelum tidak pernah ada kabar bahwa Bu Dellia itu sakit.
Bahkan terakhir kali Bu Dellia dan Mira melepas kangen lewat panggilan video.
Tiba-tiba mendapatkan kabar Bu Dellia masuk rumah sakit, hal itu membuat Mira sangat kaget.
Semua musibah silih berganti datang terhadap Mira.
Bu Dellia teebaring lemah tak berdaya, hanya alat-alat media yang menempel di tubuh nya dan alat pendeteksi yang menunjukkan bahwa dia masih bernyawa.
Bu Dellia hanya di temani seorang asisten rumah tangga, yang biasa mengurus semua kebutuhan nya.
Dellia sudah tidak memiliki keluarga lain, selain Mira anak semata wayang nya.
Mira juga setelah mendapatkan kabar langsung menuju ke rumah sakit, di Mana bu Dellia sedang di rawat.
Waktu yang mereka tempuh pun cukup lama sehingga belum juga sampai, Mira yang baru saja merasakan hangat nya hubungan antara dia dan sang Mama.
Siang telah berganti dengan malam, keadaan bu Dellia pun tetap sama belum juga ada respon.
Mira dan juga Jack sudah tiba di area rumah sakit di mana Bu Dellia sedang di rawat, Mira langsung bergegas keluar dari kendaraan lalu di susul oleh suaminya.
"Hati jalan nya! " jack memperingati kan Istrinya agar berjalan hati-hati, sebab di lihat oleh Jack Mira terlalu terburu-buru, yang di takutkan Jack Mira itu bisa tersandung atau apa yang bisa mengakibatkan dirinya terjatuh. Tetapi, beda lagi dengan pemikiran Mira yang ada di pikiran dia hanya satu yaitu ingin segera sampai dan melihat ke adaan sang Mama.
Mira tidak menggubris perkataan suaminya, dia tidak memperdulikan semua yang ada di sekitar yang dia mau cuma satu yaitu bisa segera memeluk sang Mama.
Setelah beberapa saat Mira berjalan dan sudah sampai di depan ruangan ICU, yang di perbolehkan masuk hanya satu orang. Jack memberikan waktu untuk Mira agar segera bertemu dengan sang Mama, dia sudah menggunakan pakaian yang sudah di sediakan pihak rumah sakit jika harus mengunjungi pasien.
Mira berjalan dengan perlahan, dia terus mendekat ke arah ranjang pasien yang di tempati sang Mama. Terlihat sangat jelas tubuh wanita tua itu terbaring lemah, jangan kan untuk melakukan sesuatu bahkan untuk membuka matanya pun dia tidak kuasa.
Mira telah berada di samping sang Mama, dia tidak kuasa untuk menahan tangis di saat sudah melihat dengan langsung keadaan Mamanya.
__ADS_1
"Ma....! " hanya kata ini yang bisa terucap dari bibir nya sambil bergetar.